Thursday, June 18, 2009

Adu Putaran

PERANG pencitraan, adu isu dan klaim, menjadi tontonan tersendiri dalam kampanye pemilihan presiden sepekan terakhir ini. Para capres dan cawapres berebut menjadi orang yang paling merakyat. Mendatangi pasar tradisional, berdialog dengan ulama, nelayan, dan pengusaha, adalah sebagian kecil trik kampanye tiga pasangan kandidat orang nomor satu dan dua di Indonesia itu.

Kita masih ingat ketika Bantuan Tunai Langsung (BLT) menjadi isu saling klaim keberhasilan SBY dan JK. Lalu perdamaian di Aceh pun sebagai hasil kerja keras dan keberanian satu kandidat. Tentu saja, kubu kandidat lain dibuat meradang dengan klaim itu.

Jembatan Surabaya-Madura (Surabaya) pun tak luput dari aksi klaim. Satu pihak mengklaim proyek prestisius itu sebagai keberhasilannya, karena diawali pada masa pemerintahannya. Kandidat lain tentu mengklaim inilah kesuksesan pemerintahan yang meresmikan jembatan itu.

Lalu mencuat isu soal putaran pemilu. Kubu SBY optimistis pemilihan presiden akan berlangsung dalam satu putaran. Dasar pernyataan ini adalah hasil survei sejumlah lembaga survei yang mendudukan SBY-Boediono sebagai pasangan dengan perolehan suara tertinggi 70 persen, jauh mengungguli dua pasangan lainnya. Selain itu, pendapat ini juga mempertimbangkan persoalan biaya pemilu yang lebih mahal apabila dilangsungkan dalam dua putaran.


Tentu saja pernyataan kubu SBY ini langsung ditangkis kubu JK-Win dan Mega-Pro. Mereka menyebutkan pernyataan itu bentuk arogansi, bahkan merupakan teror terhadap demokrasi dan penyesatan opini di masyarakat. Dalam pandangan dua kubu ini,
pernyataan itu menggiring publik untuk benar-benar melaksanakan pilpres dalam satu putaran. Dalam artian, memilih kandidat yang diunggulkan dalam survei.

Di balik pernyataan pilpres satu putaran itu, tersembunyi sebuah kekhawatiran, dan ini wajar. Kubu SBY khawatir kalah apabila pilpres digelar dua putaran. Logikanya, walau kini sama-sama bersaing, JK-Win dan Mega-Pro sebelumnya tergabung dalam Koalisi Besar. Jika JK-Win atau Mega-Pro tersingkir, mereka bisa bergabung tanpa sungkan pada putaran kedua. Dan tentu kekuatannya akan jauh lebih besar dan peluang menjadi RI I pun juga terbuka lebar.

Di luar itu, sejatinya tidak jadi soal pilpres berlangsung satu putaran atau dua putaran. Tentu rakyat akan kecewa jika pilpres berlangsung satu putaran tapi kesejahteraan tidak meningkat. Atau berlangsung dua putaran, tapi janji-janji selama kampanye tak terwujud. Yang paling penting sesungguhnya adalah pemilihan presiden ini legitimate, tidak terjadi kecurangan-kecurangan, dan KPU tidak lagi kedodoran dalam persoalan teknis pemilu. Di tangan rakyatlah, pemilu presiden ini berlangsung satu putaran atau dua putaran. Vox populi vox dei.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 18 Juni 2009.
Read More......

Friday, June 12, 2009

Alutsista Kita

KECELAKAAN beruntun alat tempur milik tentara kita dalam tempo dua bulan memunculkan keprihatinan. Selain kehilangan putra-putri terbaik bangsa, hilang pula aset berupa alat tempur. Sebut saja pesawat Fokker 27, Hercules, dan yang terakhir Helikopter Bolkow BO- 105.

Mungkin bagi negara sebesar dan sekuat Cina, hilang satu dua kendaraan perang tidaklah berarti. Tapi bagi Indonesia, di tengah kesulitan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI, kehilangan satu pesawat sangat-sangat berarti.

Apalagi di tengah "olok-olok" Malaysia di Blok Ambalat, ketangguhan alutsista negara kita semakin dipertanyakan. Sejauh mana persenjataan yang kita miliki mampu mempertahankan tanah air yang memiliki bentangan pantai terpanjang di dunia ini?


Alutsista TNI AD, seperti diakui KSAD Jenderal TNI Agustadi Sasongko, hanya 60 persen yang masih laik. Nasib yang sama kurang lebih dialami pula oleh TNI AU dan TNI AL. Bahkan bisa jadi lebih minimal. Bayangkan saja, dari kebutuhan anggaran pertahanan sebesar Rp 127 triliun, hanya terealisasi 30 persen atau sekitar Rp 36 triliun saja. Masih jauh dari kebutuhan minimun sebesar Rp 100 triliun. Dan anggaran yang minim itu pun lebih banyak tersedot untuk anggaran rutin gaji prajurit, hanya sepersekian persen yang digunakan untuk membeli alutsista baru atau merawat alutsista yang lama.

Memang minimnya anggaran pertahanan tidaklah paralel dengan sering terjadinya kecelakaan yang menimpa alutsista TNI. Semua pun tahu, dalam kecelakaan apapun tidak ada faktor tunggal yang menjadi penyebab. Pasti ada faktor lain, disamping faktor utama. Sebutlah itu faktor cuaca buruk, human error, dan sarana yang tak laik. Tapi sedikit banyak, anggaran yang minim itu turut menyumbang.

Tentu akan ada pula yang berapologi, bahwa yang penting itu bukanlah senjatanya, tapi manusianya, orang-orang yang memegang senjata atau "the man behind the gun". Tak heran, jika pengembangan kekuatan tentara kita pun lebih dititikberatkan pada kemampuan personel, ketimbang pengadaan atau pembaharuan persenjataan. Hasilnya memang patut diacungi jempol. Kemampuan personel Kopassus atau Kopaska, setara dengan kemampuan personel pasukan elite lainnya di dunia.

Namun dalam situasi dan kondisi saat ini, ketika negara-negara luar mulai mengganggu dan mempermainkan kita, tak ada salahnya, jika sumber daya personel prajurit yang unggul itu diimbangi dengan ketersediaan alutsista yang juga mumpuni.

Setidaknya ketersediaan alutsista yang paling minimal. Jika untuk menjaga laut dan pantai kita dibutuhkan 1.000 kapal sekelas KRI, setidaknya 750 KRI harus kita miliki. Jika untuk mempertahankan kedaulatan udara TNI AU membutuhkan 100 skuadron pesawat tempur Sukhoi, setidaknya 75 skuadron sudah siap mengangkasa.

Bagaimanapun kita tidak ingin terus menerus menjadi bahan olok-olok negeri jiran saat melihat kemampuan alutsista kita. Sudah saatnya, anggaran pertahanan itu dinaikkan hingga mencapai anggaran kebutuhan minimum. Ini agar masyarakat Indonesia pun bisa merasa lebih aman melihat kekuatan alutsista TNI yang tak kalah dari negara lain.(*)

Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Rabu 10 Juni 2009.
NB: Saat mengundah tulisan ini, baru saja terjadi kecelakaan Heli Puma TNI AU jatuh di Lanud Atang Sanjaya, sekitar pukul 14.55.
Read More......

Friday, May 29, 2009

Bertahan Hidup

SECARIK kertas lusuh ditemukan tim Search And Rescue (SAR) di ketinggian 2.4000 meter dari permukaan laut. Kawasan di Gunung Ciremai itu disebut kawasan Pasanggrahan. Mungkin dulu, tempat itu memang tempat orang-orang bersunyi diri. Dari kertas lusuh berisi informasi singkat itulah, tim SAR menyusuri jejak lima pendaki yang dinyatakan hilang sejak akhir pekan lalu di gunung tertinggi di Jawa Barat itu.

Akhirnya setelah enam hari hilang, kelima pendaki itu berhasil ditemukan tim pencari di ketinggian 1.300 meter dpl di daerah yang disebut Pasiripis. Kondisi mereka bisa disebut sehat, walau seorang di antara mereka mengalami luka di bagian kepala dan kaki akibat terjatuh ke sungai kering. Tiga hari sebelumnya, dua rekan mereka sudah lebih dulu ditemukan. Mereka berpisah dengan kelima rekannya dan turun lebih dulu untuk mencari bantuan.

Selama enam hari hilang di gunung, kelima orang pendaki itu bertahan hidup dengan persediaan makanan yang minim. Bahkan kabarnya, ada salah seorang pendaki yang nekat meminum air seni untuk menghilangkan haus. Minimnya pengetahuan tentang gunung dan mendaki sangat mungkin menjadi penyebab rombongan pendaki ini tersesat dan hilang. Bagaimanapun hutan gunung berbeda dengan kondisi kawasan lain.


Banyak persyaratan yang harus dilengkapi sebelum seseorang memutuskan untuk mendaki gunung. Selain harus sehat jasmani dan rohani, dia juga harus melengkapi kebutuhan hidup plus perlengkapan hidup di alam bebas.

Bulan depan sudah memasuki musim liburan sekolah. Biasanya, waktu-waktu itu adalah musim puncak kegiatan mendaki. Gunung Gede Pangrango dan Ciremai adalah favorit tujuan para pendaki, terutama mereka yang baru mengenal dunia mendaki gunung.
Mendaki gunung tidaklah sama dengan kemping atau piknik. Bahkan jauh berbeda. Berkemah hanyalah bagian kecil dari kegiatan mendaki. Ini berarti, untuk melakukan pendakian gunung, sangat banyak yang harus dipersiapkan. Mulai persiapan fisik, persiapan perjalanan, perlengkapan, tim, transportasi, dan sebagainya.

Hal semacam ini yang sering diabaikan para pendaki, terutama para pemula. Bagi mereka, yang penting bisa mendaki, naik ke puncak, melihat matahari terbit, turun kembali, dan pulang ke rumah dengan selamat.

Masih untung, seperti tujuh pendaki Gunung Ciremai itu, bisa pulang selamat, walau tersesat lebih dulu. Banyak kasus pendaki hilang dan tak ditemukan lagi, seperti dialami tiga orang mahasiswa Bandung di Gunung Agung beberapa tahun lalu. Kalaupun ditemukan, hanya jenazahnya saja.

Bertahan hidup di alam bebas membutuhkan ilmu dan kemahiran tersendiri. Banyaklah berlatih karena akan menjadi kebiasaan, itulah salah satu moto yang menjadi pegangan para penempuh rimba dan pendaki gunung.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 29 Mei 2009.
Read More......

Tuesday, May 26, 2009

Lebih Hemat dengan TV LED

SELAMA ini konsumen di tanah air mengenal televisi dengan berbagai teknologinya. Antara lain televisi tabung atau beken dengan sebutan Cathode Ray Tube (CRT), kemudian teknologi plasma, teknologi Liquid Crystal Display (LCD) dan yang terakhir adalah televisi berteknologi Light Emiting Diode (LED). Teknologi LED mulai merambah pasar elektronik di Indonesia.

Foto di samping: Peluncuran TV LED Samsung di India. Abhinav Bindra, duta Samsung India (kiri) dan Jung Soo Shin, President and Chief Executive Officer of Samsung South West Asia Headquarters. Foto dari AP.

LED merupakan sejenis diode semikonduktor yang bila diberi tegangan akan memancarrkan cahaya non koheren dengan panjang gelombang tertentu. Teknologi LED sangat tahan lama, tidak mudah rusak, murah dan juga memiliki banyak pilihan warna sesuai kebutuhan.

Samsung memperkenalkan pertama kali televisi LED ini di ajang Consumer Electronics Show di Las Vegas, awal tahun ini. Apa sih keuntungan atau kelebihan dari televisi next generation ini? TV ini ternyata sejalan dengan isu global warming saat ini.
Televisi LED mengonsumsi 40 persen energi lebih hemat dibandingkan dengan standar CCFL-backlit yang digunakan di televisi LCD dan jauh di bawah Energy Star versi 3.0. Selain itu televisi jenis ini juga terbuat dari materi yang ramah lingkungan dan
meninggalkan material merkuri.

Melalui produk teranyarnya, Samsung mulai memasarkan produk televisi LED-nya ke pasar Indonesia dengan berbagai tipe dan ukuran. Penggunaan teknologi LED pada produk televisi diusung Samsung Electronics Indonesia (SEIB) dalam tiga tipe produk terbarunya. Masing-masing dari tipe B 8000, B 7000 dan B 6000. Tampilannya begitu ramping, bahkan sangat elegan.

Bukan hanya masalah ketipisan dari desain yang mengambil corak air yang mengalir. Samsung LED Full HD TV Samsung juga menciptakan solusi ultra slim wall mount untuk mengurangi jarak antara TV dengan dinding hingga 0,6 inci atau turun 2 inci dari solusi penebalan.

Cahaya dari LED, semua tipe Samsung TV LED Full HD telah memenuhi panduan energy star v 3.0 yang lembut dan ketat. Elemen inilah yang mampu memotong konsumsi listrik yang cukup signifikan hingga 40 persen bila dibandingkan dengan LCD HDTV tradisional dengan ukuran yang sama.

Tipe B 8000 menjadi salah satu andalan dari ketiga tipe TV LED yang diluncurkan PT SEIN. Tipe ini memimpin evolusi TV dengan fitur terbaik di kelasnya. Seperti adanya teknologi ganda Auto Motion Plus yang mampu menghasilkan frame rate sebesar 200 HZ. Mampu menghilangkan efek yang tak jelas saat menampilkan gambar yang cepat, penuh dengan gerakan aksi.
src="http://samsungledtv.dagdigdug.com/banner.php?track=3768c4a1fd45c38797bdd5ca41b47928"
/>

Walau baru akan hadir Juni mendatang, Samsung LED Full HD TV B 8000 ini ukuran 55 inci sudah mulai banyak yang memesan untuk membeli. Artinya, tak lama lagi masyarakat Indonesia bisa menikmati televisi generasi terbaru, hemat energi, dengan tampilan yang menawan. Sementara LED Full HD TV B 7000 diperkenalkan di Indonesia terdiri dari varian 40", 46" dan 56" pertengahan bulan Mei dengan kisaran harga mulai dari Rp 33 juta, Rp 43 juta dan Rp 60 juta. Untuk tipe B 6000 diperkenalkan di Indonesia dengan variasi ukuran 40" dan 46" bulan Mei pada kisaran harga Rp 29 juta dan Rp 40 juta. (*)
Read More......

Tuesday, May 19, 2009

Periksa Kesehatan Tak Sekadar Seremoni

AKHIRNYA masyarakat Indonesia bisa mengetahui jumlah pasangan bakal calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan bertarung pada Pemilihan Presiden 8 Juli 2009 mendatang. Jusuf Kalla dan Wiranto maju dengan dukungan Partai Golkar- Partai Hanura. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya memilih Boediono dengan pengusung utama Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB. Lalu Megawati Soekarnoputri bersama Prabowo Subianto maju sebagai capres-cawapres yang didukung PDI Perjuangan dan Partai Gerindra.

Dua hari terakhir kemarin, ketiga pasangan itu memeriksakan kesehatan mereka. Pemeriksaan berlangsung di bawah komando tim kesehatan khusus dari RSPAD Gatot Subroto. Ada tiga dokter ahli senior plus 43 dokter ahli di 13 bidang spesialisasi kedokteran yang terlibat dalam pemeriksaan itu.

Seusai pemeriksaan, para capres-cawapres itu menampakkan diri ke publik. Mereka masih berpakaian piyama, lalu melambaikan tangan kepada para pewarta, terutama kameramen dan fotografer. Seperti itulah tahapan yang harus ditempuh para bakal capres-cawapres ini sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kesehatan menjadi salah satu persyaratan yang harus bisa dilalui para bakal calon pemimpin RI ini.

Yang dikhawatirkan, jangan sampai tahapan ini hanya sekadar seremoni, hanya menempuh prosedur saja. Karena melihat ketokohan dan ingin melihat pemilu berlangsung ramai dengan adanya tiga pasangan, lalu KPU meloloskan begitu saja.

Artinya, kalau memang bakal capres dan cawapres ini memiliki kekurangan secara medis atau psikis, KPU harus berani mengungkapkannya kepada masyarakat. Bukan dalam rangka mempermalukan para capres-cawapres, tapi menyampaikan kebenaran bahwa capres A atau cawapres B memang memiliki kekurangan dalam hal kesehatan. Bukankah saat Pemilu 2004 pun, KPU tak meloloskan pasangan Abdurahman Wahid-Marwah Daud karena alasan kesehatan?

Ini tak jauh beda dengan pengumuman harta kekayaan capres dan cawapres. Kalau Boediono saja mau melaporkan harta kekayaan sebesar Rp 18 miliar, termasuk asal muasal harta itu, tentu soal kesehatan pun harus pula diungkapkan.

Masyarakat tentu menginginkan memiliki pemimpin yang sehat jiwa raga, sehat lahir batin. Dan itu dimulai dari proses penyeleksian melalui tahapan pemeriksaan kesehatan ini. Amanah menjadi seorang pemimpin itu berat dan tanggung jawabnya melintasi dunia dan akhirat. Karena itu, sehat secara fisik dan psikis pun sangat diperlukan untuk memikul beban sejarah bangsa ini.

Masih ada waktu 51 hari ke depan untuk menentukan pilihan. Saatnya menelisik lebih dalam lagi bagaimana rekam jejak dan kemampuan para calon pemimpin bangsa ini. Di tangan kita, bangsa ini akan mempunyai pemimpin yang menyejahterakan rakyat atau menyebabkan keterpurukan.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 19 Juli 2009.
Read More......

Monday, May 04, 2009

Bisnis Jawaban UN

DUA pekan terakhir, siswa SMA dan SMP mengikuti ujian nasional (UN). Untuk tingkat SMA dan sederajat, ujian sudah berakhir, sementara untuk tingkat SMP dan sederajat masih berlangsung hingga hari ini.

Sebetulnya tidak ada yang istimewa dari pelaksanaan ujian ini, karena berlangsung setiap tahun. Hanya karena tahun ini standar kelulusan naik, UN dianggap sebagai hantu yang bisa menenggelamkan masa depan seseorang.

Hal menarik yang terjadi di setiap pelaksanaan UN adalah selalu munculnya bocoran kunci jawaban soal mata pelajaran yang diujiankan. Padahal pembuatan soal UN dan pendistribusiannya dijaga ketat aparat keamanan dan dinas pendidikan serta pengawas. Tetapi, tetap saja selalu ada mereka yang memanfaatkan situasi dan kondisi, bahkan menjadikan bocoran soal itu sebagai bisnis.

Forum Guru Independen Indonesia menemukan adanya indikasi jual beli kunci jawaban soal UN yang melibatkan pelajar. Sejumlah pelajar rela menunggu sejak pagi seusai subuh untuk mendapatkan bocoran jawaban itu. Mereka pun rela merogoh dalam-dalam kantungnya untuk membayar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per mata pelajaran.
Pekan sebelumnya, bocoran jawaban UN SMA beredar via SMS. Mereka yang mendapat kiriman SMS ini lebih banyak yang tidak mempedulikannya. Tapi bisa jadi ada pula siswa yang tergiur dengan kunci jawaban itu dan mengisikan di lembar jawaban.
Apalagi berdasar hasil pengerjaan seorang guru matematika di Bandung, kunci jawaban yang beredar untuk soal Matematika benar-benar 100 persen persis.

Tentu beredarnya bocoran kunci jawaban UN ini harus dipertanyakan. Sejauh mana tingkat pengamanan soal-soal UN hingga dijamin tidak ada kebocoran. Departeman Pendidikan Nasional atau dinas pendidikan di daerah sebagai penyelenggara UN tentu bersikukuh tidak terjadi kebocoran. Kalaupun ada beredar kunci jawaban, siswa diminta tidak mempercayainya.

Secara psikologis, beredarnya kunci jawaban ini sangat mengganggu siswa, terutama mereka yang betul-betul belajar siang malam untuk menghadapi UN ini. Selentingan di kalangan siswa tentang hal ini akan mempengaruhi "keteguhan" mereka atas hasil belajarnya selama ini.

Akan muncul pemikiran, sia-sia saja belajar kalau ternyata di luar beredar kunci jawaban. Persaingan menjadi tidak sehat. Mereka yang tak belajar hanya mengandalkan uang dan bocoran kunci jawaban tentu tak masalah. Parahnya, kalau siswa yang betul-betul belajar jadi tergiur untuk memakai kunci jawaban.

Di sinilah musibah dunia pendidikan terjadi. Tren serba instan, ingin cepat selesai, dan tak mau bersusah payah, menghinggapi para pelajar. Mentalitas superinstan ini yang akan terus menyuburkan munculnya praktik-praktik jual beli kunci jawaban, dan lambat-laun kian memperbodoh siswa. Rupanya, ini yang sengaja terus dipelihara oleh pihak-pihak tertentu agar bisnis semacan ini terus berjalan. Tapi mereka tak peduli dampak di kemudian hari.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 30 April 2009.
Read More......

Wednesday, April 22, 2009

Hantu Bernama UN

SEJUMLAH siswa SMAN 6 menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka terpekur sambil menitikkan air mata kala seorang guru memanjatkan doa. Doa penuh pengharapan agar mereka bisa lulus ujian nasional. Tak hanya doa yang dipanjatkan, tapi juga pemberian motivasi dan pembekalan mental dari para guru agar siswa percaya diri dengan kemampuan sendiri.

Kegiatan yang sama juga digelar di SMA-SMA lainnya di Kota Bandung, jelang akhir pekan kemarin. Bahkan di belahan lain di Nusantara, dari sekolah di pusat kota hingga pinggiran, nyaris semua menggelar istigasah dan doa bersama menjelang pelaksanaan ujian nasional.

Siswa berharap perjuangan mereka selama tiga tahun tidak akan sia-sia. Ujian nasional ibarat hantu di akhir musim pelajaran. Seolah, jika tak lulus UN, habislah dunia. Untuk menghalau ketakutan dan kekhawatiran tidak lulus itulah istigasah digelar.

Angka 5,5 sebagai standardisasi nilai kelulusan UN 2009 ini seperti angka keramat yang membuat gentar para siswa. Siswa yang pandai pun jadi ragu dengan kemampuannya. Satu saja nilai mata pelajaran jatuh, akan menguaplah impian segera melepas masa SMA.

Tak heran jelang pelaksanaan UN, berbagai uji coba digelar. Simulasi soal-soal mata pelajaran yang kemungkinan diujiankan pun terus dijajal. Guru menggeber mata pelajaran agar tuntas, siswa pun digeber agar paham semua mata pelajaran itu. Tak cukup enam jam, kadang-kadang waktu belajar pun ditambah satu atau dua jam. Tapi tetap saja hasil uji coba itu tak sepenuhnya sesuai harapan. Bukannya membuat siswa percaya diri, malah kian down begitu tahu hasil try out jeblok.

Hanya karena UN lalu sekolah berubah menjadi bimbingan belajar. Sekolah semata hanya mengejar angka kelulusan. Persentase kelulusan 100 persen menjadi prestise dan prestasi bagi sekolah, tapi mengabaikan segi pendidikan yang lain.

Intinya, masa depan para pelajar ini selayaknya tidak ditentukan hanya oleh sebuah ujian. Angka kelulusan 5,5 tidaklah menjamin kualitas produk pendidikan. Masih banyak sisi lain dari pendidikan yang semestinya juga menjadi prioritas untuk dikembangkan.

Apalagi tahun ini ibarat pertaruhan bagi pelaksanaan ujian nasional. Untuk pertama kalinya, pihak perguruan tinggi dilibatkan dalam proses pengawasan. Kabarnya, ini sebagai ancang-ancang sebelum tahun 2012 UN dijadikan tiket untuk masuk ke perguruan tinggi negeri.

Kita berharap, terlibatnya semua unsur pendidikan akan berdampak lebih baik bagi kualitas pendidikan di negeri ini. Bukan hanya angka kelulusan yang naik, tapi sarana dan prasarana juga membaik. Telinga kita tidak akan lagi mendengar siswa yang tak mampu melanjutkan sekolah karena tidak punya biaya. Atau ada bangunan sekolah yang roboh diterpa angin ribut. Di tangan para siswa yang kemarin, hari ini, dan esok bertarung memerah segenap kemampuan ilmu, terletak nasib bangsa.
Semoga UN ini tak hanya menghasilkan siswa yang pintar semata, tapi juga mumpuni secara moral dan etika. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 21 April 2009 dengan judul "Pertaruhan Ujian Nasional".
Read More......

Friday, April 10, 2009

Lihatlah Keikhlasan Mereka

JARAKNYA sejauh 30 kilometer dari Kantor Desa Sugihmukti, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Nyaris sama dengan jarak Bandung-Sumedang. Berada di perbatasan Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Cianjur, itulah Kampung Camara, kampung para pemetik teh di PTPN Rancabolang.

Saking terpencilnya kampung ini, saat gempita kampanye pekan lalu, tak ada seorang pun calon anggota legislatif ataupun partai politik yang berkampanye ke kampung ini. Lagi pula, siapa yang peduli dengan kampung ini? Jalan untuk menuju ke kampung ini saja terjal, penuh berbatu. Bahkan harus melewati hutan, yang kadang-kadang binatang buas pun masih sering melintas.

Tapi lihat keikhlasan mereka, warga di pelosok ini. Mereka tetap antusias mengikuti pemilihan umum, walau mereka tidak kenal satu pun para caleg yang namanya terpampang di kartu suara. Dan mereka juga tahu, memilih bukan berarti nasib mereka sebagai buruh pemetik teh akan berubah.

Antusiasme warga pinggiran ini merupakan bagian dari gairah masyarakat Indonesia mengikuti pemilihan umum 9 April. Dan hasil penghitungan suara secara cepat atau quick count sejumlah lembaga survei sudah memunculkan partai mana yang diperkirakan menjadi pemenang pemilihan legislatif. Demokrat, partai pemerintah, tidak akan terkejar oleh partai Golkar, PDIP, dan partai lainnya.

Euforia kemenangan pasti akan merebak ke segenap penjuru negeri. Tinggal para caleg yang akan berhitung apakah mereka yang terbanyak meraih suara akan mendapat kursi atau tidak. Dan euforia ini akan terus berlanjut hingga pemilihan presiden usai.
Hanya satu pesan, jangan pernah melupakan, apalagi menyia-nyiakan suara rakyat. Jangan pernah menyia-nyiakan suara rakyat. Selama ini, rakyat hanya menjadi objek eksploitasi penggalangan suara untuk memenangkan partai tertentu. Hanya diingat ketika pesta demokrasi mendekat, dan setelah itu dilupakan.

Ingatlah bahwa pemilu bukanlah hura-hura demokrasi. Ia hanya perantara untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat. Karena itulah sesungguhnya yang menjadi harapan bersama: pemilu akan membawa perubahan bagi kehidupan bangsa ini.

Ingat pula bahwa rakyat akan menagih janji-janji yang diucapkan. Para caleg yang akan melenggang ke gedung dewan harus mempersiapkan diri untuk benar-benar menjadi penyambung lidah rakyat, berjuang untuk kepentingan masyarakat.

Seperti halnya teriakan Iwan Fals saat bernyanyi di sebuah televisi swasta, semalam sebelum pencontrengan, "Buktikan buktikan, itu yang dinanti-nanti. Buktikan buktikan, kalau hanya omong, burung beo pun bisa". Kita ingin jejak hari ini menjadi titik awal perubahan Indonesia menuju kehidupan yang lebih baik. Buktikan! (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 10 April 2009
Read More......

Thursday, April 09, 2009

Kejutan di Pagi Hari

SAYA mulai pagi dengan salat Subuh, lalu mengaji. Sebetulnya saya hendak salat tahajud. Alarm sudah dipasang tiga lapis. Ternyata tak mampu juga membangunkan saya. Karena harus menyiapkan liputan Pemilu, saya pulang dari kantor larut malam. Menyesal juga, karena sudah berazzam supaya bisa bangun.

Segera saya setel televisi, cari tahu hasil pertandingan Liverpool-Chelsea. Oh, ternyata The Reds terjungkal di kandangnya 1-3. Saya terus nonton berita, sementara Bu Eri sudah beres-beres di lantai bawah. Kebetulan pembantu sedang pulang ke Cianjur, jadi setelah salat, Bu Eri sudah sasapu. Kaka Bila dan Adik Mira masih terlelap dalam mimpinya masing-masing. Posisi tidurnya pun sudah pasolengkrah. Kaka tergeletak dekat wilayah kekuasaan Adik, Adik sendiri sudah masuk ke area tidur Kaka.

Sekitar pukul 06.00, Kaka dan Adik bangun. Keributan di kamar pun dimulai, seperti biasa. Adik yang memanggil-manggil ibu, atau Kaka yang tiba-tiba nyanyi lagu Selamat Ulang Tahun. "Wah ayah aku gak punya kadonya, kalo ibu punya kado tuh," kata Kaka. "Oh gak apa-apa Ka, Kaka sehat saja ayah sudah senang," kata saya.


Ketika Adik minta ke kamar mandi buat pipis, Bu Eri ke lantai atas sambil membawa Cireng, aci digoreng. Setelah itu, Adik bergabung lagi main di kamar. Namun tak lama, muncul lagi Bu Eri, kali ini sambil rawah riwih. "Ada superglue gak," tanya bu Eri sambil mencari di laci lemari. Tahu barang yang dicari tidak ada, Bu Eri langsung menyambar kerudung, lalu turun lagi ke bawah. Saya masih mikir, buat apa Bu Eri mencari superglue.

Ketika saya bertiga main, Bu Eri datang kembali ke kamar. Kali ini sambil membawa kue tart dengan lilin menyala. "Selamat ulang tahun...tapi maaf ini lilinnya potong, jadi cuma lilin angka 5 saja," katanya. Kontan saya pun tergelak melihat lilin angka 5. "Ha ha ha, berarti ayah baru umur 5 tahun, lebih muda dari Kaka," kata saya. "Difoto dulu difoto dulu". Saya pun meniup lilin sambil jeung bararau jigong bin cucut, da belum mandi.

Kalau kue tart sih bukan surprise, soalnya memang biasa kami lakukan kalau ada di antara keluarga yang ulang tahun. Yang berikutnya cukup surprise. Bu Eri memberi sebuah kantung kecil untuk saya, dan juga untuk Kaka Bila.

Saya buka kotak di dalam kantung. Rupanya sebuah jam tangan Swiss Army. "Wow, ini sih jam tangan mahal," pikir saya. "Iya kasihan tuh jam tangan ayah pake isolasi, jadi beli jam tangan kemarin di ABC. Kaka juga dibelikan da pasti cemburu, pengen juga," kata Bu Eri.
Kalo Adik? Ya berhubung belum ngerti, dia dikasih jam tangan Barbie bekas Kaka yang sudah tidak muter lagi jarum jamnya. Haduh jadi terharu. Segini saja sudah alhamdulillah. "Eh kalo ibu dapat kado apa," tanya Kaka. "Pan sudah kemarin dibelikan raket buat bulutangkis," jawab saya.

Wah hari yang indah, hari yang menyenangkan, dan tentu tak terlupakan. Karena di hari ini pula Pemilu legislatif digelar. Dan saya, untuk pemilu kali ini, tak menghiasi jari tangan dengan tinta hitam atau ungu itu.(*)
Read More......

Bersyukur Masih Bisa Menghirup Udara 9 April

ALHAMDULILLAH, Alloh masih sayang padaku. Hari ini usiaku menginjak 35 tahun. Alloh masih memberi kesempatan untuk menghirup udara, melihat matahari terbit di pagi hari. Warnanya merah, jingga, lalu menguning, dan terang benderang.

Cukup panjang lika-liku hidup yang kujalani selama ini. Menempaku agar lebih matang, dewasa, menghadapi perjalanan ini. Entah kapan akan kujumpai titik terakhir. Tapi itu pasti datang. Dan kuharus bersiap menghadapinya. Karena itu aku memohon kepada Alloh agar diberi kekuatan, dikarunikan tekad yang kuat untuk mengisi langkah-langkah berikut dengan amal yang baik, bermanfaat bagi orang banyak.

Memohon kepada Alloh agar menjadi orang yang selalu bersyukur, sekecil apapun yang diberikan Alloh. Menjadi orang yang selalu beristigfar, memohon ampunan, atas sekecil apapun kesalahan yang dilakukan. Menjadi orang yang mudah untuk bertakbir dan bertasbih saat melihat sekecil apapun keagungan dan kekuasaan yang diperlihatkan Alloh.

Dan yang utama, Alloh menjadikan hatiku lembut, tak keras seperti batu, yang selalu tergetar ketika dibacakan ayat-ayat Alloh. Menjadikan lisan ini mudah untuk menyebut asma-asma Alloh dn membaca Al Quran. Menjadikan diri ini senang berada di tengah orang-orang saleh, menjadikan diri ini senang mengamalkan ilmu yang diperoleh dan mengulurkan tangan bagi mereka yang kesulitan.

Aku ingin selalu bersama orang-orang yang teraniaya, dizalimi, kaum duafa, karena dekat dengan mereka berarti dekat denganMu. "Carilah Aku diantara orang-orang yang dizalimi dan kaum duafa" begitu yang pernah kudapat. Ringankan tangan ini untuk menolong orang yang membutuhkan.

Sungguh teramat banyak nikmat yang sudah kuperoleh selama ini. Dan kini aku ingin menghisab diriku sebelum Alloh menghisabku. Tentu betapa hitam diri ini. Teramat hitam. Mumpung masih diberi kesempatan, diberi waktu, aku ingin menggapai kembali kedekatan denganMu. Amin.(*)
Read More......

Tuesday, April 07, 2009

Carita Bogor

Awal bulan Maret lalu, saya berkesempatan keliling Kota Bogor. Sebenarnya round-round di Bogor itu untuk keperluan pemantauan Adipura. Lagi-lagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar meminta saya untuk melengkapi jumlah juri untuk kategori Kota besar.

Dulu Bogor begitu kerap saya sambangi. Dulu, saat masih menimba ilmu di Pajajaran. Saya sering menginap di rumah sohib saya, Gunawan, di Cibinong. Dari Cibinong, main ke Bogor kota. Atau main ke rumah sohib yang lain, Wahyu, di Kedunghalang. Pokoknya kalau main ke kota Hujan ini, saya tidak akan kesulitan tempat menginap. Terakhir saya ke Bogor saat meliput kasus penggalian situs Batu Tulis sekitar tahun 2002. Oh iya, tahun 2003 juga saya pernah ke Bogor lagi ketika meliput tersangka pengebom Gedung Kedutaan Filipina. Salah satu rumahnya ternyata berada di daerah Cileungsi. Dan saya menginap di Bogor kota.

Saya memanfaatkan kunjungan ke Bogor kali ini untuk menyerap kembali aura kejayaan masa silam. Menjejak Bogor, ibarat kembali ke pangkuan Sunda. Bogor adalah Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran. Datang ke Bogor seperti napak tilas, menyusuri kembali jejak yang ditinggalkan para karuhun Sunda. Istilah saya: Neang dia, nu nyusuk di Pakuan. Kata-kata ini merupakan potongan kalimat dari isi Prasasti Batutulis:
...wang na pun ini sakakala, prebu ratu purané pun, diwastu diya wingaran prebu guru
déwataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu déwata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang niskala sa(ng) sida-mokta di gunatiga...


Sudah beberapa waktu lamanya, saya mengumpulkan dan membaca kembali jejak-jejak Sunda. Sejumlah referensi atau bacaan tentang Sunda saya baca kembali. Tentu kebanyakan adalah buku-buku sejarah dari para ahli sejarah ataupun arkeologi Sunda. Mereka para guru saya dalam hal urusan sejarah. Ada buku karangan Prof Edi S Ekadjati (alm), buku Kang Ayatrohaedi (alm), juga buku Kang Saleh Danasasmita. Lalu buku Amir Sutarga dan sebagainya. Juga saya baca kembali buku Hermeneutika Sunda punya Jakob Sumardjo, orang Jawa yang mencintai Sunda.

Beberapa koleksi makalah hasil sawala kesundaan pun saya buka. Tujuan saya hanya satu, ingin ngaguar kembali sejarah kejayaan Sunda. Sebuah kisah kejayaan yang oleh sekelompok orang tertentu diyakini akan kembali mewujud di masa-masa yang akan datang.

Salah satunya hal yang hingga kini belum terang benar soal sejarah Pakuan adalah keberadaan Pakuan itu sendiri. Bagi saya, Pajajaran adalah sebuah kerajaan besar. Negeri yang sesungguhnya melingkupi seluruh Nusantara ini. Jauh lebih besar dari Majapahit. Tapi tak tersisa sedikitpun wajah kejayaannya. Istananya Prabu Jayadewata atau Siliwangi yang dikenal dengan sebutan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, hilang tak berjejak.

Tapaknya lenyap sama sekali dari Bogor sekarang. Orang Sunda akan kebingungan jika ditanya, mana peninggalan Pajajaran. Mau menunjuk istana, jelas kesulitan. Yang paling mungkin, hanyalah menunjuk Prasasti Batutulis. Sebuah prasasti yang dibangun anak Siliwangi. Hanya itu tak lebih.

Berbeda misalnya dengan Orang Banten yang bisa dengan bangga menunjuk Kraton Surosowan, atau Orang Cirebon yang bisa menunjuk Kratos Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Pakungwati sebagai kraton sisa peninggalan keturunan Sunan Gunung Djati. Atau orang Yogya dan Solo bisa dengan mudah menunjukkan kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta serta Mangkunegaran dan Pakualaman sebagai simbol mereka pernah eksis dan berjaya. Majapahit sekalipun masih bisa menunjukkan sisa-sisa kota kuno Trowulon sebagai peninggalan kerajaan Majapahit.

Apakah memang orang Sunda tidak pernah meninggalkan jejak-jejak sejarah secara fisik. Lebih banyak berupa cerita-cerita, pantun-pantun, dan pemikiran-pemikiran kesundaan. Itulah yang harus digali orang Sunda kiwari.

Saya tidak akan menulis soal asal usul Bogor. Hal itu sudah sering dibahas dalam berbagai blog. Ketika melanglang ke Bogor itu, saya berupaya untuk menyusuri jiwa zaman ketika Pakuan masih berdiri. Ketika saya masuk ke daerah bernama Lawang Gintung, saya mencoba membayangkan di zaman Pakuan dulu disitulah terdapat parit lebar dan pintu gerbang kota. Jika orang luar hendak masuk ke Pakuan, dia harus melalui Lawang Gintung ini.

Begitupula ketika saya melintasi Sungai Cipakancilan, Cisadane, dan Ciliwung, saya berupaya menghadirkan jiwa zaman ketika Prabu Siliwangi memerintah rakyat secara adil. Sungguh luar biasa membayangkannya. Sebuah kerajaan besar dengan rakyat yang sejahtera, makmur, merasakan betul usapan kasih sayang seorang raja berwibawa.

Ah, ini hanya romantisme saya memandang Sunda. Jelas zaman itu tak akan kembali lagi. Tapi sungguh, saya merasakan auranya! Aura Pakuan yang begitu berwibawa ketika memasuki kawasan Kebon Raya. Konon Kebon Raya ini dulu merupakan bagian dari Leuweung Samida atau hutan larangan. Sangetnya masih terasa hingga saya pulang meninggalkan Bogor, menuju kota lain yang ceritanya tak mungkin dilupakan.(*)
Read More......

Monday, April 06, 2009

Ajari Anak-anakmu: Berkuda, Berenang dan Memanah

ITU bunyi salah satu hadits Rasulullah SAW. Tuntunan itu datang dari Nabi yang kita cintai. Berkuda, berenang, dan memanah. Tiga keterampilan yang setidaknya harus dimiliki anak-anak penerus semangat Islam.


Tentu ada alasan kuat mengapa Nabi menyuruh para orang tua Muslim mengajari anak-anaknya dengan keterampilan-keterampilan khusus tersebut. Bagi masyarakat di padang pasir, berkuda dan memanah adalah barang yang lumrah. Naik kuda ataupun naik unta merupakan keseharian mereka. Binatang-binatang itulah yang menjadi tunggangan dan peliharaan masyarakat Arab.

Tapi berenang? Wow, ini yang agak mengherankan. Orang Arab tidak terlalu suka air. Kolam renang adalah hal yang sulit ditemukan. Kalaupun kolam, itu berbentuk oase atau wadi. Dan kebanyakan dipakai sebagai sumber minum. Air sangat sulit ditemukan di daerah padang pasir.

Tapi Rasullulah meminta para orang tua muslim mengajarkan berenang. Tentu ada hal yang jauh di luar jangkauan pemikiran masyarakat muslim 15 abad lalu. Bisa berenang memang sangat perlu. Ketika tsunami menerjang, atau yang terakhir, ketika Situ Gintung jebol, orang yang bisa berenang tentu lebih dimudahkan untuk menyelamatkan diri.

Saya pun mengenalkan Kaka Bila dan adik Mira pada hewan Kuda. Biar mereka berani menunggang kuda. Bahkan Kaka Bila sudah berani menunggang kuda sendiri, tanpa perlu didampingi lagi. Ia sudah tahu bagaimana cara menyetop laju kuda, bagaimana belok ke sebelah kiri atau belok ke kanan. Secara harfiah memang anjuran berkuda itu, ya mengajarkan berkuda. Tapi sesungguhnya tak cuma berkuda ini yang harus dipelajari dan dikuasai. Menunggang kendaraan lain pun harus bisa. Dalam konteks kekinian, tentu naik mobil, motor, bahkan pesawat, harus pula dikuasai.

Tak ada ruginya bisa mengendarai segala macam kendaraan. Dan yang paling penting, adalah mengenalkan kekuasaan Allah SWT pada anak-anak. Bahwa setiap kendaraan, apapun itu, tidak akan mungkin bisa berjalan tanpa izin Allah SWT.


Begitu pula dengan berenang, mengenalkan anak pada air sejak diri tentu lebih bagus. Kemampuan berenang ini pun harus dikuasai agar tidak hanya keterampilan di darat saja yang dikuasai, tapi juga keterampilan di dalam air.

Sementara memanah pun tak berarti memanah. Memanah termasuk keterampilan olahraga, juga keamanan. Memanah bisa untuk mempertahankan diri, juga berperang. Memanah pun bisa berarti anak-anak muslim harus menguasai beberapa alat untuk mempertahankan diri. Ataupun menguasai bela diri. Ajarilah anak-anak kita ilmu bela diri: silat, karate, kungfu, yudo, dan sebagainya. Semuanya bertujuan senada, mempertahankan diri.
Tak ada yang rugi dari mengajarkan tiga keterampilan itu pada anak-anak kita. Semua bisa bermanfaat untuk kehidupan kita.(*)
Read More......

Saturday, April 04, 2009

Maaf, Jarang Menulis

LAMA saya tak menulis di blog, terutama cerita-cerita seputar aktivitas seharian. Hanya tulisan Sorot yang diupload, karena itu memang kewajiban seminggu sekali di Tribun. Dan hanya itu sebagai penjaga semangat menulis saya.

Faktor M, yaitu malas, seperti biasa menjadi kambing congek berbulu hitam yang sangat mudah untuk disalahkan. Saya sendiri enggak tahu kenapa. Padahal saya sudah menulis beberapa cerita, tapi tidak tuntas semuanya.

Faktor penyebab lainnya saya jarang menulis bisa jadi karena faktor F, yaitu Facebook. Buku wajah yang saat ini menjadi jejaring sosial paling digemari ini memang susah lepas dari keseharian saya berinternet. BUka internet, pasti harus ke facebook. Padahal tidak ada kewajiban yah buat ngebuka Fesbuqiyah itu. Ya hanya sekadar melihat komen teman-teman di dinding fesbuk mereka, atau sekadar mengupload foto-foto. Sedikit menambahkan komen di status sendiri, tak lebih. Tapi begitulah, sihir fesbuk memang luar biasa.

Mudah-mudahan mulai hari ini saya bisa menuliskan lagi sejumlah pengalaman keseharian saya terkait berbagai hal. Ini juga gara-gara kantor memblokir Facebook, sehingga error alias tidak bisa dibuka, wuakkakakak. Oke tunggu tulisan-tulisan berikutnya. Mudah=mudahan menginspirasi yang membaca.(*)
Read More......

Tuesday, March 31, 2009

Kisah Sedih SD Sejahtera

SEHARUSNYA kegembiraan masih menghiasi rona wajah para pendidik dan siswa SD Sejahtera I dan IV di Jalan Sejahtera, Sukajadi, Bandung. Sejak pekan lalu, wajah bangunan SD itu, terutama bagian atapnya, tampak lebih semringah. Ya, atap ruangan kelas, yang semula asbes, sudah berganti menjadi genting anyar berwarna merah keoranye-oranyean. Tak hanya itu, lantai pun berganti dari ubin menjadi keramik.

Namun kegembiraan itu berlangsung tak lebih dari seminggu. Senin pagi kemarin, ketika siswa kelas 3 tengah asyik belajar, guru pengajar mendengar suara mencurigakan dari arah atap. Khawatir atap roboh, sang guru pun memerintahkan para murid keluar ruang segera. Benar saja, tak lama kemudian, atap baru itu ambruk dan genting-genting baru itu pun jadi pecahan berkeping-keping.

Sekolah untuk anak usia 6-12 tahun ini adalah SD Inpres yang dibangun pada tahun 1978. Sekolah ini berada di daerah perkotaan. Tak jauh dari bekas ibu kota Kabupaten Bandung di Cipaganti. Cipaganti sendiri merupakan kawasan elite yang dihiasi rumah- rumah besar peninggalan Belanda.

Sayang, walau namanya SD Sejahtera, nasibnya tak sesejahtera namanya. Kabarnya, sejak dibangun tiga puluh tahun lebih itu, tak sekali pun bangunan SD ini direnovasi.
Ketika bangunan SD lain sudah bertembok batu bata, SD Sejahtera masih bertembok batako. Tak heran, sungguh bergembira semua pengelola sekolah ini ketika bantuan dana role sharing dari Dinas Pendidikan Jawa Barat mengucur. Nilainya pun bukan main, Rp 320 juta.

Tapi ternyata bantuan itu hanya cukup untuk mengganti genting dan lantai. Kabarnya pula, satu ruang kelas menghabiskan dana sebesar Rp 40 juta. Dan anggaran puluhan juta per kelas itu pun lenyap dalam hitungan detik seiring dengan robohnya dua bangunan kelas.

Selain siswa dipastikan tidak akan bisa belajar, dampak lain dari robohnya bangunan kelas itu adalah munculnya perasaan trauma dari para siswa yang belajar di ruang kelas yang lain. Mereka waswas dan selalu melihat ke atas khawatir atap tiba-tiba roboh.

Inilah ironi sebuah sekolah yang berlokasi di tengah kota. Ketika pemerintah daerah berupaya keras menggratiskan biaya pendidikan dan memperbaiki infrastruktur pendidikan, sekolah ini baru tersentuh bantuan. Dan kualitas bangunan hasil bantuan itu pun patut dipertanyakan karena hanya bertahan satu minggu.

Bandingkan dengan bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda di sekitar kawasan itu. Puluhan tahun tetap kokoh bertahan dari cuaca apa pun. Berdiri tegak, seolah mencemooh: Lihat, buatan kami, kaum kolonial, lebih baik daripada buatan pribumi.
Pengawasan terhadap proyek renovasi ini juga terkesan lemah. Banyak ditemukan kayu-kayu bekas digunakan kembali untuk menyanggap atap dan genting. Kalau saja pengawasan dilakukan secara ketat, bukan tak mungkin musibah bisa dihindari.

Kejadian ini menjadi cermin bagi dunia pendidikan di Kota Bandung bahwa selain kualitas guru dan siswa yang harus digenjot, kualitas sarana atau fasilitas pun harus menjadi prioritas.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 31 Maret 2009.
Read More......

Monday, March 23, 2009

Segitiga Emas

ISTILAH segitiga emas biasanya merujuk pada suatu kawasan yang bila ditarik garis khayal pada tiga titik akan membentuk bidang segitiga. Kata emas menunjukkan pada potensi luar biasa yang dimiliki kawasan itu dan biasanya potensi ekonomi dan bisnis
Di Jakarta dikenal istilah Segitiga Emas di kawasan Kuningan. Kawasan itu mencakup Jalan Sudirman-Gatot Subroto-Rasuna Said. Lokasi ini menjadi pusat bisnis dan perkantoran. Jangan tanya berapa harga tanah per meter di kawasan segitiga emas. Melonjak dan mahal luar biasa, hanya karena berada bidang segitiga khayal tapi diyakini sebagai kawasan penarik uang.

Di dunia kriminal, dikenal pula segitiga emas opium yang terbentang antara Thailand, Myanmar, dan Laos. Ketiga negara ini penghasil opium terbaik. Dari daerah pedalaman dan pegunungan di tiga negara Asia Tengggara itu mengalir barang haram ke seluruh dunia. Opium pula yang menjadi modal operasional kelompok-kelompok mafia kejahatan, baik tradisional maupun modern, di kawasan itu.

Hubungan segitiga ini memang strategis, sekaligus misterius. Strategis karena kekuatan bisa lebih meningkat ketimbang hubungan dua pihak. Misterius, mengingatkan kita pada Segitiga Bermuda, yang hingga kini masih bisa disebut tempat paling misterius di dunia.

Karena strategis itu pula, Suryadarma Ali, Ketua Umum DPP PPP, melontarkan gagasan golden triangle (segitiga emas) seusai bertemu dengan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri.

Koneksi tiga arah itu antara PPP, PDIP, dan Partai Golkar. Partai Golkar sudah bersepakat dengan PDIP, dan PPP pun bersepakat dengan PDIP. Suryadarma menyebut pertemuan itu selangkah menuju koalisi.

Ketiga partai ini adalah partai yang lahir dan dibesarkan di zaman Orde Baru. Bedanya, saat itu Partai Golkar menjadi ruling party (partai penguasa) sehingga identik dengan Orde Baru. Saking identiknya, di zaman reformasi Akbar Tandjung sampai harus beriklan Golkar Baru yang reformis untuk meluruhkan stigma Orde Baru. Sementara dua partai lainnya adalah "musuh" secara politik.

Tapi adagium politik terkenal: Tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi, membuktikan kebenarannya. Kalau kepentingan sama, mengapa tidak bersama-sama? Contoh mudah adalah langkah Jusuf Kalla yang selama lima tahun terakhir menjadi kawan seiring sejalan dengan SBY kemungkinan besar akan menjadi lawan politik dalam pemilihan presiden mendatang.

Konstelasi politik terkini itu tentu kian menggairahkan. Jika ketiga partai besar itu berkoalisi, sungguh merupakan suatu kekuatan politik yang besar dan sulit ditandingi. Logika politik berkata seharusnya partai reformis atau partai yang didirikan di era reformasi berada di kubu satu lagi sebagai pembanding.

Untuk melawan kekuatan besar ini memang diperlukan persatuan partai-partai menengah dan kecil. Ini mengingatkan kembali pada Pemilu 2004 saat berhadapan Koalisi Kebangsaan dengan Koalisi Kerakyatan. Melihat figur-figur yang akan maju sebagai calon presiden, sepertinya kubu-kubu itu tidak akan berbeda. Tinggal kita yang kebingungan menonton perkembangan politik di tingkat elite itu. Rakyat tak pernah dilibatkan, bahkan dipikirkan, saat deal-deal politik itu terjadi. Tujuan politik hanya meraih kekuasaan, setelah itu memantapkan kekuasaan, dan mewariskan kekuasaan. Kesejahteraan rakyat di urutan nomor kesekian. Itu pun kalau sempat dipikirkan. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu 21 Maret 2009.
Read More......

Saturday, March 14, 2009

Ultah Friday: Kali Ini yang Kedua


HARI kemarin, Jumat 13 Maret 2009. Adalah ulang tahun Friday untuk kedua kalinya di tahun 2009. Yang pertama bulan Februari lalu. Setiap tanggal 13 yang jatuh pada hari Jumat, itulah hari ulang tahun Friday. Tahun ini ada tiga kali tanggal 13 yang jatuh pada hari Jumat. Jadi 13 November nanti, Friday akan berulang tahun lagi.

Siapa dan apa Friday, baca di sini. Tulisan itu memang belum selesai, tapi bisa menjelaskan akar Friday. Saat ini sahabat Friday sudah tersebar di mana-mana. Terakhir kami berkumpul, di rumah saya, akhir Januari lalu. Saat itu digelar sawala untuk membahas masa depan Friday. Masa depan dalam artian bisnis. Friday ingin kembali berbisnis. Tentu sebagai bekal dan pegangan di masa yang akan datang. Dari beberapa gelintir anak-anak Friday, hanya seorang yang menjadi PNS. Ya, hanya Dadan Achmad Muharam, kini jadi Kepala Satpol PP Kabupaten Cianjur. Sisanya: pegawai swasta, wirausaha, dll.

Sebenarnya bisnis bukan barang baru bagi kami. Dulu saat masih berkumpul di markas Sangkuriang 26, kami berbisnis kecil-kecilan. Mulai membuat sablon, desain dan layout buku, sampai agribisnis Jamur Shitake. Tapi berhubung tidak fokus, semua bisnis itu memudar. Masing-masing personal masih memikirkan bagaimana masa depannya sendiri. Tapi kini situasi dan kondisi berbeda. Semuanya sudah bekerja, dan mungkin punya simpanan untuk modal usaha.

Kami akan mulai dengan bisnis kecil dulu. Apapun itu. Kata Andesa, yang penting ada tempat untuk berkumpul, untuk pulang ke Cimahi. Karena pemikiran sudah sepaham, tinggal action. Minggu-minggu lalu, saya survei cari tempat di seputaran Cimahi. Belum ada yang cocok.

Beberapa hari lalu, Mulya Kuya telepon. Dia sekarang di Palembang, pindah dari Kalbe Farma Pematangsiantar. "Ripuh, karier tidak naik, minta pindah ke Jawa gak dikasih terus, pindah saja ke kompetitor," cerita Kuya pagi itu.

Saya pun menceritakan perkembangan terakhir soal bisnis itu. Dia setuju dan siap mendukung. "Kalau bisnis sendiri mah lebih senang ke hati," cetus Kuya. Saya pun membenarkan dan mohon doa supaya bisnis itu bisa terwujud, setidaknya di tahun ini. Soal modal, kata saya, sementara ini tidak usah khawatir. Dore siap mengucurkan dana, karena dia punya penghasilan 1/4 miliar setahun sebagai komisaris di sebuah perusahaan. Jadi tinggal mengajukan proposal, bisnis bisa jalan. Semoga.(*)
Read More......