Saturday, June 30, 2007

Tim Inti Tribun FC


Inilah tim inti hasil TC (Training Center) singkat di Lapangan Kavaleri. Memang yang datang cuma segitu kok, jadi ya langsung saja didaulat jadi tim inti.
Berdiri dari kiri ke kanan: Yana (gelandang kiri kanan), Ujang (pemain tengah iseng melihat jam), Erwin Ardiansyah (striker),Kang Toto Marwoto (palang pintu), Yan (bek tangguh), Anwar Sanusi (mantan kiper Persib), Cecep Cepot (striker kering, jail amat sih).
Jongkok dari kiri ke kanan: Giyan (striker/tengah, anak Pak Toto), Kang Her (kiper bermata empat), Okto Oo (striker stylish peniru Ronaldo), Rike (kiper merangkap pemain sayap), dan saya (bek merangkap striker, lho?).


Latihan Perdana: Mual, Pegal, dan Payah!



AKHIRNYA, setelah lebih dari dua bulan tidak pernah berlatih sepakbola lagi, Sabtu pagi ini, Tribun FC bisa berlatih kembali. Tempatnya masih di tempat lama, Lapangan Kavaleri Jalan Ciremai. Lumayan juga, latihan perdana ini dihadiri 12 orang.
Namun ya begitulah, orang tidak pernah olahraga, diajak main sepakbola, baru lari 10 meter saja napas sudah ngos-ngosan. Apalagi kalau disuruh main, kebayang deh. Padahal tadinya kita mau main sama PS Karyawan UPI. Ngejago, baru lima menit sudah tumbang.
Waktu ganti baju saja, terlihat perut-perut pemain pada buncit. "Waduh gimana ini, kalau nyerang nanti offside terus, Soalnya perutnya pada maju semua," kata saya disambut ngakak teman-teman. Begitulah, kami memang tidak pernah olahraga. Tak heran, kalau sepakbola libur panjang, badan jadi melar semua.
Setelah pemanasan dan peregangan yang dipimpin Kang Toto Marwoto, pemain kawakan yang paling senior, kita pun main. Karena yang datang hanya 12 orang, kita main setengah lapangan, memanfaatkan lebar lapangan saja.

Ternyata fisik tidak bisa dibohongi. Payah banget. Saya yang lebih dulu tumbang. Kepala pening, rasa mual udah nongol aja di tenggorokan, seperti mau muntah. Saya langsung ke sisi gawang. Istirahat dulu, biar tidak muntah. Memang dari rumah saya tidak sarapan sama sekali. Baru terisi sebelum main. Itu pun roti dari warung dekat lapangan.
Tak lama, rekan saya, Cecep Iklan, pun tumbang. Sambil terduduk di lapangan, ia muntah. Air liur mengalir dari mulutnya. Ha ha ha, kita tertawa semua melihat itu. Akhirnya dia pun istirahat, saya yang kembali main.
Karena lebih banyak diseling ketawa ketiwi ke sama ke mari, tak terasa satu jam setengah kami menggerakkan badan. Lumayan berkeringat. Pertandingan pun disudahi dengan adu penalti. Yang penting bukan gol atau kemenangan, tapi bisa berkumpul, tertawa bareng, atau curhat bersama. Itulah enaknya kalau sepakbola...
Cuma pulangnya ini yang gak enak. Badan jadi pada pegal. Di kantor juga gak konsen, soalnya bentrok sama ngantuk. Akhirnya obat satu-satunya, ya tidur. Tidur sebentar di ruang rapat, enak juga... Coba kalau libur, udah ngorok kali di rumah. (*)

Thursday, June 28, 2007

Jangan Lupa Oleh-oleh dari Ambon

KAMAR kami bak kapal pecah. Berantakan, tak karuan. Padahal hari sudah siang. Jam bundar kecil hadiah dari Sosro di dekat lemari menunjukkan pukul 12.30. Bu Eri yang membuat berantakan. Dari tadi malam, ia terus mengetik di laptop, menyelesaikan tulisannya. Padahal itu tulisan untuk edisi Senin depan, di Rubrik Teropong. Tapi karena harus berangkat ke Ambon, Kamis sore ini, mau tidak mau tulisan itu harus sudah selesai.
Jam 4 sore, Bu Eri ditunggu di Pemkot Cimahi. Sementara pakaian, belum ada satupun yang disiapkan. Saya sudah menyiapkan ransel cyberpack yang biasa saya sandang ke kantor untuk dibawa Bu Eri. Soalnya ke Ambon mau bawa laptop juga. "Mau kirim berita," katanya.
Semua isinya saya keluarkan. Ransel itu memang buat membawa laptop. Saya beli waktu mau meliput Munas Nahdlatul Ulama di Boyolali, tahun 2004. Eh malah dapat berita dari langit. Pesawat Lion Air jatuh di Bandara Solo. Saya pun keluarkan tas dorong buat travel. Terakhir, troli bag ini jalan-jalan ke Batam. Wah, sekarang di jalan-jalan ke Ambon Manise... Enak nian ini tas.

Jarum jam menunjukkan pukul 1 siang. Pekerjaan Bu Eri baru kelar. Tapi itu pun masih meninggalkan utang. Berhubung tak sempat lagi, Bu Eri minta saya untuk mengirimkan tulisan-tulisan itu via email ke kantor PR. Sekarang tinggal ngepak baju-baju dan peralatan tempur lainnya. Ransel cyberpack khusus untuk membawa laptop, charger, dan kamera Nikon. Sementara pakaian semua di tas dorong. Semula Bu Eri enggan pake tas
dorong. "Ah ini sih tasnya kegedean," kata dia. He he gak percaya dia, kalau sudah bawa pakaian, pasti kurang gede itu tas. Setelah packing sana sini, memang terbukti, tas itu kurang gede. Tapi saya senang dengan tas dorong satu ini. Tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar. Kalau terlalu kecil jadi mirip tas perhiasan. Kalau terlalu besar, mirip koper jemaah haji.
Setelah mandi (berarti belum mandi dari tadi pagi), sekitar jam 2 siang, Bu Eri pilih-pilih baju batik. Kata dia, Pemkot minta wartawan bawa batik buat acara seremonial. Hah, mana punya Bu Eri batik. Akhirnya pinjam sama Mbak Ani.
Saya menggoda Kaka yang baru selesai mandi, "Hayo ditinggal sama Ibu, kasihan deh. Nanti tidurnya sendiri lho. Ya berdua deh sama tikus," canda saya. "Ya biar aja, nanti tidur sama mbah Uti aja, sama adik," jawab Kaka manja.
Sejak pagi, Kaka manjanya minta ampun deh. Dia tahu, ibunya mau pergi. Mumpung masih ada di rumah, kali. Contohnya waktu nonton di ruang tengah, saya tinggalkan Kaka terus masuk ke kamar sambil memangku Adik. Apa coba komentar Kaka. "Heuh aku gak punya teman nih, sendirian, Semuanya pergi," rajuk Kaka. Ha ha ha saya langsung ketawa. "Sini Ka, nontonnya di kamar aja sambil nemenin Ibu," ajak saya.
Saya sempatkan dulu untuk membuka situs berita detikcom di HP saya. Saya baca satu persatu. Wow, ternyata ada berita Presiden SBY sudah datang ke Ambon. "Wah pesawat SBY susah mendarat di Ambon, hujan terus," kata saya. "Iya, katanya Ambon lagi banjir," tambah Bu Eri.
Jam setengah empat sore, Bu Eri minta tolong Mas Rikhan untuk mengantarkannya ke Pemkot pakai mobil turungtung. Soalnya, teman Bu Eri, yaitu Eli yang ikut juga ke Ambon, ternyata tidak jadi menjemput ke rumah. Dia malah belum dapat taksi. Padahal rumahnya di Buahbatu, jauh ke Cimahi.
Akhirnya jam 4 lebih, kami tiba di perkantoran Pemkot Cimahi. Rupanya Bu Amel, reporter RRI, sudah lebih dulu tiba di sana. Setelah cipika-cipiki, saya, Kaka, dan Mas Rikhan, pulang.
Jam setengah 5 sore, saya memburu ke kantor. Motor dipacu kencang. Jelas saya sudah tidak bisa ikut rapat bujeting. Dari tadi siang, saya sudah minta izin, telat datang. Mana hujan lagi, gerimis, dari tadi pagi sampai sore ini. Yang penting pekerjaan beres semua... (*)

Tuesday, June 26, 2007

PAS Band Terpukul


PAS Band saat berkunjung ke kantor Tribun dan bersilaturahmi ke rumah keluarga korban
KASUS tewasnya tiga penonton konser musik PAS Band di Cimahi terus berlanjut. Kali ini personel dan manajer PAS Band yang datang ke kantor Tribun, Senin (25/6) sore.
Saya baru memarkir motor saat mobil PAS masuk halaman kantor Tribun. Orang yang keluar pertama adalah Yukie, vokalis PAS Band. Saya sudah menduga kedatangan mereka, pasti ada kaitannya dengan berita konser musik di Cimahi. Saya masuk ke dalam, lalu
memberitahukan Ricky, wartawan hiburan. "Tuh, PAS sudah pada datang," bisik saya.
Ketika saya menyalakan komputer, Mbak Hasanah mengajak saya untuk menerima PAS Band.
"Okelah..," kata saya. Saya ikut masuk ke ruang pertemuan, dan menyalami satu persatu rombongan PAS Band. Yukie langsung menyambut saya. "Hei bos, kumaha damang," kata dia.
Saya tidak asing dengan mereka ini. Saya tahu, kalau tidak disebut persis, kelahiran grup indie asal Bandung ini. Mereka diproklamirkan di Jatinangor tahun 1990. Yang membidani adalah Samuel Marudut (almarhum), music director Radio GMR. Juga tidak asing, karena Yukie, Bengbeng, dan Trisno adalah barudak Unpad. Terlebih Yukie, dia kakak angkatan saya beda jurusan. Dia Sastra Inggris, saya di STM-nya Fakultas Sastra, Sejarah. Tapi kami pernah sama-sama satu kuliah. Waktu itu Yukie mengulang mata kuliah DDF 2 (Dasar-dasar Filsafat). Dia selalu duduk paling belakang, masuk ruangan juga paling terakhir. Maklumlah, artis mah sok diminta tanda tangan, jadi takut beken gitu.
Di ruang pertemuan Tribun itu, mereka, Yukie (vokalis), Trisno (basis), Bengbeng (gitaris), Dadan MS (manajer), Yusuf Syani alias ucup (Road manajer), dan seorang lagi, saya tidak tahu, sudah duduk mengitari meja oval.
Saat memulai cerita, mereka mengaku terpukul berat dengan kejadian tersebut. Karena mereka tidak tahu sama sekali ada korban jiwa. Mereka baru ngeh ada kejadian itu setelah membaca koran.

"Gila ini, kita ini orang Bandung, maen juga masih di Bandung, tapi tidak tahu kalau ada penonton yang pulang terinjak-injak terus mati. Bukannya PAS tidak peduli, tapi karena kami benar-benar tidak tahu," kata Bengbeng, sang gitaris. Hal yang sama juga diungkapkan manajer PAS Band, Dadan. Saat Minggu malam ada wartawan dari Jakarta (Mas Yoni Persda) mengkonfirmasi kejadian itu, ia mengaku tak percaya. "Saya malah bilang, wah jangan nyebar gosip dong, itu kabar burung, Enggak ada tuh yang meninggal," kata Dadan.
Menurut Bengbeng, konser saat itu selesai pukul 10.30 malam. Setelah menunggu mobil dan kembali ke hotel, ia sempat balik lagi ke stadion untuk mengambil barang. "Itu jam setengah satu (00.30). Suasana sudah sepi, nggak ada lagi penonton. Yang ada cuma polisi lagi briefing, lalu mobil-mobil juga sepertinya mobil polisi semua. Saya enggak mendengar sedikitpun ada penonton yang terinjak-injak. Makanya langsung balik ke hotel terus pulang," tutur Bengbeng.
Mereka sempat kumpul di base camp Jalan Citrayuda sampai jam sembilan pagi. Terus
pulang ke rumah masing-masing. Sepanjang hari Minggu itu, mereka tenang-tenang saja. Sampai akhirnya Dadan ditelepon wartawan dari Jakarta.
Pembicaraan pun terus mengalir seputar konser waktu itu yang benar-benar aman, tidak ada penonton yang rusuh dan sebagainya. "Sebetulnya ini konser yang paling aman.
Polisi berjaga juga santai. Beda waktu kami manggung di Bekasi. Itu betul-betul rusuh, makanya kami memutuskan untuk menghentikan pertunjukan," kata Bengbeng.
Nah sejak dari Bekasi itu, Yukie mengaku, ia tidak enak perasaan. Yukie merasa bersalah. "Saya sampai bilang gini, saya menyesal jadi band besar yang punya banyak penggemar. Rusuh, berkelahi. Itu terbawa terus sampai main di Cimahi," kata Yukie.
Yang lebih membuat hatinya tak tentram, Yukie bilang sehari sebelum manggung di Sangkuriang, ia mimpi buang hajat besar. Bagi orang Sunda, mimpi seperti itu biasanya berarti buruk. "Asli, saya mimpi seperti itu. Waduh ada apa ini. Waktu naik panggung di Sangkuriang, saya makin tidak enak hati. Tapi konser berjalan baik dan lancar. Eh ternyata pulangnya itu yang membawa kabar buruk. Terus terang saja,
saya jadi trauma juga kalau manggung," kata Yukie setengah mengeluh.
Ya, Yukie yang terlihat paling sedih dan terpukul. Dalam pertemuan itu, ia lebih banyak diam. Padahal saya tahu, Yukie ini kalau ngomong nyerocos cos. Malahan Bengbeng yang banyak ngomong di pertemuan itu.
Setelah ngobrol panjang lebar, akhirnya rombongan PAS Band pamit. Mereka akan ke dua
koran lain dan setelah itu ke rumah korban di Cimahi. Bahkan kalau bisa ikut tahlilan. Tapi saya mengingatkan, kalau bisa PAS tidak langsung ke rumah. "Gini aja, biar wartawan kita dulu yang ke sana, kalau di sana sudah oke mau menerima, PAS bisa meluncur. Soalnya, ada keluarga korban yang kemarin histeris. Takutnya PAS Band datang, mereka histeris lagi," kata saya.
PAS pun menyetujui usulan saya. Mereka akan dipandu wartawan Tribun di Cimahi, Ferry. Setelah semua oke, baru meluncur ke rumah keluarga korban. Dan ternyata kekhawatiran saya benar. Salah satu keluarga korban, yaitu keluarga Mugi, menolak didatangi rombongan PAS Band. Hanya keluarga Rino yang menerima PAS Band, sehingga
bisa ikut tahlilan. Ya sabar saja sobat, musibah tak bisa diketahui kapan datangnya. "Tenang saja Kie, toh bukan kesalahan kita. Dan PAS sudah menunjukkan niat baik untuk bersilaturahmi dengan keluarga korban," kata saya menghibur Yukie, saat pamitan dari kantor Tribun. Yukie hanya menjawab dengan anggukan. Ia pun menyalami saya sambil mengucapkan terima kasih. "Ikut ke Cimahi? tanya dia. "Wah saya
baru datang dari Cimahi, dan harus menggarap halaman. Salam saja buat orang-orang di sana," kata saya. Lagi-lagi Yukie mengangguk. (*)

Monday, June 25, 2007

Minggu Menjengkelkan: Polisi Gila

SEHARI setelah mengalami Sabtu menyebalkan, datang pula Minggu menjengkelkan. Dua hari ini memang penuh dengan kekesalan. Nah, kalau yang hari Minggu, terkait dengan berita. Jam 00.30, ada info masuk via SMS: Ada tiga penonton konser musik J Rocks dan Pas Band, yang mati saat keluar dari Stadion Sangkuriang, Cimahi, Sabtu (23/6) malam. Saya sudah di rumah, koran sudah cetak, tak mungkin lagi muat di koran.
Akhirnya saya order reporter Ferry yang pegang Cimahi untuk menindaklanjuti. Bu Eri, yang seharusnya libur pun, akhirnya turun ke lapangan, karena temannya di kepolisian tidak bisa dikontak.
Sejak pagi, Ferry sudah ada di lapangan Sangkuriang, lalu ke RS Cibabat, dan rumah
korban tewas di daerah Ciawitali Cimahi. Mereka ini berdesak-desakkan saat keluar
stadion, padahal pintu keluar sempit. Selain itu, massa di depan terhalang kendaraan yang parkir, sehingga mampat di pintu dan terjadi dorong-dorongan. Sejumlah penonton jatuh dan terinjak-injak. Pingsan, lalu dibawa ke rumah sakit, dan tewas di rumah sakit. Itu fakta yang berhasil dihimpun di lapangan.
Karena semua info sudah dibabat habis, tinggal dari kepolisian selaku penanggung jawab keamanan konser musik. O iya, konser itu dimulai pada pukul 7 malam, dan kelar 10.30 malam dengan Pas Band sebagai penyanyi terakhir.
Ini yang bikin mangkel bin jengkel. Kapolresta Cimahi, Wahyono, yang baru dua bulan menjabat, minta media massa tidak memberitakan kejadian itu. Istilahnya 86. Gila apa!!
Masa kejadian di ruang publik dengan korban tiga orang tewas harus ditutup-tutupi. Saat konfirmasi ke rumah Kapolresta, ada empat wartawan: Ferry dari Tribun, Bu Eri dari PR, Dadang dari Galamedia, dan Bu Amel. Semuanya diminta tidak memberitakan kejadian yang jelas mencoreng muka Kapolresta baru itu.
Namun setelah disebutkan bahwa informasi ini sudah menyebar kemana-mana, kantor pun sudah tahu, Kapolresta itu menawar,"Bagaimana kalau disebutkan pingsan saja, bukang meninggal?" Kurang ajar ni Kapolres, dia mau membohongi publik. Masa orang pingsan disolatkan dan dikuburkan. Tentu saja kita berargumen bahwa kita punya foto-foto saat korban disolatkan dan dimakamkan.
Walau didesak oleh wartawan, Kapolresta sableng itu tetap minta agar berita jangan
turun, kalaupun turun kecil saja, di halaman dalam, dan bahasanya diperhalus.
Permintaan gendeng yang tak mungkin kami luluskan Pak!

Saya yang mendapat informasi soal Kapolresta itu setelah ditelepon Bu Eri. Bu Eri minta maaf, karena pagi-pagi meninggalkan saya dan anak-anak untuk mengejar berita heboh ini. Dan lebih heboh lagi, waktu cerita soal Kapolres.
Saya pun kontan mencak-mencak. Sisa-sisa kekesalan karena Flexi, sehari sebelumnya,
langsung membuncah lagi. Dan saya tumpahkan pada reporter saya. "Kamu jangan takut diancam Kapolres. Kita punya fakta kuat, buat apa takut. Tidak ada celah bagi dia untuk menggugat. Bahkan kita bisa menggugat balik, karena dia telah membohongi publik, menghalangi kerja wartawan mendapatkan informasi yang sebenarnya," kata saya waktu Ferry datang ke kantor. "Beritakan semua apa adanya. Fakta adalah fakta, tidak bisa diubah. Apapun yang terjadi, A adalah A. Mati ya Mati, tidak bisa jadi
pingsan," tandas saya.
"Kang, katanya Kapolres mau ke kantor sini. Mungkin mau ngomongin berita ini," kata Ferry. "O iya sekalian saja, kalau ke datang ke sini, kita sikat," tegas saya.
Sore, sekitar jam 17.00, Ferry menyodorkan HP-nya. "Kasat telepon," katanya berbisik. "Oh.." saya langsung sambar HP Ferry. "Saya Ahmad Zubair, Kasat Narkoba, saya ingin berkunjung ke Tribun," ujar seseorang di ujung telepon. "Oh dengan senang hati Pak, silakan saya tunggu," jawab saya.
Jam 18.15, datang Pak Ahmad Zubair dan ajudannya, Wawan. Ia diterima di ruang rapat.
Hadir dalam pertemuan itu, Redpel Hasanah, Manprod Kang Cecep, saya, dan Ferry.
Secara terus terang, Pak Zubair menyebutkan ia membawa amanat Kapolres untuk disampaikan kepada Tribun, terkait pemberitaan kejadian tewasnya tiga penonton konser musik.
Pak Zubair mengawalinya dengan meminta agar berita itu diperhalus. Diperhalus itu, jangan disebut meninggal, tapi pingsan saja. Itu permintaan Kapolres, kata Pak Zubair. Lalu soal waktu meninggal, Kapolres minta agar disebut Minggu pagi saja, sekitar jam 09.00. Jangan dibilang Minggu dini hari atau Sabtu malam. Kepala saya jadi panas mendengar celotehan Pak Zubair yang menyampaikan pesan Kapolres.
"Kurang ajar bener ni Kapolres, memang harus diberi pelajaran," gerutu saya dalam hati.
Redpel Mbak Hasanah yang menjelaskan tentang sikap Tribun. Jelas menolak toh!! Fakta adalah Fakta, tak bisa diganggu gugat. Mungkin pembahasaan bisa diperhalus, tapi fakta tak bisa diganti. Malam menjadi pagi, mati menjadi tewas, dll.
Ke sana ke mari pembicaraan, dua pihak tetap seperti itu. Polisi minta "tolong dibantu" agar pemberitaan tidak mencuat, kita pun bertahan pada fakta yang kita temukan di lapangan.
Saya pun angkat bicara pada pertemuan itu, terkait dengan sikap Kapolres yang ingin menutup kasus. "Sampaikan pada Kapolres, kalau saja tadi siang, Kapolres bisa
bersikap diplomatis, menerangkan bahwa konser itu sebenarnya berlangsung lancar, aman, apalagi pengamanan maksimal, hanya saja saat usai pertunjukan, penonton berdesakan ingin pulang lebih dulu dan tidak bisa ditangani,dan itu di luar kemampuan kita, persoalan ini selesai, tak perlu bapak-bapak ini roadshow ke
koran-koran untuk menutup berita," kata saya dan bla-bla lainnya tentang sikap kapolres.
Pak Zubair pun lalu bilang,"Saya sudah menyampaikan apa pesan Kapolres. Tidak ada
lagi tanggungan pada diri saya, dan tidak berdosa. Saya tinggal laporkan saja apa yang menjadi pembicaraan di sini," kata Pak Zubair.
Namun tak lama, Kapolres Cimahi, Wahyono, mengontak Zubair. Lewat HPnya Pak Zubair,
Wahyono menyampaikan permintaan serupa. Yang lagi-lagi kita tolak.
Akhirnya, karena Pak Zubair juga mau roadshow ke PR dan Galamedia untuk maksud yang sama, usai sudah pertemuan.
Nah di akhir pertemuan ini, Pak Zubair sambil lalu menyimpan map merah di meja. "Ini ada titipan dari Pak Kapolres," katanya. Ha ha ha, kami sudah tahu model amplop kayak begini. Terang saja kami menolak. Map itu langsung Kang Cecep dan Mbak Hasanah
kembalikan ke tangan Pak Zubair.
Saya sendiri langsung ngeloyor ke ruang redaksi dan berbusa-busa menceritakan
pertemuan tadi kepada teman-teman. Tentu dengan nada kesal dan jengkel, dan sedikit
marah. Polisi itu menganggap kita ini bisa dibeli dengan uang. Entah berapa rupiah yang tertulis di cheque itu. Tapi pasti, berapapun nilainya tidak akan menggoyahkan sikap kami untuk menyampaikan kebenaran itu apa adanya.
Camkan itu!! (*)

Sabtu Menyebalkan: Flexi Rugikan Pelanggan

SABTU 23 Juni 2007. Saat menuju ke kantor, saya singgah ke kantor Telkom Jalan Lembong. Saya mau registrasi migrasi flexi. Saya baca di koran, untuk pelanggan Flexi tahun 2003, batas registrasi sampai hari Minggu, 24 Juni. Sebelumnya saya sempat kontak ke layanan bebas pulsa. Operator bilang, Sabtu-Minggu, Plaza Telkom Cimahi tutup, jadi harus ke Bandung. Kalaupun tidak sempat, bisa hari Senin, 25 Juni.
Saya bawa serta handshet dan KTP Bu Eri, karena waktu dulu daftar atas nama Bu Eri. Setelah baca iklan Flexi,
bayangan saya, handshet Sanex yang frekwensinya 1900 hz, akan dipindahkan ke 800 Hz.Makanya Telkom bilang handshet harus dibawa.
Di tempat registrasi, HP sanex diperiksa, apa masih berfungsi atau tidak. Lalu saya pun mengisi formulir registrasi dan mendapat penjelasan dari si Teteh petugas check HP. Selesai di meja check, saya menuju meja registrasi dan kompensasi.
Nah inilah awal yang menyebalkan. Si petugas, namanya Eceu Yayan (aneh yah, laki-laki namanya Eceu, soalnya dalam bahasa Sunda, Eceu itu panggilan untuk kakak perempuan atau perempuan yang lebih tua, Red). Si Eceu ini menjelaskan, kalau Flexi saya masuk kategori Silver. Jadi ada tiga kategori, yaitu Silver, Gold,dan Platinum. Pengkategorian didasarkan pada lama berlangganan, jumlah pemakaian per bulan, dll.
Nah si Eceu ini menyebutkan, untuk kategori Silver, kompensasi migrasi adalah Pulsa dan Kupon. Pulsa besarnya Rp 600 ribu selama enam bulan, berarti satu bulan Rp 100 ribu. Kalau Kupon besarnya Rp 400 ribu, untuk voucher membeli handshet baru yang ditentukan oleh Telkom. Perlu juga dijelaskan, dalam iklan Flexi di koran-koran, soal kompensasi tidak dijelaskan, hanya disebut kompensasi akan diberitahukan saat registrasi.

Persoalan yang muncul kemudian, kalau pelanggan memilih Kupon, maka dia bisa menukarkan voucher dengan HP baru, namun jika harga HP lebih mahal dari kupon, pelanggan harus menambah lagi uang. Selain itu, pelanggan pun HARUS MENYERAHKAN HANDSHET YANG LAMA.
Saya terang langsung mencak-mencak sama si Eceu dan petugas lainnya di meja registrasi
. "Ini aturan macam apa, Hah? Ini merugikan pelanggan. Coba Anda pikirkan, ini merugikan tidak. Kalau saya pilih kupon, saya membeli handshet baru dan ada kemungkinan menambah uang, lalu H P saya harus diberikan kepada Telkom? Apa enggak rugi? Orang waras juga pasti bilang itu rugi. Ini Telkom gimana. Anda tahu tidak, handshet apa yang ditawarkan Telkom tahun depan itu, Hah? Tahu? Enggak khan? Bisa tidak HP nanti itu untuk internet? Masa saya membeli handphone yang tidak jelas juntrungannya, lalu HP saya diberikan begitu saja. Apa-apaan ini? Saya datang kemari sebagai orang awam. Yang namanya Migrasi itu berarti pindah.
Kenapa telkom minta pelanggan membawa handshet, yah dalam pemikiran saya, itu untuk diganti frekwensinya dari 1900 ke 800. Tinggal diganti chipnya, beres. Tapi ini apa, kompensasi kayak gini,? cerocos saya.
"Kalau yang ganti HP itu hanya untuk Platinum, itu juga hanya ganti dalamnya saja, diganti ke 800, Mas. Nanti harga HP CDMA turun kok, paling juga 400 ribuan, ya kalau Mas enggak mau, dijual saja HPnya ke konter," kata petugas cewek yang duduk di samping si Eceu.
Kontan saya meledak lagi. "Hah ke konter? Saya datang ke sini dengan niat baik untuk registrasi bukan untuk menjual HP. Seharusnya kan Telkom mengganti semua handshet dari 1900 ke 800 seperti yang Platinum itu, bukannya menawarkan Pulsa atau Kupon, karena itu merugikan pelanggan. Kalau ke Platinum bisa, kenapa ke Silver dan Gold tidak bisa mengganti bagian dalam handshet? kata saya lagi. Ada sekitar setengah jam, saya mencak-mencak. Dan yang bikin kesal lagi jawaban yang keluar adalah jawaban klise kalau terpojok bin kepepet. "Kami cuma petugas Pak, tidak tahu soal seperti itu, kami menjalankan tugas saja. Kalau bapak tidak mau ya tidak apa-apa," Sialan, gerutu saya dalam hati.
Karena tidak ada pilihan lain, setelah konsultasi dengan Bu Eri, akhirnya saya pilih kompensasi Pulsa. Risikonya saya mesti beli HP baru, karena HP Sanex SC7080 yang hanya mono frekwensi tidak bisa berfungsi lagi di jalur 800 Hz. Ya daripada harus menyerahkannya tanpa syarat ke Telkom. Bayangkan saja, HP itu harganya Rp 2.3 juta, beli saat awal-awal Flexi. Saya butuh, untuk akses internet di rumah. Maklum tidak ada telepon rumah. Bertahun-tahun mengajukan pemasangan baru, tak pernah ada realisasinya. Dengan HP Sanex yang punya modem internal itu pula, saya dan Bu Eri bisa mengakses internet, mengirim berita, sorot, foto, dan lain-lain. Kalaupun sekarang harganya jatuh, taruhlah 400 ribu, saya tentu tak rela menyerahkannya ke Telkom. Rugi besar donk, Apa HP yang ditawarkan Telkom juga bisa untuk internet? Orang petugasnya juga tidak tahu HPnya mereka apa yang ditawarkan Telkom.
Kesal dan marah berpadu jadi satu, dan terus terbawa sampai ke kantor. Bawaannya Nasteung, pengen marah aja. Dasar Flexi,...sialan (*)

Saturday, June 23, 2007

DAFTAR ke TK

KAMIS (21/6). Saya mengingatkan Bu Eri untuk mendaftarkan Kaka Bila ke TK.Kalau tidak salah, hari terakhir pendaftaran adalah tanggal 22 Juni. Mumpung hari Kamis, Kaka libur sekolah, dan saya tidak berangkat pagi ke kantor. "Sudah mengambil uangnya kan?", tanya saya yang dijawab Bu Eri dengan anggukan.
Akhirnya setelah beres-beres rumah dan mandi, saya, Bu Eri, dan Kaka Bila berangkat ke TK Mutiara Bunda di Warung Contong. Kaka dibonceng saya, Bu Eri pakai motor sendiri, Mio.
Setiba di sana, sekitar jam 10.00, tampak ibu-ibu sedang menunggu anak-anak mereka pulang sekolah. Saya langsung masuk ke ruang kantor TK. Melihat mainan ayun-ayunan, Kaka langsung bermain. Saya dan Bu Eri bertemu dengan Ibu Dedeh. Saya tidak menanyaan dia sebagai apa. Tapi dari penampilan, dan dia juga aktif di IGTK, sepertinya Bu Dedeh ini Kepala Sekolah Playgrup dan TK Mutiara Bunda.
Bu Eri bertanya beberapa hal tentang kurikulum TK ini. Setelah penjelasan dari Bu Dedeh cukup, Bu Eri langsung saja mendaftar dan melunasi biaya sekolah selama setahun. Tidak mahal, cukuplah, hanya Rp 810 ribu. Itu untuk biaya pendidikan, tiga stel pakaian plus tas dan kaus kaki. Sementara saya mengisi daftar isian identitas. Biasanya sih Bu Eri yang mengisi. Tapi kali ini giliran saya yang mengisi.

"Di sini waktu sekolah hanya lima hari, sampai Jumat saja. Sabtu Minggu libur, ya itu waktu buat keluarga," kata Bu Dedeh. "O iya Bu, saya setuju, soalnya kami bekerja dan kalau setiap hari repot juga bagi kami. Itu juga salah satu alasan kami memasukkan Bila ke TK ini," sambung saya.
Sementara Kaka mencoba satu persatu permainan yang ada di TK itu. Selain ayunan, ada juga mandi bola, perosotan, jembatan goyang, dan lain-lain. Kaka pun sempat masuk ke ruang kantor. Bertemu dengan seorang guru dan Bu Dedeh. Seperti biasa, awalnya Kaka malu. Dia memang pemalu, seperti saya, he he he (Ayahnya sih memalukan). Tapi kalau sudah kenal dan in charge, langsung tidak malu-malu lagi. Dia pun mengacak buku-buku di lemari kantor itu. Ada beberapa yang di rumah pun ada. Seperti satu set buku Halo Balita, atau cerita-cerita Ali dan Nisa.
Setelah pendaftaran beres, kami pun pamit. Di luar pagar TK, Bu Eri pamit. Dia mau langsung kerja, meliput HUT Cimahi. Saya dan Kaka pulang ke rumah. Tapi sebelumnya singgah dulu di RM Oyen di depan RS Dustira, beli es kelapa kesukaan Kaka. (*)

