Wednesday, May 23, 2007

Kantin

TEMPAT yang satu ini memang jadi favorit buat kongkow-kongkow. Dekat kantor Tribun Batam, ada beberapa tempat makan. Di depan dekat jalan atau di lorong jalan ke dekat pabrik sepeda (katanya itu juga, soalnya belum pernah lihat sepeda nongol dari pabrik itu).
Kantin, begitu kami menyebutnya. Di tempat inilah bertemu segala macam karyawan dari beberapa kantor dan pabrik di kawasan MCP Batuampar. Kalau anak-anak Tribun pakai baju santai, kemeja, kaus, atau baju bermerek Tribun, nah pegawai-pegawai pabrik di MCP ini kebanyakan pakai pakaian atasan putih bawahan hitam. Jadi warna putih hitam mendominasi.
Sambil makan di meja bulat atau menikmati Teh O (teh panas), obrolan berbagai warna pun mengalir. Mengobrol tentang kantor, pekerjaan, isu terkini, gosip, promosi, iklan, atau sekadar memerhatikan cewek-cewek pegawai pabrik. Woi banyak di sini yang putih-putih, amoy-amoy.
Kalau sudah mengobrol begini, waktu pun tak terasa. Tahu-tahu sudah lewat jam 12, hampir jam 1 siang. Enggan rasanya beranjak dari kursi plastik itu. Bebas rasanya mengobrol di tempat ini. Segala macam unek-unek keluar, tanpa perlu takut ada "cecak putih". Ini terjemahan dari ungkapan bahasa Sunda "cakcak bodas", yang artinya orang-orang yang selalu melaporkan kepada atasan atau orang lain apa yang kita bicarakan. Singkatnya, mata-mata.

Seperti yang saya dan teman-teman lakukan siang ini. Sehabis makan dengan ikan kembung dan sayur, kami tak langsung beranjak. Tapi terus mengobrol. Terlebih, siang ini hujan deras mengguyur kawasan Batu Ampar. Makin lamalah kita berbincang ke sana kemari.
Bukan berarti tidak bermanfaat obrolan. Ada manfaatnya, dan kadang-kadang ide-ide bagus muncul dari obrolan tak resmi semacam ini. Persoalan-persoalan kantor pun sering menjadi bahan obrolan dan ada solusi atau setidaknya kesimpulan yang bisa diambil. Misalkan tadi Bang Eddy Messakh menjelaskan tentang potensi Tanjungbalai Karimun yang ternyata lebih besar ketimbang Tanjung Pinang dan Bintan, baik dari sisi ekonomi maupun demografi. Jumlah penduduk Karimun itu sama dengan gabungan jumlah penduduk Tanjung Pinang dan Bintan. Pertumbuhan ekonominya pun lebih tinggi Karimun, ketimbang dua daerah itu. Lalu berbicara pula soal Tanjungbatu yang memiliki potensi besar untuk penggarapan liputan sekaligus iklan.
Pasalnya, pengusaha-pengusaha besar di Batam banyak yang berasal dari Tanjungbatu. Nah dari obrolan tadi mencuat solusi untuk meminta penambahan wartawan kepada perusahaan untuk ditempatkan di Tanjungbatu. Lalu dari sisi penggarapan sirkulasi dan iklan pun kalau bisa difokuskan ke Karimun. Karena potensinya yang besar itu tadi.
Terus terang, hal semacam ini tidak saya jumpai di Bandung atau Tribun Jabar. Kenapa? Karena di Tribun Jabar tidak ada kantin semacam ini. Kebanyakan warung makan, rumah makan, resto, atau yang fastfood, dan itu tidak nyaman untuk tempat mengobrol, selain lokasinya agak jauh dari kantor.
Coba saja kalau di depan kantor Tribun Jabar itu ada kantin, rasanya kita bakal sering juga kongkow di situ, makan siang bareng. Pengaruhnya ada. Ada kebersamaan di situ, tak kenal atasan bawahan, sama-sama makan di kantin. Menjalin silaturahmi juga mudah, semua bagian menjadi kenal. Tidak jalan sendiri-sendiri. Persoalan-persoalan pekerjaan juga jadi terbuka dan yah siapa tahu ada solusi yang bisa didapat dari obrolan tak resmi itu.
Sayang, Tribun Jabar tak punya. Jadi rada sulit untuk bisa guyub seperti itu. Mungkin kami di Bandung harus cari jalan lain, supaya bisa seperti itu. (*)

No comments: