PESTA pora rakyat Libya langsung pecah begitu tersebar kabar, pemimpin tiran Libya yang terguling, Moammar Khadafi, tertangkap dan tewas ditembak pasukan Dewan Transisi Nasional. Pasukan yang didukung penuh kekuatan NATO itu menemukan Khadafi bersembunyi di sebuah got, setelah tersudut serangan udara NATO dan pesawat tanpa awak AS, Predator.
Gambar di televisi menunjukkan Khadafi diturunkan dari sebuah mobil pikap dengan kondisi compang-camping. Tak ada lagi pakaian kebesarannya yang penuh dengan bintang dan tanda jasa. Juga tak ada pula peci kecil dan serban hitam di pundaknya. Tak lama, ia terlihat terkulai di jalanan. Rupanya, ia ditembak anggota pasukan NTC, konon kabarnya memakai pistol emas milik Khadafi sendiri.
Akhir riwayat yang tragis dari seorang tiran yang dulu begitu dielu-elukan. Orang kuat yang mampu menantang keangkuhan Amerika Serikat. Sempat menjadi harapan Afrika dan Timur Tengah di tengah dominasi hegemoni Amerika. Tapi di akhir hidupnya, ia diburu bak anjing geladak.
Berakhirnya petualangan Khadafi seperti mempertegas efek domino Revolusi Melati di Tunisia. Dua puluh empat tahun berkuasa tak membuat Zein El Ebidine Ben Ali mampu meraih hati rakyat Tunisia. Justru kebencian yang meruap, melontarkan kemarahan rakyat, sehingga bergulir menjadi sebuah revolusi.
Semangat revolusi itu menjalar dengan cepat ke Mesir dan mampu menjungkalkan pemimpin Mesir, Hosni Mubarak. Yaman dan Suriah pun ketularan virus revolusi. Namun Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh masih bertahan. Setelah sempat menderita luka terhantam rudal, ia balik lagi Yaman. Kabar terakhir, ia akan mengundurkan diri. Di Suriah, Presiden Bashir Al Assad membungkam demonstrasi dengan butir peluru tentara. Ratusan demonstran bergelimpang demi perubahan yang belum terwujud.
Giliran Libya kemudian yang diguncang revolusi bersenjata. Kaum oposisi bergerak melawan kediktatoran Khadafi. Dan akhirnya, Khadafi dan hampir semua anak- anaknya tumpas dalam revolusi itu.
Apakah bertumbangannya pemimpin rezim diktator di Timur Tengah merupakan kemenangan demokrasi? Di satu sisi, benar adanya rakyat merasakan kebebasan dari kungkungan rezim otoriter. Saluran-saluran yang semula tertutup menjadi terbuka lebar.
Tapi di sisi lain, ada ancaman besar yang mengintai masyarakat Arab. Ancaman itu adalah konflik agama dan pertentangan sipil-militer. Tengok apa yang terjadi di Mesir saat ini. Sejak Hosni Mubarak lengser, kalangan militer pembelotlah yang menguasai pemerintahan Mesir. Kalangan sipil yang menggelorakan semangat rakyat di Lapangan Tahrir Kairo seolah terpinggirkan. Belum lagi, terjadi konflik besar antara Kristen Koptik dengan beberapa kelompok Islam dan mengancam keberadaan kaum minoritas di Mesir. Hal yang sebelumnya jarang terjadi di masa Hosni Mubarak.
Tentu, banyak hikmah yang bisa kita petik dari semua kejadian-kejadian di luar sana. Kita patut menafakuri peristiwa demi peristiwa itu agar menjadi pelajaran. Bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Kekuasaan itu semuanya milik Allah swt dan akan dipergilirkan bak pergantian siang dan malam kepada mereka yang dikehendaki-Nya.
Bila Allah swt menginginkan, maka seseorang akan mencapai puncak kejayaannya. Tapi dengan izin Allah swt pula, kekuasaan itu bisa dicabut, tanggal dalam keadaan yang menghinakan ataupun mulia.
Bersyukurlah atas semua nikmat dan jangan berlaku tamak. Karena ketamakan itulah yang menyebabkan para tiran itu terlena di kursi kekuasaan dan akhirnya tergelincir karena perbuatan mereka sendiri. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi 22 Oktober 2011
Ini Dia Keluarga Mac
Ini sekelumit kisah tentang Machmud Mubarok, seorang jurnalis di Bandung. Membangun keluarga bersama Eri Mulyani yang juga jurnalis. Bingkai ini bisa cerita tentang keluarga dengan 2 bidadari kecil yang menghiasi keriuhan rumah sederhana di Kota Cimahi tercinta. Bisa juga tentang pekerjaan, hobi, atau hal-hal menarik lainnya seputar kehidupan. Mudah-mudahan, ada manfaatnya bagi orang lain dan mendorong Mac untuk menjadikan keluarganya sebagai keluarga sakinah mawaddah warahmah.
Saturday, October 29, 2011
Wednesday, October 19, 2011
Ciput Ninja ala Baju Enggal

SELAIN membuat baju-baju wanita, Baju Enggal pun membuat pula bagian dari aksesori pakaian wanita, terutama yang berkerudung. Kami membuat ciput ninja. Ciput merupakan kain bagian dalam sebelum memakai jilbab.
Bahan yang kami gunakan adalah spandek rayon. Bahan jenis ini tidak panas, adem, kalaupun berkeringat langsung terserap. Berbeda dengan bahan spandek balon yang licin dan panas.
Harga yang kami tawarkan adalah Rp 25.000 per pcs. Tentu bagi para reseller ada harga khusus yang jauh lebih murah ketimbang beli eceran. Warna pun bisa bermacam-macam: putih, cokelat muda, cokelat, ungu, hitam, dan merah muda.
Friday, October 14, 2011
TARGET PERSIB: JUARA

SEBENTAR lagi Liga Indonesia musim 2011-2012 akan segera bergulir. Dan Persib Bandung kebagian membuka laga perdana Liga ini melawan Semen Padang di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Sabtu (15/10).
Tentu harapan kami, Bobotoh Persib dan masyarakat Bandung dan Jawa Barat, Persib bisa kembali menjadi juara Liga. Terlalu lama gelar juara tak mampir di pundak Maung Bandung.
Saat peluncuran tim skuad Persib Bandung, Kamis (13/10) malam, para petinggi Maung Bandung ingin di musim ini Persib bisa merebut gelar juara liga.
"Target kami bukan papan tengah atau papan atas. Sejak tahun 1994 Persib tak juara. Jadi, target musim ini juara," kata Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat (PBB), Glenn T Sugita.
Untuk menjadi juara, persiapan Maung Bandung tak main-main. Empat pemain timnas direkrut oleh manajemen Persib. Mereka adalah Zulkifli Syukur, Muhammad Ilham, Tony Sucipto, dan Mohammad Nasuha. Sayang dalam peluncuran kemarin Nasuha tak hadir karena sedang pemulihan cedera.

Pemain-pemain baru ini akan bahu-membahu dengan pemain lainnya untuk menggapai target juara yang sudah lama tak diraih Persib. Perombakan yang dilakukan Persib lebih dari 50 persen.
Tengok saja rancangan starting eleven yang disiapkan pelatih Persib Drago Mamic. Yang tersisa menjadi starter adalah Maman Abdurahman, Abanda Herman, Hariono, Miljan Radovic, dan Atep. Komposisi ini dianggap cukup mumpuni untuk membawa Maung Bandung juara.
Hal yang sama diutarakan oleh Manajer Persib H Umuh Muchtar. "Mudah-mudahan Persib juara. Bukan takabur, tapi kami akan berusaha," tuturnya.
Untuk menambah kekuatan Persib, kata Umuh, mereka akan mencari satu lagi pemain belakang. "Saya sudah bicara dengan Pak Glenn. Dan sudah setuju. Katanya cari pemain yang terbaik," ujar Umuh.
Acara peluncuran Persib dimulai sekitar pukul 19.00. Setengah jam kemudian, para pemain Persib dipanggil. Mereka keluar dengan mengenakan kostum yang akan digunakan untuk musim depan. Musim ini, Persib bekerja sama dengan perusahaan apparel asal Inggris, Mitre.
Pemain pertama yang dipanggil adalah kiper anyar Persib Jendri Pitoy. Setelah posisi kiper, giliran pemain belakang yang dikenalkan. Bek asal Kamerun Abanda Herman menjadi pemain belakang pertama yang keluar dari balik layar. Lalu Miljan Radovic menjadi pemain tengah pertama yang dipanggil oleh pembawa acara. Penyerang muda Sigit Hermawan menjadi pemain yang terakhir dikenalkan.
Dalam acara kemarin, ada dua pemain yang tak datang, yakni M Nasuha dan Jajang Sukmara. Nasuha cedera, sedangkan Jajang absen karena masih memperkuat Timnas U-23.
Mengenai acara peluncuran yang sederhana, Glenn mengatakan ini karena waktu yang mepet. "Jadwal liga baru disusun. Beberapa hari lalu kami baru tahu akan bertanding Sabtu ini," ucapnya.
Hal yang sama dikatakan Umuh. Sang manajer mengatakan, acara ini bisa dibilang darurat karena PSSI tidak jelas memberikan jadwal. "Rencananya launching akan di (Stadion) Siliwangi. Cuma waktu mendesak," katanya.
Meski sederhana dan terkesan diam-diam, antusiasme bobotoh menyaksikan peluncuran cukup tinggi. Sedikitnya seribu bobotoh tumplek di Jalan Sulanjana. Mereka menunggu acara peluncuran sejak siang hari.
Ketika para penggawa Persib diperkenalkan di depan mereka, bobotoh langsung bersorak dan menyalakan mercon. Teriakan "juara, juara" dan nyanyian untuk mendukung tim kesayangan mereka pun langsung terdengar. Banyaknya bobotoh yang datang membuat Jalan Sulanjana tersendat. Saat acara berlangsung, Jalan Sulanjana bahkan sempat ditutup.
Melihat antusiasme bobotoh di setiap acara yang melibatkan Persib, pemain anyar Persib Muhammad Ilham pun terkesima. Karenanya ia akan mengeluarkan segenap kemampuannya untuk Maung Bandung. "Saya akan berusaha memberikan yang terbaik," tutur pemain bernomor punggung 17 ini. (sumber: tribunjabar/tis)
Vini, Ooopini...
GURU honorer SD Regol 13, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, itu bisa bernapas lega. Status penahanannya diubah menjadi tahanan kota dan ia pun bisa pulang ke rumah bertemu anak-anak dan suami yang dicintainya.
Itulah Vini Noviyanti (33), sang guru honorer yang belakangan ini menjadi buah bibir masyarakat, terutama di Garut. Wajahnya yang cantik terus tersorot kamera dan terpampang di surat kabar.

Ia harus duduk di kursi hijau menghadapi dakwaan penganiayaan, gara-gara melempar segenggam pasir ke muka seorang pengusaha di Garut, H Ee Syamsudin. Tak jelas benar apa masalah sesungguhnya antara Vini dan suaminya dengan H Ee. Apakah soal kredit macet, menunggak utang, tagihan tak terbayar. Yang pasti, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia pendidikan secara langsung.
Ini bukan kisah guru terpencil, atau guru dizalimi karena honornya disunat. Sama sekali bukan. Kasus ini murni persoalan pribadi Vini dan keluarga dengan pengusaha. Hanya saja, itu berimbas pada dunia pendidikan, ketika sang anak didik tak lagi mendapati ajaran dari Vini.
Nah, yang membuat kasus ini memuncratkan simpati pada Vini adalah ketika ia ditahan dan tidak bisa lagi mengajar. Murid-murid begitu kehilangan ibu guru kesayangan di SDN Regol 13 itu. Tak ada lagi yang mengajar bahasa Inggris di sekolah itu.
Walaupun suami Vini yang juga guru bahasa Inggris menggantikan sementara posisi Vini, tetap saja berbeda bagi murid-murid.
Apalagi ketika para murid ini menggelar doa bersama di halaman sekolah, mereka pun menangis. Tangisan ini tak hanya bergema sebatas halaman SDN Regol 13, tapi menyeruak ke langit-langit kesadaran massa, menembus tirai informasi dan akhirnya menyebar luas, hingga memunculkan simpati bagi Vini.
Protes pun berdatangan, termasuk dari kalangan guru di Bandung, soal penahanan Vini
ini. Oh, bola salju simpati ini menggelinding kian besar. Dukungan untuk Vini mengalir deras dari berbagai kalangan. Opini yang berkembang di masyarakat sudah kadung melihat Vini sebagai "hero".
Televisi pun kembali menyiarkan saat Vini kembali ke sekolah dan bertemu dengan anak-anak didiknya. Tak ada satupun yang menyorot bagaimana kondisi dan perasaan keluarga sang pengusaha, H Ee Syamsudin.
Patut diingat, proses hukum kasus ini masih berlangsung hingga nanti vonis diketuk. Dan Vini boleh jadi belum tentu benar di mata hakim. Atau sebaliknya, H Ee Syamsudin pun belum tentu benar pula di depan pengadilan.
Kita tentu berharap, sang pengadil bisa memutuskan kasus ini seadil-adilnya, tanpa peduli tekanan massa, tak perlu khawatirkan opini yang berkembang luas. Hukum harus berlaku adil di atas segalanya.
Dan melihat besaran kasus ini, sesungguhnya kasus menebar pasir itu tak seharusnya masuk ke ranah hukum, apalagi sampai ke pengadilan. Kalau saja kedua belah pihak mengedepankan silaturahmi, segalanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tak perlu gengsi untuk merendah, tak perlu retak harga diri untuk berlapang dada. Silaturahmi itu lebih indah daripada harus bertikai. (*)
SOROT, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar Edisi Rabu 12 Oktober 2011
Itulah Vini Noviyanti (33), sang guru honorer yang belakangan ini menjadi buah bibir masyarakat, terutama di Garut. Wajahnya yang cantik terus tersorot kamera dan terpampang di surat kabar.

Ia harus duduk di kursi hijau menghadapi dakwaan penganiayaan, gara-gara melempar segenggam pasir ke muka seorang pengusaha di Garut, H Ee Syamsudin. Tak jelas benar apa masalah sesungguhnya antara Vini dan suaminya dengan H Ee. Apakah soal kredit macet, menunggak utang, tagihan tak terbayar. Yang pasti, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia pendidikan secara langsung.
Ini bukan kisah guru terpencil, atau guru dizalimi karena honornya disunat. Sama sekali bukan. Kasus ini murni persoalan pribadi Vini dan keluarga dengan pengusaha. Hanya saja, itu berimbas pada dunia pendidikan, ketika sang anak didik tak lagi mendapati ajaran dari Vini.
Nah, yang membuat kasus ini memuncratkan simpati pada Vini adalah ketika ia ditahan dan tidak bisa lagi mengajar. Murid-murid begitu kehilangan ibu guru kesayangan di SDN Regol 13 itu. Tak ada lagi yang mengajar bahasa Inggris di sekolah itu.
Walaupun suami Vini yang juga guru bahasa Inggris menggantikan sementara posisi Vini, tetap saja berbeda bagi murid-murid.
Apalagi ketika para murid ini menggelar doa bersama di halaman sekolah, mereka pun menangis. Tangisan ini tak hanya bergema sebatas halaman SDN Regol 13, tapi menyeruak ke langit-langit kesadaran massa, menembus tirai informasi dan akhirnya menyebar luas, hingga memunculkan simpati bagi Vini.
Protes pun berdatangan, termasuk dari kalangan guru di Bandung, soal penahanan Vini
ini. Oh, bola salju simpati ini menggelinding kian besar. Dukungan untuk Vini mengalir deras dari berbagai kalangan. Opini yang berkembang di masyarakat sudah kadung melihat Vini sebagai "hero".
Televisi pun kembali menyiarkan saat Vini kembali ke sekolah dan bertemu dengan anak-anak didiknya. Tak ada satupun yang menyorot bagaimana kondisi dan perasaan keluarga sang pengusaha, H Ee Syamsudin.
Patut diingat, proses hukum kasus ini masih berlangsung hingga nanti vonis diketuk. Dan Vini boleh jadi belum tentu benar di mata hakim. Atau sebaliknya, H Ee Syamsudin pun belum tentu benar pula di depan pengadilan.
Kita tentu berharap, sang pengadil bisa memutuskan kasus ini seadil-adilnya, tanpa peduli tekanan massa, tak perlu khawatirkan opini yang berkembang luas. Hukum harus berlaku adil di atas segalanya.
Dan melihat besaran kasus ini, sesungguhnya kasus menebar pasir itu tak seharusnya masuk ke ranah hukum, apalagi sampai ke pengadilan. Kalau saja kedua belah pihak mengedepankan silaturahmi, segalanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tak perlu gengsi untuk merendah, tak perlu retak harga diri untuk berlapang dada. Silaturahmi itu lebih indah daripada harus bertikai. (*)
SOROT, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar Edisi Rabu 12 Oktober 2011
Nasib Kikim, Nasib TKI
HAMPIR setahun lamanya, jenazah Kikim Komalasari terkatung-katung di Arab Saudi. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Cipeuyeum, Kabupaten Cianjur itu tewas mengenaskan. Ia dibunuh majikannya secara terencana dan mayatnya dibuang di tong sampah.
Kamis (29/9), jasad Kikim akhirnya bersatu dengan tanah merah Cianjur. Terbujur dalam peti mati yang tidak bisa dibuka pihak keluarga, Kikim membawa serta mimpi-mimpi yang pernah dirajut saat berangkat ke Arab Saudi.
Namun kasus Kikim ini belum selesai secara hukum. Suami istri penganiaya Kikim kabarnya masih dalam tahanan pemerintah provinsi Abha di Arab Saudi. Keduanya tengah menunggu sidang pertama. Ancaman hukuman untuk mereka adalah hukuman mati.
Nah, tugas pemerintah Indonesia lah untuk mengawal kasus Kikim hingga tuntas. Jangan sampai kasus ini tidak lagi dipantau setelah jenazah Kikim dipulangkan.
Terlebih, banyak cerita dalam hukum di Arab Saudi. Pemerintah Arab sangat keras menjatuhkan hukuman qishas terhadap warga negara lain, tetapi tidak untuk kasus pembunuhan yang dilakukan oleh orang Arab sendiri.
Contohnya saja kasus yang menimpa Darsem binti Tawar. Darsem bisa lolos dari hukum pancung asalkan mau membayar diyat sebesar 2 juta riyal (Rp 4,6 miliar), sementara untuk kasus pembunuhan disertai penyiksaan yang dilakukan oleh warga Arab Saudi selalu berujung damai dan cukup membayar diyat tidak lebih dari 185.000 riyal (Rp 450 juta).
Bahkan untuk kasus Kikim, ada upaya dari pemerintah Arab Saudi untuk melindungi majikan Kikim dari hukuman pancung. Proses pemulangan jenazah Kikim yang terlambat berbulan-bulan, karena prosesnya dibuat lambat. Autopsi sangat lama, paspor Kikim pun berupaya dihilangkan dan diganti oleh dokumen lain.
Apa yang menimpa Kikim harus menjadi pelajaran bagi TKI lain dan juga pemerintah. Nasib TKI selalu berada di ujung tanduk. Mereka hanya jadi sapi perahan dan berada di posisi yang lemah. Bantuan dan dukungan justru hanya diperoleh saat mereka sudah menjad korban.
Posisi tawar pemerintah Indonesia pun selalu lemah jika berhadapan dengan kasus hukum di negeri pendulang minyak itu. Itu bisa dilihat dari berbagai kasus yang menimpa TKI, mulai penganiayaan, pemerkosaan, hingga pembunuhan, selalu penyelesaiannya tidak menguntungkan warga Indonesia.
Walau kini masih banyak TKI yang terjerat hukum dan menanti hukuman di Arab Saudi, kita berharap tidak ada lagi Ruyati dan Kikim baru. Satgas TKI yang dibentuk pemerintah harus berjuang semaksimal mungkin untuk membebaskan para TKI itu, setidaknya meringankan hukuman yang bakal dijatuhkan.
Dan yang paling penting sesungguhnya adalah pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya, sehingga tak perlu menuai riyal dan dolar di negeri orang. Cukup mengais rupiah di negeri sendiri dengan jaminan keselamatan dan kesehatan yang memadai, serta kesejahteraan seperti yang diidam-idamkan para TKI itu. (*)
SOROT, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar Edisi 30 September 2011
Kamis (29/9), jasad Kikim akhirnya bersatu dengan tanah merah Cianjur. Terbujur dalam peti mati yang tidak bisa dibuka pihak keluarga, Kikim membawa serta mimpi-mimpi yang pernah dirajut saat berangkat ke Arab Saudi.
Namun kasus Kikim ini belum selesai secara hukum. Suami istri penganiaya Kikim kabarnya masih dalam tahanan pemerintah provinsi Abha di Arab Saudi. Keduanya tengah menunggu sidang pertama. Ancaman hukuman untuk mereka adalah hukuman mati.
Nah, tugas pemerintah Indonesia lah untuk mengawal kasus Kikim hingga tuntas. Jangan sampai kasus ini tidak lagi dipantau setelah jenazah Kikim dipulangkan.
Terlebih, banyak cerita dalam hukum di Arab Saudi. Pemerintah Arab sangat keras menjatuhkan hukuman qishas terhadap warga negara lain, tetapi tidak untuk kasus pembunuhan yang dilakukan oleh orang Arab sendiri.
Contohnya saja kasus yang menimpa Darsem binti Tawar. Darsem bisa lolos dari hukum pancung asalkan mau membayar diyat sebesar 2 juta riyal (Rp 4,6 miliar), sementara untuk kasus pembunuhan disertai penyiksaan yang dilakukan oleh warga Arab Saudi selalu berujung damai dan cukup membayar diyat tidak lebih dari 185.000 riyal (Rp 450 juta).
Bahkan untuk kasus Kikim, ada upaya dari pemerintah Arab Saudi untuk melindungi majikan Kikim dari hukuman pancung. Proses pemulangan jenazah Kikim yang terlambat berbulan-bulan, karena prosesnya dibuat lambat. Autopsi sangat lama, paspor Kikim pun berupaya dihilangkan dan diganti oleh dokumen lain.
Apa yang menimpa Kikim harus menjadi pelajaran bagi TKI lain dan juga pemerintah. Nasib TKI selalu berada di ujung tanduk. Mereka hanya jadi sapi perahan dan berada di posisi yang lemah. Bantuan dan dukungan justru hanya diperoleh saat mereka sudah menjad korban.
Posisi tawar pemerintah Indonesia pun selalu lemah jika berhadapan dengan kasus hukum di negeri pendulang minyak itu. Itu bisa dilihat dari berbagai kasus yang menimpa TKI, mulai penganiayaan, pemerkosaan, hingga pembunuhan, selalu penyelesaiannya tidak menguntungkan warga Indonesia.
Walau kini masih banyak TKI yang terjerat hukum dan menanti hukuman di Arab Saudi, kita berharap tidak ada lagi Ruyati dan Kikim baru. Satgas TKI yang dibentuk pemerintah harus berjuang semaksimal mungkin untuk membebaskan para TKI itu, setidaknya meringankan hukuman yang bakal dijatuhkan.
Dan yang paling penting sesungguhnya adalah pemerintah harus menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya, sehingga tak perlu menuai riyal dan dolar di negeri orang. Cukup mengais rupiah di negeri sendiri dengan jaminan keselamatan dan kesehatan yang memadai, serta kesejahteraan seperti yang diidam-idamkan para TKI itu. (*)
SOROT, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar Edisi 30 September 2011
Babakan Siliwangi Mendunia
LEBAK Gede, begitu dulu nama kawasan di lembah Cikapundung ini. Kenangan tentang Lebak Gede yang hijau permai dan hamparan sawah memang hanya tertinggal dalam cerita orangtua ataupun tulisan seputar Bandung Tempo Doeloe. Yang tersisa hanyalah sacangkewok hutan kecil. Itulah yang kini orang mengenalnya sebagai Babakan Siliwangi.

Namun hutan kecil Babakan Siliwangi itu pulalah yang bakal mendunia. Jika tak ada aral, pekan depan, hutan seluas 3,8 hektare di tengah perkotaan ini akan diresmikan sebagai hutan kota dunia pertama di Indonesia.
Peresmiannya bakal bersamaan dengan Konferensi Lingkungan Anak dan Pemuda 2011 yang diiktui sekitar 1.000 pemuda dari berbagai negara. Tak cuma itu, petenis cantik Maria Sharapova dan pesepakbola terkenal, Samuel Eto'o, pun dijadwalkan hadir di acara ini.
Sejujurnya kita harus bangga dengan hutan Babakan Siliwangi, yang sering dilihat selintas saja saat melewati Jalan Tamansari atau Jalan Siliwangi itu. Walau kondisinya tidak terpelihara dengan baik, toh mampu membuat United Nations Environment Programme (UNEP) menjatuhkan pilihan sebagai hutan kota dunia dan menggelar kegiatan di tempat ini. Bahkan untuk penilaian Adipura sekalipun, hutan Babakan Siliwangi tak masuk hitungan sebagai hutan kota.
Mereka yang sering berolahraga di lapangan Sabuga, pasti merasakan segar dan sejuknya udara di kawasan ini. Mereka pun pasti sering melihat burung-burung beterbangan dan bersarang di pohon-pohon tinggi Babakan Siliwangi.
Menurut data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar, ada empat belas jenis burung dan tiga jenis primata endemik, serta 48 jenis pohon yang hidup dan tumbuh di Babakan Siliwangi. Sebagai daerah resapan air, mata air di Babakan Siliwangi masih mengalir deras dan jernih. Tak heran, jika air bening itu dikomersialkan menjadi air mineral.
Kepedulian beberapa gelintir orang dan kelompok terhadap kondisi Babakan Siliwangi patut didukung sepenuhnya. Di tangan anak-anak muda Bandung yang kreatif, Babakan Siliwangi siap disulap menjadi ruang terbuka hijau milik publik.
Namun apakah pengakuan dunia terhadap hutan Babakan Siliwangi akan mengurungkan rencana pembangunan restoran di Babakan Siliwangi yang sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu?. Ternyata tidak. Pengembang PT Esa Gemilang Indah (EGI) mengaku tetap akan membangun restoran di Babakan Siliwangi. Pihaknya sudah menandatangani kerja sama dengan Pemkot Bandung sejak 2007 lalu. Hanya karena masalah Izin Mendirikan Bangunan yang tersendat, restoran itu belum bisa dibangung. Wali Kota Bandung, Dada Rosada, pun sepakat, restoran tetap bisa dibangun di Babakan Siliwangi, asal di lokasi bekas restoran yang terbakar.
Kita hanya berharap, hutan mungil di lembah Cikapundung ini tetap lestari. Masyarakat Bandung lah yang harus menjaga Babakan Siliwangi agar tetap teduh dan bertahan sebagai hutan kota dunia yang bebas dari pembangunan apapun. Jangan sampai hutan mungil ini tinggal cerita bagi generasi masa mendatang. (*)
Sorot, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi 20 September 2011

Namun hutan kecil Babakan Siliwangi itu pulalah yang bakal mendunia. Jika tak ada aral, pekan depan, hutan seluas 3,8 hektare di tengah perkotaan ini akan diresmikan sebagai hutan kota dunia pertama di Indonesia.
Peresmiannya bakal bersamaan dengan Konferensi Lingkungan Anak dan Pemuda 2011 yang diiktui sekitar 1.000 pemuda dari berbagai negara. Tak cuma itu, petenis cantik Maria Sharapova dan pesepakbola terkenal, Samuel Eto'o, pun dijadwalkan hadir di acara ini.
Sejujurnya kita harus bangga dengan hutan Babakan Siliwangi, yang sering dilihat selintas saja saat melewati Jalan Tamansari atau Jalan Siliwangi itu. Walau kondisinya tidak terpelihara dengan baik, toh mampu membuat United Nations Environment Programme (UNEP) menjatuhkan pilihan sebagai hutan kota dunia dan menggelar kegiatan di tempat ini. Bahkan untuk penilaian Adipura sekalipun, hutan Babakan Siliwangi tak masuk hitungan sebagai hutan kota.
Mereka yang sering berolahraga di lapangan Sabuga, pasti merasakan segar dan sejuknya udara di kawasan ini. Mereka pun pasti sering melihat burung-burung beterbangan dan bersarang di pohon-pohon tinggi Babakan Siliwangi.
Menurut data Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar, ada empat belas jenis burung dan tiga jenis primata endemik, serta 48 jenis pohon yang hidup dan tumbuh di Babakan Siliwangi. Sebagai daerah resapan air, mata air di Babakan Siliwangi masih mengalir deras dan jernih. Tak heran, jika air bening itu dikomersialkan menjadi air mineral.
Kepedulian beberapa gelintir orang dan kelompok terhadap kondisi Babakan Siliwangi patut didukung sepenuhnya. Di tangan anak-anak muda Bandung yang kreatif, Babakan Siliwangi siap disulap menjadi ruang terbuka hijau milik publik.
Namun apakah pengakuan dunia terhadap hutan Babakan Siliwangi akan mengurungkan rencana pembangunan restoran di Babakan Siliwangi yang sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu?. Ternyata tidak. Pengembang PT Esa Gemilang Indah (EGI) mengaku tetap akan membangun restoran di Babakan Siliwangi. Pihaknya sudah menandatangani kerja sama dengan Pemkot Bandung sejak 2007 lalu. Hanya karena masalah Izin Mendirikan Bangunan yang tersendat, restoran itu belum bisa dibangung. Wali Kota Bandung, Dada Rosada, pun sepakat, restoran tetap bisa dibangun di Babakan Siliwangi, asal di lokasi bekas restoran yang terbakar.
Kita hanya berharap, hutan mungil di lembah Cikapundung ini tetap lestari. Masyarakat Bandung lah yang harus menjaga Babakan Siliwangi agar tetap teduh dan bertahan sebagai hutan kota dunia yang bebas dari pembangunan apapun. Jangan sampai hutan mungil ini tinggal cerita bagi generasi masa mendatang. (*)
Sorot, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi 20 September 2011
Monday, June 20, 2011
Suara Melorot
MELEDAKNYA pemberitaan soal M Nazaruddin di media massa ternyata membawa pengaruh negatif bagi Partai Demokrat. Gara-gara Nazaruddin, perolehan suara partai pemenang pemilu itu diprediksi bakal melorot.
Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada Juni 2011 menunjukkan ketidaktegasan Partai Demokrat mengawal kasus Nazaruddin membuat publik tidak percaya dengan partai tersebut.
Di sisi lain, tingkat kepercayaan publik terhadap Partai Golkar dan PDI Perjuangan naik, bahkan melewati Partai Demokrat. Tentu ini semacam bola muntah dari publik yang tidak memilih Demokrat, lalu berpindah ke partai lain. Dalam hal ini, Golkar dan PDI Perjuangan menangguk keuntungan dari munculnya kasus-kasus politik dan hukum yang melibatkan kader Demokrat.
Tahun 2014 memang masih lama. Tapi hasil survei semacam ini harus menjadi warning bagi partai-partai, terutama Partai Demokrat. Jika tidak ingin terjerembap, bahkan terjun bebas, sudah seharusnya perbaikan dilakukan di sana-sini, menambal kebocoran-kebocoran yang muncul belakangan ini.
Terlebih lagi, SBY sudah menyatakan dan memastikan bahwa istri dan anak- anaknya tidak akan maju dalam pemilihan presiden mendatang. Memang sebagai patron di partai yang didirikannya itu, SBY pasti tetap punya pengaruh dan akan total berkampanye untuk Demokrat. Tapi boleh jadi, sambutan di level grass root sudah berbeda dengan saat SBY masih menjabat presiden.
Harus diakui, pencitraan itu memang penting bagi partai politik. Dan itu tercermin dari pribadi-pribadi para kadernya. Lewat sosok SBY, citra Partai Demokrat menjulang tinggi. SBY sudah identik dengan Partai Demokrat. Sehingga sering muncul hal membingungkan terkait sikap SBY, apakah SBY berbicara sebagai kepala negara atau sosok pembina Partai Demokrat? Contohnya saja ketika curhat soal SMS fitnah dan isu negatif lainnya, beberapa waktu lalu.
Sedikit saja muncul kasus yang melibatkan kader partai, padahal itu kasus pribadi, tetap saja bakal merembet ke partai. Karena publik kesulitan untuk memisahkan pribadi si A sebagai kader partai atau sebagai warga biasa.
Tak mengherankan, jika kasus Nazaruddin yang berlarut-larut dan terus menjadi makanan empuk media, memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan citra Partai Demokrat. Dan sesungguhnya, bukan hanya di tingkat nasional saja, tapi juga di tingkat lokal, pun kasus-kasus semacam itu bisa mempengaruhi ketertarikan publik terhadap partai.
Misalkan saja, seorang gubernur yang juga kader sebuah partai mengeluarkan kebijakan yang tidak propublik, sangat mungkin akan mendapat tanggapan negatif dari publik dan publik pun menganggap itu sebagai sikap partai. Itulah pisau bermata dua dari sebuah pencitraan.
Karena itu berhati-hatilah, para politikus dan para pemimpin daerah yang berasal dari partai. Apapun tindakan, perilaku, dan kebijakan yang dilakukan, pasti akan memiliki pengaruh dan respons dari masyarakat. Soal positif atau negatif respon itu, tergantung dari apa yang dilakukan.
Kalau ingin menuai kemenangan di kemudian hari, sejak sekarang jaga sikap dan perbanyak bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Niscaya, jika maju lagi pada pemilu berikutnya, rakyat pasti memilih orang yang bekerja, bukan yang banyak bicara, apalagi banyak kasus. (*)
Sorot dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Juni 2011
Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pada Juni 2011 menunjukkan ketidaktegasan Partai Demokrat mengawal kasus Nazaruddin membuat publik tidak percaya dengan partai tersebut.
Di sisi lain, tingkat kepercayaan publik terhadap Partai Golkar dan PDI Perjuangan naik, bahkan melewati Partai Demokrat. Tentu ini semacam bola muntah dari publik yang tidak memilih Demokrat, lalu berpindah ke partai lain. Dalam hal ini, Golkar dan PDI Perjuangan menangguk keuntungan dari munculnya kasus-kasus politik dan hukum yang melibatkan kader Demokrat.
Tahun 2014 memang masih lama. Tapi hasil survei semacam ini harus menjadi warning bagi partai-partai, terutama Partai Demokrat. Jika tidak ingin terjerembap, bahkan terjun bebas, sudah seharusnya perbaikan dilakukan di sana-sini, menambal kebocoran-kebocoran yang muncul belakangan ini.
Terlebih lagi, SBY sudah menyatakan dan memastikan bahwa istri dan anak- anaknya tidak akan maju dalam pemilihan presiden mendatang. Memang sebagai patron di partai yang didirikannya itu, SBY pasti tetap punya pengaruh dan akan total berkampanye untuk Demokrat. Tapi boleh jadi, sambutan di level grass root sudah berbeda dengan saat SBY masih menjabat presiden.
Harus diakui, pencitraan itu memang penting bagi partai politik. Dan itu tercermin dari pribadi-pribadi para kadernya. Lewat sosok SBY, citra Partai Demokrat menjulang tinggi. SBY sudah identik dengan Partai Demokrat. Sehingga sering muncul hal membingungkan terkait sikap SBY, apakah SBY berbicara sebagai kepala negara atau sosok pembina Partai Demokrat? Contohnya saja ketika curhat soal SMS fitnah dan isu negatif lainnya, beberapa waktu lalu.
Sedikit saja muncul kasus yang melibatkan kader partai, padahal itu kasus pribadi, tetap saja bakal merembet ke partai. Karena publik kesulitan untuk memisahkan pribadi si A sebagai kader partai atau sebagai warga biasa.
Tak mengherankan, jika kasus Nazaruddin yang berlarut-larut dan terus menjadi makanan empuk media, memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan citra Partai Demokrat. Dan sesungguhnya, bukan hanya di tingkat nasional saja, tapi juga di tingkat lokal, pun kasus-kasus semacam itu bisa mempengaruhi ketertarikan publik terhadap partai.
Misalkan saja, seorang gubernur yang juga kader sebuah partai mengeluarkan kebijakan yang tidak propublik, sangat mungkin akan mendapat tanggapan negatif dari publik dan publik pun menganggap itu sebagai sikap partai. Itulah pisau bermata dua dari sebuah pencitraan.
Karena itu berhati-hatilah, para politikus dan para pemimpin daerah yang berasal dari partai. Apapun tindakan, perilaku, dan kebijakan yang dilakukan, pasti akan memiliki pengaruh dan respons dari masyarakat. Soal positif atau negatif respon itu, tergantung dari apa yang dilakukan.
Kalau ingin menuai kemenangan di kemudian hari, sejak sekarang jaga sikap dan perbanyak bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Niscaya, jika maju lagi pada pemilu berikutnya, rakyat pasti memilih orang yang bekerja, bukan yang banyak bicara, apalagi banyak kasus. (*)
Sorot dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Juni 2011
Hakim Suap
DUH, mau bagaimana lagi negeri ini jika suap dan korupsi sudah menjadi menjadi tontonan, tuntunan, dan tuntutan sehari-hari. Sepertinya tak ada lagi ruang hampa korupsi dan suap. Tak lagi bisa kita temukan sudut-sudut kehidupan yang bebas dari perilaku curang, rakus, dan tamak.
Tak terkecuali pada diri seorang hakim. Di tangannya, timbangan yang dipegang Dewi Themis atau Justitia dalam mitologi Roma akan condong ke sebelah kiri, ke kanan, atau diam di tengah.
Tapi begitulah, kemilau dunia sering kali membuat lupa nurani dan rasa keadilan seorang hakim. Tidak heran jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa kali menangkap sejumlah hakim yang ditengarai terlibat suap untuk memenangkan pihak tertentu.
Itu pula yang menimpa Hakim Syarifuddin, hakim kepailitan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Syarifuddin ditangkap di rumahnya dengan dugaan menerima suap dari pihak yang kasusnya sedang ditanganinya.
