Saturday, December 18, 2010

Indoleaks


SEOLAH tak mau kalah dengan Wikileaks, Indonesia pun kini punya situs serupa, Indoleaks. Mengusung slogan "Sebab informasi adalah hak asasi", Indoleaks mengklaim kemunculannya sebagai jawaban atas kebuntuan informasi.

Bedanya, Wikileaks jelas pengelolanya, yaitu Julian Assange, yang kini menghuni penjara setelah ditangkap pemerintah Swedia. Sementara Indoleaks belum jelas siapa pengelolanya. Sejumlah penelusuran di dunia maya baru bisa mengetahui situs itu terdaftar di Denmark.

Kehadiran Indoleaks sendiri membuat kontroversi. Satu pihak tentu mendukung kebebasan menyampaikan informasi kepada publik. Kubu lain menyebutkan bahwa tidak semua informasi, khususnya informasi yang bersifat rahasia, bisa diungkap ke publik.

Hingga sepekan setelah kemunculan Indoleaks, sudah ada beberapa isu atau file yang diunggah ke dunia maya. File yang pertama muncul adalah transkrip percakapan Soeharto dengan Richard Nixon, presiden AS. Lalu ada pula laporan Kedubes Amerika mengenai Timor Timur, laporan tim kerja kasus Munir di paripurna DPR, serta laporan audit BPT atas lumpur Lapindo.

Isu yang dilempar Indoleaks memang belum terlalu "sensitif". Paling terbaru adalah hasil visum korban G-30-S. Dalam laporan itu disebutkan bahwa sejumlah jenderal yang gugur di Lubang Buaya tidaklah mengalami penganiayaan. Tapi kebanyakan mengalami luka tembak. Ini pun sebetulnya bukan hal baru karena dalam konteks akademis dan diskursus, fakta ini sering dikemukakan. Hanya saja belum masuk dalam penulisan-penulisan sejarah umum.

Walau begitu, pemerintah pun rupanya merasa perlu untuk memasang mata dan telinga, mengawasi perkembangan Indoleaks. Kementerian Informasi dan Komunikasi mengaku, mereka tak bisa menjerat situs Indoleaks ini dengan UU ITE, terkecuali jika Indoleaks menayangkan informasi rahasia.

Berbeda dengan situs porno yang diblokir Kemeninfo, Indoleaks masih terus berkibar. Kalaupun beberapa kali drop dan tidak bisa diakses, kemungkinan besar karena banyak yang mengunjungi situs dan mengunduh dokumen dalam waktu bersamaan.

Dari sisi kebebasan informasi, sah-sah saja apa yang dilakukan pengelola Indoleaks. Walau mengekor popularitas Wikileaks, setidaknya Indoleaks berupaya untuk memenuhi keingintahuan publik tentang ketertutupan beberapa persoalan di negara ini.

Di sisi lain, kita pun harus mewaspadai motif lain dari Indoleaks. Kalau Wikileaks membiarkan publik untuk menilai suatu isu yang diunggah, Indoleaks ada kecenderungan untuk memojokkan pemerintah. Selain itu, kita pun patut menduga ada motif bisnis dengan adanya penghitung pengunduh di Indoleaks, bukan penghitung jumlah pengunjung seperti Wikileaks.

Mengutip slogan film The X-File, "Kebenaran ada di luar sana", sudah sepatutnya kita menyaring setiap informasi yang masuk, menimbang sedemikian rupa, tidak asal telan bulat- bulat. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 14 Desember 2010.

Daniel Roekito


TERJAWAB sudah teka-teki siapa pelatih pengganti Jovo Cuckovic. Daniel Rukito lah nama yang disepakati manajemen dan PT Persib Bandung Bermartabat untuk mengarsiteki Persib Bandung hingga musim kompetisi 2010-2011 usai.

Diputuskannya nama Daniel tentu membuat reugreug, karena Persib sudah memiliki pelatih kepala. Setidaknya pemain tidak akan kebingungan siapa yang akan memimpin latihan Persib hari ini. Sebelumnya, saat nasib Jovo belum pasti, kadang-kadang latihan dipimpin asisten pelatih Robby Darwis. Namun di saat lain, tiba-tiba Jovo muncul dan memimpin latihan.

Kehadiran Daniel Roekito seakan memecahkan kegundahan dan kegelisahan pemain serta bobotoh Persib di tengah ketidakjelasan pelatih. Waktu yang kian mepet serta posisi Persib yang terbenam di dasar klasemen Liga Super Indonesia menjadikan Daniel ibarat oase di tengah gurun pasir, penawar dahaga di saat kehausan.

Tentu saja kita berharap banyak pada polesan Daniel Roekito. Sebagai pelatih lokal, Daniel tidak akan memiliki kendala dalam hal komunikasi. Tidak akan terjadi miskomunikasi karena ketidakpahaman bahasa, seperti saat dilatih Jovo.

Tangan dingin Daniel pernah membawa Persik Kediri menjuarai Liga Super, beberapa tahun lalu. Karakter dan gaya Daniel pun sudah dikenal beberapa pemain Persib. Tinggal bagaimana mengomunikasikan ini secara jelas, sehingga pemain bisa langsung klop dengan Daniel.

Memang segalanya serba mepet dan supercepat. 2 Januari 2011, Persib sudah berhadapan dengan Sriwijaya FC. Sementara empat pemain utama Persib masih bergabung dengan Timnas Merah Putih, setidaknya hingga pekan depan. Berarti hanya ada waktu sekitar tiga minggu untuk mempertemukan dan mempersatukan seluruh pemain dalam sebuah latihan di bawah komando Daniel.

Di sinilah kerja keras tak hanya milik Daniel. Pengalaman Daniel yang sudah tapak legok kenteng kadek di dunia persepakbolaan Indonesia akan menjadi sia-sia jika ia singlefighter. Pemain, manajemen, juga bobotoh, harus turut kerja keras agar suasana latihan terasa lebih nyaman. Tak perlu lagi ada yang mempersoalkan pelatih, karena kenyataannya Daniel Roekito lah pelatih Persib. Tak perlu juga intrik-intrik internal dan eksternal yang menyebabkan suasana menjadi keruh.

Semua pihak harus mendukung agar Persib bisa mencapai kemampuan maksimalnya saat tanding kembali di awal tahun depan. Singkirkan semua prasangka-prasangka tak karuan. Curahkan semua potensi, daya, pikiran, dan kemampuan untuk Persib. Agar tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat ini tak terus dirundung malang.

Saatnya Persib bangkit kembali, menjadi Maung yang sebenarnya. Maung yang ditakuti lawan-lawannya di lapangan, bukan di atas kertas. Semoga harapan-harapan kejayaan Persib itu tak membebani Roekito. Tapi justru menjadi pemicu dan pemacu untuk membangkitkan kembali Persib Bandung. Semoga.(*)
Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 2 Desember 2010.

Wednesday, November 24, 2010

Ketika Sayap Garuda Patah-patah

GARUDA sudah lama mengarungi angkasa Nusantara. Bahkan belahan dunia di timur dan barat pun sudah merasakan bentangan sayap Garuda. Dia terbang membawa harum kedigdayaan Indonesia. Secara langsung ataupun tak langsung, Garudalah yang memperkenalkan budaya dan keramahtamahan pengisi negeri zamrud khatulistiwa ini.
Itulah Garuda Indonesia, dulu dikenal sebagai Garuda Indonesia Airways, maskapai penerbangan andalan Indonesia. Maskapai yang diagung-agungkan memiliki layanan paling jempol di udara.

Tapi itu bisa jadi cerita lama. Karena hari-hari terakhir ini, kepak sayap Garuda seperti patah- patah. Penundaan dan pembatalan penerbangan di sana-sini membuat penumpang memaki-maki. Jemaah haji asal Banjarmasin terlambat pulang kampung gara-gara pembatalan Garuda.

Mereka yang baru menunaikan ibadah haji pun tak luput dari rasa marah plus bersungut-sungut atas layanan Garuda yang jeblok. Ratusan, mungkin ribuan, penumpang baik domestik maupun mancanegara telantar, gara-gara jadwal penerbangan yang tak pasti. Kekecewaan kian memuncak karena Garuda hanya mau mengganti uang tiket sebesar 25 persen saja. Kalau penumpang tidak ngotot, bisa-bisa cuma 25 persen itu yang bisa dibawa pulang.

Kekacauan ini kabarnya diakibatkan belum pulihnya sistem mapping kru dengan nomor pesawat. Garuda baru menerapkan Integrated Operating Control System (IOCS). Tak heran, jadwal pun jumpalitan tak karuan. Petugas menjemput pilot ke rumahnya, padahal si pilot tengah bertugas ke Hongkong. Tentu saja istri pilot jadi bertanya-tanya sekaligus curiga, jangan-jangan suaminya telah berbohong dengan menyebut ada jadwal terbang ke Hongkong.

Di sinilah kredibilitas dan profesionalitas Garuda dipertaruhkan. Ini terkait dengan rencana penawaran saham perdana Garuda ke publik. Bayangkan, bagaimana jadinya perusahaan yang tidak bisa menata dengan baik jadwal penerbangan, sok-sokan mau jual saham segala. Perbaiki diri dulu, baru mejeng di bursa saham, mungkin begitu pikiran nakal para analis.

Tentu para investor akan berpikir dua kali atau mungkin lebih untuk membeli saham Garuda. Indikator yang kasat mata, seperti persoalan delay, tentu menjadi bahan masukan bagi para investor. Lebih buruk lagi jika Garuda dipersepsikan investor sebagai perusahaan yang sebenarnya bagus di luar, tapi rapuh di dalam.

Karena itu, mumpung belum melangkah jauh, rasanya lebih baik memperbaiki kondisi di internal Garuda dulu. Di antaranya, memperbaiki upgrading system yang saat ini tengah berlangsung.

Tak perlu malu dan juga tak ada salahnya Garuda Indonesia menunda IPO. Membenahi sistem pelayanan ke masyarakat agar performa jauh lebih unggul, tentu lebih baik ketimbang terus delay, lalu cancel, dan akhirnya gagal terbang. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Rabu 24 November 2010.

Thursday, November 11, 2010

Gayus Lagi

OH, Gayus Halomoan Tambunan kembali membuat sensasi. Walau resminya terdakwa kasus mafia pajak itu tahanan Rutan Brimob Kelapa Dua, tak resminya ternyata dia bisa keluar masuk sesuka hati. Berbekal alasan kepala pusing, sakit perut, dan lain-lain, Gayus bebas melenggang kangkung tanpa diketahui wartawan, teman serutan, kecuali oleh petugas yang harus mengawal Gayus.

Aksi keluyuran Gayus ini terungkap setelah orang yang mirip Gayus berhasil dijepret fotografer Kompas saat tengah menonton pertandingan tenis di Nusa Dua, Bali. Orang ini mengenakan kacamata dan rambut yang jelas terlihat palsu. Ciri-ciri fisik orang ini betul- betul mirip Gayus. Dagu belahnya, hidungnya, alisnya, semuanya sama.
Indikasi bahwa orang tersebut benar-benar Gayus adalah pencopotan Kepala Rutan Brimob Kelapa Dua, Kompol Iwan Siswanto, dari posisinya, selang pemberitaan tentang Gayus yang keluyuran hingga ke Bali itu merebak.

Tapi seperti biasa, walau kepala Rutannya sudah dicopot, Mabes Polri belum memastikan bahwa Gayus lah orang yang asyik nonton si cantik Hantuchova bertanding. Bahkan Gayus pun membantah kalau ia suka minta izin keluar untuk berobat ke Rutan. "Mana bisa, kan di gembok," begitu kilah Gayus.


Tapi seribu kilah tidak akan bisa mengalahkan fakta. Foto orang yang mirip Gayus menjadi bukti tak terbantahkan dari kehebatan seorang Gayus. Sembilan orang petugas jaga Rutan menjadi korban Gayus, dicopot dari jabatan masing-masing.

Jika Gayus keluyuran ke Bali adalah fakta, pertanyaannya ada keperluan apakah dia di Bali? Apakah ia muncul di pulau Dewata itu juga masih terkait dengan kasus mafia pajak? Adakah kehadiran konglomerat Aburizal Bakrie di tempat yang sama pada hari yang berbeda terkait pula dengan tujuan kedatangan Gayus di Pulau Dewata?

Satu hal yang pasti, lolosnya pengawasan terhadap Gayus mencerminkan begitu kuasanya seseorang yang memiliki uang. Walau rekening sudah diblokir, Gayus tetaplah seorang Gayus, yang mampu menyetir orang lain, di manapun ia berada. Dari orang sekelas hakim, pengacara, pejabat polisi, semua bisa terkena sihir uang Gayus.

Ini tentu sangat mengherankan, karena baru saja pucuk pimpinan Polri diganti. Kapolri baru, Timur Pradopo, bertekad untuk membersihkan tubuh Polri dari segala kebusukan kroniisme, suap, dan korupsi. Tapi itu rupanya hanya komitmen di tingkat elite, belum menyebar menjadi kata dan tindakan di tingkat akar rumput.

Saatnya pimpinan Polri membongkar kolusi di rumah tahanan. Agar virus Gayus tidak menyebar ke tempat lain dan semakin memperburuk citra kepolisian. Sudah saatnya kita secara tegas menyatakan perang terhadap aksi-aksi mafia semisal Gayus.(*)
Sorot, dimuat di Harian Tribun Jabar edisi Kamis 11 November 2010.

Tuesday, November 02, 2010

Inggit Garnasih

KISAH hidup dan perjuangan Inggit Garnasih, istri Soekarno, akan difilmkan. Rencananya, Mizan Production akan memulai pengambilan gambar pada tahun depan.
Kesampingkan sosok Maudy Kusnaedi, yang digadang-gadang bakal memerankan tokoh Inggit.

Kita tak perlu berdebat apakah Maudy, yang begitu lekat dengan sosok Zaenab di sinetron Si Doel Anak Sekolahan, mirip dengan Inggit muda atau tidak. Yang perlu diapresiasi adalah upaya untuk mengangkat kisah tokoh perjuangan yang bisa menginspirasi kemerdekaan bagi bangsa ini.

Kita tahu pasti, tidaklah mudah mengangkat sebuah roman sejarah menjadi film yang komersial. Belum tentu pula, film Inggit akan sesukses film-film yang dibuat Mizan Production sebelumnya, seperti Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku.

Tapi langkah seperti ini yang harus didukung masyarakat luas. Di tengah terjangan film-film horor, komedi, dan berbau porno, kemunculan film-film berkualitas, walau secara kuantitas kalah jauh, ibarat oasis, penawar dahaga bagi masyarakat.

Sesungguhnya masyarakat bosan dicekoki film-film yang mempertontokan kemolekan dan kecantikan pemerannya. Tengok ketika Sang Pencerah, film tentang sosok Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, diluncurkan beberapa waktu lalu. Ternyata sambutannya luar biasa. Masyarakat, setidaknya lewat film ini, bisa belajar soal sejarah berdirinya organisasi keislaman itu.

Lebih dari itu, ada nilai-nilai yang ditawarkan dalam film-film berkualitas semacam itu. Ketika masyarakat dikotak-kotakkan dalam baju organisasi yang sempit, ketika perbedaan kecil menjadi penyebab huru-hara, film Sang Pencerah bisa menunjukkan cara mengatasi perbedaan.

Itu pula yang diharapkan dari film Inggit. Sosok Inggit adalah sosok perempuan tangguh yang mengaping, mendampingi, dan membimbing calon pemimpin besar bangsa ini. Tak heran, banyak yang berpendapat, seandainya saja bukan Inggit yang mendampingi Soekarno di saat-saat periode sebelum merdeka itu, sangat mungkin Soekarno tidak akan menjadi pemimpin bangsa, bahkan belum tentu lulus dari Technische Hogeschool (ITB sekarang).

Perjuangan dan kesetiaan Inggit, itulah yang menjadi inti dari hidup Inggit. Mendampingi Kus atau Ngkus, panggilan sayang Inggit kepada Kusno atau Soekarno, dalam suka ataupun duka. Tak pernah mengeluh sedikit pun, walau Soekarno berada di dalam penjara. Berjalan kaki dari daerah Ciateul ke Sukamiskin, hanya untuk menengok belahan jiwanya, bukanlah hal yang memberatkan bagi Inggit.
Semua demi Soekarno, agar ia matang menghadapi perjuangan membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan dan kebodohan. Dalam hal Inggit ini, adagium di sisi pria yang sukses terdapat perempuan yang hebat, terbukti adanya.

Di sisi lain, memang sudah saatnya peran perempuan Sunda di zaman kolonial ataupun kemerdekaan diangkat ke pentas nasional. Agar masyarakat tahu, perempuan Sunda pun memiliki jasa luar biasa untuk bangsa ini.

Salut untuk Mizan Production yang fokus membuat film-film yang mencerdaskan masyarakat. Dan langkah pembuatan film roman sejarah semacam ini perlu ditiru produser-produser lain. Agar bangsa ini benar-benar bisa mengejar ketertinggalannya dari negeri jiran dan bangsa lain di dunia. Mungkin, suatu hari nanti, akan ada pula yang memfilmkan kisah Mbah Maridjan, si penunggu setia Gunung Merapi. Tentu bukan unsur klenik atau mitosnyayang menonjol, melainkan pengabdian dan kesetiaan memegang teguh amanah yang harus menjadi suri teladan. Tabik! (*)

Friday, October 22, 2010

Efek Facebook

JEJARING sosial seperti Facebook memiliki dua sisi mata pisau yang sama tajamnya. Sisi positifnya sudah sangat jelas, Facebook menyambung kembali tali silaturahmi diantara para pengguna.

Selain itu, harus diakui, Facebook adalah media yang paling efektif saat ini untuk mempromosikan segala sesuatu. Ada 500 juta lebih pengguna di seluruh dunia. Data terakhir CheckFacebook per 12 Oktober 2010, menyebutkan ada 27.953.340 pengguna Facebook di Indonesia dengan jumlah pengguna pria sedikit lebih banyak dibanding pengguna wanita.

Potensi jumlah pengguna ini yang menjadi sasaran promosi. Sekali saja seorang pengguna menawarkan barang untuk dijual, berarti sekian juta orang yang akan melihat penawaran tersebut. Tak heran, Facebook menjadi ajang transaksi dan promosi yang digandrungi saat ini.

Tapi tengok pula sisi lain Facebook yang dimanfaatkan orang-orang tertentu untuk kepentingannya sendiri. Kehadiran Facebook menjadi lahan baru kalangan hacker untuk mengeruk keuntungan. Mereka beraksi memanfaatkan celah sistem keamanan Facebook yang masih bisa ditembus.

Tak heran, akun seorang mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan Dewan Pertimbangan Presiden, Jimly Asshiddiqie pun bisa berubah menjadi akun jualan laptop. Lalu seorang wartawan pun secara sukarela mentransfer sejumlah uang untuk membeli Ipad ke rekening temannya di FB, yang ternyata sudah dikuasai hacker.

Begitu pula dengan fenomena hilangnya sejumlah gadis setelah berkenalan dengan pria di Facebook adalah sisi negatif penggunaan jejaring sosial ini. Mendengar kisah Devi, remaja berusia 13 tahun, tentu akan membuat para orang tua benar-benar menjaga jarak dari Facebook.

Pelajar salah satu SMP negeri di Kota Bandung itu dibawa lari selama lima belas hari oleh seorang pemuda yang baru dikenalnya dua hari di Facebook. Apa alasan utama Devi mau "dibawa jalan-jalan" oleh Reno Tofik, lelaki asal Pagaden Subang itu? Ternyata, Devi tertarik dengan ketampanan Reno yang dilihatnya dari foto di Facebook. Hanya karena alasan itulah, Devi janjian bertemu dengan Reno.

Selanjutnya, mereka berpindah-pindah ke beberapa kota. Meski berkali-kali ingin pulang, Devi tak bisa lepas dari rayuan Reno. Beruntung petualangan itu berakhir, setelah polisi menangkap Reno di rumahnya di Pagaden.

Dan cerita seorang gadis dibawa lari lelaki yang baru dikenal di Facebook ini bukanlah yang pertama. Tapi banyak kasus serupa juga terjadi di sejumlah daerah. Ini menjadi warning atau peringatan kepada para orang tua di rumah. Pengawasan seperti apa yang sudah diterapkan kepada anak-anaknya terkait penggunaan internet? Apakah keluarga sudah menjadi solusi dari persoalan yang dialami anak-anak?

Ada indikasi, anak-anak sekarang mendapat saluran ekspresi mereka di jejaring sosial itu, yang tak mereka dapatkan di keluarga. Mereka bebas meluapkan perasaan mereka lewat tulisan status atau foto dan video yang secara mudah bisa diunggah di Facebook.

Sekali lagi, fenomena ini menjadi peringatan lampu merah kepada seluruh keluarga di Indonesia. Bahwa "musuh tak terlihat" yang bisa menjerumuskan anak-anak dan para remaja tak datang dari jauh, tapi dekat dengan keseharian kita. Saatnya kita mengevaluasi kembali pendidikan kepada anak di rumah, juga pengawasan dan penghargaan kepada mereka. Jangan sampai anak-anak kita lebih mementingkan komunikasi dan lebih merasa dihargai kala beraktivitas di jejaring sosial, sehingga engan bertatap muka dan berbicara langsung dengan orang tua untuk mencurahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 22 Oktober 2010.

Thursday, October 14, 2010

Serba Instan

PENGHUNI negeri ini memang paling menyukai hal yang instan, serba cepat. Cepat mendapatkannya dan cepat melupakannya. Menjadi artis atau idol pun bisa instan, tinggal ikut ajang adu bakat di televisi, maka jadilah artis baru. Membuat kartu penduduk pun bisa instan, cepat, dan murah. Saking instannya, seorang buron teroris yang dikejar-kejar Densus 88 pun bisa punya kartu tanda penduduk resmi sampai di dua tempat.

Begitu pula soal makanan, orang sini semuanya ingin serba cepat. Cepat tersaji, cepat bayar, cepat makan, dan cepat pulang. Padahal makanan yang cepat saji itu belum tentu sehat. Di negeri asalnya, negeri Paman Sam, makanan cepat saji dibilang makanan sampah. Makanan yang hanya cocok buat perut karung, tak bergizi, dan membawa cikal bakal penyakit.

Larangan mi instan asli buatan Nusantara di negara sempalan Cina, Taiwan, membuat heboh para penggemar mi instan. Bayangkan saja, dalam setahun ada 14 miliar bungkus mi yang dikonsumsi rakyat Indonesia. Jika di dalamnya ternyata mengandung zat pengawet berbahaya, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan masyarakat ini, terutama masyarakat kalangan bawah. Sudah tertindas secara ekonomi, ternyata isi perut pun harus tertindas.

Keberadaan mi instan ini memang sejalan dengan pergerakan orang yang kian cepat, seperti dikejar-kejar penagih utang. Tak ada lagi waktu makan yang santai. Tak ada waktu pula memasak masakan secara komplet. Akhirnya mi instan yang supercepat menjadi sahabat terbaik para pekerja malam, ibu-ibu yang malas memasak, pelajar dan mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua.

Menurut penelitian badan yang berwenang mengawasi dan meneliti makanan, mi instan aman dikonsumsi. Tentu ini melegakan kita semua. Artinya, miliaran mi yang masuk ke perut rakyat Indonesia tidak akan jadi persoalan kesehatan.

Itu kalau mi instan dikonsumsi sebatas makanan penyelang. Tapi bagaimana jika mi dari bahan gandum itu terus dikonsumsi setiap hari dan menjadi makanan utama rakyat miskin? Bukankah dalam mi itu pun terkandung pula bahan-bahan kimia, termasuk bahan pengawet kosmetik yang dosisnya terbatas? Sekali lagi, terbatas jika yang dikonsumsi hanya satu bungkus. Banyak cerita, orang-orang terkapar di rumah sakit gara-gara kesehatan ngedrop akibat doyan mi instan.

Tapi percayalah, orang-orang Indonesia sudah kebal dengan segala kesulitan. Instan dalam pemikiran awam adalah siap berjuang keras, berkelahi melawan waktu, mempertahankan hidup, serta menjaga martabat diri dan keluarga. Instan adalah energi bagi sebagian besar rakyat Nusantara, khususnya yang hidup di kolong jembatan, besar di jalanan.

Kita tinggal menunggu cerita instan terkini, soal sekelompok orang yang ingin mengganti pemerintahan yang sah pada 20 Oktober mendatang. Mereka berniat menggulingkan SBY dan pemerintahannya. Kemudian mengganti dengan pemerintahan yang lebih bersih. Siapa yang akan jadi pemimpinnya kalau "kudeta" itu berhasil? Ya, instan juga. Bagaimana nanti saja, toh "kudetanya" juga belum tentu sukses. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar

Monday, October 04, 2010

Teka-teki Calon Kapolri

SIAPA yang bakal menjadi calon Kapolri pengganti Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri menjadi teka-teki besar dan membuat penasaran publik. Keingintahuan itu wajar, karena Polri tengah disorot masyarakat, baik karena prestasinya maupun tentang kasus-kasus yang muncul belakangan ini, seperti kasus rekening gendut perwira dan kasus Susno.

Sejumlah nama sempat bermunculan dalam bursa calon Kapolri. Tapi yang kemudian menguat hanyalah dua orang, yaitu Komjen Pol Nanan Sukarna, alumni akademi kepolisian angkatan 1978, dan Komjen Pol Imam Sujarwo, alumni akademi kepolisian angkatan 1980. Terlebih dua nama inilah yang disebut-sebut diusulkan Kapolri ke Presiden.

Yang mengejutkan, Senin (4/10) atau enam hari sebelum BHD pensiun, terjadi lagi pergeseran posisi alias mutasi secara mendadak. Kesan mendadak itu muncul, karena pelantikan itu dilakukan saat Kapolri tengah mengikuti rapat kabinet.
Ketika SBY berpidato, Kapolri Bambang Hendarso meninggalkan ruangan rapat. Ternyata ia meluncur kembali ke Mabes Polri dan melantik tiga perwira tinggi sekaligus.


Ketiganya adalah Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Timur Pradopo menjadi Kepala Bagian Pemeliharaan Keamanan (Kabaharkam), Kapolda Jabar Irjen Pol Suratman menjadi Kapolda Metro Jaya, dan Irjen Pani Parto yang sebelumnya bertugas di Badan Intelijen Nasional (BIN) menggantikan posisi Suratman.

Dengan mutasi terakhir ini, Timur pun mendapat tambahan satu bintang di pundak menjadi tiga. Karena jabatan Kabarharkam (sebelumnya disebut Kababinkam) memang diisi jenderal bintang tiga.

Otomatis naiknya Timur membuat peta "persaingan" menuju kursi Kapolri kian ketat. Sebelumnya Timur juga masuk bursa calon Kapolri bersama Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno. Namun persoalan pangkat, yang masih bintang dua, menjadi kendala untuk menuju kursi Kapolri.

Walau sering dikatakan dalam setiap acara serah terima jabatan, bahwa mutasi adalah hal biasa dalam organisasi, tapi jelas mutasi kali ini tidaklah biasa. Apakah mutasi ini jalan pintas untuk melempangkan langkah Timur menuju kursi Trunojoyo 1, tidak ada yang tahu, kecuali Kapolri dan Presiden.

Selain nama Timur, muncul pula nama Kabareskrim Komjen Pol Ito Sumardi sebagai calon Kapolri. Nama Ito disebut-sebut, karena bisa mengatasi "konflik" internal yang terjadi saat nama Nanan dan Imam diusulkan. Ito kabarnya sebagai jalan tengah agar gap dan persaingan antarangkatan tidak kian melebar.

Selain itu, Ito tidak berambisi atau memiliki naluri politik. Berbeda dengan nama-nama yang disebutkan sebelumnya, yang kabarnya membentuk tim sukses. Tim sukses ini bergerilya ke sejumlah anggota parlemen, melobi agar jagoan mereka bisa mulus saat uji kelayakan dan kepatutan, sehingga jadi Kapolri.

Publik, begitu pula anggota parlemen, hanya bisa menduga-duga siapa nama calon Kapolri yang akan diajukan. Bagaimanapun, Presiden lah yang memiliki otoritas tertinggi menentukan siapa yang bakal menjadi Kapolri. Kita mesti bersabar menunggu.
Sisa waktu lima hari jelang pensiun BHD menjadi detik-detik yang menegangkan bagi sejumlah kalangan. Siapapun nama yang nanti diajukan Presiden SBY, dia harus mampu menjaga soliditas Polri, membawa institusi Polri menjadi penegak hukum yang lebih profesional, dan membersihkan tubuh Polri dari korupsi. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 5 Oktober 2010.
NB: Tulisan selesai dibuat Senin (4/10) pukul 18.00. Pada pukul 19.20, Ketua DPR RI menyatakan SBY sudah menyerahkan surat tentang pengganti Bambang Hendarso yaitu Timur Pradopo.

Tuesday, September 28, 2010

Jangan Cuma Ikrar di Mulut

SEBUAH pernyataan keras disampaikan Wali Kota Bandung Dada Rosada terkait geng motor. Dada mewacanakan pembubaran kelompok bermotor yang meresahkan wacana. Menurut Dada, sebuah partai politik atau organisasi kemasyarakatan pun bisa dibubarkan oleh pemerintah, apalagi sebuah geng motor.

Pernyataan Dada ini menyikapi munculnya kembali aksi-aksi kekerasan yang ditimbulkan anggota geng motor di Kota Bandung. Keprihatinan orang nomor satu di Bandung itu pantas mengemuka, karena aksi-aksi geng motor itu sudah meresahkan dan merugikan masyarakat.

Seharusnya hal tidak terjadi, jika mereka yang pernah berkomitmen untuk tidak melakukan kekerasan benar-benar bisa melaksanakannya di lapangan. Karena kita tahu, pekan lalu, sejumlah pengurus pengurus komunitas otomotif, pimpinan geng motor, dan pejabat kepolisian, di hadapan wartawan menyatakan ikrar tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan negatif. Selain itu, mereka pun tidak ingin lagi disebut geng motor. Pernyataan komitmen bersama itu dilakukan beberapa hari sebelum digelarnya ajang jambore otomotif di Subang. Ironisnya, justru di ajang itulah, terjadi keributan antara dua geng motor yang sebelumnya sudah berikrar.


Di situlah persoalannya jika komitmen bersama hanya menjadi milik elite, sementara akar rumput tak pernah mendapat informasi yang jelas. Mungkin ada persoalan komunikasi, sehingga ikrar dan komitmen itu tidak menyentuh anggota terbawah. Tapi sangat mungkin pula, jika kekerasan sudah mendarah daging dalam diri mereka, sehingga tak bisa menghilangkan begitu saja dalam waktu satu dua hari.

Yang patut diingat, bahwa ikrar itu tidak hanya diucapkan di mulut saja, tapi juga ditanamkan dalam hati dan kemudian diikuti dengan tindakan. Jika masyarakat diminta tidak menyebut lagi kelompok bermotor yang sering melakukan perusakan sebagai geng motor, tentunya harus diiringi pula dengan komitmen dari kelompok tersebut bahwa mereka benar-benar tidak pernah bersikap dan beraksi seperti geng.

Kita menyadari benar, bahwa mengubah sesuatu memang tidak bisa dilakukan sekejap dan semudah membalikkan tangan. Tapi tetap harus ada upaya serius dari aparat berwenang untuk menanganinya.

Jikalau Wagub Jabar Dede Yusuf meminta anggota geng motor masuk ke Pramuka, itu hanya salah satu cara penanganan yang ditawarkan pemerintah daerah. Karena yang lebih penting adalah adanya pembinaan secara intensif dari aparat berwenang, baik kepolisian maupun pemerintah daerah, agar anggota geng motor ini benar-benar bisa memegang teguh komitmen dan bisa meredam keinginan untuk selalu melakukan kekerasan kepada kelompok yang lain.(*)
Sorot, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar Edisi Selasa 28 September 2010.

Monday, September 20, 2010

Pelesiran Dewan

ANGGARAN untuk studi banding bagi anggota DPR tahun ini ternyata naik 700 persen dibanding lima tahun sebelumnya. Dengan anggaran sebesar Rp 162,9 miliar, bandingkan dengan anggaran sebesar Rp 23,6 miliar pada tahun 2005, para wakil rakyat itu bisa melancong ke Prancis, Jerman, Norwegia, Belanda, Jepang, Korea Selatan, bahkan ke
Maroko dan Afrika Selatan di benua hitam.

Judul kunjungannya memang keren-keren. Studi banding program kerja parlemen, studi banding untuk RUU Perumahan, studi banding Panja RUU Kepramukaan, dan sebagainya. Tergantung dari aturan apa yang akan dikaji dan dibandingkan dengan negara lain oleh wakil rakyat.

Tapi apa yang dibandingkan tak selalu berbekas pada output. Memang belum pernah ada studi secara khusus yang menelaah bahwa kunjungan wakil rakyat yang mengatasnamakan studi banding itu sia-sia belaka. Tapi manfaat yang terasa dari kunjungan itu pun tak lebih besar, kalau tidak dibilang minim. Alih-alih bermanfaat, yang terjadi adalah pemborosan uang negara yang notabene adalah uang rakyat.


Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa saat studi banding atau kunjungan itu, para wakil rakyat banyak yang membawa serta anggota keluarga, minimal istrinya. Dan yang lebih menyedihkan, biasanya kunjungan secara resmi hanya memakan waktu singkat, tapi plesirannya lebih banyak dan lebih lama ketimbang kunjungan.

Mungkin kita masih ingat dengan tragedi di Bunaken, beberapa waktu lalu, saat anggota dewan melakukan kunjungan kerja ke Gorontalo. Salah satu korban perahu tenggelam adalah istri anggota DPR. Beberapa tahun lalu, sempat pula heboh, anggota DPR yang kunjungan ke Jerman tertangkap kamera tengah shopping di pusat perbelanjaan di sana.

Selain itu, kebanyakan hal yang akan dikaji para wakil rakyat itu pun sebenarnya bisa diperoleh melalui internet atau mengirim surat secara resmi antarparlemen. Di sisi lain, kegiatan kunjungan itu menjadi hal yang ditunggu-tunggu wakil rakyat.
Karena tentu biaya dinasnya sangat menggiurkan. Untuk sekali jalan ke luar negeri saja, Sekretariat DPR menyiapkan dana Rp 1,7 miliar. Tinggal hitung berapa uang saku dan akomodasi untuk masing-masing anggota dewan plus ongkos terbang. Dan itu tak hanya di DPR, di DPRD pun begitu. Kunjungan kerja menjadi semacam tambahan pundi di luar gaji resmi.

Padahal jika dewan, juga eksekutif, bisa mengefisienkan anggaran kunjung ke luar negeri, bisa menghemat triliunan rupiah. Nilai rupiah yang jika dibelanjakan mungkin bisa menambah pesawat Sukhoi dan persenjataan TNI lainnya.

Tapi dikritik habis berkali-kali pun, Dewan tetap bergeming dan pandai berkelit. Mereka berlindung di balik undang-undang yang memperbolehkan wakil rakyat berkunjung ke luar negeri. Undang-undang pun tak menyebutkan larangan wakil rakyat membawa keluarga saat kunjungan itu.

Tengok pernyataan Ketua DPR RI Marzuki Alie yang justru mengeluhkan kurangnya uang saku saat kunjungan ke luar negeri. "...Mereka dapat uang harian, mereka dapat uang transport. Kadang kala uang harian itu tidak cukup bayar hotel dan makan, khususnya kalau kunjungan itu dilakukan di negara maju seperti Eropa dan Jepang".

Tentu setiap orang bisa menilai apa saja karya nyata para wakil rakyat ini. Apakah pascaplesiran itu para wakil rakyat sering menyampaikan hasil kunjungan dan implementasinya ke dalam subjek yang tengah dikaji? Rasanya jarang mendengar hal seperti itu.

Seperti halnya sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang sering memonitor soal anggaran, seperti TII, masyarakat luas pun harus berani memantau wakil rakyat mereka. Jangan biarkan wakil rakyat yang bekerja atas nama rakyat justru menghambur-hambur uang rakyat. Masyarakat harus menagih janji mereka yang duduk di kursi dewan untuk bekerja sepenuhnya demi kemaslahatan dan kesejahteraan masyakarat.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu 18 September 2010.

Ketika Gembira dan Sedih Bercampur

TAK pernah ada perasaan kegembiraan dan kesedihan yang bercampur-baur kecuali saat Ramadan berakhir. Kegembiraan datang, karena ujian yang penuh dengan godaan untuk mencapai derajat takwa selama satu bulan penuh telah selesai. Sementara kesedihan merayapi hati disebabkan bulan agung yang penuh berkah itu betul-betul meninggalkan kita.

Kapan lagi kita punya kesempatan mereguk kenikmatan salat malam dan tadarus Alquran secara rutin, selain di bulan Ramadan. Bukankah di hari-hari biasa di luar Ramadan, ibadah-ibadah sunnah itu tak rajin kita kerjakan? Hanya karena "paksaan" Ramadan, maka yang sunnah pun seakan menjadi wajib. Dan itu sepadan dengan nilai pahalanya. Pahala ibadah yang sunnah disamakan dengan nilai pahala wajib. Yang wajib, tentu berlipat-lipat ganda lagi pahalanya dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Sungguh luar biasa sesungguhnya jamuan yang disajikan Allah Swt di bulan agung ini. Tak pernah ada "obral" pahala selain di bulan Ramadan. Tak pernah ada "sale habis-habisan" tobat, kecuali hanya di bulan Ramadan.

Apakah kita sudah memanfaatkan peluang menambah pundi-pundi amal dan bekal selama Ramadan yang tinggal menyisakan dua hari terakhir ini? Jawabannya kembali pada diri masing-masing. Karena diri sendirilah yang merasakan perbedaan antara Ramadan tahun lalu dengan tahun sekarang.

Sebelum pulang ke kampung yang sesungguhnya, yaitu kampung akhirat, mumpung masih diberi kesempatan seluas-luasnya menyelami Ramadan, kita manfaatkan dua hari terakhir di bulan Ramadan ini sebagai hari terbaik dan terindah sepanjang hidup kita.

Karena kita tidak pernah tahu, apakah bisa berjumpa kembali dengan Ramadan di tahun depan. Apakah kali ini menjadi Ramadan terakhir untuk kita. Atau, mungkin menjadi Ramadan terakhir di lingkungan kita yang sekarang. Kita tidak pernah tahu akan rencana- rencana-Nya. Karena itu, penting sekali untuk meresapi kedalaman pesan Ramadan kali ini - entah yang terakhir atau bukan - untuk memaksimalkan pelaksanaan seluruh amaliyah dan berbuat kebajikan dengan sekeliling kita.

Harapan kita semua, di Ramadan ini kita bisa jadi pemenang sesungguhnya. Bukan pemenang karena tamat berpuasa atau khatam Alquran, tapi pemenang sejati menjadi insan kamil, insan sempurna karena berhasil meraih gelar takwa.

Semoga kita terlahir fitri kembali, bersih suci seperti bayi yang baru keluar dari rahim ibunya. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Rabu 8 September 2010.

Saturday, August 28, 2010

Janji Nagreg

SABTU (28/8) ini, rencananya jalur Lingkar Nagreg akan diujicobakan. Uji coba ini dipandang perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana kelayakan jalan baru ini, mengingat pengerjaannya belum tuntas 100 persen. Sementara pekan depan, arus mudik sudah dimulai.
Apabila memang layak dari sisi konstruksi dan juga keselamatan, tentu menjadi berita gembira bagi para pemudik. Karena mereka tidak akan dihadang kemacetan yang mengular di daerah ini. Namun jika tidak layak, konvoi pemudik dari arah Bandung dan arah Garut serta Tasikmalaya harus berjejalan di turunan dan tanjakan Pamucatan, Nagreg, daerah rawan macet dan mogok.

Persoalannya, layak atau tidak layak, Jalur Lingkar Nagreg ini akan tetap dipaksakan untuk digunakan, seperti ditegaskan Kepala Dishub Jabar Dicky Saromi. Risiko tentu saja pasti ada ketika memilih memaksakan operasional Lingkar Nagreg. Namun itulah yang ditempuh Dishub agar tidak terjadi kemacetan di jalur Nagreg.

Pilihan lanjutannya adalah menyeleksi jenis kendaraan yang bisa melalui jalur Lingkar Nagreg ini. Kendaraan-kendaraan berat pengangkut barang, kecuali sembako, dilarang melalui Nagreg. Sementara untuk pemudik motoris pun ada pilihan, memakai jalur Cijapati atau Wado.

Bertahun-tahun lamanya, persoalan kemacetan di Nagreg pada saat arus mudik dan balik Lebaran tak pernah terpecahkan. Berbagai cara dilakukan untuk mengurai kemacetan, tapi tetap saja, selalu berulang dan berulang, sehingga kemacetan di Nagreg menjadi sebuah tradisi.

Pernah muncul gagasan membuat jalan layang dari jalan rel kereta api ke Ciaro, tapi gagasan itu tertiup angin. Yang kemudian berjalan adalah proyek Jalan Lingkar Nagreg, pembuatan jalan baru di sebelah selatan jalur Nagreg.

Terobosan dengan membuat Lingkar Nagreg ini merupakan sebuah "revolusi" untuk memecahkan kemacetan abadi di Nagreg. Tak heran, pengerjaannya pun menjadi prioritas, terutama setelah disorot Presiden SBY saat mengunjungi Nagreg, tahun 2008.
Ketika itu dijanjikan, Lingkar Nagreg bisa dipakai pada saat arus mudik dan balik, dan dijamin tidak akan ada kemacetan. Namun begitulah, sampai setahun kemudian, tetap saja terjadi kemacetan saat arus mudik dan balik di jalur mudik selatan ini.

Tahun ini pun, beberapa bulan sebelum Ramadan tiba, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan menjanjikan proyek Lingkar Nagreg akan tuntas sebelum Ramadan. Kenyataannya, sampai uji coba digelar, pengerjaan proyek prestisius ini belum tuntas seratus persen.

Tapi jika melihat kerja keras berbagai instansi yang terkait dengan proyek ini, rasanya kita punya harapan besar bahwa kemacetan di Nagreg tidak akan terjadi lagi. Jalan melingkar sepanjang 5,3 km itu menjadi solusi cespleng kemacetan Nagreg.

Kita berharap, arus mudik dan arus balik pada Lebaran kali ini akan berjalan lancar. Khususnya bagi pemudik yang memakai jalur selatan melalui Nagreg, bisa menikmati perjalanan ke kampung halaman secara tenang, damai, dan nyaman. Janji pemerintah bahwa Nagreg tidak akan macet bisa terwujud.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu 28 Agustus 2010.

Monday, August 23, 2010

Politik Dinasti

KEMENANGAN yang sudah dalam genggaman tangan Anna Sophanah dan pasangannya, Supendi, pada pemilihan kepala daerah Kabupaten Indramayu, mempertegas berlangsungnya politik dinasti di bumi Wiralodra itu.
-----------
Anna, yang juga istri Bupati Indramayu, Irianto MS Syafiuddin atau Yance, akan meneruskan jejak langkah sang suami, membangun Indramayu.
-----------
Di wilayah Jawa Barat, mungkin ini yang pertama kali terjadi, seorang istri bupati melanjutkan kepemimpinan suaminya. Sebelumnya di Bantul, Yogyakarta, Ida menggantikan posisi Idham Samawi, suaminya sebagai Bupati Bantul. Hal serupa terjadi pula hal di Kendal dan Kediri. Sementara di salah satu kabupaten di Papua, seorang istri bupati ternyata menjadi ketua DPRD setempat.

Jika melihat kecenderungan orang yang ingin terus merasakan nikmatnya kursi kekuasaan, model "pewarisan" kekuasaan seperti ini akan semakin marak. Tanda-tanda semacam itu sudah terlihat sejak pemilihan umum 2009, ketika anak, istri, menantu, dan kerabat lainnya dari penguasa, baik di pusat maupun daerah, baik eksekutif maupun legislatif, beramai-ramai menjadi anggota legislatif.

Sejatinya, tidak ada yang salah dengan politik dinasti. Kita mengenal betul nama klan-klan pemimpin terkemuka di dunia. Di AS ada klan Kennedy, di India ada Gandhi, di Filipina ada klan Aquino. Indonesia pun punya trah Soekarno. Darah biru kepemimpinan di keluarga- keluarga itu terus mengalir hingga beberapa generasi.

Namun patut dicermati, politik dinasti akan menjadi sebuah pisau berdarah sejarah apabila mereka mencederai nilai-nilai demokrasi dan tidak fair dalam proses berdemokrasi. Benar belaka bahwa siapa pun berhak untuk dipilih dan memilih, termasuk keluarga penguasa. Tapi apabila rotasi kepemimpinan hanya berputar di tingkat elite, hal itu jelas menutup peluang munculnya orang-orang terbaik di tengah masyarakat yang memiliki kompetensi kepemimpinan.

Selain itu, kecenderungan munculnya nepotisme sangat besar. Sangat sulit berlaku objektif apabila yang berkuasa adalah keluarga sendiri. Padahal kita mafhum, nepotisme dan kroni- kroninya adalah musuh bersama reformasi di negeri ini yang digulirkan para mahasiswa dua belas tahun lalu.

Tentu berbeda halnya apabila politik dinasti didasarkan pada kapabilitas. Berdarah biru, berpendidikan tinggi, memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni, dan mempunyai kapabilitas untuk memajukan demokrasi, tentu akan lebih menyempurnakan prasyarat seorang pemimpin.

Apa yang diungkapkan Presiden SBY saat menanggapi isu perpanjangan masa jabatan dan mengatakan mendukung munculnya kepemimpinan baru, yang bukan dari klan atau keluarganya, sangat relevan dengan kondisi riil politik di masyarakat saat ini. Dan salah satu cara untuk memotong kemunculan feodalisme gaya baru itu adalah dengan meningkatkan taraf pendidikan rakyat, sekaligus memperkuat pendidikan politik kepada rakyat.

Bagaimanapun, rakyatlah yang menentukan sepenuhnya siapa yang akan menjadi pemimpin mereka. Dengan bekal pendidikan politik, rakyat bisa lebih rasional dalam memutuskan pilihannya sehingga kehidupan demokrasi di negeri ini pun akan lebih berkembang dan matang. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 20 Agustus 2010.

Wednesday, August 11, 2010

Ramadan yang Agung


SETAHUN telah berlalu, Ramadan kembali menghampiri kita. Bulan penuh rahmat, penuh ampunan ini, tak pernah lelah menyapa dan mengunjungi jiwa-jiwa yang penuh kesalahan dan dosa. Bersiap menyapu bersih segala kotoran dari diri manusia yang ikhlas dan mampu mencapai derajat takwa dengan puasa di bulan Ramadan.

Sesungguhnya, inilah salah satu nikmat yang diberikan Sang Pencipta kepada kita, masih diberi kesempatan menikmati hari-hari bersama Ramadan yang Agung.
Kabar gembira dari Ramadan tahun ini adalah penentuan awal atau hari pertama puasa yang tidak ada perbedaan di antara ormas-ormas Islam, pemerintah, ataupun perhitungan astronomi.

Hal yang sesungguhnya menjadi kerinduan setiap kaum muslimin, bisa bersama-sama menjalankan ibadah yang hanya Allah SWT saja yang menilainya itu secara serentak di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Kerinduan dan kegembiraan itu akan kian lengkap, apabila saat merayakan Hari Raya Idulfitri pun juga bersamaa, tidak ada perbedaan tanggal.


Beragam cara dilakukan untuk menyambut bulan suci ini. Bahkan sudah menjadi tradisi di dalam kehidupan sebagian besar masyarakat. Orang Sunda mengenalnya dengan sebutan munggahan.

Ada yang menyambutnya dengan makan bersama alias botram, atau di Cianjur disebut papajar. Ada pula yang mandi di kali atau curug, untuk membersihkan diri. Sementara warga Kampung Ciwindu, Sumedang, berkeramas memakai tanah porang sebagai simbol membersihkan diri.

Intinya satu, bahwa semua bersyukur dan menyambut gembira datangnya bulan Ramadan. Bersyukur bahwa tahun ini masih diberi kesempatan, diberi umur, untuk memasuki Ramadan dan beribadah dengan nilai pahala berlipat-lipat.

Tentu harapan kita semua, ibadah di bulan Ramadan kali ini jauh lebih baik dibanding Ramadan tahun lalu dan hari-hari biasa. Sangat merugi bila ibadah yang kita lakukan tak jauh beda dengan hari di luar Ramadan. Seolah kita tak merasakan keagungan Ramadan ini, terasa hambar karena ibadah kita menjadi ritual yang sama dari tahun ke tahun atau sekadar seremoni.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menyemarakkan Ramadan dengan ibadah yang kualitasnya nomor satu. Dan hasil dari ibadah itu terlihat pada sebelas bulan selepas Ramadan. Marhaban ya Ramadan.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Rabu 11 Agustus 2010.

Monday, August 02, 2010

Suara Pong

AKSI Pong Harjatmo naik ke atap Gedung DPR/MPR RI akhir pekan kemarin membuat kehebohan di tengah para koboi Senayan. Tentu, pro-kontra pun bermunculan mengomentari tingkah aktor senior itu.

Pong tidaklah mencorat-coret. Ia hanya menulisi punggung "Gedung Kura-kura" DPR/MPR RI dengan tulisan yang rapi dan jelas. Tulisan itu adalah "jujur, adil, tegas".
Pong tidaklah ompong, dan bukan pula singa ompong yang menumpang ketenaran dengan aksi nekatnya itu. Apa yang dituliskan aktor yang beken di era tahun 80-an itu jelas bermakna mendalam bagi negeri ini.

Kita mesti mengakui tiga hal ini merupakan hal yang sulit kita temukan lagi dalam kehidupan, baik bernegara maupun bermasyarakat. Jujur dan adil sudah menjadi barang antik yang tenggelam dan harus dicari di dalam lumpur-lumpur hitam ketidakjujuran dan ketidakadilan. Ketegasan menjadi barang yang mahal karena segala sesuatu bisa diperjualbelikan, tak peduli lagi dengan komitmen, satu kata satu perbuatan.

Jujur, adil, dan tegas menjadi syarat yang paling sulit dipenuhi oleh para calon bupati, wali kota, dan gubernur. Di arena pemilihan kepala daerah atau calon presiden di ajang pilpres, ini syarat tak tertulis, tapi menjadi sandaran utama untuk mencari pemimpin yang baik. Tentu lebih mudah memenuhi syarat lulusan SMA atau sederajat, tidak cacat jasmani, dan lulus psikotes ketimbang mencari jujur dan adil.

Dalam khazanah Islam, kita mengenal khalifah kedua, Umar bin Khattab ra, sebagai pemimpin yang jujur dan adil. Dan sudah lama, Umar dikenal sebagai orang yang tegas, tak plin-plan, berani mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan sikapnya, tapi sangat mudah mengakui kesalahan ketika ia memang salah.

Umar sangat tegas dalam penegakan hukum yang tidak memihak dan tidak pandang bulu. Suatu ketika anaknya sendiri, yang bernama Abu Syahma, dilaporkan terbiasa meminum khamar. Khalifah memanggilnya menghadap dan ia sendiri yang mendera anak itu sampai meninggal.

Dalam kesempatan lain Umar berpidato di hadapan suatu pertemuan. Katanya, "Saudara-saudara, apabila aku menyeleweng, apa yang akan kalian lakukan?" Seorang laki-laki bangkit dan berkata, "Anda akan kami pancung." Umar berkata lagi untuk mengujinya, "Beranikah Anda mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan seperti itu kepadaku?" "Ya, berani!" jawab laki-laki tadi. Umar sangat gembira dengan keberanian orang itu dan berkata, "Alhamdulillah, masih ada orang yang seberani itu di negeri kita ini sehingga bila aku menyeleweng mereka akan memperbaikiku."

Saking jujur, adil, tegas, dan juga sederhananya hidup Umar, Usman bin Affan pernah mengatakan, "Sesungguhnya sikapmu telah sangat memberatkan siapa pun khalifah penggantimu kelak."

Jadi, sesungguhnya, tiga kata yang ditulis Pong sangat kontekstual dalam kondisi saat ini, ketika rakyat tak bisa lagi menemukan keadilan dan kejujuran. Untuk memperoleh keadilan saja, seorang warga Malang harus berjalan kaki ke Istana Merdeka Jakarta guna menjumpai kepala negara. Dan itu pun tak kunjung bertemu.

Suara Pong harus diartikulasikan sebagai suara rakyat yang merindukan keteladanan pemimpin. Ada pemimpin saja, negeri ini sudah diacak-acak pornografi, demoralisasi, korupsi, kriminalisasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Suarakan terus Jujur, Adil, dan Tegas, untuk mengingatkan para pengelola negeri ini.

Patut kita renungkan salah satu pidato Umar bin Khattab, suatu kali di hadapan para gubernur bawahannya, "Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan yang baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda." (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Rabu 3 Agustus 2010.

Monday, July 26, 2010

Anak Peradaban

"ANAKMU bukanlah anakmu, dia adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau, tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan milikmu".

Kutipan di atas adalah penggalan lirik puitis dari penyair Khalil Gibran, yang mungkin paling banyak diketahui dan dikutip orang. Puisi yang bercerita tentang anak yang memiliki dunia dan jiwanya sendiri.

Sering pula kita dengar, anak adalah amanah atau titipan yang diberikan Tuhan. Selayaknya sebuah amanah, tentu orang tua harus dan wajib menjaga dan merawat amanah itu.

Tapi tengok data yang dimilik Lembaga Perlindungan Anak. Sepanjang tahun 2009 lalu, di Jawa Barat terjadi 800 ribu tindak kekerasan kepada anak. Itu berarti dalam satu hari terjadi sekitar 2.191 anak yang mengalami tindak kekerasan, baik dari keluarga maupun lingkungannya.

Tentu kondisi ini sangat mengenaskan. Anak-anak tak lagi memiliki kesempatan untuk menikmati masa emasnya. Mereka telah terenggut oleh trauma berkepanjangan yang terus menghantui hingga mereka besar.

Dampaknya dari trauma ini sungguh dahsyat. Banyak anak-anak yang beranjak remaja dan tumbuh dewasa kehilangan pegangan atau berjiwa labil. Mereka mudah terombang-ombing pengaruh dari kiri dan kanan.

Akibatnya, kehidupan mereka pun jadi rusak. Mereka memilih lari menjauh dari keluarga dan berlaku hidup bebas. Seks bebas dan narkoban menjadi teman. Data yang dilansir 25 Messenger Jabar menunjukkan, 56 persen remaja rentang usia 14-24 tahun Bandung sudah pernah melakukan hubungan seksual.

Momentum Hari Anak Nasional seharusnya menjadi lampu kuning tanda peringatan bahwa anak-anak di sekeliling kita berada dalam zona bahaya. Mereka dihantam dan dicekoki bertubi-tubi lewat informasi yang datang dari luar, lalu mereka pun harus menghadapi kenyataan bahwa internal keluarga kurang mendukung untuk asupan jiwa mereka.

Keprihatinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa peredaran video mesum sangat berdampak dan memengaruhi anak-anak Indonesia, hanyalah sebagian kecil persoalan yang dihadapi anak-anak kita saat ini.

Di luar sana, terjadi perbenturan antara kenyataan hidup yang karut-marut dengan nilai- nilai moralitas dan kebaikan yang diajarkan orang tua kepada anak. Anak pun akan dibuat bingung menghadapi realitas semu semacam itu. Karena tak bisa mengambil keputusan, anak akan lari kepada lingkungan yang bisa menerima dan dirasakan nyaman baginya, walaupun bisa jadi negatif bagi masyarakat.

Karena itu, mari kita bersihkan jiwa anak-anak kita dari ghibah, fitnah, tayangan kekerasan dan tidak mendidik lainnya. Isilah hati mereka dengan emas-emas kebaikan. Ajarkan dan tanamkan dalam jiwa mereka, kepribadian nabi yang begitu mulia.

Sesungguhnyanya, merekalah masa depan kita semua, masa depan negeri ini, masa depan peradaban. Di tangan mereka, peradaban akan kian cemerlang atau hancur berantakan.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu 24 Juli 2010.

Monday, July 19, 2010

Maaf Cut dan Luna

SAMBIL menangis terisak, Cut Tari menyampaikan permohohan maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Ia memulainya dengan permintaan maaf kepada Presiden SBY beserta istri, Kapolri, Kabareskrim, Kadiv Humas. Maaf itu disampaikan akibat pemberitaan yang terkait dirinya dalam kasus video porno yang telah membuat resah seluruh masyarakat.

Tidak ada satu kata pun pengakuan meluncur dari mulut Cut Tari soal kebenaran pemeran wanita di video asusila itu adalah dirinya. Sesuatu yang selama ini justru masyarakat ingin dengar secara langsung dari mulut Cut Tari, dan juga Luna Maya, atau Ariel. Di kesempatan yang berbeda, permintaan maaf dengan kalimat yang nyaris serupa juga diucapkan Luna Maya.

Mereka secara terang-terangan menyalahkan pemberitaan tentang video porno tersebut. Karena pemberitaan lah, kasus ini menjadi heboh. Karena diberitakan pula, nama mereka menjadi omongan dunia.


Kesan yang muncul, mereka ingin memosisikan diri sebagai korban. Bahwa mereka hanyalah korban dari pemberitaan, tak tahu menahu soal peredaran video porno, dan tak perlu mengakui secara terus terang bahwa merekalah pemerannya.

Kalau saja tidak ada yang memberitakan, tentu mereka, para pelaku, akan aman sentosa sepanjang masa. Tidak akan ada yang mengait-aitkan mereka dengan kasus video porno.
Memang kita tidak menutup mata terhadap media yang begitu vulgar memberitakan kasus ini. Bahkan menampilkan potongan-potongan video porno itu. Dilakukan berulang-ulang, dari pagi hingga malam, memutar berita yang sama.

Namun bukan berarti media pun salah semua. Tugas media hanyalah menyampaikan informasi kepada publik. Tinggal bagaimana mengemasnya agar sesuai dengan kode etik dan tidak melanggar norma kepatutan.

Sekarang terkait persoalan minta maaf kedua artis itu, tidak mungkin tidak ada yang memaafkan. Bukankah masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang ramah, mudah untuk memaafkan, dan mudah pula untuk melupakan.

Bahkan kalau saja tiga artis yang katanya jadi pemeran video porno itu sudah mengaku dan meminta maaf sejak awal kasus ini muncul ke permukaan, bukan tak mungkin masyarakat sudah melupakannya. Terlena oleh pesona Piala Dunia, sihir Belanda dan Spanyol, dan juga larut dalam ramalan Paul si gurita.

Untung saja Cut Tari, Luna Maya, dan Ariel, tidak tinggal di Nanggroe Aceh Darussalam, walaupun Cut Tari adalah keturunan Aceh. Kalau saja tinggal di sana, mereka tidak akan lolos dari jerat hukum syariah yang diterapkan di negeri Serambi Mekkah itu. Hukuman bagi pezina sudah jelas, dicambuk atau dirajam. Tidak ada kata maaf. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu 10 Juli 2010.

Friday, June 18, 2010

Nasionalisme Macan Asia

DI zaman Orde Baru, Indonesia sempat disebut-sebut sebagai salah satu macan Asia, sebuah kekuatan ekonomi baru dari dunia ketiga. Cina, Jepang, Korea Selatan, dan India adalah macan-macan Asia yang lebih dulu melesat dan mapan dalam perekonomian. Sementara Indonesia, ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi saat itu plus kepemimpinan Soeharto menjadikannya sebagai negara yang tak boleh diremehkan bangsa lain.

Sayang, macan yang hendak mengaum seantero Asia itu ambruk dan kolaps diterjang krisis ekonomi tahun 1997. Hingga kini, Indonesia belum mampu tampil kembali sebagai pemimpin Asia yang disegani secara ekonomi dan politik.

Tapi lihat negara-negara lain yang memang sudah menjadi macan Asia. Mereka kian mantap memandang masa depan. Perekonomian tak tergoyahkan. Gonjang-ganjing politik lokal nasional tak membuat investor mundur secara teratur. Cina bahkan menjadi raksasa kelas dunia yang membuat Amerika Serikat ketakutan.

Tak hanya di sektor ekonomi, di sektor lain, sepak bola, misalnya, mereka pun menjadi Macan Asia. Konsistensi Korsel mengikuti Piala Dunia sejak 1986 menjadi contoh positif betapa mereka mampu menggentarkan kutub sepak bola Eropa dan Latin. Tembus ke semifinal Piala Dunia 2002 menjadi bukti bahwa Korsel sudah masuk dalam jajaran elite sepak bola dunia.

Dan pada momen Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan kali ini, muncul macan Asia baru yang patut diperhitungkan, Korea Utara (Korut), tetangga Korsel. Korea Utara (Korut) benar- benar muncul menjadi kejutan sepak bola Asia.

Walau tak mampu mengalahkan juara Piala Dunia lima kali, Brasil, Korut mempertontonkan sepak bola modern yang penuh semangat pantang menyerah. Nasionalisme heroik yang ditunjukkan para pemain Korut berbuah simpati terhadap permainan mereka.

Konon, kamp pelatihan timnas Korut sangat dirahasiakan. Mereka ditempa latihan spartan ala militer negeri komunis. Dan itu membentuk semangat nasionalisme luar biasa pada diri setiap pemain. Tengok saja, ketika lagu kebangsaan Korut, Aegukka, diperdengarkan, pemain depan Korut, si plontos Jong Tae-Se berurai air mata. Memang lagu itu merupakan lagu patriotik yang menggambarkan sebuah perjuangan.

Itulah yang ditunjukkan para pemain Korut dengan berjuang mati-matian di lapangan hijau. Ibaratnya, mati berkalang tanah pun, mereka siap, untuk bumi pertiwi.
Padahal, suporter Korut saat pertandingan itu hanya segelintir orang, bisa dihitung pakai jari. Mengenakan topi dan jaket merah, segelintir suporter ini tetap semangat mendukung hingga akhir. Tak hanya itu, warga Korea Utara yang berada di negara dikabarkan tak bisa menonton timnas kebanggaan mereka berlaga. Pasalnya, saluran televisi yang selama ini mengalir dari saudara mereka di selatan, diputus akibat konflik memanas antara dua negara bersaudara ini.

Di luar itu, seharusnya momen semacam ini dijadikan sebagai contoh oleh bangsa kita dan timnas Merah Putih. Jika mereka bisa, mengapa kita tidak bisa? Apakah karena nilai nasionalisme tak lagi bergelora di dada masing-masing putra bangsa ini? Apakah Indonesia Raya tak mampu lagi melecut semangat juang bangsa ini di arena apapun?

Mungkin, ada baiknya kita meniru Korut, mempersiapkan sebuah tim yang ditempa latihan super ketat, disiplin tinggi, dan berjiwa nasionalis sejati. Agar Indonesia tak lagi cuma bisa bermimpi berlaga di ajang terakbar sepak bola dunia. Tak lagi sekadar nonton bareng di aula kelurahan, kafe-kafe, dan hotel. Tapi menjadi bagian dari keriuhan empat tahun sekali ini. Merasakan kembali menjadi macan Asia, yang mampu menahan imbang Uni Sovyet di tahun 1960-an, dan nyaris lolos ke Piala Dunia sebelum dibungkam Korea Selatan tahun 1986.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu 19 Juni 2010.


Ariel


DUNIA mengenal Ariel Sharon sebagai "Si Tukang Jagal dari Beirut". Mantan perdana menteri Israel itu merupakan orang yang bertanggung jawab pada tragedi pembantaian Qibya, 13 Oktober 1953. Saat itu 96 orang Palestina tewas oleh Unit 101 yang dipimpinnya. Ariel pun bertanggung jawab atas pembantaian Sabra dan Shatila di Libanon pada 1982 yang mengakibatkan antara 3.000 - 3.500 jiwa terbunuh.

Selama lima tahun, mulai Maret 2001 hingga April 2006, Ariel Sharon memimpin negeri zionis itu. Tak beda dengan para pendahulunya, di masa pemerintahannya, tak pernah terjadi perdamaian antara Israel dan Palestina. Kekuasaannya memasuki senja kala, begitu stroke menyerangnya. Ia koma dan dinyatakan tak mampu lagi memerintah, sehingga digantikan Ehud Olmert.

Nah, hari-hari belakangan ini, nama Ariel menjadi pembicaraan paling top di Indonesia. Tapi bukan Ariel Sharon, penjagal orang Palestina, melainkan Ariel, mantan vokalis Peterpan.


Ini terkait dengan beredarnya video syur dengan pemeran laki-laki yang mirip Ariel dan yang perempuan mirip artis kondang, Luna Maya. Tak hanya satu, laki-laki mirip Ariel itu juga muncul dalam video lainnya dengan pemeran perempuan mirip presenter gosip, Cut Tari.

Saking bekennya, kasus peredaran video porno itu menjadi trending topic di Twitter dengan nama Ariel Peterporn, plesetan dari Peterpan. Sungguh, video syur yang diduga melibatkan artis-artis papan atas negeri ini begitu mengguncang jagat, nyata maupun maya.

Tidaklah perlu membahas video syur lebih mendalam, berikut gosip-gosipnya. Yang harus kita cermati setelah video ini beredar luas, bahkan Kepala Bareskrim Mabes Polri menyebutkan video ini sudah tersebar di seluruh provinsi, adalah bagaimana dampak dan tindak preventif yang harus dilakukan sejumlah pihak, termasuk kita sebagai bagian dari keluarga dan masyarakat.

Terungkapnya video syur ini membuka kotak pandora dunia esek-esek yang terjadi di Indonesia. Kasus video semacam ini bukan satu, tapi ribuan, dengan pelaku yang beragam, mulai pelajar hingga pejabat. Tengok saja di jagat maya, bertebaran video-video tersebut di sejumlah situs dan terbuka bebas bagi siapapun yang mengunjungi situs itu.

Kehebohan yang disebabkan peredaran video syur dengan pelaku mirip Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari, menyebabkan masyarakat berbagai kalangan berburu untuk mendapatkannya. Razia ponsel di sejumlah sekolah di Kota Bandung menunjukkan para pelajar pun menyimpan video itu di ponsel mereka. Di mana-mana obrolan hanya seputar video dan video. Status di Facebook pun banyak yang berkaitan dengan video ini.

Ariel atau bukan, Luna atau bukan, Cut Tari atau bukan, peredaran video syur menambah berat beban dan tugas para orang tua. Di rumahlah pertahanan tebal dari pengaruh negatif dibangun. Pengajaran-pengajaran moral dan akhlak dengan memberikan contoh yang tepat, menjadi bekal utama bagi anak-anak saat mengarungi jagat maya dan dunia nyata. Tanpa itu, kita akan sulit berharap kondisi generasi muda pada lima, sepuluh, atau 20 tahun ke depan jauh lebih baik dari saat ini. Atau kita hanya bisa pasrah, tergilas oleh teknologi, kemajuan zaman dan kemunduran moralitas?.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 11 Juni 2010.

Thursday, June 03, 2010

Motor Penyambung Nyawa

KEBIJAKAN mengejutkan dikeluarkan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral. Agustus 2010, sepeda motor akan dilarang memakai bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, premium. Para pemilik sepeda motor, terutama di kota-kota besar, diharuskan mengisi tangki BBM motornya dengan Pertamax, yang harganya lebih mahal ketimbang premium.
Alasan pelarangan itu, terjadi pembengkakan konsumsi BBM bersubsidi melebihi target APBN. Dan pembengkakan itu ditimpakan kepada para pemilik sepeda motor. Gara-gara jumlah motor yang semakin meruyak, pemerintah kebobolan anggaran untuk menyubsidi BBM.

Kebijakan ini pasti bakal menyulut pro-kontra di tengah masyarakat. Bayangkan saja, para pemilik sepeda motor harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk mengisi tangki. Biasanya, dengan uang Rp 10 ribu perak, tangki bisa diisi 2,2 liter premium. Tapi dengan jumlah rupiah yang sama, bensin yang didapat dua liter pun tak sampai. Otomatis pengeluaran untuk BBM semakin bertambah.

Bagi masyarakat menengah ke bawah yang hanya sanggup bermotor ria, kebijakan semacam ini jelas beban hidup berikutnya yang harus dihadapi. Selama ini, masyarakat pengguna motor leluasa memakai kendaraan roda dua. Juga leluasa mengkredit sepeda motor karena harga cicilan yang kian murah. Cukup dengan uang muka (down payment/DP) Rp 300 ribu, sebuah motor sudah bisa dibawa ke rumah.

Motor bagi masyarakat kebanyakan adalah hidup sekaligus penyambung nyawa. Mereka yang memiliki rumah di pinggiran merasa tertolong dengan motor kesayangannya saat berangkat bekerja. Para tukang ojek bersyukur memiliki motor kreditan karena dapur bisa tetap ngebul.

Mengapa kendaraan roda dua yang akan dilarang memakai premium? Bukankah kendaraan roda empat pun banyak yang memakai BBM serupa? Pemilik-pemilik kendaraan mewah pun keenakan mengisi tangki BBM dengan premium, ketimbang jenis yang lebih mahal.

Padahal, kendaraan roda empatlah yang lebih banyak mengonsumsi bensin dan otomatis mendapat subsidi lebih banyak. Konsumsi BBM satu mobil sama dengan sepuluh motor. Bayangkan, kalau kebijakan itu jadi digulirkan, pemerintah lebih memilih orang yang boros konsumsi BBM dan membebani APBN.

Tidakkah ada jalan lain yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengurangi pembengkakan konsumsi BBM bersubsidi? Seharusnya yang dilakukan pemerintah adalah memperbanyak moda transportasi massal, yang nyaman, teratur, dan bagus pelayanannya.

Kalaupun pemilik motor harus rela memarkir motornya di rumah, pemerintah harus memikirkan bagaimana transportasi yang bisa mewadahi lalu lintas pemilik motor. Ke mana pun akan pergi, tersedia transportasi massal dengan selter yang mudah dijangkau dan, tentu saja, murah.

Selama itu belum bisa dipenuhi, pemerintah pun harus rela menanggung beban pembengkakan konsumsi BBM bersubsidi di APBN. Jangan mau enak sendiri. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 27 Mei 2010.

Penyuap dan Penerima Sama Saja

EMPAT mantan politikus Senayan divonis penjara karena tersangkut kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Nilai suapnya tak main-main, 480 cek pelawat senilai Rp 24 miliar. Tentu pembagian pun tak rata, bergantung posisi dan peran di fraksi masing-masing. Ada puluhan orang yang terima, tapi sementara ini, baru empat orang inilah yang mesti bertanggung jawab karena terbukti menerima suap.

Yang aneh dari persidangan ini, orang yang jelas-jelas disebut sebagai pemberi suap atau penyuap ternyata tak tersentuh tangan hukum. Bahkan perantara penyuapnya pun bernasib lebih baik ketimbang para mantan anggota dewan yang terhormat itu.

Nunun Nurbaeti disebut-sebut semua terpidana itu sebagai pemberi suap. Ia memberikan cek pelawat itu melalui tangan kanannya, Arie Malangjudo. Kabarnya, Nunun tak bisa diperiksa karena ia menderita sakit amnesia, lupa berat. Sempat disebutkan dirawat di sebuah RS di Singapura, hingga kini Nunun tak ketahuan hidungnya.

Itu pula yang membuat Hakim Andi Bachtiar menyatakan dissenting opinion (pendapat berbeda) dengan anggota majelis hakim yang lainnya. Dissenting opinion adalah pernyataan yang berbeda atau memperlihatkan ketidaksetujuan dari satu atau lebih hakim terhadap putusan penghakiman dari mayoritas majelis hakim yang membuat keputusan penghakiman di dalam sidang pengadilan.

Bagi Andi, Nunun sebagai penyuap bisa disidang tanpa kehadirannya atau persidangan in absentia. Andi melihat, ada ketidakadilan dalam kasus ini, ketika orang yang menerima suap harus dihukum, sementara yang memberi suap lenggang kangkung.

Publik perlu tahu apa sesungguhnya motivasi Nunun menyuap para politisi Senayan itu. Selama ini, hanya diketahui uang suap itu untuk mendukung Miranda Goeltom menjadi Deputi Gubernur Senior. Lantas, apa hubungannya Nunun terlibat dalam urusan pemilihan deputi? Adakah kompensasi dari pihak yang memiliki kewenangan di Bank Indonesia? Atau ada tujuan lain dari penyuapan itu? Ini yang tidak pernah terungkap.

Terlepas dari persoalan hukum di dunia yang bisa dibelokkan, yang pasti Tuhan itu tidak tidur, Gusti Allah ora sare. Penyakit amnesia yang diderita penyuap tidak akan menggugurkan dosa dan kesalahannya sebagai seorang penyuap. Kalaupun sekarang terbebas dari hukuman, mungkin lain waktu ada balasan yang setimpal. Boleh jadi, penyakit yang diderita itu adalah balasan di dunia atas amaliah yang buruk.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, Rasullullah Saw bersabda, "Semoga laknat Allah atas penyuap dan orang yang disuap." Dalam hadis lain, yang diriwayatkan dari Ahmad, Thabrani, Al Bazaar, dan Al Hakim, "Allah melaknat penyuap, yang disuap, dan perantara dari keduanya."

Tiga pihak yang dilaknat: penyuap, perantara, dan penerima suap. Apabila sudah dilaknat Allah Swt, tak ada lagi tempat yang aman tenteram untuk hidup. Penyuap dan penerima suap sama saja, sama-sama masuk jurang dunia dan akhirat. (*)
Sorot, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Rabu 19 Mei 2010.

Tuesday, May 11, 2010

Miras

"MIRAS santika miras, apapun namamu. Tak akan kureguk lagi...Gara-gara kamu orang bisa menjadi gila. Gara-gara kamu orang bisa putus sekolah. Gara-gara kamu orang bisa menjadi edan. Gara-gara kamu orang kehilangan masa depan".

Itulah lirik lagu dangdut yang dinyanyikan H Rhoma Irama. Lagu ini beken di era 80 sampai 90- an. Lewat lagu itu, Bang Haji Rhoma menyuarakan keprihatinannya soal peredaran minuman keras (miras) dan narkotika yang bisa dikonsumsi bebas. Padahal efek negatifnya lebih banyak ketimbang positifnya.

Namun dalam lirik lagu itu, Bang Rhoma tidak menyebutkan bahwa minuman keras bisa menyebabkan kehilangan nyawa. Entah apa alasannya. Mungkin di era itu, belum banyak terekspos berita tentang orang-orang yang mati gara-gara meminum minuman keras. Tapi coba tengok berita-berita di koran dan televisi hari-hari terakhir ini. Di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, hingga kemarin sore sudah ada 17 orang yang tewas akibat minuman keras dalam rentang waktu kurang dari satu minggu. Lalu di Cileunyi, mantan mahasiswa IPDN Jatinangor juga tewas seusai menenggak "air api" itu.


Selanjutnya di Rancaekek, dua pemuda juga tewas karena hal serupa.
Beberapa waktu sebelumnya, seorang kepala desa di daerah Ciwidey juga diduga tewas di acara pesta miras. Begitu pula, tiga sopir di Lembang tewas mengenaskan setelah mabuk miras oplosan. Kalau dirunut dan dikumpulkan, tentu akan semakin banyak korban-korban tewas akibat minuman keras ini.

Di Kota Bandung, pengajuan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) soal pengendalian minuman keras menuai pro-kontra. Ada yang mendukung melarang peredaran miras, terutama pihak pemerintah, dengan berbagai syarat tertentu. Namun banyak pula yang menolaknya. Saat berdemo pekan kemarin, mahasiswa Bandung menyerukan agar miras diganti dengan bandrek.

Berjatuhannya korban-korban miras membuat miris berbagai kalangan. Ribuan ulama, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan pelajar akan mengajukan petisi dan mengumpulkan tanda tangan, untuk menolak peredaran miras secara total di Kota Bandung. Pansus DPRD Kota Bandung pun berpikir kembali soal raperda pengendalian miras. Setelah muncul berita soal korban miras, terbetik raperda itu tak hanya pengendalian, tapi pelarangan total.

Seperti halnya rokok, yang banyak menghasilkan pemasukan bagi negara, pemasukan dari cukai minuman beralkohol pun sangat besar. Bayangkan saja, dari empat produsen bir utama di Indoneisa, memproduksi 2 juta hektoliter per tahun. Ini baru dari produsen utama, belum dari produsen kecil dan yang tidak terdaftar alias liar, lebih banyak lagi.

Ada tiga golongan minuman beralkohol di Indonesia. Pertama, Golongan A dengan kadar alkohol maksimal 5% atau jenis minol alkohol. Lalu Golongan B kadar alkolnya 5-20% dan golongan C kadar alkoholnya 20 % ke atas. Golongan B dan C masuk kategori minuman keras.

Per April 2010 lalu, tarif cukai naik tajam, baik untuk produk dalam negeri maupun luar negeri. Jadi bisa dihitung berapa pemasukan bagi negeri ini dari minuman beralkohol.

Tak heran, pemerintah setengah hati menghadapinya. Pemerintah hanya bisa mengimbau. Masih mending di kemasan rokok, pemerintah secara eksplisit menuliskan imbauan "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin". Adakah imbauan serupa di kemasan, botol, atau pembungkus minuman keras? Yang tertulis di botol miras, hanyalah "Di bawah umur 21 tahun atau wanita hamil dilarang minum". Tidak disebutkan efek negatif dari miras tersebut.