Thursday, June 21, 2007

IPDN Lagi, Lagi-lagi IPDN


RABU (20/6) malam sekitar jam 20.00, HP saya berdering tanda pesan masuk. Saya yang masih berkutat di depan komputer di kantor, menengok sejenak. "Dari Kang Dedi Sumedang,ada apa nih," pikir saya. Saya buka SMS-nya. Weleh ini sih berita bagus. SMS itu berbunyi: Ada muda praja asal Riau dirawat di RS spesial mata Cicendo Bandung. Kaloh bertanggung jawab terhadap kemungkinan butanya mata praja yang jumat kemarin dipukul pengasuh. Ortu dilobi spy tdk keberatan & mau atur damai dengan IPDN. Tks. (sms dari Andi Asikin).
Wah IPDN bikin kasus lagi nih. Belum juga selesai kasus Cliff Muntu, eh ada lagi. Memang mesti dibubarkan tuh IPDN. Tak lama berselang, datang sms serupa dari Krisna, Korlip Tribun, yang mengirim dari Benua Eropa sana. Kebetulan Krisna sedang muhibah ke beberapa negara Eropa, di antaranya Jerman, Prancis, Belanda, dengan Pemkot Bandung. Berarti info kasus IPDN terbaru ini sudah menyebar ke Eropa. He he he
Sumber info tetap sama, Andi Asikin. Saya tahu dia ini mantan pengasuh STPDN/IPDN yang masih punya idealisme. Dan sekarang sudah tidak jadi pengasuh lagi, namun jadi dosen IPDN. Saya sampaikan info itu pada Manprod, Kang Cecep, dan Redpel Mbak Hasanah. Rupanya mereka juga menerima sms yang sama.
Segera saja saya luncurkan wartawan berangkat ke RS Cicendo. Okto yang saya order ke sana. Lalu untuk memperjelas info, kita kontak Pak Inu Kencana. Rupanya dosen vokal yang heboh dengan bukunya "IPDN Undercover" ini sedang ada di Surabaya. Dia tidak tahu kejadian itu, tapi sudah menerima laporannya.
Akhirnya untuk mengkonfirmasi kebenaran kasus itu, saya coba kontak Plt Rektor IPDN, Johanis Kaloh. Karena orang penting dan paling sering dikontak, nomor HP-nya terpampang di komputer dekat telepon. Saya bel beberapa kali, mailbox terus. Saya coba lagi, terus redial nomornya, siapa tahu lagi sibuk.
Eh, masuk juga. Dan Pak Kaloh yang mengangkat. Langsung saja saya tanya tentang kasus itu. Apa jawabannya. "Ya saya sudah menerima laporan, ada praja yang sakit dan sekarang sedang diurus. Tapi saya belum tahu bagaimana kronologi sebenarnya. Juga belum tahu benar tidaknya pengasuh yang memukul. Saya lagi di Jakarta, jadi besok saja ya penjelasannya lebih rinci di kampus," kata Kaloh, tergesa-gesa, sambil menutup telepon. Hah apapun omongannya, yang penting dia ngomong. Tulis saja seadanya dia ngomong, itu pun sudah konfirmasi.

Nama praja yang jadi korban kali ini adalah Yogi Riyadi, muda praja asal kontingen Riau. Kabarnya dia dipukul pengasuh, sehingga mengenai matanya dan harus dioperasi. Bahkan Yogi ini terancam buta.
Setelah konfirmasi itu, tinggal menunggu wartawan datang dari lapangan. Di tengah menunggu itulah, telepon krang kring dari Warta Kota Jakarta meminta dikirim berita itu. Mungkin lebih dari 10 kali, Kang Tatang, Redpel Warkot, menelepon menanyakan Kang Cecep. Karena kita pun sama-sama menunggu wartawan, ya susah. Waktu dia telepon lagi, akhirnya saya yang mengangkat. "Kang, wartawannya masih di lapangan, tunggu aja deh bentar lagi. Paling juga ini konfirmasi dari Rektor IPDN, tulis aja lah, separagraf paling juga. Oke Kang yah, tunggu deh," cerocos saya. Akhirnya Kang Tatang pun tak nelepon lagi, menunggu kiriman berita saja, tentu dengan hati empot-empotan, soalnya Deadline Warkot lebih cepat, sementara waktu menunjukkan jam 23.00.
Kasus IPDN semacam ini mengingatkan saya pada persinggungan pertama dengan STPDN enam tahun lalu. Waktu itu seorang muda praja, Eri Rahman, menjadi korban pertama STPDN yang berhasil diekspos besar-besar oleh media. Metro Bandung, cikal bakal Tribun Jabar, leading dalam pemberitaan kasus ini. Saya bersama sohib saya, Isni Indiarti (hengkang ke Sindo, sekarang di Jurnal Indonesia) yang bahu-membahu membongkar kasus kekerasan ini. Saya sampai dikejar-kejar praja di dalam kampus STPDN, saat investigasi. Waktu itu, nama Pak Inu sebagai informan STPDN belum muncul. Informan di dalam IPDN adalah Pak Priyo. Dia orang ITB yang diperbantukan di STPDN. Saat itu dialah informan terbaik, dan selalu menghubungi kita kalau ada kasus di STPDN. Sayangnya sekarang dia melempem, kalah oleh keberanian Pak Inu.
Sebenarnya ada rasa tidak enak juga saat investigasi soal STPDN ini. Bagaimana tidak, teman-teman saya banyak di STPDN. Bahkan sahabat saya, Pak Dadan Ahmad Muharam, adalah lulusan terbaik kedua STPDN 1995. Sekarang dia jadi Camat di Cianjur. Dari cerita-cerita Pak Dadan, saya tahu, anak-anak STPDN sudah biasa digulung. Itu istilah untuk pemukulan. Pak Dadan ini dikenal dengan sebutan Si Batu, karena perutnya keras, tak mempan dipukul. He he he dia memang berguru dulu sebelum masuk STPDN, tertipu deh itu senior praja. Pak Dadan pun menjadi narasumber saya yang menjelaskan adanya tindak kekerasan di sTPDN. Tapi ya fakta adalah fakta, teman adalah teman. Kalau memang faktanya ada pemukulan, ya sebut saja ada pemukulan, tak perlu ditutup-tutupi.
Setelah kasus Eri Rahman ini, STPDN semakin heboh. Kali ini kasus Utari, praja perempuan yang aborsi dan tewas di rumah Bidan. Lagi-lagi saya yang meliput kasus ini. Mayat Utari ditemukan di daerah Ngamprah, hendak dibawa pacarnya, juga seorang praja, untuk dikuburkan. Untung keburu ketahuan warga dan polisi. Kapolsek Padalarang waktu itu, Iptu Mulyadi, langsung kontak saya. "Ni ada praja bikin ulah lagi," kata Pak Mulyadi, yang akrab dengan saya. Dia memang sudah menganggap saya sebagai adik. Sekarang dia tugas di Polwiltabes Bandung, dengan pangkat AKP sebagai Kanit Intel.
Ya itulah STPDN, sekarang IPDN. Tak pernah lepas dari masalah yang bikin heboh publik. Dan mereka tak pernah berkaca pada pengalaman. Karena korban-korban IPDN terus berjatuhan hingga sekarang ini. (*)

Wednesday, June 20, 2007

Pemain Mahal



INI pemain bola termahal di Tribun FC he he he. Lagi beraksi di lapangan Stadion Persib saat melawan kesebelasan Polresta Bandung Tengah. Weleh, polisi bo dilawan, ya kalah lah...




Ayo Bangkit Tribun FC


TEMAN-teman di kantor banyak yang mengeluh. Sudah lama mereka tidak pernah main sepakbola lagi. Rupanya saat saya di Batam, 2 bulan itu, mereka tak pernah berlatih. Pernah, sekali bertanding. Melawan Palber, tim Divisi II Persib, di Dayeuhkolot, sekitar awal Mei. Dan menang 5-1. Luar biasa. Setelah itu, tidak pernah ada lagi supak sepak saban sonten supados salira sehat.
Saat saya pulang dari Batam, semua gembira. "Ayo Mac, main bola lagi nih. Perut sudah gendut begini, tak pernah gerak lagi. Enggak ada Mac gak ada yang mengkoordinir," kata Kang Her. Teman-teman yang lain pun sama menanyakan hal serupa. "Oke deh, saya usahakan kita bisa berlatih lagi. Nanti kita cari lapangan," kata saya sekenanya.
Tribun FC, begitu kami menyebut tim sepakbola kebanggaan Tribun Jabar ini. Sejak setahun lalu, kami biasa berlatih di Lapangan Ciremai milik Kavaleri, dekat Seskoad. Kenapa di sana? Karena lokasinya tak jauh dari kantor Tribun. Dan yang paling utama, harga sewa lapangnya murah. Cuma Rp 250 ribu per bulan. Bayangkan, di Bandung itu susah sekali mencari lapang. Kalaupun ada harganya selangit. Lapang Sabuga harga sewanya Rp 500 ribu setiap kali main, per 2 jam. Lapangan UPI Rp 750 ribu per 2 jam. Lapangan Batununggal Rp 500 ribu per bulan. Lha ini ada lapangan dengan sewa murah, ya diembat saja.
Namanya juga lapangan murah, kondisinya ya seadanya juga. Rumput tidak rata, hanya di pinggir kiri kanan lapang. Di tengah, ya botak. Kalau hujan, he he jangan ditanya. Pasti kayak kubangan kebo. Sehabis hujan, lalu panas agak lama, lapangan jadi bergelombang, bekas pijakan orang di lumpur.

Namun sejak Februari lalu, kami berhenti berlatih di Lapangan Ciremai. Pasalnya, kami tidak punya uang lagi untuk sewa lapang. Kasihan sekali yah. Saya yang mengkoordinir soal keuangan, sudah angkat tangan. Kas sudah kosong, sementara iuran per bulan macet. Macet karena kita tidak pernah berlatih lagi, karena hujan terus menerus mengguyur Bandung, sehingga lapangan jadi kubangan.
Beberapa teman sudah mencoba mengaktifkan kembali sel mati Tribun FC ini. Mereka mengontak kembali pengelola Lapangan Ciremai, siapa tahu bisa menyewa di sana lagi. Rupanya Pak Jaka, pengelola di sana welcome saja. Pak Jaka mau menyediakan tempat dan waktu yang sama, setiap Sabtu pagi, untuk Tribun. Padahal, katanya, yang antren untuk menyewa banyak banget. Tapi dia mendahulukan Tribun.
Teman yang lain juga menawarkan lapangan murah, yaitu di Batununggal. Tapi sampai sekarang, belum ada jawaban bisa atau tidaknya menyewa lapangan di sana. Makanya saya ambil keputusan saja, kalau sampai Kamis besok tidak ada jawaban dari pengelola Lapangan Batununggal, yang notabene kondisi lapangnya lebih layak, kita putuskan saja untuk tetap berlatih di Lapangan Ciremai kesayangan. Walau kondisi seadanya, lumayan bisa menguras keringat...(*)

Tuesday, June 19, 2007

Ohhh Persib

SAMBIL mengedit berita, saya menonton Persib Bandung yang tengah berlaga di ajang Copa Indonesia melawan Persijap di Stadion Siliwangi. Pertandingan yang berlangsung malam hari itu disiarkan secara langsung oleh Lativi.
Dan bukan cuma saya yang menonton. Hampir semua orang di kantor menonton. Ruang redaksi jadi padat oleh maniak Persib. Teriakan-teriakan spontan keluar saat pemain Persib menyerang atau hampir mencetak gol. Semua orang gemes karena Persib belum mampu mencetak gol hingga babak kedua.
Persib main bagus, tapi permainan Persijap pun terbawa bagus. Saling serang dengan determinasi tinggi. Gemuruh ribuan bobotoh fanatik yang memenuhi Stadion Siliwangi memekakkan telinga untuk menyemangati anak-anak Maung Bandung. Namun tetap saja, gol belum tercipta. Malahan permainan menjurus kasar. Beberapa kali pemain Persib atau Persjiap memeragakan permainan kasar. Sikutan Nova Arianto menghajar muka pemain Persijap. Begitu pula tackle keras pemain Persijap menghantam kaki Ridwan Barkoui.
Suara "penonton" di ruang tamu Tribun terdengar paling ribut. Terkadang teriakan itu menjadi bahan tertawaan yang lain. Ahhhhh...." begitu teriakan kecewa saat tendangan Cabanas diblok kiper Persijap.