Memang, tak ada ruang kebal suap dan korupsi bagi siapapun di negeri ini. Semua celah sudah dimasuki. Menyelundup dengan lincah walau di ruang sempit, suap dan korupsi terus merajalela,
Tak peduli hakim, jaksa, polisi, politikus, wakil rakyat, menteri, istana presiden, tukang parkir, petugas jembatan timbangan, pedagang, semua telah disusupi siluman suap. Kelasnya pun beragam, semua kelas tersedia, mulai kelas anak teri, teri, bapak teri, hingga paus jombo dan mbahnya paus jumbo.
Perhatikan saja apa yang ditayangkan televisi atau diwartakan media cetak. Suap dan korupsi selalu berada di garda terdepan tayangan berita. Entah tokoh sosialita yang kabur ke luar negeri karena dugaan kasus suap, politikus yang sembunyi di negeri jiran juga karena dugaan suap, atau mantan kepala penjara yang disidang karena diduga menerima suap dari raja suap, Gayus Tambunan.
Jadi apa lagi yang bisa diharapkan dari negeri ini? Tidakkah kita menyadari apa yang dipertontonkan hari ini berpotensi menjadi sebuah tindakan dari generasi muda di masa depan. Peristiwa suap dan korupsi karena muncul setiap hari lama-lama mengendap dalam memori bawah sadar, sehingga menjadi sebuah tindakan yang lumrah. Ketika di masa depan generasi muda ini bertindak seperti itu, tidak akan muncul rasa bersalah, karena hal itu sudah lumrah. Orang-orang dulu pun berlaku seperti itu.
Inilah, ketika moral tak lagi jadi panglima, maka tak ada pilihan lain, selain kehancuran. Ketika iman tak lagi jadi pegangan, apapun akan diterjang demi merehttp://www.blogger.com/img/blank.gifngkuh harta dunia berlimpah.
Benar apa yang diungkapkan aktivis Indonesia Corruption Watch, bahwa pangkal dari suap dan korupsi saat ini adalah ketamakan, kerakusan, dan keserakahan terhadap dunia. Remunerasi gaji bagi hakim ataupun pegawai negeri lainnya tak mempan dan tak cukup menghentikan gelombang suap dan korupsi. Para pelaku tidak lagi mendasarkan diri pada kebutuhan, tapi mereka serakah terhadap dunia yang sudah mereka miliki.
Cinta dunia, itulah pangkal segala malapetaka. Kepada mereka yang masih muda dan berpikiran bersih, tak hanya menanamkan semangat antikorupsi antisuap pada hati dan pikiran terdalam, tapi wujudkan dalam tindakan sehari-hari demi menyelamatkan generasi mendatang dari cengkeraman siluman-siluman suap dan korupsi. (*)
Sorot, dimuat di Harian Tribun Jabar edisi 4 Juni 2011
Tak terkecuali pada diri seorang hakim. Di tangannya, timbangan yang dipegang Dewi Themis atau Justitia dalam mitologi Roma akan condong ke sebelah kiri, ke kanan, atau diam di tengah.
Tapi begitulah, kemilau dunia sering kali membuat lupa nurani dan rasa keadilan seorang hakim. Tidak heran jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) beberapa kali menangkap sejumlah hakim yang ditengarai terlibat suap untuk memenangkan pihak tertentu.
Itu pula yang menimpa Hakim Syarifuddin, hakim kepailitan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Syarifuddin ditangkap di rumahnya dengan dugaan menerima suap dari pihak yang kasusnya sedang ditanganinya.
Memang, tak ada ruang kebal suap dan korupsi bagi siapapun di negeri ini. Semua celah sudah dimasuki. Menyelundup dengan lincah walau di ruang sempit, suap dan korupsi terus merajalela,
Tak peduli hakim, jaksa, polisi, politikus, wakil rakyat, menteri, istana presiden, tukang parkir, petugas jembatan timbangan, pedagang, semua telah disusupi siluman suap. Kelasnya pun beragam, semua kelas tersedia, mulai kelas anak teri, teri, bapak teri, hingga paus jombo dan mbahnya paus jumbo.
Perhatikan saja apa yang ditayangkan televisi atau diwartakan media cetak. Suap dan korupsi selalu berada di garda terdepan tayangan berita. Entah tokoh sosialita yang kabur ke luar negeri karena dugaan kasus suap, politikus yang sembunyi di negeri jiran juga karena dugaan suap, atau mantan kepala penjara yang disidang karena diduga menerima suap dari raja suap, Gayus Tambunan.
Jadi apa lagi yang bisa diharapkan dari negeri ini? Tidakkah kita menyadari apa yang dipertontonkan hari ini berpotensi menjadi sebuah tindakan dari generasi muda di masa depan. Peristiwa suap dan korupsi karena muncul setiap hari lama-lama mengendap dalam memori bawah sadar, sehingga menjadi sebuah tindakan yang lumrah. Ketika di masa depan generasi muda ini bertindak seperti itu, tidak akan muncul rasa bersalah, karena hal itu sudah lumrah. Orang-orang dulu pun berlaku seperti itu.
Inilah, ketika moral tak lagi jadi panglima, maka tak ada pilihan lain, selain kehancuran. Ketika iman tak lagi jadi pegangan, apapun akan diterjang demi merehttp://www.blogger.com/img/blank.gifngkuh harta dunia berlimpah.
Benar apa yang diungkapkan aktivis Indonesia Corruption Watch, bahwa pangkal dari suap dan korupsi saat ini adalah ketamakan, kerakusan, dan keserakahan terhadap dunia. Remunerasi gaji bagi hakim ataupun pegawai negeri lainnya tak mempan dan tak cukup menghentikan gelombang suap dan korupsi. Para pelaku tidak lagi mendasarkan diri pada kebutuhan, tapi mereka serakah terhadap dunia yang sudah mereka miliki.
Cinta dunia, itulah pangkal segala malapetaka. Kepada mereka yang masih muda dan berpikiran bersih, tak hanya menanamkan semangat antikorupsi antisuap pada hati dan pikiran terdalam, tapi wujudkan dalam tindakan sehari-hari demi menyelamatkan generasi mendatang dari cengkeraman siluman-siluman suap dan korupsi. (*)
Sorot, dimuat di Harian Tribun Jabar edisi 4 Juni 2011
Thursday, May 19, 2011
Intelijen
HAMPIR sepuluh tahun, Amerika Serikat memburu tokoh Tandzim Alqaidah, Usamah bin Ladin (sering ditulis sebagai Osama bin Laden). Perburuan dimulai setelah gedung World Trade Center (WTC) di New York ambruk diserang kelompok teroris. Telunjuk George W Bush, presiden AS kala itu, langsung menunjuk Usamah bin Ladin dan Alqaidah berada di balik teror itu.
Maka menyebarlah agen-agen andalan Central Intelligence Agency (CIA) ke pelosok-pelosok negeri kaum mullah, ke negeri Saddam Husein, ke gurun-gurun tandus Pakistan, untuk memburu Usamah yang jiwanya dihargai 25 miliar dolar AS.
Intel-intel CIA yang dibekali segunung peralatan tercanggih untuk mendeteksi keberadaan Usamah. Setiap titik, sekecil apapun, informasi, mereka selidiki dan telusuri.
Pengakuan dari sejumlah anggota Alqaidah yang tertangkap semakin mendekatkan jarak para intel ini dengan lokasi persembunyian Usamah bin Ladin. Dari jejak kurir-kurir kepercayaan Usamah lah akhirnya terungkap jelas bahwa tokoh nomor wahid Alqaidah itu ternyata tak berada di gua-gua dan gurun tandus di Afganistan. CIA menyakini Usamah bersembunyi di sebuah rumah mewah, mansion, di kawasan permukiman pensiunan tentara di Abbottada, sekitar 150 km dari ibukota Pakistan, Islamabad. Rumah berlantai tiga itu pun jaraknya hanya ratusan meter dari sebuah akademi militer Pakistan.
Begitu status informasi intelijen itu sudah masuk super valid, disusunlah strategi untuk menyerang kediaman Usamah. Urusan serang menyerang ini tak melibatkan secara langsung CIA. Tapi sebuah tim khusus dari Navy SEALs, pasukan khusus antiteror Angkatan Laut AS, yang bergerak di depan. Konon, setelah terlibat baku tembak, hanya dalam tempo empat puluh menit, pasukan kecil berjumlah 25 orang itu berhasil mengakhiri perburuan panjang terhadap Usamah bin Ladin.
Dari perburuan panjang itu, kita mengetahui, bahwa tanpa peran intelijen yang tak kenal lelah mengumpulkan informasi, mustahil Barrack Obama menepuk dada bisa menewaskan Usamah bin Ladin. Walau harus mengeluarkan jutaan dolar untuk proyek memburu musuh nomor wahid, kerja CIA tak sia-sia. Mereka menunjukkan bahwa intelijen yang kuat, solid, dan profesional bisa membuat negara kuat. Ancaman terhadap negara pun bisa diantisipasi sejak dini.
Berbeda dengan kondisi di negara kita. Sejak reformasi bergulir, kekuatan intelijen tak mumpuni lagi. Tak heran, konflik horizontal di tengah masyarakat sering tak bisa dicegah. Aksi terorisme pun merebak. Intelijen seolah tak mampu mengantisipasi kehadiran kelompok-kelompok berpaham radikal di sekitar masyarakat.
Belakangan ini muncul kembali isu lama, Negara Islam Indonesia (NII) KW IX. Dari sisi ideologinya, jelas NII adalah makar. Tapi upaya untuk memberangusnya tak kunjung datang. Alih-alih NII hilang dari NKRI, malah korban di kalangan mahasiswa dan pelajar yang bergabung ke NII, semakin banyak.
Padahal gerakan NII yang katanya bawah tanah itu sudah benar-benar nyata. Sangat banyak mantan-mantan anggota dan petinggi NII yang keluar. Dari mereka lah, informasi soal keberadaan NII itu datang.
Tapi begitulah, informasi itu tak kunjung menjadi sebuah aksi, seperti yang dilakukan Obama. Mengharap keresahan masyarakat soal gerakan NII KW IX berakhir rasanya masih lama. Apalagi kalau harus menunggu Rancangan Undang-Undang Intelijen beres lebih dulu. Tanpa UU itu, intelijen kita tak bisa bergerak leluasa. Tentu semakin lama dan boleh jadi korban NII pun semakin banyak. Seperti aksi intelijen Obama, pukul kepalanya, mudah- mudahan badan dan ekornya tak menggeliat lagi. Begitu pula rupanya untuk mengatasi NII KW IX dan NII lainnya. Semoga. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 5 Mei 2011.
Maka menyebarlah agen-agen andalan Central Intelligence Agency (CIA) ke pelosok-pelosok negeri kaum mullah, ke negeri Saddam Husein, ke gurun-gurun tandus Pakistan, untuk memburu Usamah yang jiwanya dihargai 25 miliar dolar AS.
Intel-intel CIA yang dibekali segunung peralatan tercanggih untuk mendeteksi keberadaan Usamah. Setiap titik, sekecil apapun, informasi, mereka selidiki dan telusuri.
Pengakuan dari sejumlah anggota Alqaidah yang tertangkap semakin mendekatkan jarak para intel ini dengan lokasi persembunyian Usamah bin Ladin. Dari jejak kurir-kurir kepercayaan Usamah lah akhirnya terungkap jelas bahwa tokoh nomor wahid Alqaidah itu ternyata tak berada di gua-gua dan gurun tandus di Afganistan. CIA menyakini Usamah bersembunyi di sebuah rumah mewah, mansion, di kawasan permukiman pensiunan tentara di Abbottada, sekitar 150 km dari ibukota Pakistan, Islamabad. Rumah berlantai tiga itu pun jaraknya hanya ratusan meter dari sebuah akademi militer Pakistan.
Begitu status informasi intelijen itu sudah masuk super valid, disusunlah strategi untuk menyerang kediaman Usamah. Urusan serang menyerang ini tak melibatkan secara langsung CIA. Tapi sebuah tim khusus dari Navy SEALs, pasukan khusus antiteror Angkatan Laut AS, yang bergerak di depan. Konon, setelah terlibat baku tembak, hanya dalam tempo empat puluh menit, pasukan kecil berjumlah 25 orang itu berhasil mengakhiri perburuan panjang terhadap Usamah bin Ladin.
Dari perburuan panjang itu, kita mengetahui, bahwa tanpa peran intelijen yang tak kenal lelah mengumpulkan informasi, mustahil Barrack Obama menepuk dada bisa menewaskan Usamah bin Ladin. Walau harus mengeluarkan jutaan dolar untuk proyek memburu musuh nomor wahid, kerja CIA tak sia-sia. Mereka menunjukkan bahwa intelijen yang kuat, solid, dan profesional bisa membuat negara kuat. Ancaman terhadap negara pun bisa diantisipasi sejak dini.
Berbeda dengan kondisi di negara kita. Sejak reformasi bergulir, kekuatan intelijen tak mumpuni lagi. Tak heran, konflik horizontal di tengah masyarakat sering tak bisa dicegah. Aksi terorisme pun merebak. Intelijen seolah tak mampu mengantisipasi kehadiran kelompok-kelompok berpaham radikal di sekitar masyarakat.
Belakangan ini muncul kembali isu lama, Negara Islam Indonesia (NII) KW IX. Dari sisi ideologinya, jelas NII adalah makar. Tapi upaya untuk memberangusnya tak kunjung datang. Alih-alih NII hilang dari NKRI, malah korban di kalangan mahasiswa dan pelajar yang bergabung ke NII, semakin banyak.
Padahal gerakan NII yang katanya bawah tanah itu sudah benar-benar nyata. Sangat banyak mantan-mantan anggota dan petinggi NII yang keluar. Dari mereka lah, informasi soal keberadaan NII itu datang.
Tapi begitulah, informasi itu tak kunjung menjadi sebuah aksi, seperti yang dilakukan Obama. Mengharap keresahan masyarakat soal gerakan NII KW IX berakhir rasanya masih lama. Apalagi kalau harus menunggu Rancangan Undang-Undang Intelijen beres lebih dulu. Tanpa UU itu, intelijen kita tak bisa bergerak leluasa. Tentu semakin lama dan boleh jadi korban NII pun semakin banyak. Seperti aksi intelijen Obama, pukul kepalanya, mudah- mudahan badan dan ekornya tak menggeliat lagi. Begitu pula rupanya untuk mengatasi NII KW IX dan NII lainnya. Semoga. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 5 Mei 2011.
Ini Bukan Negara Gosip
ISU langsung bertebaran begitu bom paket buku yang dialamatkan kepada Ulil Abshar Abdalla meledak. Ada yang bilang motif berbau politis, seperti diungkapkan beramai-ramai oleh para politikus. Ini terkait dengan posisi Ulil sebagai salah seorang petinggi di Partai Demokrat, yang belakangan rajin mengulas soal kocok ulang kabinet.
Lalu ada pula pejabat pemerintahan yang biasa menangani desk teroris langsung memastikan pelaku adalah teroris, tanpa bisa menyebut teroris jaringan mana yang dimaksud. Ada pula pengamat ekonomi yang menyebut Amerika Serikat berada di balik bom paket buku ini, sambil kebingungan bagaimana caranya supaya Amerika bisa terkait.
Dan Istana pun kegeeran dengan menyebutkan ledakan bom itu bukanlah pengalihan terhadap isu resuffle ataupun heboh Wikileaks yang selama tiga hari terakhir dihembuskan dari negeri Kanguru menghantam pemerintahan SBY.
Semua bertaburan, tanpa mampu memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang pasti, semakin membingungkan masyarakat. Polisi sendiri, sebagai aparat yang berwenang menangani kasus ini, anteng saja. Pejabat kepolisian menyatakan, belum mengetahui siapa pelaku, motivasinya apa. Selama fakta belum di lapangan belum memadat dan mengerucut pada pelaku, polisi bakal terus menyelidiki.
Bom kali ini memang cukup mengagetkan. Di tengah semarak berita bocoran Wikileaks yang menampar muka SBY, serta di antara simpati untuk masyarakat Jepang yang diguncang gempa dan dihantam tsunami, peristiwa ini menyeruak.
Walau skalanya kecil, daya ledak rendah, tapi berhasil membuat masyakarat terteror. Tiga buah paket buku disebar ke tiga tempat, dan hanya satu yang meledak, karena kecerobohan petugas kepolisian.
Inilah bom dengan modus paket buku pertama di Indonesia. Selama ini, modus lama pengeboman, seperti bom ransel, bom mobil, bom sepeda, sudah umum diketahui. Tak ada yang menyangka, buku tebal dengan jilid tebal, rupanya bisa menjadi sebuah kotak penyimpan detonator dan bahan peledak.
Tak pelak, semua orang meningkatkan kewaspadaan. Sehari pascaledakan, Kantor berita 68H dijaga ketat anggota Brimob. Pengelola 68H pun berencana memperbaharui sistem keamanan di lingkungan mereka, agar tidak terjadi peristiwa serupa.
Gedung Badan Narkotika Nasional juga dijaga anggota Densus 88. Setiap orang dan barang yang masuk digeledah secara mendetail supaya tidak kecolongan.
Di sisi ini, tujuan pelaku untuk meneror Ulil dan kawan-kawan serta masyarakat secara umum, berhasil. Ketakutan terhadap teror mulai menghantui.
Tapi ingat, bagaimanapun negara tidak boleh kalah oleh teror. Dan ini bukan negara gosip, yang beredar ke sana ke mari berdasar kecap asal bual pinggir jalan. Ini negara hukum yang harus jelas penegakannya.
Siapa yang menjadi pelaku tidak boleh asal tunjuk hidung. Tidak boleh asal bunyi, berdasar dugaan semata, apalagi gosip. Tapi harus jelas fakta dan bukti-bukti.
Semua pihak harus menunggu hasil penyelidikan kasus oleh aparat kepolisian hingga tuntas. Dan kita berharap, teror semacam ini tak terjadi lagi. Sudah cukup "teror" yang setiap hari membebani pundak warga negeri ini. Kemiskinan, pengangguran, terbelit utang, dikejar debt collector, harga pangan melambung, tiket KA bakal naik, melaju di jalanan yang berlubang, pungli di sepanjang jalan, dan kriminalitas yang tinggi. Kita selesaikan satu per satu, agar mimpi untuk hidup di negeri yang aman dan makmur, tercapai.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 17 Maret 2011
Lalu ada pula pejabat pemerintahan yang biasa menangani desk teroris langsung memastikan pelaku adalah teroris, tanpa bisa menyebut teroris jaringan mana yang dimaksud. Ada pula pengamat ekonomi yang menyebut Amerika Serikat berada di balik bom paket buku ini, sambil kebingungan bagaimana caranya supaya Amerika bisa terkait.
Dan Istana pun kegeeran dengan menyebutkan ledakan bom itu bukanlah pengalihan terhadap isu resuffle ataupun heboh Wikileaks yang selama tiga hari terakhir dihembuskan dari negeri Kanguru menghantam pemerintahan SBY.
Semua bertaburan, tanpa mampu memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang pasti, semakin membingungkan masyarakat. Polisi sendiri, sebagai aparat yang berwenang menangani kasus ini, anteng saja. Pejabat kepolisian menyatakan, belum mengetahui siapa pelaku, motivasinya apa. Selama fakta belum di lapangan belum memadat dan mengerucut pada pelaku, polisi bakal terus menyelidiki.
Bom kali ini memang cukup mengagetkan. Di tengah semarak berita bocoran Wikileaks yang menampar muka SBY, serta di antara simpati untuk masyarakat Jepang yang diguncang gempa dan dihantam tsunami, peristiwa ini menyeruak.
Walau skalanya kecil, daya ledak rendah, tapi berhasil membuat masyakarat terteror. Tiga buah paket buku disebar ke tiga tempat, dan hanya satu yang meledak, karena kecerobohan petugas kepolisian.
Inilah bom dengan modus paket buku pertama di Indonesia. Selama ini, modus lama pengeboman, seperti bom ransel, bom mobil, bom sepeda, sudah umum diketahui. Tak ada yang menyangka, buku tebal dengan jilid tebal, rupanya bisa menjadi sebuah kotak penyimpan detonator dan bahan peledak.
Tak pelak, semua orang meningkatkan kewaspadaan. Sehari pascaledakan, Kantor berita 68H dijaga ketat anggota Brimob. Pengelola 68H pun berencana memperbaharui sistem keamanan di lingkungan mereka, agar tidak terjadi peristiwa serupa.
Gedung Badan Narkotika Nasional juga dijaga anggota Densus 88. Setiap orang dan barang yang masuk digeledah secara mendetail supaya tidak kecolongan.
Di sisi ini, tujuan pelaku untuk meneror Ulil dan kawan-kawan serta masyarakat secara umum, berhasil. Ketakutan terhadap teror mulai menghantui.
Tapi ingat, bagaimanapun negara tidak boleh kalah oleh teror. Dan ini bukan negara gosip, yang beredar ke sana ke mari berdasar kecap asal bual pinggir jalan. Ini negara hukum yang harus jelas penegakannya.
Siapa yang menjadi pelaku tidak boleh asal tunjuk hidung. Tidak boleh asal bunyi, berdasar dugaan semata, apalagi gosip. Tapi harus jelas fakta dan bukti-bukti.
Semua pihak harus menunggu hasil penyelidikan kasus oleh aparat kepolisian hingga tuntas. Dan kita berharap, teror semacam ini tak terjadi lagi. Sudah cukup "teror" yang setiap hari membebani pundak warga negeri ini. Kemiskinan, pengangguran, terbelit utang, dikejar debt collector, harga pangan melambung, tiket KA bakal naik, melaju di jalanan yang berlubang, pungli di sepanjang jalan, dan kriminalitas yang tinggi. Kita selesaikan satu per satu, agar mimpi untuk hidup di negeri yang aman dan makmur, tercapai.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 17 Maret 2011
Cuci Otak
BEBERAPA hari belakangan ini, marak diberitakan tentang sejumlah remaja atau mahasiswa yang menjadi korban cuci otak. Kasus Lian Febriyanti, seorang calon pegawai negeri sipil di Kementerian Perhubungan, menjadi pembuka kasus cuci otak di tahun ini.
Lian ditemukan dalam kondisi linglung di daerah Puncak, Bogor, setelah menghilang beberapa hari. Saat ditemukan, ia mengenakan cadar dan mengaku bernama Maryam. Ia hanya samarsamar mengetahui keluarganya. Masih beruntung keluarganya bisa menemukan Lian, walau harus melakukan terapi psikologis agar ingatan Lian pulih kembali.
Lalu di Malang Jawa Timur, sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Brawijaya juga menjadi korban cuci otak. Mereka menjalani baiat di sebuah tempat di Jakarta. Selain itu, mereka pun dimintai uang sebagai infak yang jumlahnya mencapai jutaan rupiah per orang.
Belum terhitung kasus hilang di daerah lain, termasuk di Bandung. Fitriyanti, seorang guru TK di Kiaracondong, menghilang sejak empat tahun lalu dan kini tak ada kabar beritanya.
Kasus semacam ini bukanlah hal baru. Sama seperti beberapa tahun lalu, kasus seperti ini selalu dikaitkan dengan sebuah kelompok yang mengusung ide negara Islam di Indonesia. Ide yang sebenarnya seusia dengan republik ini, bahkan jauh lebih tua.
Cuci otak sangat mungkin menjadi cara terampuh mereka untuk merekrut anggota. Simak apa yang diungkapkan pengamat terorisme yang juga ahli hipnotis, Mardigu Prasetyanto, menyebutkan modus indoktrinasi, cuci otak, atau istilah lainnya, merupakan jalan singkat untuk mencari anggota sebanyak-banyaknya.
Tapi di tayangan televisi, sejumlah mantan anggota kelompok ini membantah mereka menggunakan cara cuci otak. Mereka berkilah itu bukan cuci otak, tapi indoktrinasi.
Tentu itu alasan yang menggelikan. Berdasar kamus besar bahasa Indonesia, indoktrinasi adalah pemberian ajaran secara mendalam (tanpa kritik) atau penggemblengan mengenai suatu paham atu doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja. Bukankah praktik cuci otak pun sama dan sebangun dengan pengertian indoktrinasi itu? Menanamkan pemahaman atau kebenaran baru tanpa syarat agar korban patuh terhadap apa yang diperintahkan pelaku cuci otak.
Karena bukan kasus baru, kita sangat yakin pemerintah sudah tahu persoalan ini. Entah tangan tak terlihat siapa yang bermain, pemerintah seolah tak bisa berbuat banyak.
Padahal isu yang kelompok ini bawa adalah isu genting, isu makar. Isu yang menghantui republik ini sepanjang sejarahnya. Catatan sejarah menunjukkan, dari Sabang sampai Merauki, isu "merdeka" selalu berkumandang di setiap tempat. Dan sikap tegas pun selalu diperlihatkan pemerintah dengan menumpas habis gerakan-gerakan "merdeka" itu.
Jangan biarkan gerakan kelompok ini semakin membesar. Jangan biarkan semakin banyak anak-anak muda yang hilang tanpa jejak. Jangan biarkan semakin banyak keluarga kehilangan mata jiwa mereka. Jangan biarkan api dalam sekam semakin membara. Sudah saatnya diselesaikan. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 26 April 2011
Lian ditemukan dalam kondisi linglung di daerah Puncak, Bogor, setelah menghilang beberapa hari. Saat ditemukan, ia mengenakan cadar dan mengaku bernama Maryam. Ia hanya samarsamar mengetahui keluarganya. Masih beruntung keluarganya bisa menemukan Lian, walau harus melakukan terapi psikologis agar ingatan Lian pulih kembali.
Lalu di Malang Jawa Timur, sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Brawijaya juga menjadi korban cuci otak. Mereka menjalani baiat di sebuah tempat di Jakarta. Selain itu, mereka pun dimintai uang sebagai infak yang jumlahnya mencapai jutaan rupiah per orang.
Belum terhitung kasus hilang di daerah lain, termasuk di Bandung. Fitriyanti, seorang guru TK di Kiaracondong, menghilang sejak empat tahun lalu dan kini tak ada kabar beritanya.
Kasus semacam ini bukanlah hal baru. Sama seperti beberapa tahun lalu, kasus seperti ini selalu dikaitkan dengan sebuah kelompok yang mengusung ide negara Islam di Indonesia. Ide yang sebenarnya seusia dengan republik ini, bahkan jauh lebih tua.
Cuci otak sangat mungkin menjadi cara terampuh mereka untuk merekrut anggota. Simak apa yang diungkapkan pengamat terorisme yang juga ahli hipnotis, Mardigu Prasetyanto, menyebutkan modus indoktrinasi, cuci otak, atau istilah lainnya, merupakan jalan singkat untuk mencari anggota sebanyak-banyaknya.
Tapi di tayangan televisi, sejumlah mantan anggota kelompok ini membantah mereka menggunakan cara cuci otak. Mereka berkilah itu bukan cuci otak, tapi indoktrinasi.
Tentu itu alasan yang menggelikan. Berdasar kamus besar bahasa Indonesia, indoktrinasi adalah pemberian ajaran secara mendalam (tanpa kritik) atau penggemblengan mengenai suatu paham atu doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja. Bukankah praktik cuci otak pun sama dan sebangun dengan pengertian indoktrinasi itu? Menanamkan pemahaman atau kebenaran baru tanpa syarat agar korban patuh terhadap apa yang diperintahkan pelaku cuci otak.
Karena bukan kasus baru, kita sangat yakin pemerintah sudah tahu persoalan ini. Entah tangan tak terlihat siapa yang bermain, pemerintah seolah tak bisa berbuat banyak.
Padahal isu yang kelompok ini bawa adalah isu genting, isu makar. Isu yang menghantui republik ini sepanjang sejarahnya. Catatan sejarah menunjukkan, dari Sabang sampai Merauki, isu "merdeka" selalu berkumandang di setiap tempat. Dan sikap tegas pun selalu diperlihatkan pemerintah dengan menumpas habis gerakan-gerakan "merdeka" itu.
Jangan biarkan gerakan kelompok ini semakin membesar. Jangan biarkan semakin banyak anak-anak muda yang hilang tanpa jejak. Jangan biarkan semakin banyak keluarga kehilangan mata jiwa mereka. Jangan biarkan api dalam sekam semakin membara. Sudah saatnya diselesaikan. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 26 April 2011
Mobil Ketua
MEMANG sulit mencari teladan di zaman hedonis ini. Ketika penghargaan hanya dilihat dari materi, maka apa yang menjadi milik lah yang akan menentukan status seseorang. Tak heran, seorang Inong Melinda Dee habis-habisan menguras dana kliennya di Citibank, salah satunya untuk membiayai gaya hidup di kalangan jetset di Jakarta dan mengoleksi mobil-mobil mewah yang bisa bikin tercengang warga Cipelah, di ujung Ciwidey sana, hanya karena mendengar merek mobilnya saja.
Tak ada pula teladan yang ditunjukkan Ketua DPRD Jabar Irfan Suryanagara saat mengajukan pengadaan kendaraan dinas seharga Rp 2,25 miliar. Atau pengadaan mobil dinas untuk seluruh anggota DPRD Jabar senilai Rp 6,2 miliar.
Adakah masih tersisa rasa malu, di kala ribuan guru honorer menjerit karena gajinya belum dibayar bertahun-tahun, ketika perawat di RSUD di Garut tak bisa menikmati hasil keringatnya, para wakil rakyat hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri.
Kita jadi bertanya-tanya, sesungguhnya rakyat mana yang diwakili para wakil rakyat itu?
Mungkin tidak seimbang, membandingkan antara Ketua DPRD Jabar dengan Presiden Iran Ahmadinejad. Walaupun dia memimpin sebuah negara di kawasan Timur Tengah, Ahmadinejad justru dikenal sebagai pemimpin yang sederhana.
Sehari-hari Ahmadinejad tidak ingin memakai mobil dinas milik negara yang dibiayai rakyat. Ia pakai mobil pribadi, sebuah mobil keluaran tahun 1977. Ahmadinejad tinggal di sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satusatunya uang yang masuk adalah uang gaji bulanannya sebagai dosen di sebuah universitas yang hanya senilai US$ 250.
Selama menjabat sebagai Presiden Iran, ia tinggal di rumahnya sendiri. Ia tidak mengambil gajinya sebagai Presiden, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kesederhanaan yang dijalani Ahmadinejad. Bagi kita, jangankan untuk meniru sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang terkenal sebagai khalifah sederhana yang mampu menyejahterakan rakyatnya, untuk meniru sosok Ahmadinejad saja rasanya sulit.
Ketua DPRD beralasan bahwa kunjungan ke daerah Jabar selatan membutuhkan kendaraan yang tangguh. Ia mencontohkan, saat berkunjung ke Cianjur selatan, ban mobilnya kempes di jalan.
Kemudian, ia mempertanyakan mengapa hanya kendaraan dinasnya yang dipersoalkan, sementara kendaraan dinas Gubernur dan Wagub Jabar yang nilainya sama, tidak dipertanyakan.
Logika alasan yang aneh, sesungguhnya. Mengapa hanya karena ban kempes, kemudian meminta mobil. Mengapa tidak meminta perbaikan jalan agar mulus, sehingga tidak ada lagi kerusakan parah yang seolah menjadi trademark kondisi jalan-jalan di daerah Jabar selatan. Dengan dana Rp 2,2 miliar, dipastikan puluhan kilometer jalan di pelosok daerah bisa mulus.
Kalaupun Ketua DPRD beralasan Gubernur juga mengendarai mobil yang mahal, justru seharusnya dia muncul sebagai pelopor, sang pemula, yang menolak mobil dinas dengan harga mahal itu. Tunjukkan bahwa Ketua DPRD Jabar bisa berbeda dengan Gubernur Jabar dalam hal kesederhanaan memakai mobil dinas. Ah, memang susah mencari teladan di negeri ini.
(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 7 April 2011
Tak ada pula teladan yang ditunjukkan Ketua DPRD Jabar Irfan Suryanagara saat mengajukan pengadaan kendaraan dinas seharga Rp 2,25 miliar. Atau pengadaan mobil dinas untuk seluruh anggota DPRD Jabar senilai Rp 6,2 miliar.
Adakah masih tersisa rasa malu, di kala ribuan guru honorer menjerit karena gajinya belum dibayar bertahun-tahun, ketika perawat di RSUD di Garut tak bisa menikmati hasil keringatnya, para wakil rakyat hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri.
Kita jadi bertanya-tanya, sesungguhnya rakyat mana yang diwakili para wakil rakyat itu?
Mungkin tidak seimbang, membandingkan antara Ketua DPRD Jabar dengan Presiden Iran Ahmadinejad. Walaupun dia memimpin sebuah negara di kawasan Timur Tengah, Ahmadinejad justru dikenal sebagai pemimpin yang sederhana.
Sehari-hari Ahmadinejad tidak ingin memakai mobil dinas milik negara yang dibiayai rakyat. Ia pakai mobil pribadi, sebuah mobil keluaran tahun 1977. Ahmadinejad tinggal di sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satusatunya uang yang masuk adalah uang gaji bulanannya sebagai dosen di sebuah universitas yang hanya senilai US$ 250.
Selama menjabat sebagai Presiden Iran, ia tinggal di rumahnya sendiri. Ia tidak mengambil gajinya sebagai Presiden, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.
Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk kesederhanaan yang dijalani Ahmadinejad. Bagi kita, jangankan untuk meniru sikap Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang terkenal sebagai khalifah sederhana yang mampu menyejahterakan rakyatnya, untuk meniru sosok Ahmadinejad saja rasanya sulit.
Ketua DPRD beralasan bahwa kunjungan ke daerah Jabar selatan membutuhkan kendaraan yang tangguh. Ia mencontohkan, saat berkunjung ke Cianjur selatan, ban mobilnya kempes di jalan.
Kemudian, ia mempertanyakan mengapa hanya kendaraan dinasnya yang dipersoalkan, sementara kendaraan dinas Gubernur dan Wagub Jabar yang nilainya sama, tidak dipertanyakan.
Logika alasan yang aneh, sesungguhnya. Mengapa hanya karena ban kempes, kemudian meminta mobil. Mengapa tidak meminta perbaikan jalan agar mulus, sehingga tidak ada lagi kerusakan parah yang seolah menjadi trademark kondisi jalan-jalan di daerah Jabar selatan. Dengan dana Rp 2,2 miliar, dipastikan puluhan kilometer jalan di pelosok daerah bisa mulus.
Kalaupun Ketua DPRD beralasan Gubernur juga mengendarai mobil yang mahal, justru seharusnya dia muncul sebagai pelopor, sang pemula, yang menolak mobil dinas dengan harga mahal itu. Tunjukkan bahwa Ketua DPRD Jabar bisa berbeda dengan Gubernur Jabar dalam hal kesederhanaan memakai mobil dinas. Ah, memang susah mencari teladan di negeri ini.
(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Kamis 7 April 2011
Saturday, April 02, 2011
Kekalahan Mental
KEMENANGAN Persib saat laga melawan Persiwa Wamena, Kamis (24/3), dan hasil draw ketika bertemu Persipura, Minggu (27/3), sesungguhnya adalah kekalahan mental Persib. Bayangkan, setelah unggul 2-0, tim lawan bisa menyamakan kedudukan. Masih beruntung, Persib tak dirundung kekalahan.

Saat menghadapi Persiwa, Persib harus berterima kasih kepada Miljan Radovic. Tendangan geledeknya mampu menjebol gawang lawan hingga dua kali sehingga Persib bisa menang. Sementara ketika melawan Mutiara Hitam, Persib tak menunjukkan semangat permainan seperti pada babak pertama. Kebangkitan Persipura terjadi di menit-menit akhir babak kedua. Entah bagaimana jadinya jika waktu pertandingan masih lama. Sangat mungkin tim Mutiara Hitam itu bisa mempermalukan Persib di hadapan bobotohnya sendiri.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Kondisi seperti ini, unggul lebih dulu dari lawan dan tak bisa mempertahankannya, seolah menjadi kebiasaan Persib, yang tentu saja sangat buruk tak perlu dipelihara. Pemain selalu lengah dan santai. Tak terlihat pergerakan tanpa bola dari pemain, seolah Persib sudah menang. Padahal pertandingan masih berjalan dan waktu tersisa cukup lama.
Mungkin Persih harus mencontoh Liverpool saat menjadi juara Champions tahun 2005. Di babak pertama, Liverpool sudah tertinggal 0-3 dari AC Milan. Angka yang rasanya sulit disamakan. Terlebih AC Milan masih punya palang pintu tangguh, Paolo Maldini.
Namun apa yang terjadi? Di babak kedua, semangat The Reds tak pernah mengendur, malah semakin menjadi-jadi. Tiga gol berhasil dilesakkan Steven Gerrard dan kawan-kawan sehingga memaksakan perpanjangan waktu dan adu penalti.
Seperti kita ketahui, Liverpool jadi pemenang dari laga dramatis yang paling dikenang. Seperti halnya Liverpool, Persipura pun memiliki mental juara. Itu ditunjukkan dengan kemampuan mereka mengejar defisit gol. Tertinggal dua gol bukan persoalan besar bagi mereka.
Mereka terus berusaha menekan pertahanan Persib yang kian longgar dan terbuka. Hasilnya bisa ditebak. Barisan pertahanan Maung Bandung kocar-kacir dan gol pun hanya menunggu waktu. Dan itu terbukti.
Mungkin yang tidak dimiliki Persib saat ini satu hal penting itu, mental juara. Lama tak pernah menggenggam trofi tertinggi Liga Super membuat Persib seolah tak punya karisma lagi sebagai tim juara. Persib begitu terlena dengan kebesaran dan kejayaan di masa lalu. Kini Persib harus menghadapi kenyataan, nama besar Maung Bandung tak cukup bisa menggentarkan jantung dan hati lawan.
Tak ada kemenangan dan kekalahan sebelum peluit terakhir berbunyi. Ini yang harus menjadi pegangan setiap pemain Persib. Agar mereka bertarung sepanjang pertandingan berlangsung. Bermain ibarat banteng ketaton yang tak pernah kehabisan tenaga, berjibaku mempertahankan kehormatan tim, bertarung untuk meninggikan kebanggaan masyarakat Bandung dan Jabar.
Latihan keras, disiplin tinggi, kebersamaan, soliditas, kekompakan, harmonisasi tim dan manajemen, perhatian terhadap pemain, menjadi kunci agar mentalitas juara itu kembali dimiliki Persib. Saatnya mental Maung itu mampu menggentarkan lawan-lawan. Mengaumlah, Persib! (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 29 Maret 2011.

Saat menghadapi Persiwa, Persib harus berterima kasih kepada Miljan Radovic. Tendangan geledeknya mampu menjebol gawang lawan hingga dua kali sehingga Persib bisa menang. Sementara ketika melawan Mutiara Hitam, Persib tak menunjukkan semangat permainan seperti pada babak pertama. Kebangkitan Persipura terjadi di menit-menit akhir babak kedua. Entah bagaimana jadinya jika waktu pertandingan masih lama. Sangat mungkin tim Mutiara Hitam itu bisa mempermalukan Persib di hadapan bobotohnya sendiri.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Kondisi seperti ini, unggul lebih dulu dari lawan dan tak bisa mempertahankannya, seolah menjadi kebiasaan Persib, yang tentu saja sangat buruk tak perlu dipelihara. Pemain selalu lengah dan santai. Tak terlihat pergerakan tanpa bola dari pemain, seolah Persib sudah menang. Padahal pertandingan masih berjalan dan waktu tersisa cukup lama.
Mungkin Persih harus mencontoh Liverpool saat menjadi juara Champions tahun 2005. Di babak pertama, Liverpool sudah tertinggal 0-3 dari AC Milan. Angka yang rasanya sulit disamakan. Terlebih AC Milan masih punya palang pintu tangguh, Paolo Maldini.
Namun apa yang terjadi? Di babak kedua, semangat The Reds tak pernah mengendur, malah semakin menjadi-jadi. Tiga gol berhasil dilesakkan Steven Gerrard dan kawan-kawan sehingga memaksakan perpanjangan waktu dan adu penalti.
Seperti kita ketahui, Liverpool jadi pemenang dari laga dramatis yang paling dikenang. Seperti halnya Liverpool, Persipura pun memiliki mental juara. Itu ditunjukkan dengan kemampuan mereka mengejar defisit gol. Tertinggal dua gol bukan persoalan besar bagi mereka.
Mereka terus berusaha menekan pertahanan Persib yang kian longgar dan terbuka. Hasilnya bisa ditebak. Barisan pertahanan Maung Bandung kocar-kacir dan gol pun hanya menunggu waktu. Dan itu terbukti.
Mungkin yang tidak dimiliki Persib saat ini satu hal penting itu, mental juara. Lama tak pernah menggenggam trofi tertinggi Liga Super membuat Persib seolah tak punya karisma lagi sebagai tim juara. Persib begitu terlena dengan kebesaran dan kejayaan di masa lalu. Kini Persib harus menghadapi kenyataan, nama besar Maung Bandung tak cukup bisa menggentarkan jantung dan hati lawan.
Tak ada kemenangan dan kekalahan sebelum peluit terakhir berbunyi. Ini yang harus menjadi pegangan setiap pemain Persib. Agar mereka bertarung sepanjang pertandingan berlangsung. Bermain ibarat banteng ketaton yang tak pernah kehabisan tenaga, berjibaku mempertahankan kehormatan tim, bertarung untuk meninggikan kebanggaan masyarakat Bandung dan Jabar.
Latihan keras, disiplin tinggi, kebersamaan, soliditas, kekompakan, harmonisasi tim dan manajemen, perhatian terhadap pemain, menjadi kunci agar mentalitas juara itu kembali dimiliki Persib. Saatnya mental Maung itu mampu menggentarkan lawan-lawan. Mengaumlah, Persib! (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 29 Maret 2011.
Saturday, March 12, 2011
Koalisi BBM
ENDING yang sudah terbaca akhirnya terungkap juga. Partai Golkar tetap berada di koalisi bersama Partai Demokrat. Meski Golkar mbalelo dari rapat paripurna hak angket panitia kerja mafia pajak, nyatanya SBY takut juga kehilangan dukungan partai ini.
Tanpa Golkar di koalisi, perjalanan SBY menyelesaikan masa jabatan 2014 bakal menemui batu terjal. Apalagi setelah Megawati Soekarnoputri tetap kukuh membawa PDI Perjuangan di luar pemerintahan, Golkar menjadi kian bernilai di mata SBY.
Pertemuan SBY dengan Ical, Selasa (8/3) di Istana Kepresidenan, seolah melumerkan nyala perbedaan di antara para politikus dua partai. Seusai pertemuan, Ical menyatakan partai berlambang pohon beringin itu tetap bertahan di koalisi.
Jadi, selama ini masyarakat hanya disuguhi dagelan-dagelan politik melalui talkshow-talkshow di televisi, perang pernyataan baik di media online maupun di surat kabar, soal resafel, soal koalisi atau oposisi.
Boleh jadi, PKS pun akan tetap berada di lingkaran koalisi. Mungkin SBY menganggap ultimatumnya tempo hari dalam sebuah pidato di Istana soal partai politik yang tidak sejalan seirama sudah cukup sebagai hukuman.
Padahal ribut-ribut soal resafel kabinet dan mundur tidaknya Golkar dan PKS dari koalisi selama nyaris satu bulan terakhir ini membuat tidak nyaman sejumlah pihak. Tak cuma politikus dua partai yang tentu ketar-ketir soal nasibnya di kabinet, para pengusaha pun demikian. Mereka menginginkan SBY secara tegas menyatakan resafel atau tidak, tanpa perlu pidato berlika-liku sehingga makin menunjukkan keraguan seorang SBY.
Bagaimanapun, pengusaha membutuhkan ketegasan dan kepastian, agar iklim investasi membaik. Para investor punya keyakinan bahwa membuat usaha di Indonesia tidak akan dirugikan persoalan nonbisnis, seperti sosial dan politik.
Terlebih kondisi perekonomian Indonesia pasti agak tertekan dengan kondisi minyak dunia saat ini. "Revolusi" di Libya, yang ternyata tak semudah di Mesir dan Tunisia, menyebabkan harga minyak melambung ke tangga tertinggi, menembus angka 130 dolar AS per barrel. Angka yang katanya tertinggi dalam sejarah minyak dunia.
Daripada ribet dan pusing memikirkan koalisi dan resafel yang tidak jadi- jadi, pemerintah SBY lebih baik memikirkan wacana pembatasan bahan bakar minyak (BBM). Bagaimanapun, ini isu yang lebih berdampak ke masyarakat, daripada isu bola panas resafel kabinet.
Bayangkan saja, tim kajian yang dipimpin Anggito Abimanyu telah membuat tiga skenario soal pembatasan BBM ini. Dan salah satunya adalah menaikkan harga BBM, terutama premium, Rp 500 per liter. Kenaikan ini akan menghemat anggaran hingga Rp 15 triliun.
Lima ratus rupiah mungkin kecil bagi sebagian kecil orang, tapi bagi sebagian besar nilai ini sangat besar. Ini berarti pengeluaran biaya untuk bensin bagi para tukang ojek, pekerja rendahan, angkutan kota, bakal naik. Jika BBM naik, ongkos transportasi pun bakal ikut terkerek. Kalau ongkos naik, harga-harga pangan dan teman-temannya sudah tak mungkin dibendung agar tidak ikut naik.
Sebetulnya ini yang harus jadi fokus SBY, bagaimana caranya kebijakan jangka pendek pembatasan BBM ini tidak memberatkan masyarakat. Kalaupun kenaikan harga BBM adalah sebuah keniscayaan, harus dibuat sedemikian rupa supaya tidak bergejolak yang bisa memicu kenaikan harga kebutuhan yang lain. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Rabu 9 Maret 2011.
Tanpa Golkar di koalisi, perjalanan SBY menyelesaikan masa jabatan 2014 bakal menemui batu terjal. Apalagi setelah Megawati Soekarnoputri tetap kukuh membawa PDI Perjuangan di luar pemerintahan, Golkar menjadi kian bernilai di mata SBY.
Pertemuan SBY dengan Ical, Selasa (8/3) di Istana Kepresidenan, seolah melumerkan nyala perbedaan di antara para politikus dua partai. Seusai pertemuan, Ical menyatakan partai berlambang pohon beringin itu tetap bertahan di koalisi.
Jadi, selama ini masyarakat hanya disuguhi dagelan-dagelan politik melalui talkshow-talkshow di televisi, perang pernyataan baik di media online maupun di surat kabar, soal resafel, soal koalisi atau oposisi.
Boleh jadi, PKS pun akan tetap berada di lingkaran koalisi. Mungkin SBY menganggap ultimatumnya tempo hari dalam sebuah pidato di Istana soal partai politik yang tidak sejalan seirama sudah cukup sebagai hukuman.
Padahal ribut-ribut soal resafel kabinet dan mundur tidaknya Golkar dan PKS dari koalisi selama nyaris satu bulan terakhir ini membuat tidak nyaman sejumlah pihak. Tak cuma politikus dua partai yang tentu ketar-ketir soal nasibnya di kabinet, para pengusaha pun demikian. Mereka menginginkan SBY secara tegas menyatakan resafel atau tidak, tanpa perlu pidato berlika-liku sehingga makin menunjukkan keraguan seorang SBY.
Bagaimanapun, pengusaha membutuhkan ketegasan dan kepastian, agar iklim investasi membaik. Para investor punya keyakinan bahwa membuat usaha di Indonesia tidak akan dirugikan persoalan nonbisnis, seperti sosial dan politik.
Terlebih kondisi perekonomian Indonesia pasti agak tertekan dengan kondisi minyak dunia saat ini. "Revolusi" di Libya, yang ternyata tak semudah di Mesir dan Tunisia, menyebabkan harga minyak melambung ke tangga tertinggi, menembus angka 130 dolar AS per barrel. Angka yang katanya tertinggi dalam sejarah minyak dunia.
Daripada ribet dan pusing memikirkan koalisi dan resafel yang tidak jadi- jadi, pemerintah SBY lebih baik memikirkan wacana pembatasan bahan bakar minyak (BBM). Bagaimanapun, ini isu yang lebih berdampak ke masyarakat, daripada isu bola panas resafel kabinet.
Bayangkan saja, tim kajian yang dipimpin Anggito Abimanyu telah membuat tiga skenario soal pembatasan BBM ini. Dan salah satunya adalah menaikkan harga BBM, terutama premium, Rp 500 per liter. Kenaikan ini akan menghemat anggaran hingga Rp 15 triliun.
Lima ratus rupiah mungkin kecil bagi sebagian kecil orang, tapi bagi sebagian besar nilai ini sangat besar. Ini berarti pengeluaran biaya untuk bensin bagi para tukang ojek, pekerja rendahan, angkutan kota, bakal naik. Jika BBM naik, ongkos transportasi pun bakal ikut terkerek. Kalau ongkos naik, harga-harga pangan dan teman-temannya sudah tak mungkin dibendung agar tidak ikut naik.
Sebetulnya ini yang harus jadi fokus SBY, bagaimana caranya kebijakan jangka pendek pembatasan BBM ini tidak memberatkan masyarakat. Kalaupun kenaikan harga BBM adalah sebuah keniscayaan, harus dibuat sedemikian rupa supaya tidak bergejolak yang bisa memicu kenaikan harga kebutuhan yang lain. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Rabu 9 Maret 2011.
Monday, February 28, 2011
Revolusi PSSI
JANGAN hanya menyebut nama Nurdin, tapi sebutkan nama lengkapnya, Nurdin Halid. Karena pemilik nama Nurdin bertebaran sampai di pojok-pojok kampung.Kasihan mereka, di pelataran halaman Kantor PSSI di Jakarta, bahkan di kandang monyet di Kebun Binatang Bandung, nama Nurdin terus diteriakkan.
"Turunkan Nurdin, turunkan Nurdin", atau "Nurdin koruptor, Nurdin koruptor".
Padahal, Nurdin yang tinggal di pesisian Ciparay, Rancaekek, Astanajapura, Haurgeulis, Pamanukan, tak pernah merasakan duduk di kursi panas ketua umum PSSI. Juga tak pernah mendapat uang panas hasil kongkalingkong impor beras. Jadi, sebut nama lengkapnya, Nurdin Halid.
Hari-hari terakhir ini, telinga Nurdin, hampir lupa, Nurdin Halid, pasti sedang panas bukan kepalang. Para pendukung pembaruan PSSI yang jelas anti-Nurdin Halid berunjuk rasa di beberapa kota, meminta Nurdin Halid tak lagi maju sebagai Ketua Umum PSSI.
Mereka pun menyerukan: Revolusi PSSI! Mungkin mereka terinspirasi Revolusi Melati yang berhasil menjungkalkan Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali, atau Revolusi Mesir yang sukses melengserkan Presiden Hosni Mubarak. Sehingga berharap, gerakan menggoyang Nurdin Halid dari kursi ketua umum PSSI bisa sukses.
Tak lolosnya Jenderal TNI George Toisutta dan pengusaha Arifin Panigoro dari verifikasi Komite Pemilihan PSSI menjadi pintu masuk terkumpulnya energi seia sekata untuk menentang Nurdin Halid. Berbagai kelompok suporter di tanah air mulai mempersatukan diri, menggalang kesamaan visi, demi satu cita-cita: Save Our Soccer.
Keterpurukan persepakbolaan Indonesia di era Nurdin Halid, yang hanya terobati saat penampilan timnas di Piala AFF 2010, menjadi alasan utama untuk tak mendudukkan lagi Nurdin Halid di kursi pemuncak PSSI. Selain itu, status Nurdin Halid yang pernah menjadi tahanan pun menjadi omongan para penggemar sepak bola di Indonesia.
Kini gerakan menggusur Nurdin Halid ini kian masif dan menggumpal. Gerakan yang sesungguhnya merupakan geliat energi besar kasih sayang para pencinta PSSI yang tak ingin melihat PSSI terus terpuruk.
Namun tentu saja, berbeda dengan revolusi sosial atau politik di kawasan Timur Tengah, Revolusi PSSI harus nunut pada tahapan-tahapan pemilihan ketua umum PSSI. Dan kini, bola ada di tangan Komite Banding. Jika Tjipta Lesmana dan kawan-kawan berani meloloskan, minimal, George Toisutta, sebagai calon ketua umum PSSI, kita boleh berharap perubahan di tubuh PSSI akan berlanjut. Tapi kalau ternyata Toisutta tetap tidak lolos, bola salju revolusi itu berada di tangan pemerintah.
Intervensi pemerintah diperlukan untuk membersihkan struktur PSSI dari pengaruh Nurdin Halid, walau itu dilarang FIFA.
Lebih baik dicekal selama beberapa tahun oleh FIFA tak boleh tampil dalam pertandingan sepak bola di bawah FIFA. Asalkan selama pencekalan itu, sepak bola Indonesia berbenah, dan muncul kembali sebagai kekuatan yang disegani, tak cuma di Asia Tenggara, tapi juga Asia, dan dunia. Semoga. (*)
Sorot, dimuat di Harian Tribun Jabar Edisi Rabu
"Turunkan Nurdin, turunkan Nurdin", atau "Nurdin koruptor, Nurdin koruptor".
Padahal, Nurdin yang tinggal di pesisian Ciparay, Rancaekek, Astanajapura, Haurgeulis, Pamanukan, tak pernah merasakan duduk di kursi panas ketua umum PSSI. Juga tak pernah mendapat uang panas hasil kongkalingkong impor beras. Jadi, sebut nama lengkapnya, Nurdin Halid.
Hari-hari terakhir ini, telinga Nurdin, hampir lupa, Nurdin Halid, pasti sedang panas bukan kepalang. Para pendukung pembaruan PSSI yang jelas anti-Nurdin Halid berunjuk rasa di beberapa kota, meminta Nurdin Halid tak lagi maju sebagai Ketua Umum PSSI.
Mereka pun menyerukan: Revolusi PSSI! Mungkin mereka terinspirasi Revolusi Melati yang berhasil menjungkalkan Presiden Tunisia Zine al-Abidine Ben Ali, atau Revolusi Mesir yang sukses melengserkan Presiden Hosni Mubarak. Sehingga berharap, gerakan menggoyang Nurdin Halid dari kursi ketua umum PSSI bisa sukses.
Tak lolosnya Jenderal TNI George Toisutta dan pengusaha Arifin Panigoro dari verifikasi Komite Pemilihan PSSI menjadi pintu masuk terkumpulnya energi seia sekata untuk menentang Nurdin Halid. Berbagai kelompok suporter di tanah air mulai mempersatukan diri, menggalang kesamaan visi, demi satu cita-cita: Save Our Soccer.
Keterpurukan persepakbolaan Indonesia di era Nurdin Halid, yang hanya terobati saat penampilan timnas di Piala AFF 2010, menjadi alasan utama untuk tak mendudukkan lagi Nurdin Halid di kursi pemuncak PSSI. Selain itu, status Nurdin Halid yang pernah menjadi tahanan pun menjadi omongan para penggemar sepak bola di Indonesia.
Kini gerakan menggusur Nurdin Halid ini kian masif dan menggumpal. Gerakan yang sesungguhnya merupakan geliat energi besar kasih sayang para pencinta PSSI yang tak ingin melihat PSSI terus terpuruk.
Namun tentu saja, berbeda dengan revolusi sosial atau politik di kawasan Timur Tengah, Revolusi PSSI harus nunut pada tahapan-tahapan pemilihan ketua umum PSSI. Dan kini, bola ada di tangan Komite Banding. Jika Tjipta Lesmana dan kawan-kawan berani meloloskan, minimal, George Toisutta, sebagai calon ketua umum PSSI, kita boleh berharap perubahan di tubuh PSSI akan berlanjut. Tapi kalau ternyata Toisutta tetap tidak lolos, bola salju revolusi itu berada di tangan pemerintah.
Intervensi pemerintah diperlukan untuk membersihkan struktur PSSI dari pengaruh Nurdin Halid, walau itu dilarang FIFA.
Lebih baik dicekal selama beberapa tahun oleh FIFA tak boleh tampil dalam pertandingan sepak bola di bawah FIFA. Asalkan selama pencekalan itu, sepak bola Indonesia berbenah, dan muncul kembali sebagai kekuatan yang disegani, tak cuma di Asia Tenggara, tapi juga Asia, dan dunia. Semoga. (*)
Sorot, dimuat di Harian Tribun Jabar Edisi Rabu
Republik Tahu-Tempe
RIBUAN perajin tempe dan tahu terancam gulung tikar alias tutup usaha. Gara-garanya, harga bahan baku pembuat tahutempe, yaitu kacang kedelai, naik selangit hingga tak terjangkau.
Perajin yang tetap bertahan memproduksi makanan rakyat ini mengurangi jatah produksinya. Selain itu, mereka pun bersiasat. Salah satunya seperti dilakukan perajin tahu Sumedang dengan cara memperkecil ukuran tahu. Harga jual tetap sama, hanya kening pembeli pasti berkerut, karena ukuran tahu mengerut.
Kacang kedelai yang diolah para perajin ini pun kebanyakan impor. Bayangkan saja, dari konsumsi kedelai secara nasional sebanyak 2 juta hingga 2,2 juta ton, tujuh puluh persennya disuplai dari impor. Hanya tiga puluh persen yang dipasok dari pertanian dalam negeri.
Yang paling disukai adalah kacang kedelai dari Amerika Serikat. Lantaran, biji kedelai lebih besar, cocok untuk olahan tempe dan mengandung banyak sari kedelai tahu. Soal kualitas mungkin sebanding dengan lokal. Tapi soal rasa, kacang kedelai lokal tetap tak tertandingi. Sayangnya, produksinya kalah banyak dan harga lebih mahal.
Kondisi ini sungguh mengherankan sekaligus memprihatinkan.
Sejak lama, bahkan sejak kita lahir, didengung-dengungkan bahwa negeri ini subur makmur gemah ripah loh jinawi. Tongkat sekalipun ditancapkan di tanah nusantara, pasti tumbuh menjadi tanaman. Karena itu pula, gembar-gembor swasembada pangan, termasuk kedelai, selalu menjadi program utama, setiap tahun di setiap pemerintahan yang berkuasa. Maklum, negeri kita ini katanya negara agraris, negeri kaum petani, walau kenyataannya air lebih banyak mengepung tanah.
Efek dari kelangkaan kedelai lokal dan kenaikan harga bisa merembet ke sektor lain. Sebagai makanan rakyat yang paling populer, tahu-tempe dengan mudah ditemukan di setiap tempat makan, mulai kelas warung kucing, warung tegal, hingga restoran-restoran besar.
Apa jadinya jika untuk membeli tahu-tempe pun ternyata susah dan mahal tak terkira? Lantas apa lagi menu utama makan rakyat pinggiran yang sudah merasa tercukupi gizinya dengan tahutempe ini.
Jangan sampai harga mahal kedelai mendorong munculnya revolusi tahu-tempe, seperti halnya revolusi di Mesir yang dipicu salah satunya oleh mahalnya harga roti. Jika semua sudah serba mahal, perut tak bisa menahan, revolusi apapun sangat mungkin bangkit.
Inilah yang harus dipikirkan pemerintah, bagaimana caranya agar republik tahu-tempe ini tidak tergantung pengadaan kedelai dari luar. Bagaimana caranya tanah yang subur luas menghampar ini bisa produktif menghasilkan bahan baku tahutempe lebih banyak.
Karena kita tahu, para pemimpin bangsa ini pun besar dan tumbuh bersama dengan makanan rakyat ini. Dari asupan tahutempe pula, lahir bocah-bocah ajaib dan jenius yang andal di bidang teknologi komunikasi di abad 21. Di usia muda, mereka mampu menciptakan program antivirus, games edukatif, dan situs ala Facebook. Kita harus bangga, sesungguhnya republik tahutempe ini tak kalah oleh negeri hotdog, hamburger, dan pizza.(*)
Sorot, dimuat di Harian Tribun Jabar edisi Jumat 11 Februari 2011.
Perajin yang tetap bertahan memproduksi makanan rakyat ini mengurangi jatah produksinya. Selain itu, mereka pun bersiasat. Salah satunya seperti dilakukan perajin tahu Sumedang dengan cara memperkecil ukuran tahu. Harga jual tetap sama, hanya kening pembeli pasti berkerut, karena ukuran tahu mengerut.
Kacang kedelai yang diolah para perajin ini pun kebanyakan impor. Bayangkan saja, dari konsumsi kedelai secara nasional sebanyak 2 juta hingga 2,2 juta ton, tujuh puluh persennya disuplai dari impor. Hanya tiga puluh persen yang dipasok dari pertanian dalam negeri.
Yang paling disukai adalah kacang kedelai dari Amerika Serikat. Lantaran, biji kedelai lebih besar, cocok untuk olahan tempe dan mengandung banyak sari kedelai tahu. Soal kualitas mungkin sebanding dengan lokal. Tapi soal rasa, kacang kedelai lokal tetap tak tertandingi. Sayangnya, produksinya kalah banyak dan harga lebih mahal.
Kondisi ini sungguh mengherankan sekaligus memprihatinkan.
Sejak lama, bahkan sejak kita lahir, didengung-dengungkan bahwa negeri ini subur makmur gemah ripah loh jinawi. Tongkat sekalipun ditancapkan di tanah nusantara, pasti tumbuh menjadi tanaman. Karena itu pula, gembar-gembor swasembada pangan, termasuk kedelai, selalu menjadi program utama, setiap tahun di setiap pemerintahan yang berkuasa. Maklum, negeri kita ini katanya negara agraris, negeri kaum petani, walau kenyataannya air lebih banyak mengepung tanah.
Efek dari kelangkaan kedelai lokal dan kenaikan harga bisa merembet ke sektor lain. Sebagai makanan rakyat yang paling populer, tahu-tempe dengan mudah ditemukan di setiap tempat makan, mulai kelas warung kucing, warung tegal, hingga restoran-restoran besar.
Apa jadinya jika untuk membeli tahu-tempe pun ternyata susah dan mahal tak terkira? Lantas apa lagi menu utama makan rakyat pinggiran yang sudah merasa tercukupi gizinya dengan tahutempe ini.
Jangan sampai harga mahal kedelai mendorong munculnya revolusi tahu-tempe, seperti halnya revolusi di Mesir yang dipicu salah satunya oleh mahalnya harga roti. Jika semua sudah serba mahal, perut tak bisa menahan, revolusi apapun sangat mungkin bangkit.
Inilah yang harus dipikirkan pemerintah, bagaimana caranya agar republik tahu-tempe ini tidak tergantung pengadaan kedelai dari luar. Bagaimana caranya tanah yang subur luas menghampar ini bisa produktif menghasilkan bahan baku tahutempe lebih banyak.
Karena kita tahu, para pemimpin bangsa ini pun besar dan tumbuh bersama dengan makanan rakyat ini. Dari asupan tahutempe pula, lahir bocah-bocah ajaib dan jenius yang andal di bidang teknologi komunikasi di abad 21. Di usia muda, mereka mampu menciptakan program antivirus, games edukatif, dan situs ala Facebook. Kita harus bangga, sesungguhnya republik tahutempe ini tak kalah oleh negeri hotdog, hamburger, dan pizza.(*)
Sorot, dimuat di Harian Tribun Jabar edisi Jumat 11 Februari 2011.
Subscribe to:
Posts (Atom)