Sementara razia miras yang digelar kepolisian juga hanya membuat tiarap sementara para penjual. Selama pabrik miras masih berdiri dan beroperasi, aliran miras akan terus menggelegak memenuhi kerongkongan para penikmatnya.

Satu-satunya jalan agar miras tidak beredar lagi adalah menutup pabriknya. Tapi ini ibarat mission imposibble, hal yang sulit dilakukan. Sama tidak mungkinnya dengan meminta pemerintah menutup pabrik rokok.

Yang paling mudah kita lakukan adalah memproteksi keluarga kita dari minuman-minuman semacam ini. Juga berdoa, mudah-mudahan peredaran miras saat ini, tidak menyebabkan azab bagi mereka yang tidak mengonsumsinya. Lalu kita serukan bersama, "Markitas; mari kita berantas miras, sampai tuntas".(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 11 Mei 2010.

Friday, April 30, 2010

Heroin dan Malaysia

SELAMA ini tak pernah terjadi upaya penyelundupan narkoba dan barang haram lainnya melalui Bandara Husein Sastanegara. Setidaknya, belum pernah ada yang terdeteksi membawa heroin. Tak heran, ketika 3,25 kg heroin senilai Rp 8 miliar ditemukan petugas Bea dan Cukai di Bandara Husein, ini cukup mengejutkan.
Berarti Bandung sudah dilirik oleh jaringan internasional pemasok heroin, sabu-sabu, dan barang haram lainnya, sebagai salah satu pintu masuk peredaran barang haram di Indonesia.

Berbagai cara dan modus dipakai para pelaku tindak kejahatan narkotika ini untuk menyusupkan barang-barang haram yang meracuni pikiran dan mental generasi muda. Di lingkaran jaringan itu, Indonesia dipandang sebagai surga bagi peredaran dan pembuatan sabu dan heroin.

Sampai empat bulan berjalan di tahun 2010 ini, narkoba selundupan yang berhasil disita Bea dan Cukai senilai Rp 340 miliar. Yang patut menjadi pertanyaan, mengapa jalan masuk penyelundupan itu kebanyakan dari Malaysia? Selain kasus di Bandara Husein Sastranegara, pada waktu yang sama, Minggu (25/4), di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta juga terjadi upaya penyelundupan heroin. Pelaku menumpang pesawat dari Kuala Lumpur. Begitu pula di Bandara Juanda Surabaya dan Bandara Polonia, Medan, pelaku berangkat dari Kuala Lumpur atau Penang.

Timbul pertanyaan, bagaimana pengawasan petugas di bandara atau bea cukai di negeri jiran itu? Mengapa bisa, dadah (sebutan untuk narkoba di Malaysia, Red), sebanyak itu bisa lolos begitu saja dan terjadi berulang kali? Apakah ada oknum-oknum petugas di sana yang bekerja sama dengan jaringan pengedar narkoba internasional, seperti halnya dua petugas di Bandara Soekarno Hatta yang ditangkap karena meloloskan narkoba milik warganegara India dari pengawasan?

Padahal, pemerintah Malaysia pernah mendeklarasikan jihad pemberantasan dadah dan madat, sehingga Malaysia bebas barang haram itu pada 2015.

Terlintas pikiran suuzon, pihak Malaysia sengaja meloloskan heroin dan kawan-kawannya itu masuk ke Indonesia, dengan tujuan menghancurkan Indonesia. Dampak negatif narkoba sudah kita ketahui bersama, merusak dan sangat merugikan. Kebanyakan pecandu adalah anak-anak muda, yang seharusnya menjadi tulang punggung kebangkitan negeri ini. Jika generasi penerus berkubang di dunia narkoba, bagaimana mungkin negeri ini bisa kembali memimpin, menjadi Macan Asia, disegani negara-negara lain?

Hal ini bisa dikaitkan dengan hasil survei FISIP Universitas Indonesia, yang menunjukkan Malaysia sebagai "ancaman utama" Indonesia. Dari 250 mahasiswa yang mengikuti survei tentang pengetahuan dan persepi soal ASEAN, 120 orang atau 48 persen menilai Malaysia sebagai ancaman keamanan utama Indonesia. Selain itu, Malaysia pun dipersepsi 69.9 persen responden sebagai pesaing Indonesia di era globalisasi di samping Cina.

Pengawasan terhadap upaya penyelundupan heroin tentu harus semakin ditingkatkan. Di sisi lain, kita pun harus mengejar ketertinggalan dari negeri jiran, agar tak terus terpuruk di lingkaran krisis.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 29 April 2010.

Monday, April 19, 2010

KA Parahyangan


USAI sudah kejayaan Kereta Api Parahyangan. Pengalaman 39 tahun menjelajahi rute Bandung- Jakarta pulang-pergi tak menjamin kelangsungan operasional kereta yang satu ini. Tujuh hari ke depan adalah hari-hari terakhir KA Parahyangan. Tanggal 26 April pukul 17.30 merupakan keberangkatan terakhir KA 71 Bandung tujuan Gambir. Besoknya, 27 April, jangan berharap menemukan lagi kereta api berwarna putih dengan pulas biru memanjang di bagian bawah.

KA Parahyangan tak mampu menjawab tantangan zaman. Perubahan pola gerak masyarakat Bandung dan sekitarnya yang hendak ke Jakarta, dari semula memakai jalur Puncak, kini menjadi jalur tol Purbaleunyi, menjadi penyebab utamanya.

Keberadaan ruas tol ini mampu menghubungkan Bandung dengan Jakarta hanya dalam waktu dua jam. Saking mudahnya akses antara dua kota ini, muncul ungkapan, pagi berkantor di Jakarta, siang makan di Bandung, sore sudah ada di Jakarta lagi.


Bandingkan dengan KA Parahyangan, yang membutuhkan waktu tiga jam untuk tiba di Ibu Kota atau di Bandung. Selain faktor waktu, faktor tidak langsung tiba di tempat tujuan juga menjadi problem tersendiri. Berbeda misalnya dengan angkutan jasa travel. Selain cepat, travel bisa mengantarkan penumpang langsung ke tempat tujuan.

PT KA bukannya tidak berinovasi untuk mempertahankan KA Parahyangan. Tarif yang semula lebih dari satu lembar Rp 50.000, kini tinggal Rp 30.000. Sangat murah untuk ukuran kereta kelas bisnis. Tarif ini pun jauh lebih murah dibanding jasa travel.
Tapi di zaman yang lebih mengandalkan kecepatan waktu, beda satu jam waktu tempuh KA dengan travel menjadi persoalan tersendiri. Di situlah inti masalahnya, PT KA tak mungkin lagi memacu kecepatan KA Parahyangan.

Akibatnya, setiap tahun perusahaan kereta api ini merugi hingga puluhan miliar rupiah. Semua disebabkan merosotnya jumlah penumpang. Kereta api tak lagi menarik untuk ditumpangi. Tak cukup cepat untuk menggapai Jakarta atau sebaliknya, tak cukup cepat untuk mencapai tempat beristirahat dan pakansi di Kota Kembang.

KA Parahyangan hanyalah satu dari sekian banyak korban pembangunan jalan tol. Sebelumnya, pedagang dan pemilik warung makan di jalur Padalarang-Purwakarta pun banyak yang gulung tikar setelah ruas tol beroperasi.

Bagaimanapun, efek beroperasinya ruas jalan tol Purbaleunyi sangat "dinikmati" masyarakat Bandung. Pelancong yang semakin membeludak di tiap akhir pekan, bermunculannya factory outlet dan distro, berkembangnya usaha-bisnis kreatif, salah satunya karena akses utama dengan Jakarta, terbuka lebar. Rumah makan kian menjamur, kafe resto bertebaran di mana-mana. Bandung pun tak malu-malu menyambut tamu dengan jalan rusak dan berlubang.

Kita berharap, "hilangnya" KA Parahyangan akan membuat PT KA semakin fokus untuk melayani penumpang di kereta eksekutif. Jadi penumpang akan tetap setia naik kereta karena pelayanan semakin baik. Mudah-mudahan, di masa yang akan datang, PT KA pun bisa memakai teknologi tercanggih, mengoperasikan kereta api supercepat, yang bisa menempuh Bandung- Jakarta hanya satu jam. Siapa tahu. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 20 April 2010.

Sunday, April 11, 2010

Mr X Teri dan Paus

SELAMA ini kita hanya mengenal istilah Mr X untuk menyebutkan seseorang atau sesosok jenazah yang tidak diketahui identitasnya. Istilah ini kebanyakan muncul dari petugas kamar jenazah atau pihak kepolisian yang menangani penemuan mayat atau juga orang yang hilang dan ditemukan, tapi lupa identitasnya.

Tapi di mata Susno Duadji, Mr X merupakan sosok superkuasa, yang memiliki kemampuan kelas tinggi untuk mengatur, memengaruhi, dan mengoordinasikan institusi penegak hukum, mulai kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Mr X ini disebut mantan kabareskrim Polri itu sebagai mafia hukum dan makelar kasus setingkat dirjen, bahkan menteri.

Setelah menggulirkan dan mengungkap mafia kasus pajak Gayus Halomoan Tambunan, Susno Duadji kembali melempar bola api soal mafia hukum dan makelar kasus. Bola itu kian liar, tak terkendali, merembet ke mana-mana, membuat gerah, juga membuat orang kebakaran jenggot.

Di lingkungan kepolisian, bola itu sudah menjatuhkan sejumlah "korban". Brigjen Pol Edmon Ilyas dicopot dari jabatan Kepala Polda Lampung. Dua perwira menengah Kombes Pol Pamungkas dan Kombes Pol Eko Budi Sampurno dicopot sebagai penyidik Bareskrim.
Total ada tujuh personel kepolisian, termasuk Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim, Brigjen Pol Raja Erizman, yang menjadi terperiksa dan tersangka karena diduga terlibat mafia hukum.


Di tubuh kejaksaan, dua jaksa senior sudah dicopot karena terlibat kasus yang sama. Cirus Sinaga dan Poltak Manullang harus rela mundur dari jabatannya karena diduga tak cermat menangani kasus Gayus.

Sayangnya, Susno hanya mau mengungkapkan identitas Mr X itu pada rapat tertutup dengan Komisi III DPR RI. Kepada anggota dewan yang memintanya datang, Susno membeberkan sepak terjang Mr X. Kata Susno, kasus bernilai triliun rupiah menjadi santapan Mr X.

Kalau ini benar terjadi, sungguh luar biasa. Melihat kasus Gayus yang pegawai golongan IIIA tapi punya rekening Rp 28 miliar, kita ternganga, mungkin dengan Mr X kita dibuat lebih ternganga-nganga lagi.

Kita tidak pernah menyangka bahwa di negeri ini hidup dan tumbuh mafia hukum, mulai kelas teri hingga kelas paus. Oknum polisi yang memeras Kadana, tersangka pembunuhan di Indramayu, mungkin termasuk kelas teri. Dia hanya memeras Kadana Rp 14,3 juta, dengan menjual nama polisi dan kejaksaan untuk keperluan pribadi.

Tapi kasus seperti Kadana ini jelas bukan hanya satu. Sangat mungkin banyak, terserak di berbagai instansi. Kasus-kasus "basah" yang memungkinkan terjadinya patgulipat dan kongkalikong menjadi incaran Mr X kelas teri dan Mr X kelas paus.

Sesungguhnya ini ironi besar dari negeri ini. Dua belas tahun lalu, kita berharap reformasi akan membawa negeri ini menjadi negeri yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Karena itulah sesungguhnya yang menjadi ruh gerakan mahasiswa menumbangkan Orde Baru- nya Soeharto. Tapi kenyataannya, ketika keran transparansi kian lebar terbuka, justru semakin tersingkap bahwa tubuh negeri ini dihinggapi lintah-lintah yang menyedot darah rakyat. Dan secara tak langsung, meruntuhkan secara perlahan kaki-kaki penyangga negara.

Tak cukup hanya berwacana tentang bersih dari KKN. Tak cukup pula hanya dengan memberi remunerasi bagi pegawai-pegawai. Mungkin harus dipotong tiga generasi, baru KKN ini akan lenyap. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu, 10 April 2010.

Friday, April 02, 2010

Negeri Gayus

TERBONGKARNYA kasus mafia hukum yang melibatkan pegawai pajak Gayus Tambunan semakin memperburuk wajah negeri ini. Ibarat penyakit cacar yang membuat bopeng kulit, mafia hukum dan makelar kasus (markus) semakin memperlebar lubang-lubang kebobrokan yang menyebar hingga ke pelosok.

Negeri ini seperti dikuasai dan digerogoti orang-orang semacam Gayus. Mereka bisa mempermainkan kasus apapun, tanpa peduli nurani rakyat, dengan tujuan memperkaya diri. Seorang Gayus saja sudah bisa mengumpulkan segunung harta yang diduga hasil kongkalingkong kasus. Bagaimana pula kalau ada seratus, seribu, puluhan ribu, bahkan jutaan Gayus? Negeri ini akan semakin membusuk, dibusukkan dari dalam oleh perilaku curang para mafia dan markus.

Logika sederhana saja, pegawai sekelas Gayus yang baru enam tahun dinas di Ditjen Pajak sudah bisa mengumpulkan Rp 28 miliar. Apalagi dengan pegawai yang sudah puluhan tahun berkarat di instansi yang "basah" dan dia menjadi markus, mungkin lebih kaya lagi dari Gayus. Dan kekayaan mereka mungkin tidak pernah terendus oleh KPK sekalipun, karena mereka lebih pintar dari Gayus untuk menyembunyikan aset-aset berharga mereka.

Jadi, di negeri ini, kita tidak usah heran atau tercengang, melihat seorang pegawai di instansi dan lembaga pemerintah memiliki rumah mewah, mobil mewah, dan harta melimpah. Semuanya bisa dan sangat mungkin terjadi. Asal satu syaratnya, jadilah seperti Gayus, jadilah markus, dijamin dalam dua tiga tahun bertugas, sim salabim, harta pun menggunung.

Menyimak perjalanan terseok-seok sejarah bangsa ini, tak satu pun instansi yang luput dari corengan mafia hukum dan markus. Politikus yang masih bercokol dan sempat berkursi di Senayan saja tak terhitung lagi yang mendekam di penjara atau sedang menjalani persidangan kasus suap. Begitu pula di tubuh kepolisian, markus dan mafia ini bekerja secara klandestin, tapi mematikan. Kasus-kasus direkayasa sedemikian rupa, hingga menguntungkan kelompok mafia hukum ini.

Jangan tanya pula mafia di tubuh lembaga peradilan, semisal kejaksaan dan pengadilan. Kasus terakhir, Ibrahim, hakim pengadilan tinggi tata usaha negara, tertangkap basah menerima uang suap dari seorang pengacara. Uang Rp 300 juta itu tentu bukan uang cuma-cuma, tapi terkait kasus yang tengah ditangani Ibrahim di pengadilan. Mafia dan markus sudah menggurita, menyelinap ke ruang-ruang personal sekalipun.

Dunia pendidikan pun tak luput dari para mafia. Seliweran SMS berisi kunci jawaban dan lembar salinan kunci jawaban Ujian Nasional merupakan ulah mafia yang ingin memperbodoh para pelajar bangsa ini. Lebih parah lagi, mereka menginginkan mentalitas bangsa ini sudah bobrok sejak dini, sejak

Sesungguhnya, kita sangat beruntung dan harus mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang masih mau berteriak-teriak soal penyelewengan, kecurangan, dan penyimpangan. Lewat testimoni Susno Duadji, kasus Gayus dan mafia hukum di tubuh Polri bisa terungkap. Dan sepertinya akan menggelinding lebih besar lagi.

Lewat Agus Condro, mantan anggota DPR RI, kini puluhan anggota dan mantan anggota DPR RI, duduk sebagai pesakitan penerima suap dalam pemilihan deputi gubernur BI. Memang mereka ini bukan malaikat, yang bersih dari kesalahan, tapi keberanian mereka mengungkapkan aib dan kebobrokan di tubuh lembaga tempat mereka bernaung, harus terus didukung rakyat.

Kita pun harus menyambut baik upaya Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional Kota Bandung. Mereka menawarkan hadiah Rp 1 juta kepada pengawas yang berani melaporkan setiap kecurangan dalam pelaksanaan UN. Ini salah satu cara untuk memperbanyak whistle blower, para peniup peluit, para peniup seruling kejujuran dan keadilan.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 2 April 2010.

DPR Versus KPK

DUA minggu sudah berlalu dan rekomendasi rapat paripurna DPR RI yang memutuskan kasus bail out Bank Century bermasalah dan sejumlah pihak harus bertanggung jawab, mulai menunjukkan tanda-tanda mandul. Keputusan politik yang dibuat para wakil rakyat itu ternyata tidak paralel dengan gerak hukum penyelidikan kasus ini.
Rekomendasi DPR soal kasus Bank Century menjadi bahan perdebatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat gelar perkara. Kabarnya, KPK terbelah tiga: satu pihak sepakat kasus ini bisa dilanjutkan, pihak lainnya tidak sepakat, dan satu pihak lagi abstain.

Hasil gelar perkara itu, KPK menyatakan data temuan Pansus dan juga Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menurut KPK tidak bisa menjadi alat bukti. Dengan begitu, rekomendasi paripurna DPR pun tak cukup kuat untuk dilanjutkan menjadi penyidikan.

Tentu saja, pernyataan KPK itu membuat anggota DPR yang saat ini tengah menjalani masa reses, berang. Anggota DPR yang terlibat dalam Pansus Century meminta agar Badan Anggaran DPR memotong anggaran KPK. Lalu anggota lainnya mengancam KPK dengan tiga haknya: legislasi, bujeting, dan pengawasan, apabila KPK tidak sungguh-sungguh mengusut kasus Century.

Pascaparipurna, kasus Century berada di tangan KPK. KPK --yang sebelum kasus Antasari mencuat sering disebut lembaga superbody-- menjadi ujung tombak penyelesaian kasus perbankan yang melibatkan pejabat-pejabat tinggi di negeri ini.
Kesan lambat memang muncul saat KPK menangani masalah ini. Tak banyak kemajuan yang dicapai KPK, selain pernyataan yang membuat berang anggota DPR.

Memang harus disadari, bahwa keputusan politik tak selamanya segendang seirama dengan proses penyelidikan hukum. Hukum sebagai panglima tertinggi, tak seharusnya diintervensi pihak manapun, tak terkecuali DPR atau presiden.

Namun yang dikhawatirkan adalah jika KPK tak bisa berbuat banyak membongkar kasus Century, harapan publik terhadap pemberantasan korupsi kian menguap. Bukan simpati yang didapat KPK, malah hujatan masyarakat. Bagaimanapun korupsi dan penyelewengan merupakan musuh bersama. Kalau ujung tombaknya saja mandul, bagaimana pula dengan yang lainnya?

Tentu kita tidak berharap demikian. Kita yakin, KPK akan tetap bergerak lurus di jalur hukum dan menuntaskan persoalan yang menyita energi dan perhatian masyarakat ini.

Setelah masa reses anggota DPR selesai, babak baru penyelesaian kasus Century akan dimulai. DPR versus KPK, mungkin begitu lakon yang akan muncul di panggung politik Indonesia.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun JAbar edisi Kamis 18 Maret 2010.

Monday, March 15, 2010

Pohon dan Adipura

SEBUAH kabar memprihatinkan berhembus dari Bandung. Sebanyak 51 pohon estetis di Jalan Soekarno-Hatta dipangkas secara sembarangan oleh sebuah biro reklame. Tanpa perhitungan dan aturan, pohon penghijauan itu dibabat hingga gundul.

Lebih mengenaskan lagi, lokasi pohon-pohon itu merupakan titik pantau penilaian Adipura, lomba kebersihan tingkat nasional. Tak heran, Pemkot Bandung meradang dengan tindakan biro reklame itu. Karena hal itu bertentangan dengan komitmen Pemkot yang bertekad memboyong piada Adipura tahun ini.

Semenjak Adipura digelar kembali lima tahun lalu, Kota Bandung tak pernah sekalipun mendapatkan piala Adipura. Paling tinggi hanya piagam best effort, penghargaan bagi kota yang nilai pemantauan tahap keduanya melonjak tajam dibanding pemantauan tahap pertama.

Pohon merupakan elemen penting dalam penilaian Adipura. Selama ini, Adipura masih menekankan prioritas penilaian pada unsur bersih dan hijau. Pohonlah yang menjadi andalan untuk menggaet nilai tinggi dalam hal hijau. Jika sebuah jalan protokol yang menjadi titik pantau Adipura tak memiliki pohon peneduh, sudah bisa dipastikan nilai jalan itu jeblok.

Terlebih lagi bila saat pemantauan Adipura berlangsung, terjadi penebangan pohon dan tanaman, selain mendapai nilai jeblok, kota atau kabupaten bersangkutan juga akan mendapat catatan khusus soal aktivitas yang tidak propenghijauan itu.

Sesuai dengan Perda K3, siapapun yang menebang pohon tanpa aturan dikenai denda sebesar Rp 5 juta per pohon. Satpol PP sebagai polisi perda pun menjatuhkan denda sebesar Rp 255 juta kepada pihak biro reklame yang harus dibayar dalam tempo sepuluh hari terhitung setelah keputusan dibuat.

Selain itu biro reklame yang bersangkutan harus menutup sementara papan reklame yang dipasang di median Jalan Soekarno-Hatta itu menunggu terbitnya perpanjangan izin.
Ketegasan semacam ini yang harus terus ditunjukkan oleh Pemkot Bandung. Tak pandang bulu, tak pilih-pilih, walaupun pelaku adalah pembayar retribusi atau pajak, tapi kalau memang melanggar peraturan, harus kena sanksi.

Namun juga, jangan hanya karena pohon itu berada di titik pantau Adipura, Pemkot bereaksi dengan cepat. Tanaman atau pohon-pohon peneduh lain di luar titik pantau Adipura pun harus mendapat perlakuan sama. Apabila terjadi kasus serupa, Pemkot pun harus segera bertindak dan memberlakukan sanksi yang sama.

Penyadaran soal pentingnya keberadaan pohon di sekitar lingkungan kita harus terus disosialisasikan. Tak cukup hanya menanam pohon secara seremoni, tapi yang paling penting masyarakat pun wajib untuk merawat pohon-pohon itu.

Jika kita merasakan Bandung tak lagi teduh dan semakin panas, kehadiran pohon-pohon itulah yang akan menyelamatkan Bandung dan penghuninya. Semoga ini menjadi pelajaran bagi semua pihak supaya bisa menjaga lingkungan dan beraktivitas sesuai aturan.(*)

Tuesday, March 02, 2010

PASCAEVAKUASI

SELESAI sudah masa evakuasi korban longsor di perkebunan teh Kampung Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Setelah tujuh hari para personel tim pencari berjibaku mencari jenazah warga yang terkubur, pencarian pun dihentikan.
Prosedur pencarian memang mensyaratkan demikian. Secara formal, Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) menetapkan pencarian korban, baik hilang di gunung maupun musibah bencana, paling lama tujuh hari.

Selepas itu, pencarian bisa saja dilanjutkan, bergantung permintaan dari pihak keluarga korban atau pemerintah daerah. Juga apabila ditemukan tanda- tanda kehidupan atau keberadaan korban musibah.

Hingga berakhirnya pencarian, masih ada belasan warga yang belum ditemukan. Keluarga korban sudah sepakat dengan pemerintah kabupaten dan tim pencari untuk mengikhlaskan dan menjadikan area longsor sebagai kuburan massal.


Pertanyaannya, setelah evakuasi selesai, lalu apa yang harus dilakukan? Ini sangat mendasar, karena bagaimanapun korban longsor yang masih hidup harus menjadi prioritas penanganan pascaevakuasi. Senyaman-nyamannya hidup di pengungsian, tak lebih nyaman dibanding di rumah sendiri. Warga pun membutuhkan kepastian masa depan mereka, termasuk pendidikan anak-anak mereka.

Warga Kampung Dewata adalah masyarakat pemetik teh yang sudah puluhan tahun mendiami lembah di kaki Gunung Dewata itu. Memetik teh adalah pekerjaan yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Tak heran, ketika longsor menghancurkan perkebunan dan pabrik pengolahan teh, mereka yang selamat pun merasa hidup mereka sudah berakhir. Karena tidak ada lagi tempat mereka menggantungkan hidup, kecuali pabrik teh.

Apakah mungkin dalam satu-dua bulan pabrik teh itu berdiri dan beroperasi kembali? Rasanya sulit. Sejumlah pihak merekomendasikan agar perkebunan, berikut pabrik dan permukiman warga, Dewata direlokasi saja. Mengingat risiko bahaya sangat tinggi dari ancaman longsor berikutnya.

Pemerintah memang berkomitmen untuk menjamin ketersediaan logistik bagi korban longsor selama sebulan. Lalu pemerintah pun punya kewajiban untuk mengembalikan semangat hidup mereka, menghilangkan efek traumatis bencana dari pikiran warga.
Tapi hidup mereka bukan hanya satu bulan. Perlu dipikirkan langkah taktis lebih lanjut, bagaimana agar masyarakat bisa punya penghidupan, setidaknya sama dengan sebelum musibah terjadi.

Setelah didera trauma berkepanjangan, warga enggan kembali ke perkebunan. Sebagian besar memilih keluar dari Dewata dan mencari daerah lain untuk ditinggali. Mungkin mencari perkebunan teh yang lain yang bertebaran di Ciwidey. Atau beralih profesi, asalkan tercukupi kebutuhan sehari-hari.

Jangan sampai pengungsi hanya menambah jumlah pengangguran. Mungkin ada baiknya, pemerintah pun mengadakan pelatihan keterampilan bagi korban atau pengungsi. Supaya mereka punya keahlian yang lain, selain memetik teh. Ketika harus meninggalkan perkebunan, mereka sudah siap untuk menata hidup menjadi lebih baik lagi. (*)

Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 2 Maret 2010.