Monday, May 07, 2007

Menangis karena "Ayat-ayat Cinta"...


LUAR BIASA. Inilah novel pembangun jiwa, penggugah semangat. Menebar dakwah tanpa menggurui, menanamkan arif bijaksana tanpa perlu jadi seorang filsuf. Tak terasa, air mata meleleh saat saya membacanya di keheningan malam Batam. Bukan karena kisah menyentuh hati seorang Maria atau keikhlasan seorang Aisha, tapi bagaimana seorang Fahri bisa menyelaraskan Syariat dalam kehidupan sehari-hari di Kairo Mesir yang notabene Metropolis, tanpa perlu larut dalam suasana kemoderenan. Berpegang teguh pada tali Allah tanpa perlu mengkhianatinya.... Mudah-mudahan saya membaca novel ini tak sekadar membaca, tapi bisa mengambil hikmah, lalu menyuntikkannya ke dalam ghirah dan ruh saya untuk menghadapi sisa hidup ini.
Ini buku kedua yang saya tamat membacanya sejak tugas di Batam ini. Saya hanya butuh waktu 4,5 jam nonstop untuk membaca novel karangan Habiburrahman El Shirazy setebal 413 halaman ini hingga tuntas. Sementara buku Sundakala karangan Ayatrohaedi (almarhum) butuh waktu 2 hari (stop melulu), padahal tebalnya cuma 164 halaman.
Saya mulai membaca "Ayat-ayat Cinta" jam 01.00 dini hari, sepulang dari kantor. Selesai sekitar jam 05.30, setelah terpotong salat Subuh. Sekarang pun kepala masih cenat-cenut, karena kurang tidur. Tapi saya senang, dalam satu kesempatan bisa selesai membaca tanpa perlu tertunda-tunda. Seperti pernah saya tulis, saya pernah beberapa kali membaca "Ayat-ayat Cinta" ini saat berupa cerita bersambung di Harian Republika. Sayang memang, saya tidak membaca dari awal. Hanya di bagian tengah, itu pun hanya beberapa edisi. Setelah itu, pet.. sama sekali tak pernah membaca lagi. Hanya saya tahu, novel ini jadi best seller dan bakal difilm-kan.

Waktu dini hari tampaknya paling pas untuk membaca novel ini. Suasana yang sepi membuat saya tak malu untuk melelehkan air mata sepanjang cerita. Tentu saya pun berharap menangis tidak hanya karena novel ini, tapi di saat salat, saat membaca Al Qur'an, saat zikir pun, saya menangis. Airmata keiklasan yang mengalir tanpa mampu kita cegah, itulah penebus dosa. Dan Allah senantiasa merindukan tangisan rindu mereka yang menyeru nama Tuhannya di saat orang lain tertidur. Begitu yang pernah saya pelajari...
Fahri bin Abdullah Shiddiq adalah tokoh utama novel ini. Dia mahasiswa yang tengah menempuh program S2 di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Hidup di aparteman sewaan bersama empat mahasiswa Indonesia lainnya. Hidup di negeri orang membuat mereka ibarat saudara. Karena Fahri yang lebih tua, maka jadilah ia kepala rumah tangga di apartemen sewaan itu.
Ingat Al Azhar, saya jadi ingat masa kecil saya. Belajar di Universitas Islam tertua di dunia itu sesungguhnya sempat mampir dalam daftar cita-cita waktu kecil. Mungkin tidak ada yang menyangka kalau waktu kecil saya bercita-cita jadi AJENGAN!!. Belajar ke Kairo, pulang ke tanah air punya pesantren dan memimpin santri, itu cita-cita saya kalau ditanya ibu atau bapak. Maklum, saya hidup di tengah lingkungan orang-orang pesantren. Herannya, justru saya ini tidak pernah menikmati jadi santri secara formal. Masuk ke pesantren misalnya. Yang merasakan hidup di asrama dan kobong (ini sebutan buat "gubuk" para santri di pesantren di Tanah Sunda) adalah dua kakak saya. Saya hanya jadi santri kalong. Ini istilah buat santri yang tidak menetap. Pergi mengaji lalu pulang lagi ke rumah.
Cerita dalam novel ini sesuai urutan waktu, kecuali jika si tokoh menceritakan masa lalu atau teringat masa kecil, baru adegan flash back dipakai. Perjalanan hidup Fahri di Mesir bagi saya sesungguhnya adalah sebuah perjuangan dakwah menghadapi medan globalisasi, pluralitas, kapitalisme dan hedonisme. Itu sejatinya medan dakwah bagi siapapun yang mengaku dirinya seorang muslim, seorang mukmin. Bertarung di tengah pusaran duniawi sebagai kiblat, akhirat bukan lagi tujuan. Pertarungan ideologis tanpa perlu mengeluarkan pedang, tak mesti meledakkan bom, tidak harus selalu menggunakan ayat-ayat Al Quran.
Dan akhirnya janji Allah yang akan terbukti ,"Innal baatila kana zahuqa (Sesungguhnya kebatilan itu pasti musnah...).
Kisah-kasih Fahri dan Aisha yang begitu mengharu-biru sesungguhnya hanyalah pelengkap. Karena ruh dari cerita ini adalah Syariah, bagaimana menegakkan syariah Islam tanpa perlu berbenturan dengan yang lain.
Saya tak perlu panjang lebar menceritakan novel ini. Kekuatan kata-kata saya tentu berbeda dengan kekuatan kata, jalinan cerita, yang dibuat El Shirazy. Kalau ada waktu, belilah buku ini dan baca hingga tuntas. Siapapun mereka yang berhati lembut, Qolbun Salim, beriman pada Allah Azza Wa Jalla, pasti akan merasakan hatinya gerimis....
Hanya ada satu hal yang mengganjal dalam benak saya tentang tokoh Fahri. Sepanjang buku ini, tidak satu pun kalimat yang saya jumpai yang bisa menggambarkan bagaimana sesungguhnya sosok fisik Fahri. Apakah dia berkumis, rambutnya ikal atau lurus, hidung mancung atau tidak, bentuk wajahnya bulat telur atau kotak, kulitnya sawo matang atau putih bersih, dadanya bidang, atau ciri-ciri fisik lainnya. Jadi agak sulit juga membayangkan bagaimana sih Fahri ini. Mirip siapakah dia ini?
Yang ada hanyalah, tinggi Fahri lebih tinggi 3 cm dari tinggi Aisha. Sementara Aisha ini adalah keturunan Jerman-Turki-Palestina, yang pastinya punya tinggi badan di atas rata-rata perempuan Indonesia. Lalu soal kulit Fahri, hanya disebutkan, orang Mesir suka kelinglap kalau melihat sosok Fahri, menyebutnya dari Cina. Mungkin karena dia kulitnya putih bersih yah? Lha kalau dihajar terus matahari Sahara yang katanya panas menyengat itu, apa gak jadi coklat atau bahkan hitam?
Tapi bagaimanapun, saya bersyukur bisa menamatkan buku ini dengan cepat. Lebih baik pernah daripada sama sekali tidak pernah. Ya, buku ini terbit pertama kali tahun 2004. Tiga tahun kemudian, baru saya membeli dan membacanya tuntas. Mudah-mudahan ghirah saya semakin membara dan keinginan untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, bisa tercapai.
Satu lagi, ada peribahasa Arab yang dinukil novel ini dan saya begitu akrab dengannya. Malah anak saya, Kaka Bila, selalu lantang kalau meneriakkan peribahasa Arab ini berikut aritnya. Peribahasa itu adalah "MAN JADDA WA JADA" artinya "SIAPA YANG BERSUNGGUH-SUNGGUH PASTI AKAN BERHASIL". Itulah yang menjadi moto saya dan saya sangat meyakini itu. Kalau kita berupaya keras, pasti akan ada jalan dan Allah pun pasti membuka pintu kemudahan.
Tak sabar saya pulang ke Bandung dan menyerahkan novel ini untuk dibaca Bu Eri. Saya ingin tahu bagaimana tanggapannya tentang novel ini. Mudah-mudahan, menjadi penyemangat menjalani kehidupan berkeluarga ini. Amiiiinnn........

No comments: