Tuesday, May 29, 2007

Jaka Sembung


ADA yang masih ingatkah dengan tokoh Jaka Sembung, jagoan silat di film era 80-an? Saya teringat lagi dengan tokoh idola anak-anak waktu itu, saat nonton televisi sebelum berangkat ke kantor, tadi pagi jam 08.00. Setiap pagi, TPI menyiarkan sinetron pagi "Emak Gue Jagoan". Nah, kebetulan episode hari ini "Engkong Kite Jaka Sembung".
Sinetron ini dibintangi Nicky Astria, lady rocker Kota Kembang, yang berperan sebagai Emak. Lalu saya baru teringat, pemeran Abah atau suaminya Nicky adalah Gito Gilas. Ha ha bener bener, dia Gito Gilas. Bintang lawas, yang jadi kakaknya Amir di film jadul ACI (Aku Cinta Indonesia = Amir Cici dan Ito).
Nah pasangan keluarga rukun, tapi jagoan silat ini, punya anak dua, Hanafi dan Fatimah. Dalam episode kemarin, dua anak ini berlibur ke rumah kakek nenek mereka. Sang Engkong diperankan oleh aktor kahot, jawara 80-an, Barry Prima.
Ceritanya saat itu lagi bulan puasa. Si Hanafi dan Fatimah bermimpi yang sama. Mereka masuk ke zamannya Jaka Sembung. Bisa diduga, tentu pemeran Jaka Sembung itu ya Barry Prima. Tak heran, jika Hanafi dan Fatimah ngotot kalau Jaka Sembung itu engkong mereka.

Saya hanya ingin cerita soal Jaka Sembung. Sinetron pagi tadi mengingatkan saya pada pada masa anak-anak dulu. Saya termasuk penggemar Jaka Sembung. Waktu itu zamannya Video HVS atau Betamax. Iuran sama teman-teman sekampung, buat pinjam video Jaka Sembung.
Saya masih ingat, guru Jaka Sembung adalah Eyang Sapu Jagat. Lalu film-film seri Jaka ini di antaranya Jaka Sembung vs Si Buta, Jaka Sembung vs Rawa Rontek, Jaka Sembung vs Bergola Ijo, Jaka Sembung dan Bajing Ireng. Kang Jaka, begitu kalau dipanggil ceweknya, entah siapa lupa lagi namanya.
Dalam setiap serinya, Jaka ini dikisahkan hidup di zaman kolonial. Dia berjuang untuk kepentingan rakyat. Tak tega melihat kemiskinan dan ketidakadilan menerpa rakyat. Setiap ada orang yang tertindas, Jaka tampil ke depan. Sampai dia dikejar-kejar ke pelosok-pelosok.
Pernah dalam satu cerita, Kang Jaka ini tertangkap serdadu kompeni. Kalau tidak salah, pada seri Jaka vs Si Buta. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke hadapan kompeni. Lalu kepalanya dipajang di alun-alun. Eh rupanya itu cuma sihir saja. Kang Jaka masih hidup. Kepala yang dipajang di alun-alun itu rupanya cuma kepala domba. Tapi karena pengaruh sihir, terlihat seperti kepalanya Jaka Sembung. Gurunya, Eyang Sapu Jagat tewas saat bertarung dengan Bergola Ijo. Nah Jaka mempelajari jurus pamungkas, Jurus Takwa, dan Bergola Ijo pun tewas. (*)

1 comment:

leksika said...

Thanks, for Jaka Sembung things...
Kang, Jaka Sembung dan teman-temannya yang entah merupakan legenda atau oral literature atau folklore tidak lain merupakan bentuk resistansi dari masyarakat kolonial. Moga-moga ini dugaan yang tidak keliru. Maksudnya, cerita itu muncul sebagai bentuk pelepasan diri atau eskapisme dari pahitnya realitas yang tidak dapat dipecahkan dengan perangkat realita dan logika. Maka Jaka Sembung menjadi semacam Rambo AS di vietnam...
Ada tidak ya karya tertulis Jaka Sembung. Ya mungkin semacam cerita bersambung seperti Api di Bukit Menoreh, atau novelnya??? Mohon Informasinya...Hutur Nuhun Kang