Friday, May 18, 2007

Mereka Membunuhku Pelan-pelan


SALUT, buat teman-teman di Tribun Jabar yang telah bersusah payah menelurkan sebuah buku tentang IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri). Memang Pak Inu Kencana, dosen vokal di IPDN, pun sudah menerbitkan buku tentang IPDN (tapi saya lupa judulnya). Namun yang dibuat teman-teman Tribun Jabar adalah sesuatu yang lain. Teman-teman menuliskan kembali kisah berdasarkan buku harian seorang praja IPDN.
Judul buku itu seperti di atas,"Mereka Membunuhku Pelan-pelan".
Saya baru tahu kalau teman-teman membuat buku ini setelah chatting dengan Krisna, Korlip Tribun Jabar. Ia bilang, kemarin berempat ramai-ramai menulis buku tentang IPDN. Buku itu sekarang sudah edar di Gramedia. Rencananya, Jumat (25/5) depan, bakal launching dan diskusi di Toko Mizan di Jakarta.
Tentu saya kaget juga, karena tidak tahu kalau teman-teman membuat buku tentang IPDN. Krisna memang mengakui, kalau pembuatan buku itu benar-benar ngebut. Dan kebetulan ada momen, yaitu testimoni seorang praja, diari praja, 10 lembar yang diberikan pada wartawan Tribun. Itulah yang menjadi inti buku tersebut, selain pernak-pernik kekerasan yang selama ini sering dipublish media massa.
Menurut Krisna, penerbit buku itu Bentang. Karena Bentang sudah diakuisisi sama Mizan, distribusinya pun pakai jalur Mizan. Jadinya di TB Gramedia sudah ada. "Tp belum tau kalo di luar jawa," begitu kata Krisna.
"Tpnya lagi, ada cumanya....layoutnya keburu2 jadi rada pabaliut. Keliatan sekali kalo ngebut," katanya lagi. Tapi Krisna jamin, isinya pasti ada yang berbeda dengan yang lain.

Top top top, saya senang teman-teman bisa meluncurkan buku ini. Saya tahu, Tribun punya segudang riwayat dan kisah tentang IPDN (dulu STPDN). Kita termasuk koran yang paling awal mengobrak-abrik STPDN. Kita selalu memblow up kejadian kekerasan di sekolah pamong praja ini. Tak heran, nama Metro Bandung (dan sekarang Tribun Jabar) paling dimusuhi di ksatrian satu itu. Wartawan kita sempat nyaris jadi korban pengeroyokan praja STPDN saat melihat di sana.
Sebelum lupa, saya sempat menanyakan siapa saja keempat orang penulis buku ini. Tapi tidak ada jawaban. Akhirnya saya cari di blognya Bentang. Karena Bentang kan punya Klub Sastra. Dan ternyata sudah terpampang buku itu. Tertulis di sana penulisnya Hermawan Aksan dkk
Ini SINOPSIS-nya:
Jika kami terlihat begitu gagah dengan seragam ketat yang membungkus tubuh kami, ketahuilah bahwa

tubuh kami menyimpan banyak luka yang harus kami tutupi dari publik
kami harus belajar tutup mulut meskipun kekerasan terus berulang di depan mata
kami harus disiplin untuk menyimpan rahasia rapat-rapat
kami harus mematuhi senior dan menerima semua pukulan dan tendangan mereka
kami harus menghadapi neraka IPDN ini dan tetap terlihat gagah dan anggun

... tapi kami sudah tidak tahan lagi.

"Aku bosan mendapatkan pukulan terus-terusan. Aku ingin lari dari peristiwa-peristiwa mengerikan itu. Aku sangat ingin menceritakan semua itu kepada kedua orang tuaku. Tapi keberanian itu tak ada. Aku tak yakin orang tuaku bisa menerima semua ceritaku. Mereka sudah sangat bangga kepada anaknya yang menyandang sebutan Praja IPDN.".

Yang lebih penting lagi adalah Krisna menyemangati saya untuk menulis buku dan dia siap membantu. Ia tanya"Kapan menuliskan perjalanan jurnalistik ke Aceh?". Haduh pertanyaan yang berat dijawab. Karena terus terang saja, draft buku sudah ada sejak setahun lalu. Karena komputer PC di rumah krodit di saat lagi semangat tinggi, akhirnya semangat itu pun melorot. Sampai akhirnya lupa!! Kalau tidak diingatkan Krisna, mungkin terus saja lupa.
Saya bilang ke Krisna, tengah membikin rancangan untuk novel berlatar Batam. Dia pun memberi ide, gimana kalau dibuat juga novel dengan latar belakang penderitaan lahir dan batin masyarakat Aceh saat diterjang Tsunami? Wah, ide menarik. Mudah-mudahan semangat menulis saya tetap terjaga. Salah satunya lewat blog begini ini, saya memelihara semangat itu. (*)

No comments: