Thursday, May 31, 2007

Kita Bertemu di Medan Pertempuran yang Lain


TADI malam adalah malam terakhir saya bertugas di Batam. Setelah hampir dua bulan di kota seribu ruko ini, saya dipanggil pulang oleh pimpinan di Bandung. Antara senang dan tidak senang. Senangnya, saya bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan keluarga serta kawan-kawan di kantor Bandung. Tidak senangnya, saya belum sempat menjelajah ke Pinang, Pulau Penyengat, Belakang Padang, Subang Mas, wah pokoknya masih banyak tanah Kepri yang belum saya injak.
Saya minta bantuan Ruri untuk memesan Pizza Hut 5 biji loyang besar buat teman-teman redaksi. Rupanya Ganjar sudah membuatkan karikatur saya sejak beberapa minggu lalu. Thanks Ganjar. Setelah Opung dan dua teman lainnya, Mbak Penny dan Menik, saya didaulat juga buat ngomong. Setelah bla bla bla....
"Mungkin kita tidak bertemu lagi di Batam, mungkin juga kita tidak berjumpa di Bandung. Tapi sangat mungkin kita bertemu di medan pertempuran yang lain," begitu ucap saya memungkas kata perpisahan.

Siang ini saya terbang pakai Lion Air jam 13.40. Rutenya ke Jakarta dulu. Dari Jakarta, pakai travel Cipaganti langsung ke rumah. Sudah tak sabar nih ketemu keluarga....(*)

Wednesday, May 30, 2007

Aku Pulang

Aku Pulang
Bawa uang
Segudang....
Ha ha ha, setelah kepulangan tertunda seminggu, akhirnya saya dipastikan pulang ke Bandung, Kamis besok. Berhubung penerbangan Batam-Bandung full, saya ambil saja Batam-Jakarta. Dari Soekarno Hatta, paling saya pakai travel saja, Cipaganti. Kalaupun tidak langsung ke rumah, biasanya berhenti di BTC Pasteur. Ya tinggal naik taksi saja. Saya sudah pesan tiket Lion Air, lewat Lina Sekred. Jam 13.40, kalau tidak delay, cancel, mengudara dari Bandara Hang Nadim.
Wah Kaka Bila enggak jadi menjemput nih. Tadinya Kaka mau menjemput di Hussein Sastranegara. Berhubung lewat Soekarno Hatta, ya menjemputnya di depan gerbang kampus Unjani saja. He he..

Saya sudah tak sabar ingin segera bertemu Bu Eri, Kaka, Adik, Mbah Uti, dan semua yang di rumah. Mudah-mudahan selamat di perjalanan dan lancar. Tiga hari yang lalu saya sudah pesan ke Bu Eri supaya ngebooking tempat di Cipanas Garut. Saya memang mau ambil cuti seminggu. Mau tetirah, leleson, sama keluarga. Biar Bu Eri libur dulu tiga hari. Mau cuti kek atau izin kek, pokoknya tiga hari berlibur di Cipanas.
Eh, taunya ada info anyar. Barusan Bu Eri telepon, bingung katanya. Kaka Bila maunya main ke Ancol, mau mandi laut katanya. Halah Kaka mah...

Agni Pratista Langsung Pulang


BAGAIMANA kiprah Agni Pratista Arkadewi Kuswardono di pentas Miss Universe 2007? Harapan sih memang membubung tinggi. Artika Saridewi, Putri Indonesia 2004, yakin Agni bisa tembus ke lima besar, karena melihat potensi yang dimiliki Agni. Tapi penilaian juri lain lagi. Di laga terakhir, Selasa pagi kemarin WIB, nama Agni tak masuk ke 15 besar sekalipun. Oleh Miss Filipina, Anna Theresa Licaros, Agni kalah. Oleh Miss Cina, Ningning Zhang, juga kalah. Wakil Thailand juga masuk 15 besar. Mungkin harapan itu terlalu tinggi. Gadis asal Solo yang numpang lahir di Canberra itu tak menyabet gelar apa-apa. Ia hanya mendapat hadiah, yang semua kontestan juga membawa pulang hadiah itu, berupa tropi dari Rogaska Crystal, pakaian dari Tadashi Swimsuit dari BSC Swimwear Thailand, sepatu dari Nina, produk perawatan rambut dari Farouk Systems, paket dari jins YMI, dan baju mandi dari Aegean Apparel.
Selepas penobatan Miss Universe 2007, Agni pun langsung pulang ke tempat karantina, dan berkemas-kemas, siap mengangkasa kembali ke tanah air. Ya, mungkin memang sebegitu kemampuan yang sudah dikeluarkan Agni.
Coba merefresh lagi saat Agni diinterview para juri Miss Universe. Juri sempat menanyakan soal pro kontra pengiriman wakil Indonesia ke kontes sejagat ini. Apa jawaban Agni.
"Saya jawab bahwa ajang ini justru baik bagi remaja puteri Indonesia untuk menunjukkan prestasinya di kancah internasional. Dan saya bangga bisa menjadi megaphone bagi teman-teman sebayaku," ujar salah seorang pemeran film "Mengejar Matahari" itu dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.

Sudahlah, memang bukan saatnya Agni yang menembus lima besar atau bahkan menjadi Miss Universe. Tapi dengan keikutsertaannya di Miss Universe, setidaknya kita jadi tahu sedikit, bagaimana masa kecil Agni. Ternyata dia ini anak tomboy yang suka memanjat pohon hingga ke puncaknya? Itu terungkap saat Agni diwawancara juri:
Apa kesenangan dan yang paling Anda nikmati?
Saya suka melukis, membuat baju sendiri, dan membaca novel sejarah. Saya juga suka memasak.
Apa ambisi Anda dalam meniti karier?
Ambisi saya adalah menjadi entrepreneur yang sukses, bisa mendirikan sebuah pusat pendidikan untuk anak-anak misikin, dan anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti penderita autis dan keterbelakangan mental.
Coba gambarkan tempat Anda lahir dan seperti apa Anda saat kecil?
Saya lahir dan besar di Canberra, Australia, tempat ayah saya mengabdi sebagai Sekretaris III Kedutaan Besar Indonesia di Canberra. Ketika saya kecil saya sangat tomboy dan suka memanjat ke pucuk pohon.
Ha ha ha Putri Indonesia juga manusia toh... (*)




Setahun Nginap di Apartemen NY


APA saja sih hadiah yang diterima Riyo Miro sebagai Miss Universe 2007? Yang pasti, dia bakal kebanjiran hadiah dari berbagai sponsor. Pertama, jelas Riyo dimahkota sebuah tiara indah yang didesain Mikimoto seperti bentangan sayap burung Phoenix. Mau tahu harga mahkota itu? Harganya sebesar $ 250.000 atau sekitar Rp 2,25 miliar (dengan kurs 1 Dolar = Rp 9.000). Tak hanya itu, selama satu tahun penuh, dia akan menerima gaji sebagai Miss Universe.
Lalu sebuah apartemen mewah di New York sudah menanti untuk ditinggali sang Miss Universe. Riyo pun tak perlu susah memikirkan kebutuhan sehari-hari, karena semua sudah ditanggung Miss Universe Organization, sebagai penyelenggara kontes ratu sejagat itu.
Riyo pun bakal menerima beasiswa selama dua tahun dari Akademi Film New York senilai $100.000 atau kurang lebih Rp 900 juta. Jangan tanya soal pernak-pernaik pakaian, perawatan tubuh, dan lain-lain. Riyo dikonrak selama setahun untuk menjadi model produk rambut Farouk Systems dan swimsuit BSC Swimwear Thailand. Pakaian yang dikenakannya selalu hasil rancangan desainer beken, Tadashi. Jam tangan pun merek Ritmo Mundo Jumbo senilai $30.000. Sepatu? Kecil bos, Nina siap memasok sepatu apapun untuk Riyo.
Sebagai ratu sejagat, Riyo juga menjadi bintang iklan produk YMI Jeanswear. Sebuah tropi dari Rogaska Crystal pun menjadi milik Miss Universe. Untuk urusan kebugaran, Riyo bisa keluar masuk, kapan saja, ke Gravity Fitness. Soal rambut, ah urusan mudah, tinggal masuk ke John Barrett Salon di New York.
Menjadi model pun tak ketinggalan. Selama setahun, ia akan menjadi model fotografer fashion beken, Fadil Berisha. Jika Riyo ingin bepergian, sampai ke pelosok Afrika sekalipun, ia tak perlu khawatir. Manajer travelnya siap mempersiapkan segala kebutuhannya selama perjalanan.
Tak hanya itu, akses gratis ke berbagai even Kota New York, termasuk pemutaran perdana film, teater dan opera Broadway, serta pesta-pesta, bakal dinikmati Riyo. Ia pun akan menjadi public relation ubenstein Public Relations and Planet PR di New York City. Selama setahun, keamanannya terjaga betul, karena bodyguard khusus menjaganya siang dan malam. Enak gak jadi Miss Universe? (*)

Tuesday, May 29, 2007

Miss Universe 2007 dari Jepang


Riyo Miro, Miss Universe 2007 dari Jepang.
SUDAH dua hari ini saya menggarap halaman Fokus on Tribun dengan mata berbinar-binar. Liputannya mengupas habis tentang Miss Universe 2007. Namanya ajang kecantikan, sedunia lagi, ya jelas wanita-wanita jantik sejagat kumpul di Meksiko. Ada 77 kontestan dari berbagai negara yang mengikuti kontes ini. Dari Indonesia, Agni Pratista Arkadewi Kuswardono, Putri Indonesia 2006, yang mencoba peruntungan.
Saking banyaknya foto, saya sampai bingung memilih mana saja yang bisa tampil di koran. Tentu tidak mungkin saya memajang aksi Miss Uruguay saat pakai baju tradisional dari bulu ayam (barangkali...) yang membentuk bra dan cd saja. Atau memasang foto-foto saat sesi pemotretan memakai swimsuit he he.. Cuma Agni dari Indonesia yang pakai onepiece, yang lainnya two piece man...
Sejak semula saya mengunggulkan Miss dari Brasil, Natalia Guimaraes, bakal jadi Miss Universe 2007. Entah kenapa feelingnya ke dia. Cantik, iya. Cerdas, iya juga. Ini terlihat dari jawaban yang dia sampaikan saat ditanya juri.
Nah setelah melalui babak penyisihan dan lain-lainnya, Selasa pagi waktu Indonesia Bagian Barat, digelarkan final untuk menentukan siapa yang akan menjadi Miss Universe 2007. Peserta dari Indonesia, Agni, gagal masuk ke 15 besar sekalipun. Berarti dia tidak bisa menyamai prestasi Artika Saridewi, tahun 2005 lalu, yang bisa tembus 15 besar.

Di lima besar, bercokol Miss Brasil, Japan, Korea, USA, dan Venezuela. Tanpa diduga, Miss dari Jepang, Riyo Mori, terpilih menjadi Miss Universe 2007. Mungkin ini menunjukkan, Miss Universe tak hanya cantik fisik saja, tapi juga dalamnya. Dan tentu, nasibnya untuk menang.
Kontestan dari Benua Asia merajai ajang Miss Universe kali ini. Miss Filipina terpilih sebagai Miss Fotogenic dan Miss Cina terpilih sebagai Miss Congeniality. Sukses buat Asia... (*)

Jaka Sembung


ADA yang masih ingatkah dengan tokoh Jaka Sembung, jagoan silat di film era 80-an? Saya teringat lagi dengan tokoh idola anak-anak waktu itu, saat nonton televisi sebelum berangkat ke kantor, tadi pagi jam 08.00. Setiap pagi, TPI menyiarkan sinetron pagi "Emak Gue Jagoan". Nah, kebetulan episode hari ini "Engkong Kite Jaka Sembung".
Sinetron ini dibintangi Nicky Astria, lady rocker Kota Kembang, yang berperan sebagai Emak. Lalu saya baru teringat, pemeran Abah atau suaminya Nicky adalah Gito Gilas. Ha ha bener bener, dia Gito Gilas. Bintang lawas, yang jadi kakaknya Amir di film jadul ACI (Aku Cinta Indonesia = Amir Cici dan Ito).
Nah pasangan keluarga rukun, tapi jagoan silat ini, punya anak dua, Hanafi dan Fatimah. Dalam episode kemarin, dua anak ini berlibur ke rumah kakek nenek mereka. Sang Engkong diperankan oleh aktor kahot, jawara 80-an, Barry Prima.
Ceritanya saat itu lagi bulan puasa. Si Hanafi dan Fatimah bermimpi yang sama. Mereka masuk ke zamannya Jaka Sembung. Bisa diduga, tentu pemeran Jaka Sembung itu ya Barry Prima. Tak heran, jika Hanafi dan Fatimah ngotot kalau Jaka Sembung itu engkong mereka.

Saya hanya ingin cerita soal Jaka Sembung. Sinetron pagi tadi mengingatkan saya pada pada masa anak-anak dulu. Saya termasuk penggemar Jaka Sembung. Waktu itu zamannya Video HVS atau Betamax. Iuran sama teman-teman sekampung, buat pinjam video Jaka Sembung.
Saya masih ingat, guru Jaka Sembung adalah Eyang Sapu Jagat. Lalu film-film seri Jaka ini di antaranya Jaka Sembung vs Si Buta, Jaka Sembung vs Rawa Rontek, Jaka Sembung vs Bergola Ijo, Jaka Sembung dan Bajing Ireng. Kang Jaka, begitu kalau dipanggil ceweknya, entah siapa lupa lagi namanya.
Dalam setiap serinya, Jaka ini dikisahkan hidup di zaman kolonial. Dia berjuang untuk kepentingan rakyat. Tak tega melihat kemiskinan dan ketidakadilan menerpa rakyat. Setiap ada orang yang tertindas, Jaka tampil ke depan. Sampai dia dikejar-kejar ke pelosok-pelosok.
Pernah dalam satu cerita, Kang Jaka ini tertangkap serdadu kompeni. Kalau tidak salah, pada seri Jaka vs Si Buta. Kepalanya dipenggal dan dibawa ke hadapan kompeni. Lalu kepalanya dipajang di alun-alun. Eh rupanya itu cuma sihir saja. Kang Jaka masih hidup. Kepala yang dipajang di alun-alun itu rupanya cuma kepala domba. Tapi karena pengaruh sihir, terlihat seperti kepalanya Jaka Sembung. Gurunya, Eyang Sapu Jagat tewas saat bertarung dengan Bergola Ijo. Nah Jaka mempelajari jurus pamungkas, Jurus Takwa, dan Bergola Ijo pun tewas. (*)

Monday, May 28, 2007

Perspektif Baru dan Wimar


Wimar Witoelar saat Perspektif Baru Live di Banjarmasin.

SUDAH dua bulan ini saya menangani Perspektif Baru Wimar Witoelar. Tribun Batam memang menyiarkan perbincangan interaktif antara Wimar atau ponggawa-ponggawa lain di Perspektif Baru dengan para narasumber. Halaman yang dipakai biasanya halaman Fokus yang tidak ada iklannya alias kosong. Selain Tribun Batam, ada 11 koran lainnya yang tersebut di Indonesia yang juga memuat Perspektif Baru ini.
Siapa sih yang tidak kenal Wimar Witoelar atau nama akrabnya WW? Dia mantan juru bicara kepresidenan di era Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Memang baru saat Gus Dur berkuasa, ada yang namanya juru bicara kepresidenan resmi. Tampilan fisiknya khas, dengan tubuh tambun, rambut kribo. Dan ternyata rambut kribo itu jadi ikon atau mode tersendiri saat ini. Tengok saja Edi Brokoli, lalu Marcel juga pernah, lalu Ronald Extravaganza, dan Giring vokalis Nidji, semua berkribo ria. Sesuatu yang sudah dimulai Wimar sejak dulu. Mungkin di zaman Duo Kribo, Ahmad Albar dan Ucok AKA Harahap, pun Wimar sudah berkribo-kribo ria. Ini karena karakteristik rambut dia kali yah, yang memang sudah kriwil-kriwil dari sononya.
Saya belum pernah bertemu secara langsung dengan WW. Paling lihat di televisi, apalagi saat zaman sebelum Reformasi, WW punya acara di SCTV, Perspektif. Namun dibreidel penguasa, mungkin karena terlalu sering mengkritik pemerintah. Rasanya WW jarang ke Bandung, atau setidaknya membuat acara di Bandung. Padahal Bandung tentu punya tempat di hati WW. Dia besar di sini, sekolah di ITB. Kakaknya, Rachmat Witoelar pun kalau tidak salah masih punya rumah di Bandung. Sebagai menteri, Rachmat Witoelar sering ke Bandung, apalagi waktu Bandung jadi lautan sampah, Rachmat sering banget menyambangi Bandung.

Minggu (27/5) kemarin, saya menggarap Perspektif Baru di Palembang. WW memang lagi menggelar roadshow Perspektif Baru ke empat kota, yaitu Surabaya, Palembang, Banjarmasin, dan Pontianak. Sekarang baru sampai Palembang.
Berikut ini saya ambil dari situs www.perspektifbaru.com tentang apa itu Perspektif Baru dan kegiatan-kegiatannya:
Perspektif Baru merupakan salah satu program komunikasi publik yang dibuat Yayasan Perspektif Baru (YPB). Selama ini YPB mengembangkan Perspektif Baru berupa acara bincang-bincang berdurasi 30 menit yang setiap pekan disiarkan puluhan sampai ratusan stasion radio di seluruh Nusantara, terbagi antara yang langganan tetap dan yang menyiarkan sewaktu-waktu.
Selain dimuat dalam website ini, transkrip Perspektif Baru juga diterbitkan 12 koran, baik nasional maupun daerah. Transkrip wawancara secara selektif telah diterbitkan dalam bentuk buku kompilasi yaitu 'Mencuri Kejernihan dari Kerancuan' pada 1998 dan 'Perspektif Baru Melebarkan Sayap' pada 2005.
Topik dari program wawancara Perspektif Baru antara lain demokrasi, ekonomi, kesehatan, hukum, dan persoalan sosial lainnya. Wimar Witoelar menjadi pemandu utama program dengan setiap pekan mewawancarai seorang narasumber, yang pada umumnya orang biasa tapi mempunyai pandangan jernih dan pengalaman menarik.
Perspektif Baru berusaha membawakan pandangan orang biasa terhadap suatu persoalan atau topik. Perspektif Baru berusaha mewakili orang yang menginginkan demokrasi tapi tidak mau demonstrasi, orang yang ingin kaya tapi tidak ingin korupsi.
Perspektif Baru berawal dari acara talkshow Perspektif di SCTV pada 1994 yang dipandu Wimar Witoelar. Dengan pembawaan yang lugas, pandangan jernih, dan humor yang halus, Perspektif menjadi oase kesegaran di padang gurun tekanan politik zaman itu. Acara Perspektif disukai masyarakat Indonesia tapi kurang disukai rezim Soeharto. Akhirnya pada 1995 Perspektif dibredel karena isinya dianggap mendiskreditkan pemerintah Orde Baru.
Lantas Wimar membuat talk show panggung Perspektif Live, yang bergerak dari satu kota ke kota lain. Akhirnya Wimar Witoelar memulai program wawamcara Perspektif Baru yang digelar pertama kali 26 Januari 1996 dan kemudian ditangani Yayasan Perspektif Baru (YPB).
YPB adalah lembaga nonprofit dalam bidang pendidikan publik dengan mengupayakan publik mendapat informasi seimbang. Para anggotanya merupakan praktisi komunikasi dan hubungan masyarakat, bidang utama Perspektif Baru.
YPB mencoba menyediakan dan menyebarkan informasi terhadap suatu isu agar publik memahaminya dengan format yang menarik dan mudah dipahami. Kendati kini sudah banyak bentuk publikiasi baru termasuk di televisi dan radio, YPB yakin masyarakat terutama di daerah masih mengalami perbedaan dalam mendapatkan informasi.
Sejak 2002 YPB mendapat dukungan dari Konrad Adenaur Stiftung (KAS) dalam memproduksi program Perspektif Baru. Selain program radio Perspektif Baru, YPB telah turut bertartisipasi mendidik masyarakat untuk memahami Pemilu 2004. YPB menggelar seminar, diskusi, dan pelatihan wartawan mengenai Pemilu agara para pemilih dapat menggunakan hak pilihnya secara benar. YPB juga menyediakan bantuan teknis pada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan aktivis masyarakat berupa pendidikan dan ketampilan dalam bidang komunikasi.

Sampai Subuh Menjelang...

BARU kali ini selama di Batam, saya begadang, bukan nonton bola tapi mengobrol panjang lebar, hingga Subuh menjelang. Senin (28/5) dini hari jam 01.00 saya pulang dari kantor. Saya mengantar pulang Bang Eddy Messakh pake motor. Rumahnya di komplek Garden itu tidak begitu jauh dari Mess Tribun, kira-kira 500 meter sebelah timur Mitra Raya.
Jam 01.30 saya sudah sampai di mess. Rupanya Mas Febby, bosnya Batam, lagi makan. Saya pun ikut menyikat habis nasi goreng plus capcay. Lagi lapar segala sesuatu terasa enak Sambil makan, kami mengobrol. Usai makan, perbincangan makin hangat.
Saya disodor data-data perusahaan (Tribun Batam dan Kaltim), yang seharusnya mungkin tidak boleh dibaca kroco macam saya. Tapi Mas Febby terbuka. "Ini lho progressnya. Kamu mesti tahu dan belajar cara membaca keuangan semacam ini," kata Mas Febby. Obrolan pun mengalir terus, mulai kemungkinan dan prospek di Bandung, tugas saya nanti hanya sedikit disinggung. Justru lebih fokus pada proyek-proyek yang akan datang. Mas Febby mengharapkan saat proyek di Pontianak nanti saya mengikuti proses awal, rmulai rekruitmen, pelatihan reporter dan redaktur, sampai muncul koran baru. "Ya short time tiga bulan dulu. Kalau ternyata kerasan, kita perpanjang," begitu kata Mas Febby.

Dia juga menerangkan cara-cara pelatihan dan teknik menyampaikan materi. Mas Febby menyuruh saya untuk mulai mengumpulkan contoh-contoh berita dengan konsep khas Persda. Mana yang benar, mana yang salah, semuanya digunting dan dikumpulkan, untuk dijadikan sebagai contoh. Karena dengan contoh akan lebih mudah menerangkannya.
Lalu bicara pula soal manajemen dan hasil workshop tempo hari di Jakarta. Tapi yang satu ini tidak boleh saya bicarakan sembarangan, top secret, karena menyangkut ranah internal perusahaan.
Intinya, saya diminta membuka diri dan wawasan dengan lebih banyak berkreasi di luar Bandung. Daripada membusuk di Bandung, padahal potensi berkembangnya itu besar. Di Bandung, kata Mas Febby, dari skala 10, potensi yang muncul hanya 2. "Ya kalau lingkungannya kayak gitu, cuma dua pilihannya. Apatis dan kontraproduktif atau Anarkis," itu kata Mas Febby.
Wadah yang sekarang di Bandung ini sudah tidak mungkin lagi dikembangkan. Sementara potensi yang ada meluber, bukan lagi penuh, tapi wadah sudah tak sanggup menampungnya. Jalan keluarnya adalah mencari medan perjuangan baru, medan tempur baru yang lebih fresh, lebih punya tantangan untuk mengembangkan diri dan karier.
"Dari seluruh mabes, Bandunglah yang memiliki potensi luar biasa, sangat besar. Ini tinggal kita pinter pinter cari momen, masuk listnya talent scouter, lalu ada penjamin atau guarantee, punya komitmen kuat dan tidak ada persoalan dengan keluarga, sudah beres," jelas Mas Febby.
"Saya itu kasihan lihat teman-teman yang sudah lama. Di Jakarta kayak Arifin, siapa lagi, lalu di Bandung ada Daf, Akuy, apa mereka mau terus seperti itu. Harus diberi kesempatan biar mereka bisa berkembang dan naik kelas. Masa reporter terus, padahal mereka angkatan lama. Tengok saja Domu, dia bisa ternyata berkembang di Jakarta, bulan depan status dia sudah karyawan Persda, bukan lagi Tribun. Dade saya siapkan untuk di Pontianak. Saya perlu tim yang fresh untuk mengembangkan proyek ke depan. Orang-orangnya ya dari Bandung ini, tapi mesti menyebar dulu. Kalau cuma di Bandung, ya mati," cerocos Mas Febby. Saya mengangguk-angguk, sekali-kali menyela, minta penjelasan, dan lain-lain.
Tak terasa, subuh hampir menjelang, pembicaraan pun selesai. Jam 04.47, saat saya tengok jam di HP. Mending salat Subuh dulu baru tidur. Saking lelapnya tidur, telepon dari rumah jam 06.30 pun tak terdengar, apalagi diangkat.
Dan hari ini saya kesiangan ikut rapat pagi. Baru bangun jam 10.45, ke kantor jam 11 lewat. Rapat pun sudah bubar sejak lama. Redaktur lain entah pada kemana. Hah, kepala pening nih.

Sunday, May 27, 2007

Batam Center-Nagoya Pakai Gondola



KAWASAN-kawasan utama yang merupakan titik urat nadi perekonomian di Pulau Batam bakal dihubungkan dengan sarana tranportasi kabel alias Gondola atau Kereta Gantung. Mulai Batam Center, Nagoya, Sekupang sampai Batu Aji, semua tersambung dengan bentangan kabel di udara.
Wartawan Tribun Batam menulis, rencana ini merupakan kesepakatan Otorita Batam dan Pemerintah Kota Batam b untuk membangun infrastruktur pendukung special economic zone (SEZ), berupa skyvan-metrotrans Batam. Selain sebagai jalur transportasi publik, skyvan-metrotrans ini nantinya juga bisa digunakan untuk membantu mengembangkan dunia pariwisata di Kota Batam.
Pilihan penggunaan skyvan-metrotrans ini sangat logis dibanding membangun monorel yang relatif lebih tinggi tingkat investasinya. Khusus produk ini, pemerintah dan pihak swasta hanya cukup menghabiskan nilai investasi sebesar 40-60 miliar untuk 1 kilometer.
Nilai investasi tersebut diperkirakan bakal berada di titik untung setelah 5 tahun operasi, syaratnya harus mampu meraih penumpang 3.000 orang per jam dengan tarif Rp 5.000-Rp 7.000 per orang.
"Ini proyek infrastruktur yang sangat bagus, karena tidak hanya menunjang mobilitas penduduk, tapi juga bisa mendukung pariwisata Kota Batam," ujar Syamsul Bahrum, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemko Batam, Jumat (25/5).
Pembangunan jalur Nagoya-Batam Centre-Batuaji-Sekupang ini bakal memberi nilai positif yang cukup signifikan. Selain melengkapi transportasi metropolitan, langkah ini juga menunjang transportasi bebas polusi dan tidak menimbulkan masalah lingkungan.

Selain itu bisa meningkatkan sektor ekonomi dan pariwsisata, meningkatan citra daerah dan kawasan, kapasitas alat dapat disesuaikan dengan kebutuhan, dapat melalui jalur yang tidak dapat ditembus dengan jalan raya serta jaringan tidak perlu membuka lahan.
Khusus yang terakhir, sistem transportasi skyvan-metrotrans hanya memerlukan tapak yang relatif kecil di tanah untuk menahan strukturnya. Penggunaan listrik juga terhitung efisien, yakni hanya 256 kWH dengan ketinggian 15-30 meter di atas permukaan tanah.
Beberapa pilihan yang akan menjadi alternatif bentuk skyvan-metrotrans antara lain jenis chairlift dan surface lift, detachable monocable gondola, funifel, 3S-ropeway, aerial jig-back dan aerial tramways.
Selain jalur yang menghubungkan empat kawasan tersebut, potensi kawasan lain yang akan dijadikan fokus adalah kawasan wisata Nongsa. Pasalnya, di tempat tersebut sudah terdapat peta yang jelas tentang fasilitas pariwisata seperti hutan, pantai dan mangrove. "Tempat tersebut memang sudah menjadi incaran, jadi kita akan segera mengadakan uji kelayakan dan selanjutnya diharapkan dalam waktu dekat bisa langsung membangun," tegas Syamsul, yang berharap fasilitas transportasi skyvan-metrotrans ini bisa menjadi ikon tersendiri bagi kota Batam nantinya.
Weis, asyik bener kalau rencana itu terwujud. Saya tidak perlu lagi kelilin pakai motor. Cukup pakai Gondola, seperti di Ancol, bisa sampai di Sekupang. Melihat Batam dari udara, asyiknya... (*)

Reli Batu Aji-Tj Uncang-Sekupang

SELEPAS makan pagi, sekitar jam 10.30, di warung makan Sunda Bu Joko di Batam Center, saya meluncur ke kawasan Mega Mal Batam untuk mencari SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum). Tangki motor saya nyaris kosong. Dengan uang Rp 10.000, tangki sudah full kembali dengan bensin Premium.
Sejak keluar dari mess, saya sudah niat untuk melancong ke daerah Batu Aji dan Tanjung Uncang. Daerah di sebelah barat daya Batam Center. Ini daerah industri galangan kapal yang belum saya injak.
Motor Supra Fit saya melaju tak terlalu kencang. Mungkin antara 40-50 km/jam. Ya di kira-kira saja, karena jarum di speedmeternya sudah tak bergerak sama sekali alias rusak. Arah yang dituju adalah jalan raya besar yang menuju ke Bandara Hang Nadim. Sesampainya di sana, saya ambil jalur ke kanan, menuju ke perempatan besar. Dari situ baru belok kiri menuju kawasan industri Mukakuning.
Tempo hari saya ke Mukakuning untuk menyerahkan piagam penghargaan sponsorship kepada Batamindo. Saat lewat, suasana cukup ramai. Taksi-taksi resmi atau gelap nongkrong di tepi jalan menunggu penumpang. Saya terus melaju menyusuri jalan besar Mukakuning ke arah Batu Aji. Teman-teman bilang, jalan-jalan di Batam tidak susah, karena jalan besar cuma satu. Kalau tersesat juga, pasti kembali lagi ke tempat yang dikenal.

Supra Fit saya pacu agak kencang. Soalnya saya lihat, langit di sebelah kanan saya (berarti sebelah utara) terlihat mulai menghitam. "Ow gawat kalau sampai hujan turun. Di sepanjang jalan ini hanya ruko dan tanah-tanah gersang, jarang tempat yang enak untuk berteduh," pikir saya.
Motor pun melaju makin kencang. Saya melewati kampus Putera Batam. Oh rupanya sudah sampai Batu Aji. Ban motor terus menggelinding menyusuri aspal hitam. Seingat saya, pada peta tergambar kalau arah ke Tanjung Uncang itu akan melewati sebuah pertigaan. Ke arah kanan itu ke Sekupang, dan ke kiri itu arah ke Tanjung Uncang. Berarti saya nanti mesti ambil arah kiri.
Awan hitam makin tampak menggumpal, tetap di arah kanan saya. Saya langsung belok kiri begitu tiba di pertigaan. "Hm, Tanjung Uncang," kata saya dalam hati saat membaca plang billboard sebuah perusahaan.
Masuk ke kawasan ini, pemandangan seperti biasa. Tanah gersang, tapi ruko-ruko tidak banyak. Lalu mulai tampak di kejauhan, tiang-tiang crane tinggi sekali. "Itu dia galangan kapal," kata saya.
Tak lama, tampak warna biru luas terhampar, rupanya laut di seputar Tanjung Uncang sudah terlihat dari jalan. Kondisi jalan di sini tidak mulus. Banyak lubang tak terduga. Dan sebagian tengah diaspal. Mesin-mesin stoomwaals mangkrak di tepi jalan. Tak ada yang mengoperasikan. "Mungkin sedang libur," pikir saya.
Mulailah melewati perusahaan-perusahaan galangan kapal di kiri kanan jalan. Ada Hyundai, ada Overseas, dan macam-macam lagi. Mesin-mesin berat dan besar menjadi pemandangan khas di pabrik-pabrik itu. Sampailah di ujung jalan. Tampak ribuan motor terparkir rapi. Ini mirip dengan suasasa di McDermott, galangan kapal dekat kantor di Batuampar. Kebanyakan pegawainya memang pulang pergi pakai motor. Tak heran, kalau saat waktu masuk dan pulang kerja, bunyi ribuan motor memekakkan telinga seperti suara ribuan tawon mendengung. (eh, jadi ingat Wiro Sableng 212. Suara kapak Naga Geninya seperti suara tawon, kata Bastian Tito).
Saya tak turun dari motor. Hanya memerhatikan suasana sekitar galangan kapal. Tidak pula menjepretkan kamera ke sana ke mari. Maklum, ada beberapa pasang mata, sepertinya tukang ojek, yang memerhatikan saya. Ah, tak enak rasanya diperhatikan orang.
Hanya 10 menit di situ, saya pun segera putar arah, kembali ke jalan semula. Tapi kali ini saya tidak akan lewat Batu Aji. Saya ambil jalur Sekupang. Baru saja melewati pertigaan Tanjung Uncang-Batu Aji, cuaca yang semula panas, tiba-tiba meredup. "Oh, awan hitam rupanya menggelayut di langit Sekupang," kata saya.
Saya berhenti sejenak untuk membuka peta Batam. Saya perhatikan, jalur yang akan saya tempuh nanti melewati sebuah danau atau waduk yang berada di sebelah kiri. Namanya waduk Harapan. Selepas waduk itu, saya harus ambil rute ke kanan untuk menuju ke arah Baloi, Nagoya, atau Batam Center.
Saya pun melajukan kembali motor. Di langit, awan semakin menghitam. Saya pun tancap gas makin dalam. Saya tak sempat berhenti-henti lagi, karena khawatir kehujanan. Terlebih, di sepanjang jalur ini tidak ada bangunan. Yang ada hanyalah pohon dan hutan. Ya, Sekupang memang beda dengan kawasan lain di Batam. Ia adalah daerah resapan air. Masih banyak pepohonan, dan cuacanya pun akrab dengan kulit saya. Maklum kulit Bandung, tak tahan panas.
Dari kejauhan tampak keramaian mobil-mobil yang melintas di jalan raya besar. Itu pasti jalan Sekupang, dan saya harus ambil ke arah kanan. Motor pun melaju kembali setelah dihentikan lampu merah di setopan. Namun, tik, tik. Dua tetes air jatuh dari langit menimpa kaca helm saya. "Wah, mulai rintik nih".
Laju motor pun makin diperkencang. Lepas lapang gol, dekat Tiban Asri, saya ambil jalan lurus. Pikir saya, paling juga ketemu di situ-situ juga. "Sepertinya kenal ini jalan," kata saya dalam hati. Ternyata jalan itu merupakan jalan ke Baloi. Kalau Baloi, pasti nanti melewati Kelenteng itu. Benar, saya lewat kelenteng itu. Dari situ, sudah tak canggung lagi. Saya geber gas motor, karena titik hujan jatuh bukan hanya dua atau tiga, tapi mulai membesar. Saya kebut terus sampai akhirnya bertemu Jalan Yos Sudarso. Dari sini cuma beberapa puluh meter ke kantor. Tepat jam 12.25, saya tiba di kantor. Ruang Redaksi tampak kosong, tapi lampu menyala. Rupanya Eko, lay outer, sudah nongkrong di depan komputer. Hah selamat deh, Kita Bekerja Kembali....(*)

Komandan Datang

MAS Febby Mahendraputra, Pemred Tribun Batam, akhirnya datang juga ke Batam. Setelah hampir dua bulan di Batam, baru kali ini saya bertemu Mas Febby. Maklumlah, dia ini memang supersibuk. Sibuk membidani Tribun Pekanbaru, sibuk ke Jakarta, sibuk ke Surabaya, dan lain-lain. Baru akhir Mei ini bisa singgah ke Batam, yang notabene adalah rumah aslinya.
"Wah saya tidak enak kalau tidak ketemu Mac, masa sohibul bait tidak ada terus. Makanya sebelum Mac pulang, saya kesini dulu," begitu kata Mas Febby saat bertemu saya di kantor Tribun Batam, Sabtu (26/5) sore.
Saya tentu senang dengan kedatangan Mas Febby. Ini berarti saya bisa pulang lebih cepat setelah nanti laporan selama 2 bulan di Batam ini. Plus nanti mendapat tugas khusus apa saja di Bandung sekembalinya dari Batam.

Jelang Maghrib, usai nonton sepakbola di lapangan belakang, Mas Febby mengajak saya, Mbah Roso, dan Opung Richard untuk makan. Kami pun menuju ke daerah Penuine. Di situ ada rumah makan Pincoek,. khas Ponorogo. Sambil makan soto, pecel, dll, kami berbincang-bincang soal Tribun, baik Batam, Pekanbaru, maupun Jabar. Banyak hal yang kami obrolkan, tapi tidak mungkin saya ungkapkan di sini, karena semuanya serba rahasia perusahaan. Dan tentu untuk menjaga citra perusahaan, saya wajib tidak mengobrolkannya.
Balik ke kantor, kami langsung bekerja seperti biasa. Dan pulang jam 01.00. Saya mengantarkan Bang Eddy pulang ke rumahnya di Garden, karena dia tidak bawa motor. "Kang Mac pulang hari Senin? Saya Selasa pulang, mau ngantar ibu," tanya Bang Eddy setelah sampai di depan rumahnya. "Wah gak tahu saya, tergantung yang memutuskan saja. Kalau ada tiket Senin yah Senin, kalau harus sampai akhir Mei, saya ikut saja," jawab saya sambil tertawa. Saya pun langsung meninggalkan rumah Bang Eddy setelah menolak ajakan untuk singgah. Ya, orang sudah dini hari, mengganggu yang punya rumah, kalau bertamu jam segitu.
Sampai di Mess, rupanya hampir berbarengan dengan Mas Febby. Dia juga tinggal di mess. Tapi tidak ada perbincangan, karena cape. Saya pun langsung tidur. Mungkin lain waktu, ngobrol lagi...(*)

(Lagi) Tanpa Pembantu

HARI ini saya transfer uang bulanan buat belanja via ATM Mandiri. Seperti biasa, antara tanggal 25-27 tiap bulannya, itu waktunya untuk belanja. Dan Minggu ini Bu Eri mau belanja ke Carrefour Mollis Bandung. "Sudah pada habis, susu Adik saja terpaksa beli yang bungkus karton kemarin," kata Bu Eri, saat menelepon saya tadi pagi.
Bu Eri pun cerita kalau Teh Nia, pembantu di rumah, sudah pulang ke Cianjur, Sabtu kemarin. Jadi sekarang di rumah tanpa pembantu lagi. Alasan Teh Nia pulang, kangen sama ibunya. Tapi semua pakaian dibawa semua. Makanya Bu Eri kasih batas waktu, kalau Selasa belum pulang atau tidak telepon, berarti tidak akan balik lagi ke Cimahi.
Bu Eri sudah "sasadu" (apa yah arti tepatnya kata ini dalam bahasa Indonesia? Bilang sambil meminta maaf?) sama Mbah Uti, kalau nanti bakal repot, karena tidak ada pembantu.
Ini kali yang kesekian kalinya, rumah tanpa pembantu. Teh Nia yang asal Cirata Cianjur ini pernah keluar, hampir 1,5 bulan. Waktu itu alasannya, karena ibunya mau ke Arab jadi TKW, jadi di rumah tidak ada yang menunggui dan mengurus adiknya. Makanya dia pulang. (Baca posting sebelumnya).

Naga-naganya, pulang dari Batam, saya disibukkan untuk mencari lagi pembantu. Ya gimana lagi, karena memang butuh. Kalau saya atau Bu Eri tidak bekerja, bisa saja mengurus rumah. Tapi kalau dua-dua bekerja, ini yang bikin pusing tujuh keliling. Memang selama ini selalu dibantu Mbah Uti, tapi kan tidak enak, masa Mbah Uti yang harus mengurus rumah. Ya, sudahlah. Nanti pulang dari Batam, saya memang mau ambil cuti. Selain mau liburan, sekalian sambil cari pembantu. Siapa tahu teman saya di Garut bisa membantu.
Waktu Bu Eri telepon, rupanya Kaka Bila lagi tidak di rumah. Ia sedang ikut Lomba Mewarnai di kampus Unjani. "Diajak sama Uwa dan Nurul," kata Bu Eri. Setelah beres-beres, Bu Eri mau ngejemput Bila di Unjani, terus langsung berangkat ke Carrefour, pakai taksi Bluebird langganan. Oke deh, hati-hati di jalan... (*)

Saturday, May 26, 2007

Amien Rais



Amien Rais menerima koran mini dari Kang Yusran Pare (Pemred Tribun Jabar). Amien dikerubuti warga sekitar kantor Tribun.

AMIEN Rais memang tokoh yang lurus, konsisten, berani, dan siap menanggung risiko. Tokoh yang satu ini dikenal cerdas, dan pintar mengeluarkan istilah-istilah unik. Bagi wartawan, omongan Amien Rais paling mudah dipindahkan ke komputer. Karena sudah runut, plek, tinggal kasih judul, beres.
Di zaman Orde Baru, Amien sudah lantang meneriakkan suksesi kepemimpinan.Padahal saat itu, Soeharto lagi kuat-kuatnya memegang kekuasaan. Tapi Amien tidak takut. Busang pun dia bikin kalang kabut. Tambang milik AS di Kalimantan itu dibongkar habis oleh Amin, karena menipu mentah-mentah Indonesia. Ya, Amien Rais sangat kritis pada setiap kebijakan dan kepentingan AS.
Saya juga ingat, ketika Amien menjadi lokomotif gerbong Reformasi. Jelang kejatuhan Soeharto, tepatnya 20 Mei 1998, Amien berencana mengadakan Aksi Sejuta Umat di Monas. Tapi aksi itu akhirnya batal dengan sejumlah pertimbangan. Dibatalkannya pun malam hari, dekat ke pergantian waktu ke tanggal 20 Mei.
Dan akhirnya lokomotif reformasi terus bergerak. Amien selalu berada di depan. Ia didaulat mahasiswa sebagai tokoh reformasi. Tapi politik memang selalu berubah-ubah. Yang abadi adalah kepentingan politik. Begitu pula Amien. Dia menaikkan Gus Dur jadi Presiden RI keempat, dia pula yang menggalang kekuatan untuk melengserkan Gus Dur.
Tahun 2004, Amien sebagai Ketua Umum DPP PAN mencalonkan diri sebagai Presiden RI bersanding dengan Siswono Yudhohusodo. Amien pun sempat singgah ke Kantor Tribun Jabar (waktu itu masih Metro Bandung) saat silaturahim dan kampanye di Bandung. Sayang, Amien kandas pada putaran pertama. Amien pun pensiun dari Ketua MPR RI, kembali ke Yogya, namun tetap menjadi watchdog bagi penguasa.

Hingga hari-hari belakangan ini nama Amien Rais kembali bergaung. Amien lah yang membuka kebusukan kampanye Pilpres tempo hari. Dia mengaku mendapat kucuran dana dari Departemen Kelautan dan Perikanan sebesar Rp 400 juta. Pengakuan itu berasal dari tudingan atau kesaksian Rokhmin Dahuri, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, serta anak buahnya yang menyebutkan ada 1.700 aliran dana dari DKP. Mereka yang mendapat kucuran itu antara para calon presiden saat Pilpres 2004, tim sukses, ormas, dan lain-lain.
Di saat orang lain ramai-ramai membantah menerima dana haram itu, dengan elegan Amien Rais justru mengakuinya. Bahkan ia meminta agar capres lainnya pun jujur dan mengakui menerima dana DKP dengan besaran yang berbeda.
Bola yang digelindingkan Amien semakin liar dan panas. Sudah dua kali ini, dalam sepekan, saya mengangkat kasus DKP dalam liputan Fokus on Tribun Batam, sebuah liputan mendalam. Sedikit banyak saya jadi tahu bagaimana kasus ini terus bergulir.
Baru setelah Amien, beberapa orang mulai mengaku. Padahal sebelumnya, mentah-mentah membantah. Seperti KH Hasyim Muzadi, ketua KNPI, lalu Gus Solah. Dan bola panas itu pun mental ke arah Istana Presiden. Giliran SBY yang kepanasan dan membuat konferensi pers. "Itu fitnah, tidak benar saya menerima dana DKP, apalagi dana asing dalam pemilihan presiden," ujar SBY dengan wajah tegang, menahan kemarahan. Bola Amien terus bergulir dan sepertinya akan memunculkan testimoni-testimoni baru di jagat politik terkini Indonesia.
Namun ngomong-ngomong soal Amien Rais, saya punya sedikit kenangan mengecewakan tentangnya. Ini kisah sepuluh tahun lalu, tahun 1997. Waktu itu, saya dan kawan-kawan di Himpunan Mahasiswa Sejarah Unpad, menggelar Seminar tentang Suksesi Kepemimpinan. Itu isu yang hangat sekaligus sensitif. Pembicara yang kita undang di antaranya Rudini (sudah almarhum), Rusadi Kantaprawira (di penjara), Anhar Gonggong (sejarahwan), Arbi Sanit (politik UI), Ahmad Mansur Suryanegara (sejarahwan Unpad), Cak Nur, Gus Dur, dan Amien Rais. Namun Cak Nur dan Gus Dur tak bisa memenuhi undangan panitia, karena acaranya padat. Nah Amien Rais menjanjikan akan datang ke Jatinangor.
Antusiasme mahasiswa dan masyarakat saat itu begitu tinggi untuk ikut seminar tersebut. Kenapa? Karena pembicaranya kahot-kahot dan isu yang dibicarakan soal suksesi yang jelas-jelas masih sangat tabu dibicarakan. Waktu itu kami cuek saja menggelar seminar itu, toh akhirnya diizinkan juga oleh Sospol. Untuk berjaga-jaga supaya seminar tidak dilarang, kami pun mengundang Letkol Herman Ibrahim, waktu itu Kapendam III Siliwangi untuk juga berbicara soal suksesi. Herman Ibrahim (sekarang aktivis Majelis Mujahidin Indonesia dan FUUI, dulu pernah di PAN) memang sosok militer yang moderat, bahkan keras. Dia biasa saja mengkritik pemerintah. Tak heran, pangkatnya tidak pernah naik-naik. Sampai pensiun, ya tetap saja Letkol. Padahal teman seangkatannya, Wiranto, jadi Pangab. Herman juga sempat membantu Wiranto di LSM yang dibentuk Wiranto.
Balik ke Amien Rais. Waktu itu, saya sendiri yang menemui Amien Rais di kantor PSIK (Pusat Studi Ilmu Kebijakan) di Yogyakarta. Bertemu dengan tokoh kritis, cendekiawan sekelas Amien, tentu menjadi kebanggaan bagi saya. Saya jelaskan maksud seminar ini, bla bla bla. Dengan ramah, Amien Rais menyatakan kesanggupannya datang ke Jatinangor. Tentu hati ini girang luar biasa, akhirnya bisa juga mendatangkan tokoh kritis ke kampus.
Namun, ini yang menjadi setitik rasa kecewa saya pada Amien Rais. Sehari menjelang seminar, Amien membatalkan janjinya itu. Wah, cilaka 12. Apa yang harus dibilang pada teman-teman mahasiswa yang datang dari penjuru Indonesia ini? Ya seminar itu juga sekaligus sebagai pembuka acara Musyawarah Nasional Mahasiswa Sejarah se Indonesia. Kedatangan mereka ke Jatinangor, karena mereka tertarik dengan tokoh-tooh nasional yang akan jadi pembicara dalam seminar.
Akhirnya, karena pembatalan sepihak dari Amien Rais inilah, saya harus berkeliling ke setiap blok kamar penginapan peserta seminar dan munas bahwa Amien Rais batal datang ke Jatinangor. Saya tahu, peserta pada ngedumel. Tapi acara harus jalan terus, dan alhamdulillah, lancar dan sukses. Walau kami, para panitia, jadi bahan intaian para telik sandi Koramil, Kodim, Bakorstanasda, dll. Yang penting, sukses... (*)

Wisuda di Unpad


Taman di sebelah depan gedung Rektorat Unpad Dipati Ukur jadi favorit untuk foto-foto usai diwisuda

TAK terasa, hari ini Adik saya, Rohmatul Mardiah, atau Neng Diah, diwisuda. Dia lulus dari Jurusan Budidaya Fakultas Pertanian, Unpad, setelah 4,5 tahun kuliah. Rasanya baru kemarin saya memberi uang tiap bulan untuk tambahan jajan Neng Diah.
Saya baca di situs Unpad, 26 Mei ini ada sekitar 2.233 wisudawan yang mengikuti pelepasan. Terbayang padat sekali Unpad Dipatiukur, dan tentu macet.
Sayangnya saya tidak bisa menghadiri wisuda ini. Jarak terbentang antara Batam Bandung, tak memungkinkan saya untuk melihat langsung adik saya pakai toga. Jumat kemarin Neng Diah datang ke rumah saya, ketemu Bu Eri. Sepertinya mau pinjam kamera. Tapi karena kamera digital semua dipakai, akhirnya cuma kamera biasa yang dipakai. Buat kenang-kenangan, karena mungkin ini wisudaan terakhir di keluarga kami. Tidak ada lagi yang kuliah, setelah Neng Diah.

Kelulusan Neng Diah tentu sangat membanggakan Mama, ibu saya. Dia yang membiayai Neng Diah. Dan ini pembuktian pada keluarga besar di Cihanjuang, bahwa keluarga kami ada, eksis, dan berhasil semua. Setidaknya semua anak-anaknya jadi sarjana semua. Kakak saya yang pertama, Ma'sum Hidayat, sarjana agama. Sekarang jadi Wakil Kepala Sekolah di SMP Tut Wuri Handayani, dan guru Agama di Tsanawiyah Cimahi. Lalu kakak saya satu lagi, Sirojudin Abbas, lulusan diploma Pariwisata. Sekarang jadi pengajar ilmu pariwisata di Majalengka. Lalu saya, ya begini ini. Dan Neng Diah. Masih ada satu lagi, adik kami, adik tiri beda bapak, Taufik atau biasa dipanggil Boy. Nah yang satu ini enggak mau kuliah. Keluar SMA maunya langsung cari duit. Makanya dia ngajar Bahasa Inggris dan Komputer di tempat kursus yang dimiliki Mama, di Bandung dan Cimahi.
Pasti Mama ingin semua anak-anaknya kumpul di hari bahagia. Mungkin ingin foto bersama, semua anak-anak memakai toga sarjana. Dipajang di ruang tamu. Semalam saya telepon ke rumah di Cihanjuang. Mama bertanya kapan pulang. Saya bilang,"Mungkin akhir Mei, nanti saja kita kumpul. Doakan saja".
Setiap menelepon Mama, saya tak pernah lupa untuk meminta doa. Bagaimanapun doa seorang ibu pasti akan makbul. Saya merasa lebih tenang, kalau Mama sudah bilang,"Enya, didu'akeun ku Mama, sing salamet dunia akhirat".
Selamat dunia akhirat, ya itulah yang semua orang harapkan. Selamat di dunia, lalu selamat pula di akhirat kelak. Itu saja sudah cukup. (*)

Family Gathering

SABTU ini seharusnya hari menggembirakan bagi saya. Bagaimana tidak, ide dan rencana saya untuk menggelar Family Gathering Redaksi Tribun Jabar akhirnya bisa terlaksana juga, setelah terkatung-katung setahun lamanya.
Nah persoalannya, saya tidak bisa berbagi atau merasakan kebahagiaan teman-teman yang sekarang tengah berkumpul bersama seluruh keluarga (anak istri/suami) di Kebun Binatang Bandung. Saya masih di BATAM!.
Saya cuma bisa membayangkan Kang Janu bawa istri dan dua anaknya. Lalu Opin bawa si kecil yang baru 4 bulan. Dedi, Ricky, Fatimah, dan lain-lain bisa berkumpul dan mengenalkan anak-anak, suami dan istri mereka. Ah lagi-lagi saya cuma bisa mimpi.
Opin, sapaan akrab Arief Permadi, Redaktur Daerah Tribun Jabar, pagi tadi langsung menelepon dari Bonbin. "Woi, kadieu atauh, kumpul kabeh di dieu. Jeung barudak-barudakna. Resep siah," seru Opin. Saya hanya bisa tertawa, getir. "Atuh padahal mah minggu hareup we gathering nah, tungguan urang balik ka Bandung," kata saya. "Salam nya ka barudak, tong poho kirim foto-foto nya. Urang hayang ningali," kata saya lagi.

Rencana family gathering itu sudah lama dibicarakan. Terutama setelah acara terakhir di Alam Sejuk Lembang. Redaksi sudah beberapa kali menggelar acara keluar, tapi tidak pernah melibatkan keluarga. Saat di Lembang, saya dan Dicky Gondrong yang mengkoordinir acara. Mulai sewa tempat, survei lokasi acara, bikin acara, bikin jalur, sampai mendirikan tenda, saya dan Dicky, dibantu anak-anak Lembang yang menyiapkannya. Pokoknya teman-teman Redaksi tinggal datang, ikuti acara, hepi-hepi, pulang.
Lantas terpikir untuk melibatkan keluarga dalam acara-acara di kantor. Saya ngobrol-ngobrol dengan Bu Iya dan beberapa teman lain, ternyata mereka setuju.
Apalagi rencana saya, acara itu tidak hanya untuk redaksi, tapi seluruh Tribun Jabar. Selama ini, acara keluar hanya bisa dinikmati per bagian saja. Tidak pernah bisa bareng. Dan memang rasanya sulit sekali mewujudkan itu. Karena Tribun Jabar tidak mengenal kata libur. Saat ada libur panjang di akhir pekan, Redaksi dan Sirkulasi tetap bekerja, karena koran tetap terbit. Sementara bagian lain, seperti Iklan, Keuangan, Umum, PSDM, libur. Jadi susah nyambungnya.
Tapi dalam pemikiran saya, kalau semua bisa dikompromikan dan diusahakan betul-betul, rasanya bakal ada titik temu juga untuk mencari waktu yang tepat. Namun rupanya mencari titik temu itu sampai setahun ini saja belum juga ketemu. Sampai akhirnya Redaksi menggelar Family Gathering, hari ini.
Mengapa Family Gathering? Rasanya semua sepakat, bahwa keluarga juga sebenarnya bagian dari perusahaan. Bagaimanapun juga, keluarga memiliki andil untuk mendorong kepala keluarga atau ibu untuk bekerja lebih keras lagi dan penuh semangat. Coba bayangkan, jika di rumah ada masalah, saya yakin akan terbawa pula ke tempat pekerjaan. Walaupun sudah mencoba bersikap profesional, misalkan, berupaya memilah ini persoalan kantor, ini persoalan pribadi, tapi tetap saja bakal ada pengaruhnya pada ritme kerja.
Saat di rumah tidak ada masalah, keluarga mendorong kita untuk bekerja keras, rasanya bekerja pun tidak akan ada masalah. Semua serba ringan, tidak terbebani apapun. Berbeda jika dari rumah saja, sudah menanggung omelan, misalnya dari istri atau keluhan anak-anak, sepanjang menuju kantor pun, kepala sudah pening dengan persoalan di rumah. Sampai kantor, yang ada hanyalah tenaga sisa. Lha kalau tenaga sisa, mau bekerja maksimal juga sulit.
Saya ingat cerita teman saya, Adityas Annas Azhari, Redaktur Nasional Tribun Jabar. Awal tahun ini dia berkesempatan pergi ke Jepang dan bermukim di sana selama 1,5 bulan atas undangan PWI-nya Jepang. Selama itu, Adit atau Aa, sapaan dia, merasakan bagaimana perusahaan-perusahaan di Jepang begitu menghargai keluarga karyawan. Bagi mereka, keluarga itu sama dengan karyawan dan itu aset yang tak ternilai. Seorang karyawan bisa memberikan hasil yang maksimal kepada perusahaan, kalau didukung penuh keluarga, disupport sedemikian rupa.
Nah kalau di kita, khususnya di Bandung, terbalik. Karyawan itu bukan aset, jadi tidak usah dipelihara. Keluarga, apalagi, tidak ada urusan dengan perusahaan. Selama tidak menghasilkan keuntungan atau mendatangkan uang, ya tidak berurusan. Ada karyawan yang keluar, perusahaan senang saja, karena mengurangi pengeluaran. Karyawan yang ada tidak dipelihara sebagai sumber daya manusia yang seharusnya justru menjadi ujung tombak untuk membesarkan perusahaan.
Sudahlah, saya tidak mau cerita soal itu. Saya sudah tak sabar menunggu tanggal 31 Mei, cepat pulang ke rumah. Ambil cuti dulu seminggu, baru bertempur kembali untuk Tribun Jabar. (*)

Nikmati Bandrek di Simpang Coin



SEMINGGU terakhir ini, setiap kali pulang lewat tengah malam, saya dan Agus, sesama penghuni mess, selalu mampir ke warung makan di daerah Simpang Coin Center. Di tempat ini, berjejer warung-warung makan, dan kebanyakan dari Aceh. Makanya Mi Aceh paling mudah ditemukan di tempat ini.
Sebelumnya tidak mampir tiap malam. Paling kalau lagi mau, baru mampir. Nah hari-hari belakangan ini, selalu mampir karena merasa lapar terus. Perut sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Kalau perut kosong, cacing kriuk miuk, dan jadinya tidak bisa tidur pulas. Makan terakhir, biasanya sore jam 5 atau 6. Setelah itu bablas, tidak ketemu nasi lagi sampai besok siangnya, ketemu nasi di kantin. Jadi bisa dibayangkan, perut kosong lebih dari puasa.
Ada satu warung makan yang jadi favorit kami. Tempatnya sebelah kanan agak ujung. Di warung makan yang satu ini, selain Mi Aceh, mi rebus biasa, nasi goreng, juga tersedia minuman yang khas. Bandrek.
Ha ha ketemu bandrek jadi ingat Bandrek Cihanjuang. Waktu datang ke Batam, saya bekal Bandrek Cihanjuang, sengaja beli di Babut Cimahi. Tapi habis diserbu teman-teman. Saya bayangkan, minimal sama lah, yang namanya bandrek, pasti jahe dan teman-temannya bercampur di situ.

Tapi ternyata Bandrek di warung makan Mi Aceh ini berbeda, dan unik. Dia ini campuran dari susu telor madu jahe atau STMJ. Diaduk-aduk supaya berbusa, jadilah Bandrek khas Simpang Coin Center. Rasa jahenya memang kurang menyengat, tapi lumayan juga di tenggorokan. Hangat dan angin di badan rasanya berkurang.
Tempatnya juga enak. Selain di dalam, juga ada beberapa meja yang sengaja disimpan di luar. Justru meja-meja di luar ini yang paling banyak dibooking konsumen. Sambil nyeruput Bandrek, ngobrol ngalor ngidur, bisa lihat-lihat langit Batam.
Kalau tidak pesan nasi goreng, saya pesan ayam goreng. Ayamnya lumayan juga, kering. Sebenarnya tidak terlalu enak-enak amat. Berhubung sedang lapar saja, ayam kering itu bablas masuk ke perut.
Keberadaan warung-warung makan yang buka sampai subuh ini jelas menolong saya. Setidaknya, waktu makan jadi agak teratur. Siang makan pagi, sore makan siang, dan lewat tengah malam, ya makan malam. Dini hari ini pun saya mau mampir dulu ke warung Simpang Coin Center. Perut sudah melilit tanda tak kuat menahan lapar.
Oke deh, sebentar lagi sepertinya sudah bisa keluar kantor. Halaman 1 koran sudah hampir rampung. Ayo meluncur ke Simpang Coin.... (*)

Friday, May 25, 2007

Aktivis 98 Kumpul di Jakarta untuk Rebut Kekuasaan


JUDUL di atas adalah judul berita di Situs Berita Rakyat Merdeka, Rabu (23/5). Pada berita disebutkan, sekitar 1.000-an aktivis 1998 yang ikut andil menjatuhkan rezim Orde Baru akan menggelar pertemuan di Jakarta, 21-24 Juni di Jakarta. Tujuan utama pertemuan itu adalah mematangkan rencana untuk merebut kekuasaan, baik lewat pemilu maupun tanpa pemilu. Alasan utama, karena pascareformasi, para elite politik yang berkuasa telah mengkhianati perjuangan mahasiswa. Elite sama sekali tidak memperjuangkan agenda reformasi.
Wow membayangkan, aktivis 1998 bertemu tentu bakal menyenangkan. Mereka aktivis hebat yang mampu menjungkalkan tirani otoriter. Saya masih ingat bagaimana atap gedung MPR/DPR RI dipenuhi mahasiswa. Sungguh pemandangan yang langka dan belum tentu 10 tahun sekali.
Rasanya wajar jika aktivis-aktivis itu kembali bertemu dan membicarakan arah bangsa ini. Bagaimanapun juga, peran mereka sebagai kelompok penekan sangat besar mengubah sejarah bangsa ini. Saya masih ingat pula Rama Pratama (waktu itu Ketua Senat UI, sekarang DPR RI) atau Vijaya Ananda (Presiden KM ITB, enggak tahu kemana Vijay), Adian Napitupulu, aktivis Forkot Sejati (he he sori Dian). Lalu Indra J Piliang (Sejarah UI, sekarang CSIS). Di Bandung? Maaf kalau saya tidak begitu kenal, selain Vijay. Ketua Senat Unpad, tempat saya kuliah, saat Reformasi 1998 saja saya tidak tahu. Apa Tatang atau Dadang (anak HMI ). Eh Tatang juga anak HMI (sekarang di Bappenas). Lupa lagi.

Maklumlah, di zaman Reformasi itu saya cuma kroco, yang mencoba bersikap, seperti halnya para reformator itu (Betul enggak istilah reformator?). Ikut berteriak ketika orator mengaba-aba. Ikut kepalkan tangan ketika korlap mengacungkan tangan.
Tapi beberapa teman menyebut saya provokator. Kenapa? Karena setiap kali ada kerusuhan di Jakarta, mulai Trisakti 12 Mei, lalu kerusuhan massa 13-15 Mei, lalu Semanggi I November 1998 dan II , saya selalu menghilang dari kampus, dan berada di Jakarta.
Saat kembali ke kampus, teman-teman bilang: "Tuh kan setiap kamu ke Jakarta, pasti rusuh, ada demo. Dasar provokator". Saya sih cuma tersenyum saja mendengar mereka.
Apa memang saya punya tampang provok? Entahlah... Padahal saya ke Jakarta kan cuma bertema kawan lama, teman-teman di UI, Sahid, dan Trisakti. Tidak ada yang istimewa, toh hanya berbincang-bincang saja.
Balik lagi ke rencana pertemuan Aktivis 1998. Ada hal yang mengganjal dalam hati saya, terutama soal tujuan pertemuan. Yaitu merebut kekuasaan dari pemerintahan sekarang, baik lewat pemilu maupun tanpa pemilu.
Kalau lewat pemilu, saya paham. Bisa jadi aktivis 1998 membentuk partai. Sebut saja Partai Aktivis Reformasi 1998. Dan memenangkan pemilu, karena bertekad menjalankan amanat agenda reformasi yang terkatung-katung selama sembilan tahun ini.
Tapi merebut kekuasaan tanpa pemilu? Apa yang mau dilakukan? Berdemo kembali di jalanan dengan tujuan Revolusi? Seperti halnya dulu pernah ditawarkan beberapa teman untuk menggulirkan revolusi sosial saat 1998 itu? Mengangkat senjata? Ah hanya mimpi.
Sudahlah, persatukan dulu kekuatan mahasiswa, tentukan "musuh bersama", baru beraksi ... Selamat bernostalgia.
Berikut ini berita selengkapnya soal rencana pertemuan Aktivis 1998:
Jakarta, Rakyat Merdeka. Sekitar 1.000 aktivis 1998 yang ikut andil menjatuhkan rezim Orde Baru akan menggelar pertemuan di Jakarta, 21-24 Juni di Jakarta. Rencana tersebut disampaikan Sekjen 98 Center Adian Napitupulu kepada Situs Berita Rakyat Merdeka di Jakarta, Rabu (23/5).
Adian mengatakan, saat ini mahasiswa 98 yang punya andil melengserkan Soeharto marah melihat para elite politik yang telah berkuasa mengkhianati perjuangan mahasiswa. “Elite-elite politik yang berkuasa lewat darah mahasiswa sama sekali tidak melaksanakan agenda reformasi,” kata Adian.
Ironisnya, kata Adian, DPR tanpa malu-malu menyatakan Tragedi Trisakti serta Tragedi Semanggi I dan II dinyatakan bukan pelanggaran HAM berat. “Dalam kondisi seperti ini mahasiswa 98 akan mencoba kembali merebut kekuasaan baik melalui pemilu atau tanpa pemilu,” tegas Adian.
Untuk mematangkan agenda tersebut, kata pentolan Forum Kota ini, aktivis 98 se-Indonesia akan menggelar pertemuan pada 21-24 Juni di Jakarta. Kata Dian, perebutan kekusaan kembali menjadi manifestasi dari pertanggungjawaban mahasiswa terhadap gagasan perubahan tahun 1998 yang telah dikhianati oleh elite politik saat ini.
“Inilah bentuk pertanggungjawaban kami terhadap darah teman-teman yang telah tewas dan bentuk pertanggungjawaban kami terhadap masa depan bangsa,” kata Dian. --
Ngomong-ngomong Pemimpin Situs Berita Rakyat Merdeka ini saya kenal banget. Tegus Santosa, sama-sama kuliah di Unpad, satu angkatan, angkatan 1994. Dia di Ilmu Pemerintahan, saya di Sejarah. Dan kita sama-sama Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Cibiuk Garut. Satu rumah satu kelompok. Saya menyebut beliau, aktivis pemikiran. Nah, bedanya dia sekarang jadi bosnya wartawan, saya masih kroco juga. Ha ha ha... (*)




Penghargaan Batamindo



Menyerahkan piagam penghargaan Jelajah Pulau III kepada Mbak Dewi dari Batamindo. Foto bareng Bang Eddy Mesakh di depan Batamindo (bawah)

BATAMINDO, ini sebuah kawasan industri besar di daerah Muka Kuning. Saya pernah keliling-keliling di kawasan ini saat pulang melancong dari Pulau Galang (Baca posting Touring Barelang).
KAMIS (24/5) siang, saya diajak Bang Eddy Messakh untuk menyerahkan piagam penghargaan kepada para sponsorship acara Jelajah Pulau III. Salah satunya, Batamindo. Tentu ajakan yang tidak boleh disia-siakan. Sejenak keluar kantor itu bikin kepala fresh, tidak pusing. Selain saya dan Bang Eddy, Ganjar dan Agus Th juga ikut. Agus yang jadi menyopiri mobil kantor.
Waktu pertama ke Batamindo, saya memang hanya jalan-jalan di kawasan itu, tidak masuk ke perkantoran Batamindo. Nah kemarin saya berkesempatan masuk kesana. Memang asyik tempatnya. Bersih dan hijau adalah pemandangan yang langsung menyita perhatian mata. Berbeda dengan tempat lain di Batam, apalagi di Batuampar, yang gersang, Batamindo memang hijau. Pohon-pohon rimbun berjejer rapi di kiri kanan jalan. Dan ada lapangan luas yang rumputnya hijau. Kalau saja bisa bermain bola di sini, tentu menyenangkan, karena lapangnya benar-benar rata.
Ada empat petugas keamanan yang menjaga di pintu masuk. Mobil tidak boleh parkir di depan gedung Batamindo. Jadi kami pilih parkir di depan supermarket. Jalan sedikit tak apa. Soalnya ada trotoar buat pejalan kaki. Ini enaknya. Beda banget dengan di Batam Center yang susah menemukan trotoar.

Nah yang bikin kaget, di pintu masuk Gedung ada anggota TNI baret hijau (pasti dari kesatuan Kostrad) yang jaga. Setiap orang yang masuk ke gedung, harus melewati metal detector. Halah, ini kayak mau masuk istana presiden saja. HP pun harus dikeluarkan, supaya detektor tidak bunyi.
Masuk ke gedung terasa adem. Setelah bertemu dengan sekuriti wanita di front office, kita dipersilakan naik ke lantai dua. Di lantai dua ini, kita kembali ke front office, ngomong maksud kedatangan. Perempuan di front office pun mempersilakan kita duduk menunggu.
Ruang tunggunya adem. Di depannya dihiasi dengan berbagai plakat dari sejumlah lembaga atau instansi. Orang berseliweran pakai kemeja berdasi. Terlihat pula tamu yang sibuk bercakap-cakap via telepon. Terdengar percakapan dua orang memakai bahasa Mandarin. Wong fei hung cing cangkeling manuk cingkleng cindeten haa..
Akhirnya keluar juga staf dari Direktur Batamindo. Tanpa banyak cakap, kami langsung saja menyerahkan plakat piagam kepada Mbak Dewi, staf itu. Dan saya yang kebetulan kebagian menyerahkannya.
Kami langsung turun kembali untuk pulang. Pintu keluar tidak melalui metal detektor. Tapi melewati pintu baja, mirip pintu darurat. Saya sampai bilang,"Walah kita masuk keren lewat metal detektor, lha keluarnya lewat pintu tak beradab begini". Ya, pintu itu berat banget membukanya juga, maklum dari baja. Dan lokasinya tidak begitu jelas. Tidak ada petunjuk pintu keluar, kecuali secuil kertas di pintu itu.
Sebagai kenang-kenangan, kapan lagi ke Batamindo maksudnya, saya pun foto-foto sejenak bersama Bang Eddy. Lumayanlah, pernah menginjak kawasan elite di Batam.
Sebelum ke Batamindo, kami menyerahkan piagam ke Sekilak Adventures. Ini biro yang waktu Jelajah Pulau meminjamkan pelampung.
Dari Batamindo, kami meluncur ke kantor FIF di Batam Center. Sama juga, kami menyerahkan plakat piagam. Ehm, di sini yang menerima plakat adalah Mbak Lita. Ganjar yang tersepona melihat Mbak Lita. Apalagi dia cuma kebagian memotret, bukannya yang menyerahkan piagam. Saya sendiri motret penyerahan piagam itu, tapi yang dipotret cuma Mbak Litanya ini. Ha ha ha, teman-teman ngakak waktu tahu itu. "Sialan, manfaatkan kesempatan. Anjrit, harusnya aku yang menyerahkan piagam," kata Ganjar di dalam mobil menuju ke kantor. Sepanjang jalan itu kami tertawa habis menceritakan kejadian itu. Apalagi Agus tidak ikut masuk, dia cuma jaga mobil. Jadinya tidak tahu bagaimana rupa dan kejadian di atas. Cuma bisa melihat foto.. Ha ha ha (*)

Berlatih Khusyuk


ALHAMDULILLAH, saya beres juga membaca buku Abu Sangkan "Pelatihan Shalat Khusyuk", setelah Subuh. Ya, bersyukur, akhirnya tuntas juga dibaca dan sedikit praktek latihan khusyuk. Sepertinya lebih dari sebulan sejak beli buku di Gramedia. Kalau buku yang mengajak kebaikan, kadang-kadang suka susah menyelesaikannya. Ada saja halangan. Beda dengan membaca novel "Ayat-ayat Cinta". Empat jam saja tandas.
Tapi memang buku Abu Sangkan butuh waktu untuk mengerti dan memahaminya. Bahasanya tidak mudah dicerna dan banyak pengulangan di beberapa tempat. Dan saya memang punya target untuk menyelesaikan baca buku-buku yang dibeli di Batam. Sebelumnya buku Sundakala, lalu Ayat-ayat Cinta. Terus bukunya Pramudya Ananta Toer "Jalan Raya Pos Jalan Daendels".
Tidak mudah untuk khusyuk dalam salat. Setelah membaca buku Abu Sangkan, harus saya akui salat saya selama ini bisa jadi hanyalah salat semata. Hanya mencoba memenuhi kewajiban semata. Salat bukan sebuah kebutuhan. Padahal kalau tahu hikmah, faedah salat, pasti akan selalu merindukan datangnya waktu salat.
Inilah yang harus saya perbaiki. Berupaya tak sekadar raga yang salat, tapi juga ruh yang salat. Pernahkah kita evaluasi bagaimana salat kita selama ini? Apakah benar-benar konsentrasi yang merasakan ruh kita pun turut salat? Atau salat dengan pikiran melayang-layang, ingat pekerjaan, ingat teman, ingat segala hal yang bersentuhan dengan duniawi? Sampai-sampai ada idiom, kalau lupa sesuatu, coba saja salat, pasti ingat.

Artinya kita memang tidak pernah khusyuk. Karena kita tidak pernah menyadari bahwa salat kita DISAKSIKAN ALLAH SWT. Maunya cepat-cepat menyelesaikan bacaan, ruku, sujud, salam, beres semua. Tak pernah muncul perasaan bahwa kita tengah berdialog, berdoa, munajat, di hadapan ALLAH SWT dan ALLAH SWT menyaksikan kita.
Abu Sangkan telah memecahkan paradigma lama tentang khusyuk. Bukankah ada anggapan khusyuk itu sangat sulit kita peroleh? Itu hanya buat para wali dan Nabi yang bisa khusyuk dalam salatnya. Jadi rasa pesimistis tidak bisa khusyuk itu sudah bersemayam mengakar di dada kita.
Padahal, sesungguhnya khusyuk itu bisa digapai siapapun, kalau dia mau berlatih. Salat, kata Abu Sangkan, merupakan meditasi tertinggi dalam ibadah kepada Allah SWT. Sebagai sebuah meditasi, seharusnya kita salat dalam kondisi yang relaks, kendor. Hilangkan semua keinginan, ego. Aku sebagai ruh, kata Abu Sangkan, yang harus menguasai raga. Setelah semua terasa tenang, barulah kita memulai salat.
Takbir yang mengawali salat pun akan terasa memiliki kekuatan dan makna mendalam. Saat mengucapkan Allahu Akbar, kata itu benar-benar keluar dari hati yang bening, karena sadar bahwa kita ini tengah menghadapkan wajah ke hadirat Allah SWT. Jangan pernah membayangkan saat salat bahwa Allah SWT itu dalam bentuk Alif Lam Ha. Yang ada hanyalah wujud kekuasaan Allah SWT, seperti halnya kita memandangi kanvas lukisan, padahal di atas kanvas itu ada lukisan pemandangan.
Sekali lagi, butuh perjuangan dan latihan keras agar kita bisa mendapatkan khusyuk dalam salat. Mudah-mudahan apa yang saya lakukan ini merupakan langkah awal untuk memperbaiki salat saya, supaya tidak sia-sia.
Ya Allah, jadikan salatku sebagai penuntunku. Jadikan salatku sebagai imamku. Jadikan salat sebagai penolong diriku dan keluargaku.. Jadikan salatku sebagai pencerah kehidupan, penerang kegelapan. Amin.(*)

Thursday, May 24, 2007

You'll Never Walk Alone




Nonton final liga Champions pake screen wide di kantor. He he gelap-gelapan..
Pepe Reyna kecewa berat. Pippo mencium Piala Liga Champions.

BERAKHIR sudah perjuangan Liverpool untuk mencatatkan namanya sebagai juara Liga Champions sebanyak 6 kali. Di final, dini hari tadi WIB, The Reds takluk 1-2 di tangan Rossoneri AC Milan. Saya bela-belain menonton sampai tuntas kesebelasan kesayangan ini. Tapi rupanya tak cukup untuk mendorong Merseyside menjadi jawara Eropa.
Dari penguasaan bola, Liverpool menguasai jalannya pertandingan, terutama di babak pertama. Sayangnya, gol keberuntungan Inzhagi di menit terakhir babak pertama membuyarkan konsentrasi awak The Reds. Di babak kedua, permainan berimbang. Lagi-lagi AC Milan lebih beruntung. Penjagaan ketat pemain belakang Liverpool terhadap Kaka, membuka celah bagi Inzaghi lebih leluasa bergerak. Dan terjadilah gol kedua. Lolos dari jebakan off-side, Inzaghi memerdaya si plontos Pepe Reyna. Gol Dirk Kuyt, dua menit jelang pertandingan berakhir, tak mampu mengulang kembali sejarah 2005, saat Liverpool bisa menyamakan kedudukan jadi 3-3 dan akhirnya jadi juara.
Tahun 2005, You'll Never Walk Alone manjur menggugah semangat pemain Liverpool. Tapi kemarin, The Reds benar-benar berjalan sendirian. Lagu ini punya sejarah panjang.

Diciptakan dua orang musisi Amerika Serikat untuk pementasan opera di Broadway, Carousel, pada 1945. Mereka adalah pemusik Richard Rodgers dan pencipta lirik Oscas Hammerstein II. Pada 5 Oktober 1965, grup band asal Liverpool, Gerry & The Pacemakers, melansir albumnya yang salah satu lagunya berisi You'll Never Walk Alone.
Sebagian sejarah menyebut, gara-gara Gerry & The Pacemakers, suporter Liverpool lantas kerap menyanyikannya. Tapi sebagian kesaksian menyebut The Kop sudah demen melagukannya beberapa pekan sebelum launching album band itu.
Sampai sekarang suporter Liverpool masih bertengkar dengan pendukung Glasgow Celtic, Skotlandia, soal siapa yang lebih berhak "memiliki" anthem tersebut. Pasalnya, para pendukung Celtic juga mengklaim sebagai suporter pertama yang menjadikannya sebagai lagu kebangsaan.
Satu yang tak bisa dimungkiri, pada akhir 1950-an dan awal 1960-an, Liverpool adalah garda depan urusan musik. Dipimpin The Beatles, yang semua anggotanya tak ada yang suka sepak bola, Kota Liverpool dikenal banyak menghasilkan band dan musisi dunia. Inilah gelombang Merseybeat--lagu dari Merseyside. Aksen orang-orang Liverpool, scouser, berbeda dengan aksen Inggris kebanyakan.
Penjelasan itu mungkin bisa menerangkan bila You'll Never Walk Alone ala Gerry & The Pacemakers turut mendunia bersamaan dengan gelombang Merseybeat. Ipswich Town juga mengklaim lagu itu sebagai miliknya.
Banyak klub luar Inggris juga menyanyikannya: CSKA Sofia (Bulgaria); Rapid Vienna (Austria); Dinamo Zagreb (Kroasia); Ajax dan Twente (Belanda); Dortmund, Schalke, Bremen, St Pauli, Aachen, Mainz 05, dan Kaiserslautern (Jerman); AEK Athens (Yunani); FC Tokyo (Jepang); serta Brugge, Antwerp, dan Mechelen (Belgia).
Entah siapa yang sebenarnya lebih berhak. Hanya, di tingkat Eropa, lagu itu "menjadi milik" Liverpool. Seiring dengan sukses The Reds merebut empat gelar Liga Champions hampir beruntun pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, anthem tersebut turut mengelilingi Eropa. You'll Never Walk Alone seperti "menenggelamkan" beberapa anthem Liverpool yang lain (Baca Koran Tempo, 20 Mei 2007).
Bagaimanapun You'll Never Walk Alone tetap akan berkumandang di mananapun. Di penjuru Inggris, pendukung setia The Reds akan menyambut kedatangan Gerrard Cs dengan hangat. Tak akan ada caci maki, karena Gerrard menunjukkan kerja keras sepanjang dua babak pertandingan.
Tentu teman-teman di kantor Tribun senang dengan kemenangan AC Milan ini. Ya kebanyakan di sini pendukung Rossoneri. Tadi pagi, TI Tribun, Reza Galing memasang proyektor biar layar jadi gede. Pake sound biar kenceng terdengar. Ya ceritanya nonton bareng di kantor. He he..
Saya sih memilih nonton di rumah, biar gampang tidur kalau ngantuk. Tapi ternyata tidak ngantuk dan terus melotot sampai akhir. Sampai-sampai saya terlambat bangun. Baru jam 10 saya bangun. Langsung mandi, buru-buru ke kantor. He he telat rapat pagi nih.. Tapi dari tadi malam, saya sudah wanti-wanti ke Manprod Bang Eddy Messakh. "Saya datang telat yah".
Kini tinggal pusing kurang tidur, ngantuk, dan lapar...Ayo Makan. Sambil berjalan ke luar kantor, lagu kebangsaan Liverpool itu terngiang terus di telinga. Dan Engkau Tak Pernah Berjalan Sendirian. You'll Never Walk Alone.

When you walk through a storm
Hold your head up high
And don't be afraid of the dark
At the end of the storm
Is a golden sky
And the sweet silver song of a lark
Walk on through the wind
Walk on through the rain
Tho' your dreams be tossed and blown
Walk on, walk on
With hope in your heart
And you'll never walk alone
You'll never walk alone

Wednesday, May 23, 2007

Rendra: Kesadaran adalah Matahari


SAYA iseng-iseng searching puisi Rendra di Goggle. Sudah lama tidak baca-baca puisi yang memberi semangat. Saya ingat penutup Pidato Megatruh WS Rendra yang terkenal menjadi semacam slogan perlawanan. Bahkan saat demo-demo jelang Reformasi 1998, ungkapan itu paling sering diucapkan sang orator. Atau ditulis pada sebuah baliho besar, seperti saat demo di Bundaran Unpad Jatinangor 1998.
KESADARAN ADALAH MATAHARI

KESABARAN ADALAH BUMI

KEBERANIAN MENJADI CAKRAWALA

DAN

PERJUANGAN

ADALAH PELAKSANAAN KATA-KATA

Itu bait akhir penutup pidato kebudayaan Rendra di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 10 November 1997.

Luar biasa. Bait ini rasanya paling banyak dikutip orang. Aktivis-aktivis senang sekali memajang tulisan ini sebagai slogan perlawanan.
Tapi saya perhatikan, banyak yang tidak tahu atau hanya sekadar menempel saja sebagai gagah-gagahan. Woi keren banget. Bahkan ada pula yang ngaku-ngaku sebagai hasil tulisannya. Weleh, plagiator... Atau ada pula yang dikasih tahu teman, itu dari Rendra. He he...setelah diperhatikan, ternyata salah.

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Kehidupan adalah cakrawala
dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata
(Kata Aka kalimat ini adalah milik Rendra
*thx Aka atas inspirasinya)--> ini dari blognya Maya Fajar atau Maya Hirai, penulis 30 Origami Favorit.

Di luar dari itu, Rendra memang sosok luar biasa. Seniman, budayawan, terkemuka Indonesia. Maestro malah, sebutan yang pas untuknya. Memang belakangan ini jarang muncul di panggung-panggung kebudayaan. Usia tak menghalangi semangatnya. Dia punya daya linuwih yang bisa memengaruhi orang lain, terpesona dengan kehadirannya. Dan tetap konsisten sepanjang hayat.
Generasi saya dan Rendra tentu sangat jauh. Seingat saya, saya bertemu muka secara langsung dengan Rendra adalah ketika Panggung Seni di Fakultas Sastra tahun 1999. Lalu bertemu lagi di Lapang Gasibu dan mewawancarainya di Lapang Gasibu, tahun 2002. Waktu itu Rendra orasi di depan Gedung Sate dalam sebuah demo. Khalayak peserta demo kebanyakan mahasiswa, kalau tidak salah BEM se-Bandung Raya. Ketika Rendra naik panggung, para mahasiswa ini tak ada yang memerhatikan tokoh besar ini. Ini yang membuat marah teman saya, Asep Berlian, seniman pelukis Bandung. Dia sampai ngamuk-ngamuk, nantang berkelahi para mahasiswa, karena dianggapnya tidak menghargai Rendra. Selepas itu, saya tak pernah berjumpa lagi dengan Rendra. Biasanya kalau dia ke Bandung, Kang Asep Berlian selalu kontak memberi kabar Si Burung Merak itu ada di Kota Kembang.

Kantin

TEMPAT yang satu ini memang jadi favorit buat kongkow-kongkow. Dekat kantor Tribun Batam, ada beberapa tempat makan. Di depan dekat jalan atau di lorong jalan ke dekat pabrik sepeda (katanya itu juga, soalnya belum pernah lihat sepeda nongol dari pabrik itu).
Kantin, begitu kami menyebutnya. Di tempat inilah bertemu segala macam karyawan dari beberapa kantor dan pabrik di kawasan MCP Batuampar. Kalau anak-anak Tribun pakai baju santai, kemeja, kaus, atau baju bermerek Tribun, nah pegawai-pegawai pabrik di MCP ini kebanyakan pakai pakaian atasan putih bawahan hitam. Jadi warna putih hitam mendominasi.
Sambil makan di meja bulat atau menikmati Teh O (teh panas), obrolan berbagai warna pun mengalir. Mengobrol tentang kantor, pekerjaan, isu terkini, gosip, promosi, iklan, atau sekadar memerhatikan cewek-cewek pegawai pabrik. Woi banyak di sini yang putih-putih, amoy-amoy.
Kalau sudah mengobrol begini, waktu pun tak terasa. Tahu-tahu sudah lewat jam 12, hampir jam 1 siang. Enggan rasanya beranjak dari kursi plastik itu. Bebas rasanya mengobrol di tempat ini. Segala macam unek-unek keluar, tanpa perlu takut ada "cecak putih". Ini terjemahan dari ungkapan bahasa Sunda "cakcak bodas", yang artinya orang-orang yang selalu melaporkan kepada atasan atau orang lain apa yang kita bicarakan. Singkatnya, mata-mata.

Seperti yang saya dan teman-teman lakukan siang ini. Sehabis makan dengan ikan kembung dan sayur, kami tak langsung beranjak. Tapi terus mengobrol. Terlebih, siang ini hujan deras mengguyur kawasan Batu Ampar. Makin lamalah kita berbincang ke sana kemari.
Bukan berarti tidak bermanfaat obrolan. Ada manfaatnya, dan kadang-kadang ide-ide bagus muncul dari obrolan tak resmi semacam ini. Persoalan-persoalan kantor pun sering menjadi bahan obrolan dan ada solusi atau setidaknya kesimpulan yang bisa diambil. Misalkan tadi Bang Eddy Messakh menjelaskan tentang potensi Tanjungbalai Karimun yang ternyata lebih besar ketimbang Tanjung Pinang dan Bintan, baik dari sisi ekonomi maupun demografi. Jumlah penduduk Karimun itu sama dengan gabungan jumlah penduduk Tanjung Pinang dan Bintan. Pertumbuhan ekonominya pun lebih tinggi Karimun, ketimbang dua daerah itu. Lalu berbicara pula soal Tanjungbatu yang memiliki potensi besar untuk penggarapan liputan sekaligus iklan.
Pasalnya, pengusaha-pengusaha besar di Batam banyak yang berasal dari Tanjungbatu. Nah dari obrolan tadi mencuat solusi untuk meminta penambahan wartawan kepada perusahaan untuk ditempatkan di Tanjungbatu. Lalu dari sisi penggarapan sirkulasi dan iklan pun kalau bisa difokuskan ke Karimun. Karena potensinya yang besar itu tadi.
Terus terang, hal semacam ini tidak saya jumpai di Bandung atau Tribun Jabar. Kenapa? Karena di Tribun Jabar tidak ada kantin semacam ini. Kebanyakan warung makan, rumah makan, resto, atau yang fastfood, dan itu tidak nyaman untuk tempat mengobrol, selain lokasinya agak jauh dari kantor.
Coba saja kalau di depan kantor Tribun Jabar itu ada kantin, rasanya kita bakal sering juga kongkow di situ, makan siang bareng. Pengaruhnya ada. Ada kebersamaan di situ, tak kenal atasan bawahan, sama-sama makan di kantin. Menjalin silaturahmi juga mudah, semua bagian menjadi kenal. Tidak jalan sendiri-sendiri. Persoalan-persoalan pekerjaan juga jadi terbuka dan yah siapa tahu ada solusi yang bisa didapat dari obrolan tak resmi itu.
Sayang, Tribun Jabar tak punya. Jadi rada sulit untuk bisa guyub seperti itu. Mungkin kami di Bandung harus cari jalan lain, supaya bisa seperti itu. (*)

Aa Gym Rampingkan Karyawan DT


Aa Gym lagi mengantar diplomat asing yang berkunjung ke pesantren DT.

PEKAN lalu, saya dapat kiriman berita dari teman reporter di Bandung. Yayasan Daarut Tauhiid (DT) yang dipimpin KH Abdullah Gymnastiar atawa Aa Gym merampingkan jumlah karyawan. Dari semula 300 karyawan, akan dirampingkan hingga 40-80 karyawan saja.
Kalau formalnya, alasannya perampingan itu karena Yayasan DT hendak mengembalikan fungsi pesantren sebagai lembaga pendidikan. Jadi santri dapat mengamalkan ilmunya di luar DT. "Pada prinsipnya kita ingin mengembalikan fungsi pesantren. Pesanten itu kan harus mengalir. Jadi bukan perampingan besar-besaran. Ke depan, hanya akan menjadi 40 sampai 80 karyawan yang digaji oleh Yayasan DT, yang lain harus mengalir Diputus kontak kerja, red)," begitu kata Kepala Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) Yayasan Daarut Tauhiid, Asep Ridrid.
Namun gosip yang beredar di luar, keputusan Yayasan DT memutus secara administrasi sebagian karyawannya berkaitan dengan poligami yang dilakukan Aa Gym. Hanya saja, Asep membantahnya. Menurut Asep, perampingan karyawan, sudah direncanakan sejak dua tahun lalu. "Saya pun sangat mungkin kena perampingan, hanya saja yang perlu dipahami perampingan tak ada hubungannya dengan kejadian poligami Aa Gym," lanjut Asep.

Pemutusan hubungan kerja itu diprioritaskan pada karyawan kontrak. Namun, masih memungkinkan juga terjadi pada karyawan tetap. Mereka yang terkena pemutusan keja sebagian karyawan di Yayasan DT di Bandung, Jakarta, Batam dan DPU DT. Karyawan yang diputuskan berhenti akan mengakiri masa kerjanya pada bulan depan.
Dikatakan Asep, sejak Desember 2006 sudah ada 65 karyawan yang tidak bekerja lagi di Yayasan DT. Dari jumlah itu, karena manajeman memberhentikan kontrak dan 16 orang di antaranya mengundurkan diri.
Sebelum bulan Desember tahun lalu, pesantren DT mendapat kunjungan jemaah antara 1.500-5.000 orang per minggu. Namun pada akhir-akhir ini jumlahnya menurun. Tiap minggunya jumlah pengunjung sangat fluktuatif, bisa 100 orang sampai 200 orang.
Penjelasan serupa juga disampaikan Kang Asep Teja, Kepala Humas DPU DT, melalui sms. Kebetulan Kang Teja ini kakak angkatan saya di Jurusan Sejarah Unpad. Dia angkatan 93.
Kata Kang Teja, khusus di DPU (Dompet Peduli Ummat) belum ada yang perampingan. Yang ada adalah tiga orang karyawan yang mengundurkan diri karena pilihannya ingin mandiri, sebulan yang lalu. Mereka tak ada paksaan atau arahan untuk memilih itu melainkan atas kemauan sendiri. Begitu pengakuan Kang Asep Teja.
Tapi benarkah kunjungan jemaah ke DT semakin berkurang gara-gara Aa Gym poligami? Saya kurang paham, karena sudah lama tidak mengaji ke DT. Jauh sebelum berita Aa Gym menikah lagi. Namun saya sempat mendengarkan MQ FM saat Aa Gym berceramah setiap Kamis malam. Sempat terucap dari Aa Gym, soal fenomena penurunan jumlah jemaah yang mengaji ke DT. "Terlihatlah sekarang, siapa yang mengaji karena figur Aa, dan siapa yang mengaji karena ilmu. Ini mengingatkan Aa pada saat awal-awal membangun DT," begitu kurang lebih ungkapan Aa Gym saat itu.
Dari situ memang tersirat, ada benarnya jumlah jemaah Aa Gym berkurang. Dan saya yakin lebih banyak kaum ibu-ibu. Karena sejak Aa Gym mengumumkan dirinya menikah lagi, wah cacian makian datang bagai air bah ke Aa Gym. SMS, surat, atau saat bertemu langsung. Tapi sudahlah, itu sudah guratan jalan hidup Aa Gym harus seperti itu.
Bagi saya, yang penting ilmu. Siapapun yang menyampaikannya, kalau memang itu kebaikan, ambillah. Tapi kalau itu kemungkaran, jangan pernah kau ambil. (*)

Tuesday, May 22, 2007

Sorry Spidey


SEJAK putar perdana pada 11 Mei lalu secara serentak di bioskop seluruh Indonesia, baru kali ini saya kesampaian nonton film Spider Man sampai habis. Lho emang nontonnya tidak pernah tuntas? Ya itulah persoalannya. Saya tidak menonton film itu di bioskop. Malas ke bioskopnya kalau sendirian. Padahal di Batam, sampai 3 studio yang buka khusus untuk film Spider Man ini.
Saya nontonnya di kantor kok, di komputernya Iwenk. Entah dapat dari mana dia, ngebajak dari siapa gitu...Dan begitu, tak pernah tuntas. Sekali waktu nonton, hanya depannya. Lalu nonton lagi, cuma kebagian belakangnya. Nah, hari ini rada lumayan lengkap nontonnya.
Sorry Spidey. Itu ucapan yang mungkin harus saya sampaikan, karena tidak nonton tepat waktu, tidak di bioskop, dan nonton film bajakan. Kalimat itu juga yang menjadi Judul Headline korannya Peter Parker, setelah mereka memampang potret Spider Man berbaju hitam, yang katanya difoto oleh Edi Brooks. Padahal itu foto rekayasa. Foto Spider Man berbaju merah, dikasih warna hitam dengan tagline Spider Man with True Colours.. Ha ha ha saya tertawa waktu lihat adegan ini muncul.

Apalagi waktu The True Spider Man datang hendak bertarung melawan Si Black dan Sand Man. Sempat-sempatnya hinggap di gedung yang di atasnya tengah berkibar bendera Amerika Serikat. Makin kencang tawa saya.. Kenapa tidak bendera A l Qaeda saja yang berkibar....
Ya senang-senang sajalah menonton film ini. Tak perlu mikir, tak perlu kening berkerut. Hanya hiburan. Perjuangan seorang Peter Parker dengan romansa cinta Marie Jane. Dan bla bla bla...semua pasti orang sudah tahu cerita film ini. Hanya saya mungkin yang menonton paling akhir. Tak apa, toh Spider Man bukan siapa-siapa. (*)

DLK Belum Cair...Hiks hiks

SAMPAI 22 Mei ini, duit DLK (Dinas Luar Kota) belum cair juga. Padahal DLK bulan kedua ini dimulai 9 Mei. Jadi telatnya berapa hari tuh? Ternyata baru Senin kemarin diurus sama Sekred Tribun Batam. Karena DLK bulan lalu banyak sisa, akhirnya DLK bulan kedua dipotong buat bayar sisa. Jadi yang saya terima hanya Rp 750 ribu-an. Hiks hiks...itu duit buat satu bulan hidup di Batam.
Mana duit di dompet tinggal Rp 60 ribu lagi. Katanya sih Kamis lusa baru cair. Karena di Batam, duit dari perusahaan itu cair tiap hari Senin dan Kamis. Saya mengajukan DLK sudah lama, kalo tak salah tanggal 12 Mei. Tapi baru dibereskannya Senin kemarin. Tewas deh...
Kalau Bu Eri tahu, wah pasti ngadat ini.. Kalau di rumah, di Cimahi, Bu Eri selalu "mantau" isi dompet saya. Ada uangnya enggak atau cukup enggak uangnya. Karena saya orangnya tidak peduli dengan isi dompet. Asal bisa pergi pakai motor, mau duit cuma 2.000 perak juga, ya berangkat saja. Masalah nanti ban gembos, atau ada keperluan lain yang butuh duit, ya berdoa saja supaya tidak terjadi

Tapi saya selalu optimis dan positif thinking. Biar tidak punya uang, ceria saja...Toh nyatanya saya masih punya uang khan? Walau cuma 60 rebu. Itu masih mending ketimbang orang-orang miskin di luar sana, yang tinggal di Ruli-ruli (rumah liar). Belum tentu mereka bisa makan hari ini, atau mendapat uang. Saya beruntung, masih bisa makan di kantin, pesan Teh O sama Engkoh satu itu.
Segala masalah itu tergantung dari cara pandang kita. Dibawa positif, maka yang muncul adalah pemikiran-pemikiran positif. Kalo negatif, ya negatif pula yang menjadi dewa dalam pikiran kita.
Jadi ingat kisah Rasulullah Muhammad SAW. Semasa hidup, beliau tidak pernah memegang lebih dari satu hari. Pasti uang itu habis, entah untuk sedekah, entah untuk keperluan sehari-hari. Tidak pernah Muhammad menyimpan uang di rumah. Kalaupun tidak punya uang untuk makan, Muhammad memilih untuk berpuasa dan mengencangkan tali pinggang. Atau mengganjal perut dengan batu. Adakah pemimpin saat ini yang bersikap dan berperilaku seperti Muhammad? Tak ada. Jangankan dengan Muhammad, dibandingkan dengan sahabat-sahabat beliau, seperti Ali, Abubakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah pun, rasanya sulit kita mencari... Duh, di bumi mana lagi kita mesti mencari pemimpin seperti mereka. Di bumi mana lagi kita mencari suritauladan...(*)

Tawaran Jadi PNS

PAGI jam 8, Kaka Bila telepon. "Ayah sudah bangun belum. Ini nih Adik bau cucut, Kaka bau cucut, ibu juga bau cucut. Pada belum mandi," teriak Kaka. Saya sigap menjawab,"Sudah dong Ka, sudah bangun, sudah harum. Kok bau cucut nya sampai ke sini yah," seloroh saya.
Terdengar suara Bu Eri,"Iya nih Yah, pada bau cucut semua. Adik apalagi, keringatan terus dari tadi malam. Di sini panas terus, gerah jadinya". Soal gerah sih, saya sudah dua bulan ini gerah melulu. Tidur keringatan, duduk keringatan. Baaatam, puaaannass..
Sebelum percakapan di telepon pagi tadi, Bu Eri sempat telepon tadi malam. Bu Eri menawarkan kepada saya untuk mencoba jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Kata Bu Eri, Kabupaten Bandung Barat, kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Bandung, kan butuh personel pegawai. Memang personel PNS sudah didrop sebagian besar dari Kabupaten Bandung. "Tapi kan masih banyak yang kosong. Nah mau gak jadi PNS. Nanti minta tolong sama Bang Wachdan supaya bisa masuk," kata Bu Eri. Bang Wachdan ini masih kerabat jauh dengan saya. Dia mantan Camat di Lembang, Cipeundeuy, lalu sekarang sudah jadi Asisten I Pemerintahan Kab Bandung.

Saya ketawa waktu Bu Eri menuturkan soal PNS ini. Ini bukan tawaran yang pertama, tapi sudah berkali-kali. Saya pun lalu menjelaskan , kalau masuk itu tidak langsung jadi PNS, tapi jadi TKK (Tenaga Kerja Kontrak) atau honorer. Kalau mau jadi PNS, tetap mesti ikut tes. Nah sekarang tuh pemerintah lebih mengutamakan pegawai honorer untuk diangkat sebagai PNS. Jatah non honorer hanya 30 persen. Itu pun pesaingnya tentu puluhan ribu. Saya bukannya takut untuk bersaing. Ayo kalau mau bersaing, kita ngadu.
Tapi persoalannya bukan itu. Saya memikirkan perekonomian keluarga. Jika saya jadi pegawai honorer, apa bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga. Lha saya tahu sendiri, yang namanya honorer, ya sekadarnya saja gajinya juga.
"Tapi kan bisa cari sampingan," sergah Bu Eri. Saya lalu memberi contoh, Kang Dani, staf Humas di Pemkot Cimahi itu statusnya masih honorer. Beberapa kali ikut tes PNS, gagal. Jadi bukan jaminan pegawai honorer bisa langsung jadi PNS. Terus saya tahu, Kang Dani ini mesti cari sampingan, sabet sana sabet sini, untuk menambal kebutuhan keluarga
"Kalau sabetannya halal, sih oke. Tapi gimana kalau sabetannya tidak halal. Ibu tahu sendiri kan seperti apa di Pemkot. Apa keluarga kita harus dihidupi dengan uang tidak halal. Kalau harus seperti itu, Ayah jelas tidak rela. Lebih baik begini saja, jadi wartawan. Biar gajinya kecil, tapi hasil keringat sendiri. Cukup tidak cukup kita syukuri saja. Kalau kita pandai mensyukuri, Allah pun pasti menambah rezeki kita. Dan rezeki itu bisa datang dari tempat yang tidak kita duga sama sekali," jelas saya panjang lebar.
"Saya tahu, tawaran jadi PNS itu karena Ibu sayang sama Ayah. Tidak mau melihat Ayah kecapean, atau jauh dari keluarga. Justru harusnya, kalau Ibu sayang sama Ayah, biarkan Ayah berjihad untuk menafkahi keluarga dengan tetes keringat sendiri. Walau hasilnya tak seberapa, Allah akan senang kalau kita sekeluarga makan dari kerja yang halal, caranya halal, hasilnya pun halal," papar saya.
Saya menambahkan,"Kalau mau, kalau memang ada lowongan PNS, kasih tahu Neng Diah. Dia baru lulus dan pasti sedang cari kerja. Tentu lebih membutuhkan, ketimbang Ayah," kata saya lagi. (*)

Coffee Morning



INI hari kedua, rapat pagi mulai berjalan kembali. Waktu pertama datang ke Tribun Batam, belum pernah melihat atau ikut rapat pagi. Karena memang macet, tak jalan selama beberapa bulan. Waktunya, ya tidak pagi-pagi amat. Jam 10-an lah, nunggu semua kumpul.
Saya memandangnya positif. Semua redaktur hadir, sehingga terlihat guyub. Ide-ide liputan bisa keluar dari banyak orang. Tidak hanya otoritas Korlip atau redakturnya. Tapi semua turut sumbangsih merencanakan kira-kira isu apa yang harus ditindaklanjuti.
Rapat pagi bagi semua koran sesungguhnya mata baji redaksi. Mata baji ini istilah guru saya, Ahmad Mansyur Suryanegara, untuk menyebutkan titik simpul, perantara di antara dua objek atau masalah. Namun Pak Mansyur mengatakan itu dalam konteks penyebaran missi orang-orang Kristen di Jabar. Di antara setiap kota, dipasang satu titik mata baji sebagai konsentrasi pemecah penyebaran Islam. (Baca: Menemukan Sejarah, Mizan 1994).
Nah rapat pagi sebagai mata baji adalah perantara antara perencanaan redaktur malam sebelumnya dengan isu-isu hangat yang sudah mengalir sejak pagi hari. Rapat pagilah yang berfungsi mempertajam isu, dan menambahkan bila ada bolong-bolong di sana sini. Dari situ, tinggal mengalirkan kembali ke lapangan untuk dieksekusi reporter.
Tapi ya begitulah. Siklus naik turun itu selalu ada dalam setiap gerak. Rapat pagi pun begitu. Biasanya semangat di awal, lalu lesu di tengah jalan. Itu penyakit kronis di setiap redaksi di koran manapun. Obatnya gampang, saling mengingatkan dan komunikasi intensif antara elemen terkait.

Di Bandung pun begitu. Pas lagi semangat, rapat pagi begitu hidup dengan ide-ide cemerlang setiap peserta rapat. Kalau lagi loyo, yang datang tiga orang pun sudah Alhamdulillah. Kalau di Bandung, saya kebagian rapat pagi setiap hari Selasa dan Sabtu. Jadi sudah dibagi piketnya oleh Redpel. Tak perlu ada kompromi. Tinggal pasang Jadwal Rapat Pagi, Piket, dan Libur, semua nurut, tidak ada kecuali. Jatah hari Libur saya tiap Jumat. Entah nanti pulang lagi ke Bandung, apa masih hari Jumat juga atau tidak.
Nah ngomong-ngomong soal rapat pagi, saya jadi ingat acara Coffee Morning beberapa tahun lalu, yang sering digelar Kapolda Jabar, waktu itu, Irjen Dadang Garnida. Sekarang Pak Dadang sudah Komjen Pol. Sempat jadi Kabareskrim di Mabes Polri. Kalau tidak salah sih sudah pensiun atau belum. Pak Dadang orangnya ramah, someah, khas urang Sunda. Setiap Kamis pagi, Pak Dadang bikin acara ngopi bareng sambil ngobrol tentang kondisi keamanan Jabar. Siapa saja bisa urun rembuk, atau cuma ngalor ngidul ngomong apa saja. Justru dari pertemuan sambil ngopi itu, suka muncul ide-ide baru atau laporan tentang keamanan, personel polisi yang kerja tidak benar, dll. Dari situ, Pak Dadang langsung menindaklanjuti. Semua beres dalam sekejap, tak peduli itu perwira atau tamtama, pejabat atau bukan, semua dibereskan... Begitulah, pemimpin yang baik, selalu mendengarkan dengan seksama, lalu menindaklanjutinya dengan cara yang tepat, dan tentu arif.
Bedanya rapat pagi dengan Coffee Morning, ya di kopi dan kawan-kawannya itu. Rapat pagi berjalan dengan perut keroncongan, melilit tanda tak ada makanan di perut. Apalagi suguhan kopi, colenak, pisang goreng, combro, dan lainnya. Kalau
Coffee, jelas makanan-makanan khas memenuhi meja. Tinggal comot, am...Ah cuma mimpi. (*)

Sunday, May 20, 2007

Toa Pek Kong Bio






SAYA lupa menaruh foto-foto waktu ke Kelenteng di daerah Baloi. Ini Toa Pek Kong Bio atau Vihara Budhi Bhakti. Kabarnya ini kelenteng tertua di Batam dan paling luas. Iya sih, lapang parkirnya luas. Terus di pinggir lapang parkir ada warung-warung yang menyediakan makanan. Di bagian belakang, ada semacam taman. Kalau bangunan utamanya hanya ada dua. Tepat di depan lapang parkir dan di pinggir barat.
Bagian depan Vihara ini dihiasi dua buah menara Pagoda. Berfungsi juga untuk membakar abu atau kertas doa. Di taman pinggir Vihara, banyak disimpan patung-patung para dewa atau tokoh dalam ajaran Konghucu. Ada patung rahib (pendeta kepala plontos, entah siapa ini) yang sedang tertawa, sementara lima bocah cilik menggelayut di badannya. Ada pula patung lelaki berjanggut hitam membawa golok bergagang. Mirip-mirip cerita Sam Kok. Lalu didepannya ada patung kakek-kakek yang dikerubungi ikan dan bangau. Mungkin ini dewa laut kali yah?...
Lalu di bagian belakang, ada patung Budha bertangan banyak. Setiap tangan memegang sebuah benda. Ada satu tangan kiri yang memegang lambang Swastika. Ada juga yang memegang tasbih. Patung ini duduk di atas lotus, bunga teratai. Dua tangan seperti menyembah di depan dada. Saya semula mengira, ini patung Dewi Kwan Im. Tapi enggak tahu juga ni patung dewa apa.