Pertandingan sudah memasuki masa perpanjangan waktu. Babak kedua perpanjangan pun sudah hampir berakhir. Tapi gol yang ditunggu-tunggu belum juga hadir. Apakah pertandingan akan berakhir dengan adu tendangan penalti? Ha aaaaah...
Apakah Persib akan lolos ke 16 besar Copa Indonesia? Belum terjawab sebelum peluit panjang ditiup wasit.
Ternyata memang adu penalti. Penendang pertama dari Persib, Lorenzo Cabanas, gagal, karena bola diblok kiper Persijap, Fance. Kedudukan 4-3 untuk Persijap dengan sisa penendang satu orang. Dan teriakan kekecewaan pun membahana, ketika tendangan penendang terakhir Persib, Suwita Patha, melambung di atas mistar gawang. Pemain Persijap pun merayakan kemenangan dengan penuh sukacita. Ohhhhh Persib...

Cita-cita

SETIAP orang punya mimpi dan cita-citanya sendiri. Cita-citanya itulah yang menjadi tujuan dan akan coba digapainya hingga terwujud. Waktu kecil, saya bercita-cita jadi seorang ajengan. Ajengan adalah kata dalam Bahasa Sunda untuk menyebut kiai atau ulama. Mengapa jadi Ajengan? Tentu karena lingkungan sekitar saya mendukung munculnya cita-cita itu.
Saya lahir dan besar di lingkungan yang dekat dengan pesantren. Walau tak seperti dua kakak saya yang menempuh pesantren secara formal, saya pun sempat menjadi
santri kalong. Santri kalong ini sebutan buat santri yang tidak menginap di kobong (asrama) dan hanya sewaktu-waktu datang ke pesantren saat ada pengajian. Beberapa pesantren pernah saya sambangi untuk mengaji kitab-kitab khusus, kitab kuning. Sementara sehari-hari saya mengaji dan berguru pada bapak saya, seorang santri tulen.
Namun cita-cita itu mulai surut sejak masuk bangku SMA, lalu kuliah. Cita-cita pun berubah ingin menjadi petani. Ini terjadi setelah saya berinteraksi secara intensif dengan para petani di Garut, Cimenyan, dan Cikuda Jatinangor. Saya waktu itu ingin membuktikan, kemiskinan tidaklah melekat pada petani. Petani pun bisa sukses, walau harus diakui, mereka ini memang orang-orang miskin, yang hanya menjadi petani penggarap. Padi hanya cukup untuk makan, tidak lebih. Padahal basis pendidikan saya bukanlah pertanian, tapi sejarah.

Namun Sejarah pula yang membukakan mata saya, bahwa petani memiliki peranan penting dalam sejarah bangsa ini. Sesungguhnya banyak gerakan-gerakan sosial yang digerakkan oleh petani dan dilatarbelakangi persoalan pertani. Contoh nyata adalah Pemberontakan Petani Banten 1888. Itulah yang ditulis begawan Sejarah, Sartono Kartodirdjo, dan menjadi masterpiece historiografi sejarah Indonesia. Sartono telah
membongkar penulisan sejarah yang hanya sejarah tok. Dia telah menerapkan pendekatan multidimensional, multikeilmuan, dan melarapkan konsep serta teori-teori ilmu sosial, dalam memandang suatu objek sejarah. Karena itu, pisau bedah sejarah
sangat tajam untuk menganalisis suatu peristiwa, karena dia kaya dengan ilmu penunjang lainnya.
Tak heran, saya pernah terjun menjadi petani jamur shitake. Pernah mengolah sampah menjadi pupuk, dll. Pengetahuannya saya peroleh secara otodidak. Sampai sekarang, cita-cita menjadi petani masih tetap ada. Bergelut dengan pena, berjibaku dengan
kata, bukan penghalang untuk melanjutkan cita-cita yang tertunda.
Pernah hal ini saya ungkapkan pada Bu Eri. "Kalau punya uang, kita beli tanah di daerah Cisarua atau Cikalong Wetan. Kita tanami dengan komoditas unggulan untuk diekspor. Kita bikin pupuk sendiri, bikin pembibitan sendiri, jangan tergantung pada produsen yang kapitalis itu," kata saya suatu hari.
Walau terasa sulit, saya mencoba kecil-kecilan mewujudkan cita-cita jadi petani dengan cara menanam sayuran di polybag. Lumayanlah, bisa untuk konsumsi di rumah.
Nah belakangan, cita-cita saya bertambah. Saya ingin memiliki perpustakaan umum yang dikelola oleh pribadi. Kenapa muncul keinginan seperti itu? Karena keprihatinan saya atas minat membaca masyarakat. Dan saya perhatikan di Cimahi belum ada Book Corner. Bayangan saya, kalau mengelola Book Corner, ke depannya bisa membuat Klab
Membaca atau Klab Menulis. Malahan saya pun bercita-cita pula punya Klab Wisata Sejarah, yang kerjanya ngajak bule tour keliling kota Cimahi atau Bandung buat bernostalgia. Ha ha ha...
Gak salah kan bercita-cita. Aa Gym juga bilang, kalau punya keinginan itu dimulai dari mimpi dulu. Mimpi punya pesantren, bekerja kerja, lalu terwujud pesantren. Gitu katanya...
Jadi sekarang menjadi seorang wartawan ini bukanlah cita-cita. Ini musibah bin kecelakaan. Tapi kecelakaan yang mengasyikkan. Saking asyiknya, sekalian saja terjun. Kuyup tak apa, asal hati senang. Ha ha ha ....(*)

Gaya Kaka




SUDAH mirip model belum? Kaka lagi bergaya di depan rumah, dekat pot-pot tanaman.




The Legend Is Back... !


SAYA mengenal, atau tepatnya mendengar, pertama kali grup yang satu ini sekitar tahun 1989-1990. Waktu itu ada lagu yang enak di telinga dan asyik buat goyang kaki. Judulnya Forever Now. Itulah kali pertama saya mengetahui Level 42, grup jazz Funk Fushion beken dan melegenda. Dimotori duo pentolannya, Mark King dan Mike Lindup.
Uniknya Level 42, personel intinya cuma dua orang itu. Mark mencabik bas sekaligus vokalis dan Mike pencet keyboard.
Tahun 2003, mereka ini pernah manggung di Bandung. Empat tahun berlalu, Level 42 kembali menyambangi Kota Kembang yang sarat dengan penggemar jazz. Tentu jadi pelepas kangen jazz lover di Bandung. Sayangnya saya tak bisa menonton konser mereka ini di Ballroom Hotel Hyaat, Bandung, Rabu (13/6) malam. Namanya malam, ya jelas mesti mendahulukan deadline. Lewat laporan reporter hiburan Tribun, Ricky Reynald Yulman, saya bisa menyampaikan bagaimana aksi Mark King cs malam itu.
Mark bersama empat personel Level 42 lain yaitu Mike Lindup (keyboards), Gary Husband (drum), Nathan King (gitaris), dan additional player Sean Freeman (saxophone), langsung setuju ketika pihak promotor menawarkan mereka menggelar konser di tiga kota di Indonesia. Bandung, Medan, dan Surabaya.
"Ini kesempatan bagus supaya kami bisa kenal penggemar jazz selain di Jakarta. Jujur, dari pengalaman empat tahun lalu saya agak nervous main di Bandung. Sebab penggemar jazz di sini lebih ekspresif dibanding kota-kota lain," ungkap Mark sambil tersenyum.
Band Inggris pengusung aliran jazz-funk fushion ini, benar-benar mengobati rasa kangen sekitar 1.000 jazz lover Bandung melalui konser Dji Sam Soe Super Premium Jazz Level 42 World Tour.
Jazz lover Bandung pun tak kuasa menahan goyang ketika Mark Cs membuka konser lewat tembang Dive Into The Sun. Tiga belas lagu berikutnya termasuk lagu Love Games, Running In The Family, Lessons In Love, mengalir seperti gelombang.
"Kami pilih 14 lagu dari sekitar 2.000 lagu dari 11 album. Termasuk dari album Retroglide yang dirilis September tahun lalu. Dalam waktu sekitar 90 menit, kami coba tampilkan lagu yang jadi hits internasional," ujar Mark.

*****
ENAM jam sebelum naik panggung, Mike Lindup menyampaikan ketegasan Level 42 tetap mengusung konsap jazz-funk fusion. Kibordis berambut ikal ini menyampaikan masing-masing personel Level 42 memahami musik sebagai bahasa universal dan berlaku di seluruh dunia.
"Musik yang disampaikan melalui gelombang suara mampu menembus berbagai batasan. Mulai perbedaan negara, usia, dan batasan lain. Kami yakin musik kami bisa seperti itu. Sebab tiap kali tampil selalu banyak penggemar dari kalangan anak muda," ujar Gary Husband, sang penggebuk beduk Inggris.
Gary menambahkan, pemahaman tersebut sangat mempengaruhi langkah Level 42 ke depan. Gary yakin dengan konsep bermusik seperti saat ini Level 42 tetap tak kehilangan penggemar.
Mark King memberi bocoran, Level 42 tengah mempersiapkan album baru. "Konsepnya sudah sekitar 60 persen. Satu yang berbeda, album kali ini kami buat dalam kemasan akustik," paparnya.
*****
Sinar Lampu di Leher Bas Mark
SELAIN teknik permainan bas serta karakter vokal yang khas, Mark King masih punya satu keunikan lain. Yaitu sinar lampu yang memancar dari leher bas elektrik. Di antara kelap kelip lampu sorot, lampu di leher bas Mark King terlihat begitu menonjol.
Sambil tersenyum Mark King mengaku sengaja menambah ornamen lampu warna-warni di leher bas. "Fungsi utamanya sebagai penanda juga pemandu kapan saya mulai menyanyi. Ya, mungkin karena pengaruh usia."
Selama 26 tahun berkarya, Mark melihat perkembangan jazz di berbagai belahan dunia sudah mengalami peningkatan. Termasuk musik jazz di Indonesia. Salah satu indikasi yaitu adanya patelaran event jazz bertaraf internasional di Indonesia.
"Adanya teknologi internet juga sangat membantu kami, komunitas jazz seluruh dunia berkomunikasi. Kami sering berdiskusi banyak hal tentang musik jazz," terang Mark. (*)
DISKOGRAFIS Level 42 :
1. Level 42 (tahun 1981)
2. The Early Tapes (tahun 1981)
3. The Pursuit of Accidents (tahun 1982)
4. Standing in the light (tahun 1983)
5. True Colours (tahun 1984)
6. World Machine (tahun 1985)
7. Running In The Family (tahun 1987)
8. Staring at the Sun (tahun 2002)
9. Guaranteed (tahun 2004)
10. Forever Now (tahun 1994)
11. Retroglide (tahun 2006)

Adik Bisa Tengkurap




ADIK Mira sekarang sudah bisa tengkurap. Walaupun dengan susah payah. Karena badannya gemuk, beratnya saja 9 kg. Mesti sedikit dibantu, baru bisa ngeguling ke kiri atau kanan. Adik sama Bu Eri. Satu wajah. Ya, anak sama ibu, gimana gak satu wajah. Kalau gen Ayahnya sih tenggelam. Entah kemana, he he he...


Bandung Mendung

PAGI ini mendung menggelayut di langit Bandung. Angin dingin meniup perlahan, menembus pori-pori kulit, menyelusup ke tulang sumsum. Brrrr...tiris euy (kata orang Sunda bari diharudung ku sarung = dingin euy sambil melilitkan sarung ke badan). Kata BMG, suhu Cimahi di bawah 17 derajat Celcius. Brrr...
Sejak semalam, hujan gerimis turun. Saat pulang, sekitar jam 10.00 malam, saya pun kehujanan. Untung cuma gerimis. Jadi jaket dan ransel tidak kuyup. Saat lewat Jalan Raya Cibabat Cimahi, saya mampir dulu ke Warung Tahu Sumedang. Lumayan makan tahu hangat, bikin badan tidak kedinginan. Saya bawa pulang 30 biji tahu plus 5 lontong buat orang-orang di rumah.
Hujan kembali turun sekitar jam 3 subuh. Tidak lama, namun langit terus mendung. Hingga saya berangkat ke kantor, langit tetap mendung. Awan hitam di sebelah timur kentara membawa hujan. Saya percepat laju motor. Tapi satu dua tiga titik air hujan mulai menetes menimpa helm saya. Saya tancap gas terus. Berharap segera tiba di kantor dan hujan belum mengucur.

Rupanya di daerah Kosambi, hujan sudah turun lebih dulu. Yang tersisa hanya rintik gerimis. Ya, mendung tak selama berarti hujan, tapi bisa pula cuma gerimis kecil yang menggoda siapapun memaju kendaraannya untuk berteduh.
Suasana langit mendung, tak panas, ini justru mengingatkan pada keadaan Bandung beberapa tahun lalu. Cuacanya adem, nyaman, tidak hujan, tidak pula panas. Apa mesti mendung terus, sehingga merasa hidup di Bandung?..

Saturday, June 16, 2007

Sabtu yang Selalu Sepi

SETIAP hari Sabtu saya harus datang lebih pagi ke kantor. Biasa, piket rapat pagi namanya. Dalam seminggu, saya kebagian dua kali. Hari Sabtu dan Selasa. Ya sekitar jam 10-an lah, baru datang. Seharusnya rapat pagi. Tapi tidak selalu diisi dengan rapat pagi. Kadang hanya mengobrol, lalu mengecek tugas teman-teman wartawan hari itu. Selebihnya stand by pasang mata buka telinga serap informasi dari sana sini untuk bahan liputan.
Tapi ya itulah, kalau hari Sabtu saya lebih sering sendirian di kantor. Paling-paling ada Sekretaris Redaksi. Untungnya ada Sekretaris yang baru itu, Penni. Jadi bisa obrol sana obrol sini. Penni sampai tanya,"Oh kalo Sabtu Kang Mac emang gantian sama Mas Krisna (Korlip, red)? Jadi kang Mac datang pagi, Mas Krisna datang sore?" "Ya enggak juga, kalau semua lengkap, pasti datang pagi juga," kata saya.
Ya kalau lengkap. Dan rasanya jarang lengkap. Seperti hari ini, dua pejabat tinggi koran, Redpel dan Manager Produksi, libur bersamaan. Pemred sudah jelas libur hari Sabtu dan sekarang Kang Yusran lagi mendua di Banjarmasin Pos. Lha mau gimana ni koran?
Sudah begitu, isu-isu, yang biasanya berseliweran, mendadak jadi sepi. Akhir pekan, katanya suka susah cari berita. Wartawan, apalagi wartawan daerah, mendadak jadi sulit dikontak. Inginnya libur di hari ini. Kantor sepi, berita sepi. Mau Ngapain?
Tapi show must go on. Gak ada mereka pun, kita tetap bisa terbit. Karena sudah sering kejadian, kami jadi terbiasa. Sambil bercanda saya suka teriak pada teman-teman,"Woi, hari ini kita bikin koran kampus". Ya koran kampus. Santai saja, tak usah cepat-cepat bekerja. Yang penting bisa cetak, terbit, dijual, laku.

Sabtu ini pun begitu. Rapat sore hanya diikuti empat peserta, berlima dengan anak iklan. Ya, senang-senang saja. Ngatur berita yang masuk ke halaman 1, lalu ke halaman 8 dan mingguan. Untungnya hari Minggu terbitnya cuma 16 halaman. Saya pegang tiga halaman: Halaman Metro Bandung, Halaman Jabar Region, dan Nasional.
Ah saya sih gimana aturan saja. Kalau piket pagi ya datang sesuai jadwal. Mau ada rapat paginya atau tidak, itu urusan belakangan. Toh saya sudah sering mengingatkan kepada teman-teman untuk menepati jadwal yang sudah ditetapkan. Cuma waktu saya tanya Penni, yang datang pagi selain jadwal saya siapa saja, gak ada katanya. "Paling Mas Krisna, atau Kang Her. Baru agak siangnya Mbak Hasanah. Yang lain datang sore. Kang Mac aja yang suka datang pagi," katanya. Nah lho..!?? (*)

Kembang-kembang Asri (foto)



Waktu saya punya tanaman hias, Bu Eri sedang mengandung Adik. Makanya saudara-saudara dekat, seperti Teh Rina, bahkan Ibu, suka bilang,"Ini mah anaknya perempuan. Soalnya bapaknya suka kembang".
Saya sih tidak percaya dengan mitos seperti itu. Mau perempuan, mau laki-laki, bukan ditentukan dari kita mendadak suka kembang, terus miara bunga. Iya sih, memang hati kecil ingin punya anak laki-laki, setelah anak pertama perempuan. Tapi semuanya saya serahkan pada Allah SWT. Dia yang mengatur segala sesuatu. Tahu yang terbaik untuk keluarga kami. Dan ternyata anak kedua kami memang perempuan. Cuma hal itu tidak lantas membuat saya percaya dengan mitos-mitos. Semua sudah ada suratannya. Tak perlu menyangkut-pautkannya dengan takhayul segala macam.
Nah foto-foto di atas adalah beberapa tanaman hias yang nongkrong di teras rumah. Ada Euphorbia, ada Lavender, pohon bambu menjalar, bunga kertas, dll. Dinikmati saja foto-foto bunganya. (*)

Kembang Setaman (A Little Park)




RUMAH saya berada di sebuah kampung. Letaknya di pinggiran Kota Cimahi, tepat di samping Kampus Unjani Cimahi. Karena dekat dengan kampus, otomatis di kampung saya, Babakan Sari, banyak rumah kos-kosan. Ada yang milik warga asli kampung Babakan, ada pula milik orang luar Babakan. Karena bisnis kos-an ini menggiurkan, akhirnya kebanyakan rumah di kampung saya dibuat jadi kosan. Begitu pula dengan lahan sawah dan kebun. Orang-orang berduit, yang bukan asli Kampung Babakan, berlomba membuat rumah kosan. Megah-megah. Sampai-sampai, ada satu kamar kos yang harganya Rp 4 juta setahun. Hah itu sih bisa buat kontrak satu rumah utuh setahun. Yang mahal-mahal begini biasanya dihuni anak-anak kedokteran. Mereka memang orang berduit tebal. Mana ada mahasiswa kedokteran, apalagi swasta, miskin? Very very rarely...
Karena lahan kosong, terutama sawah, semakin menyempit, kondisi lingkungan pun berubah. Kini sulit untuk mencari pohon besar untuk sekadar berteduh. Sawah masih ada, tapi sudah dipatok-patok plus papan pengumuman: DIJUAL. Sulit menemukan suasana teduh, hijau, atau asri.
Saya cukup prihatin dengan keadaan ini. Bagaimanapun kondisi ini akan berpengaruh pada anak-anak saya. Mereka akan kesulitan mencari tempat untuk bermain. Akibatnya, sulit bersosialiasi dengan teman-teman mereka. Bisa jadi mereka tidak akan mengenal sawah lagi, karena lahannya sudah dibabat habis dan berganti rumah kosan.
Berangkat dari kondisi itulah, saya mencoba membuat suasana rumah lebih hijau, segar, asri. Rumah saya tidak memiliki halaman. Cuma ada sedikit teras ubin, sekitar 1 meter x 2 meter. Tapi bisa dimanfaatkan untuk menyimpan pot-pot bunga.

Sudah lama sebenarnya saya ingin menanam pohon, bunga, ataupun sayuran. Mungkin karena dulu saya punya cita-cita jadi petani, sehingga sekarang dilampiaskannya.
Saya beli beberapa pohon, bunga. Sri Rejeki, Aglonema, Cemara perak, dll. Awalnya cuma tiga pot. Lama-lama makin banyak. Sekarang, teras rumah sudah penuh dengan berbagai macam bunga. Terakhir beli bunga waktu ke Ciwidey. Beli bunga Kastubi dan Bunga Salju. Bunga makin bertambah, karena saya coba dianakkan. Seperti Sri Rejeki. Sekarang sudah ada tiga pot. Selama ini sih lebih banyak Ibu yang mengurus bunga. Awalnya kurang suka. Bilangnya,"hambur duit, ditabung saja". Eh lama kelamaan, malah Ibu sendiri yang beli bunga di pasar. He he...
Sekarang teras rumah terasa adem, hijau, dan tentu senang melihatnya. Tak cuma saya dan keluarga. Para tetangga kalau lewat depan rumah pasti memperhatikan tanaman hias di teras rumah. Sayangnya ada beberapa bunga atau tanaman hias yang mati. Red Aglonema satu-satunya yang ada di teras rumah, mati, ketika saya pulang dari Batam. Lalu Cemara Perak lebih dulu mati. Ya mungkin perawatannya kurang baik, sehingga tak mau hidup. Selain perawatan kurang bagus, musuh tanaman hias adalah ulat. Ini yang biasanya menyerang tanaman Sri Rejeki. Wuih, ulatnya gede-gede dan bikin daun jadi bolong-bolong, sampai habis.
Nah yang bikin saya senang, beberapa tetangga mengikuti jejak menanam tanaman hias di pekarangan atau teras rumah yang sempit. Bahkan kami suka bertukar tanaman. Tak heran, di sekitar rumah, sekarang lumayan rada hijau oleh tanaman hias.
Selain bunga, saya pun menanam sayur di polybag. Waktu berangkat ke Batam, ada beberapa bag cabe dan selendri yang sudah tumbuh. Saat pulang, ternyata cuma Seledri yang bertahan. Pohon Cabe mati semua. Katanya diserang ulat. Beberapa hari lalu, saya panen Seledri. Lumayan buat penyedap sayur Sop. Makanya terpikir untuk menanam sayuran secara besar-besaran di polybag. Siapa tahu jadi juragan sayur. (*)

Cara Efektif Sembuhkan Pilek Anak

Rambut Adik dibikin kayak Punk. Ini kerjaan Bapak sama Budenya. Adik dipangku Bu Eri, foto diambil waktu di Ciwidey.
SUDAH dua hari ini Adik pilek dan batuk. Untungnya tidak demam. Demamnya sih pernah, minggu lalu. Waktu itu Adik baru disuntik imunisasi DPT. Tapi sehari juga panasnya langsung turun. Nah pilek dan batuk ini yang sekarang menyerang. Kalau batuknya kemungkinan besar menular dari saya. Sudah dua minggu ini, sejak pulang dari Batam, saya batuk-batuk tak karuan. Segala obat sudah dicoba. Ultraflu, Komix, Oskadon flu batuk, Bodrex batuk, sampai Konidin. Semua tak mempan. Tenggorokan masih terus gatal. Dan bisa jadi menular ke Adik.
Sementara pileknya, ini pasti menular dari Kaka Bila. Sudah tahu lagi pilek, Kaka enak saja mencium Adik. Setiap kali dekat, pasti nyosor terus. Seperti biasa, dengan gigi gemeretuk, gemas.
Adik memang sudah minum obat. Alco. Obat batuk tetes rasa anggur, khusus buat balita. Tapi tidak memutus pilek. Lendir terus mengucur dari hidung. Kasihan sekali. Anak sekecil itu harus minum obat, air bening mengucur dari hidung, plus batuk-batuk. Memang rada susah mengobati anak kecil. Soalnya minum obatnya pun susah. Mau rasa angggur kek, rasa apel kek, apalagi rasa pahit, pasti tidak mau. Dimuntahkan lagi.

Sebenarnya ada cara sederhana untuk mengobati pilek. Dan ini selalu saya terapkan setiap kena pilek. Tapi buat bayi empat bulan seperti Adik, memang belum bisa. Sebagai seorang muslim, minimalnya kita berwudhu lima kali sehari. Nah salah satu bagian dari wudhu adalah membersihkan hidung. Membersihkan hidung ini bukan sekadar mengusap bagian luar, tapi juga bagian dalam. Caranya dengan menghirup air. Nah bagian menghirup air dalam-dalam hingga masuk ke tenggorokan ini yang menjadi obat sederhana pilek. Saya yakin, setiap gerakan wudhu, sebagaimana halnya gerakan salat, memiliki makna, arti, dan faedah yang luar biasa. Dan memang terbukti. Rajin menghirup air, membuat pilek cepat sembuh. Konon, ini yang belum diuji secara klinis, air yang dihirup lewat hidung itu menyentuh syaraf-syaraf sinus di hidung. Dan itu yang membuat pilek sembuh. Katanya begitu. Wallahu alam.
Nah untuk bayi semodel Adik, ada pula penyembuhan ala kampung. Kalau bayi tidak mau minum atau susah minum obat, cara ini bisa dicoba. Yaitu dengan menyedot lendir di hidung bayi. Setiap hidungnya mampet atau lendir mengucur sedot saja, lalu buang. Puihhh. Dijamin, rasanya asin, ha ha ha...
Tapi ini memang membantu bayi agar pernapasannya lega kembali. Kasihan kalau melihat Adik tersengal-sengal, karena saluran pernapasan penuh lendir, atau hidungnya mampet. Cara menyedot ini yang paling efektif dan murah. Syaratnya satu: Tidak jijai menyedot lendir ingus. Soalnya pernah juga Bu Eri sampai mau muntah, waktu pertama kali menyedot lendir di hidung Adik. Hi hi hi....
Dan ternyata bukan cuma Adik saja yang mengalami "pengobatan" model begini. Tetangga depan rumah, yang juga punya bayi 6 bulan, melakukan hal yang sama. Waktu pilek dan ingus keluar dari hidung, tanpa sungkan si ibu baui ini langsung menyedot. Lalu membuangnya dengan senang hati. Iyalah, emang siapa yang mau menelannya....(*)

Wednesday, June 13, 2007

Bandung Still Cool

Nun di sana, Gunung Tangkubanparahu, terlihat juga walau kecil, pucuk Gedung Sate. Foto diambil dari lantai atas Be Mall Naripan Bandung.
PERTENGAHAN Juni. Cuaca Bandung di siang hari rasanya panas menyengat. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Karena sudah dua minggu ini, saya tidak pernah merasakan hujan turun sedikitpun. Berdasar informasi BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika), suhu maksimum Bandung mencapai 30 derajat Celcius.
Pantesan, puannnaas bo. Terlebih Bandung memang sudah tidak seteduh, serindang dulu. Itu sudah bukan cerita lagi. Karena mereka yang pernah merasakan cuaca Bandung tahun 80-an, pasti tahu perbedaannya dengan zaman kiwari.
Tapi jangan salah, kalau malam hari udara Bandung dan sekitarnya, termasuk Cimahi, terasa menggigit sampai ke tulang sumsum. Apalagi kalau Subuh, jangan ditanya lagi gimana dinginnya. Inginnya terus dibalut selimut. Malas bangun dan menyentuh air, karena airnya terasa seperti es.
Saat ini tercatat suhu minimum Bandung antara 17-18 derajat Celcius. Cuaca dingin juga ditambah dengan hembusan angin yang cukup keras. Di Bandung saja sudah dingin, bagaimana di Lembang, Ciwidey atau Pangalengan? Pasti lebih menggigil lagi. Karena daerah-daerah itu lebih tinggi dari Bandung. Apalagi Pangalengan. Pengalaman saya, rata-rata suhu terendah di Pangalengan adalah 10 derajat Celcius. Alamak kayak di Kanada atau Eropa kali yah. Makanya Pangalengan sering dijadikan tempat aklimatisasi, terutama atlet, yang akan bertanding di Eropa atau Amerika.

Beruntung juga kalau Bandung masih terasa dingin atau sejuk. Karena sebenarnya Bandung sudah tak senyaman dulu. Pohon-pohon banyak yang tumbang. Kerindangan jadi berkurang. Tak heran kalau Wali Kotanya rajin membuat taman-taman kota dan hutan kota. Katanya untuk mengembalikan suasana Bandung yang adem, rindang, hijau, teduh, segar gar gar...
Sebagai warga Bandung Coret alias di pinggiran luar sana Bandung (weh jauh amat), saya merasakan tersiksa kalau sedang meluncur menuju Bandung. Ditemani motor setia, Honda Supra X 2003, sepanjang jalan yang terasa adalah panas. Kalau tidak memakai syal, wah muka ini kayaknya sudah gosong. Begitu sampai ke kantor, biasanya cuci muka dan menepuk-nepuk kulit muka biar segar dan dingin...Atau masuk ke ruang IT yang ber-AC. Adem, adem, adem....ahh segarnya. (*)

Monday, June 11, 2007

Zorro




SENIN minggu lalu, tak biasanya saya nonton televisi jam 21.00 WIB. Saya pencet channel 7, Trans TV. Ternyata lagi mulai film Zorro, The Mask of Zorro. Karena tak ada kegiatan, saya tuntaskan menonton film ini. Ya, film Zorro adalah salah satu film favorit saya. Dan mengingatkan pada masa-masa kuliah dulu.
Waktu kecil dulu, film Zorro masih berupa film kartun. Diputar saban sore. The Legend of Zorro, kalau tak salah judul filmnya. Tokoh Zorro ini jadi idola anak-anak. Dia jagoan pedang, berkelahi, dan jago juga nunggang kuda. Nama kudanya Tornado. Sehabis mengaji, biasanya saya suka main Zorro-Zorroan dengan teman-teman. Sarung diikatkan ke kepala. Menutupi setengah badan. Yang tersisa, cuma dua badan plus dada ke bawah. Sebenarnya tidak mirip Zorro, malah mirip Ninja. Tapi tetap saja, kami, anak-anak kampung tempo doeloe menikmati permainan ini.
Ingatan tentang Zorro ini masih melekat, hingga tahun 1995 saya menonton film layar lebar The Mask of Zorro. Saya masih ingat, menonton film ini bersama "teman" saya, Tanti. Ditemani lagi teman saya juga, Oin. Kalau tidak salah, nonton film ini di bioskop 21 BIP Jalan Merdeka Bandung. Zaman itu, memang zamannya saya gila nonton film. Saban bulan, pasti menyempatkan diri untuk menonton film baru.
Di layar lebar, Zorro dikisahkan ada dua. Zorro senior dan junior. Zorro senior diperankan oleh Anthony Hopkins. Sehari-hari dia adalah Diego de la Vega, seorang Don di California. Istrinya yang cantik adalah Esperanza. Mereka punya anak perempuan yang masih banyak, Elena. Setiap hari, inang pengasuh selalu menggantungkan sekuntum bunga khas California, bernama Romneya, di atas boks tidur si kecil Elena.

Tokoh antagonis dalam film Zorro adalah Don Rafael. Dia juragan tanah yang menguasai California. Suatu ketika, untuk memancing Zorro keluar, Don Rafael hendak menghukum tiga orang petani. Saat hendak ditembak mati, muncullah Zorro, sang hero pahlawan rakyat kecil. Dalam sebuah perkelahian, bahu kiri Zorro sempat tertusuk pedang.
Rupanya Don Rafael sudah mengendus bahwa Zorro itu tak lain Diego de la Vega. Ketika Zorro pulang ke rumah, menangggalkan topeng, dan tengah bercengkerama dengan anak dan istrinya, datanglah pasukan Don Rafael ke rumah Diego de la Vega.
Rupanya Rafael punya dendam kesumat. Hasratnya memiliki Esperanza tak kesampaian. Maka dela Vega lah yang menjadi sasaran. Dalam pertarungan pedang, sebenarnya Rafael sudah kalah. Namun anak buahnya menembakkan senjata. Sedetik sebelum peluru menembus dela Vega, Esperanza menubruk tubuh suaminya dan menjadi tumbal. dela Vega pun ditangkap dengan membawa sejuta kesedihan. Istrinya tewas, dan anaknya yang masih bayi dibawa Rafael dan diaku anak.
20 tahun kemudian, diceritakan, Rafael kembali dari Spanyol ke California. Ia membawa niat mendirikan Republik California Merdeka. Elena yang sudah tumbuh dewasa, diperankan si cantik Catherine Zetta Zones, turut ke California. Dari sinilah cerita terus bergulir.
dela Vega yang berhasil lolos dari penjara, akhirnya menemukan sosok yang pas untuk dijadikan Zorro. "Guru akan muncul saat murid sudah siap," begitu kata Dela Vega. Yang akan dilatihnya adalah Alejandro Murrieta, seorang pemabuk, bandit bau coro. Waktu masih kecil, Alejandro bersama kakaknya, pernah membantu Zorro, sehingga mereka diberi kalung Zorro. Kalung itulah yang membuat dela Vega dan Alejandro terikat dalam satu lingkaran: Zorro.
Singkat saja, jadilah Alejandro menjadi Zorro masa itu. Tokoh pembela rakyat ini diperankan oleh Antonio Bandeiras. Aroma dendam pun meruap sepanjang film ini. Zorro muda ingin melampiaskan dendamnya kepada Kapten Love yang membunuh kakaknya. Lalu Zorro tua juga mau melampiaskan dendamnya kepada Don Rafael.
Mudah ditebak, Zorro muda terpikat Elena, yang notabene anak Zorro tua. Setelah pertarungan pedang, dan humor-humor situasi yang menghibur, Zorro pun berhasil menggagalkan niat Rafael mendirikan Republik California Merdeka.
Kemunculan kembali Zorro membuat rakyat kembali bersemangat dan memiliki nyali. Tak hanya itu, kehidupan pun berjalan tanpa ada penindasan atau kezaliman. Ah, hidup yang indah. Mungkin hanya ada di film.
Intinya, Zorro adalah sosok Ratu Adil. Di segala zaman, sosok semacam ini memang selalu muncul atau diharapkan untuk muncul. Messianisme atau Millenariaisme, begitu Sartono Kartodirdjo, begawan sejarah Indonesia menyebutnya. Kerinduan akan munculnya penyelamat, ratu adil, satrio piningit. Hal itu terjadi, ketika rakyat sudah tidak lagi memiliki kepercayaan kepada penguasa, ketika kezaliman merajalela, ketika korupsi menjadi urat nadi birokrasi, dan rakyat dihisap penguasa.
Ah, panjang lagi kalau mau diceritakan. Nikmati saja menonton film semacam ini. Karena kenyataan memang tak seindah harapan. (*)

MENCARI TK


Kaka Bila waktu masih di Playgrup Lembah Madu
BULAN Juni ini, Kaka Bila selesai sekolah di Playgrup Attaqwa. Tanggal 1 Juli adalah hari perpisahan. Rencananya mau ada acara perpisahan khusus di Aula Unjani. Kaka Bila sudah pesan baju khusus pula buat memeriahkan acara tersebut. Katanya anak-anak Playgrup mau unjuk kabisa, menari. Entah tarian apa. Hari ini Kaka pulang dari sekolah bawa baju buat perpisahan itu. Baju terusan, lengan pendek, warna pink berbunga-bunga. Katanya juga, nanti saat pentas, harus didobel dengan kaus warna hitam. Kira-kira tarian apa yang kostumnya seperti itu yah?
Beberapa hari belakangan ini, saya dan Bu Eri diskusi intens soal kelanjutan sekolah Kaka. Mau masuk ke TK apa dan dimana. Sebenarnya, saat saya di Batam hal ini sudah dibahas. Waktu itu, Bu Eri sepakat mau memasukkan Kaka ke TK Indria di komplek Armed. Kira-kira jaraknya 800 meter dari rumah. Cuma beda kampung, dibatasi sebuah selokan besar.
Namun setelah ngobrol sana sini dan kemudian mencari pembanding, akhirnya kami sepakat Kaka sekolah di TK Mutiara Bunda di Warung Contong. Lokasinya juga tidak terlalu jauh. Mungkin hanya 1 km. Pertimbangan kami, jadwal masuk TK yang satu ini hanya Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu libur. Bagi kami, tentu sangat menolong, karena kalau setiap hari harus mengantar dan menunggu juga sangat repot. Maklum, kondisi politik Cimahi saat ini lagi "panas" menjelang Pilkada. Otomatis Bu Eri pun harus berangkat lebih pagi lagi untuk meliput. Selain itu, Kaka yang rencananya masuk TK A, bisa saja pindah ke TK B setelah satu semester. Ini tergantung Kaka sendiri. Kalau menunjukkan prestasi atau kemauan kuat untuk masuk SD, ya bisa pindah ke TK B.
Saya sendiri ingin tetap berpegang pada faktor usia. Seseorang masuk SD itu idealnya umur 7 tahun, usia ketika kondisi emosi dan psikologisnya dianggap sudah siap untuk sekolah.

Umur Kaka memang serba tanggung. Saat masuk TK bulan Agustus nanti, umurnya 4 tahun 10 bulan. Jadi 5 tahun kurang. Tahun depan, di bulan yang sama, ia 6 tahun kurang. Kalau masuk SD, rasanya juga masih terlalu kecil, dari sisi umur. Terkecuali, anaknya memang jenius, kreatif, cerdas, sehingga bisa mengikuti pelajaran di SD.
Kaka pernah diajak ke Mutiara Bunda. Senangnya bukan main. Tempatnya memang rumahan. Ada dua kelas untuk TK. Tempat bermain ada di halaman depan rumah, kecil saja. Ini juga yang menjadi alasan kami memasukkan Kaka ke TK ini. Suasananya serasa di rumah, sehingga anak bisa bermain seperti halnya di rumah, tidak terbebani sekolah yang formal.
Namun karena itu pula, Kaka enggak mau sekolah lagi di Attaqwa. Padahal kan belum selesai. Ia inginnya langsung sekolah di TK Mutiara Bunda. Seperti kejadian tadi pagi, Kaka susah disuruh mandi. Alasannya,"Aku gak mau sekolah di Attaqwa, aku kan sudah di sekolah di tempat baru". Mungkin pikiran dia,dengan datang ke Mutiara Bunda, dia sudah sekolah di sana.
Tapi akhirnya mau juga dia berangkat ke Attaqwa. Karena saya lagi diserang pilek dan serak, lalu tadi pagi minum obat sehingga mengantuk, Bu Eri yang mengantar Kaka ke Attaqwa. Saya kebagian menjemputnya, jam 10 lebih.
Waktu menjemput, Kaka masih bermain ayun-ayunan. Saya biarkan saja dulu ia main sepuasnya. Karena kalau saya mendekat dan Kaka tahu saya datang, tentu ia mengajak pulang. Padahal kalau di rumah, Kaka selalu bilang,"Aku gak punya teman.." dengan muka sedih.
Seingat saya, saya tidak pernah memotret Kaka saat beraktivitas di playgrup Attaqwa. Selain tidak pernah ditunggui, saya memang tidak pernah ikut kegiatan di sini. Dan memang Attaqwa jarang mengadakan kegiatan keluar. Berbeda dengan Lembah Madu, playgrup pertama Kaka, yang setiap minggu menggelar acara keluar. Minimalnya pergi ke kebun di daerah Gunung Bohong. Jadi tak heran, kalau foto-foto Kaka di Lembah Madu sangat banyak.
Satu hal yang penting juga adalah biaya pendidikan. Saya dan Bu Eri sudah menyiapkan biaya pendidikan Kaka sejak usianya 2 tahun. Tahun depan baru bisa dicairkan untuk biaya masuk SD. Tapi karena jatuh temponya akhir Bulan Juli, otomatis harus ada cadangan lain sebelum bulan Juli yang bisa dipakai. Alhamdulillahnya, kami punya simpanan di Muamalat. Ini juga uang Kaka yang kami simpan sebagai dana cadangan darurat. Bisa dipakai untuk biaya pengobatan, jalan-jalan, atau masuk sekolah seperti sekarang ini. Cuma, karena lama tak diisi, sementara pengambilan jalan terus, saldonya pun berkurang drastis. Karena itu, kami merencanakan untuk kembali mengisi tabungan Muamalat ini. Biar cuma Rp 100 ribu sebulan, kalau rutin, lama-lama akan terkumpul banyak juga. Toh bukan untuk kebutuhan hari ini, tapi untuk jaga-jaga kalau keadaan kepepet atau mendesak. (*)

Saturday, June 09, 2007

Foto-foto Kawah Putih (2)








Foto-foto Kawah Putih




Yang namanya Kawah Putih tuh jadi tempat favorit cowok cewek yang pacaran buat foto-foto. Entah kenapa. Mungkin karena memang tempatnya cantik, sehingga pada pengen mejeng di kawah purba ini.





Kawah Putih




Kaka Bila, Teh Nurul, dan Mas Fathan mejeng di pinggir Kawah Putih. Indah bukan?

PERNAH menonton film My Heart yang dibintangi Acha Septriasa, Irwansyah, dan Nirina Zubir? Salah satu adegan di film itu berlokasi di Kawah Putih Ciwidey. Ya, tempat eksotis ini memang paling sering dijadikan tempat syuting film, video klip, atau wedding photo. Indah memang. Putih, karena kabut putih selalu turun ke kawah purba ini dan asap putih mengepul dari kawah ke udara. Tempat wisata di Bandung Selatan ini pula yang kami sekeluarga kunjungi, pekan lalu, walau tak lama, karena kabut dan hujan turun deras.
Saya hanya ingin bercerita bagaimana Kawah Putih ini terbentuk. Sekitar 46 km dari Bandung, terdapat sebuah gunung bernama Gunung Patuha, orang tua dahulu menyebutnya Gunung Sepuh. Ketinggian gunung itu mencapai 2.434 m dpl (dari permukaan laut). Gunung tersebut memiliki dua kawah, yaitu Kawah Saat dan Kawah Putih. Kawah Saat (Saat Bahasa Sunda, Indonesia= surut, menyurut) berada di puncak bagian barat, dan Kawah Putih berada di bawahnya pada ketinggian 2.194 m dpl. Kedua kawah tersebut terbentuk akibat letusan gunung, yang konon terjadi pada abad X dan XII.
Keberadaan Kawah Saat maupun Kawah Putih, semula tidak banyak diketahui orang, karena puncak Gunung Patuha oleh masyarakat setempat dianggap angker, sehingga tak seorangpun berani menjamahnya.
Misteri Kawah Putih dengan segala keeksotisannya baru terungkap pada tahun 1837 oleh seorang Belanda bernama Peter Junghuhn. Ingat nama Junghuhn tentu ingat Kina. Ya, benar dia adalah orang yang pertama kali menanam kina di Indonesia. Dia pula pemilik perkebunan teh di Priangan. Makam Junghuhn ada di Perkebunan Teh Malabar Pangalengan. Beberapa tahun lalu, saya dan teman-teman dari Tribun Jabar pernah menghabiskan malam di perkebunan Malabar ini.
Walau jalur ke kawah Putih sudah dibuka, tetap saja tidak banyak yang datang ke tempat ini. Seolah-olah keindahannya tetap tersembunyi. Baru setelah dikelola Perhutani, Kawah Putih mulai dikenal sebagai sebuah objek wisata yang indah di kawasan Ciwidey.

Selain panorama alamnya yang mempesona, Kawah Putih juga memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri, yang warna air danau kawahnya selalu berubah-ubah. Kadang-kadang berwarna hijau apel, bila terik matahari, dan yang paling sering dijumpai adalah berwarna putih disertai kabut tebal di atas permukaan kawah. Saat saya dan keluarga datang ke kawah ini, pekan lalu, air danau kawah berwarna putih. Dan benar, kabut mengapung perlahan di permukaan air.
selain permukaan kawahnya yang berwarna putih, pasir dan bebatuan di sekitar kawah pun didominasi warna putih. Dari sinilah, kawah itu diberi nama Kawah Putih.
Sejak melewati pintu masuk dan membayar tiket seharga Rp 6.000/orang, pesona alam wisata pengunjung sudah bisa merasakan pesona Kawah Putih. Sepanjang 5 kilometer menuju kawah, hutan tanaman Eucalyptus dan hutan alam dengan aneka ragam spesies hutan hujan tropis mewarnai pemandangan.
Saat ini di dekat pintu masuk ada arena ketangkasan ATV, motor beroda empat. Jalur motor gede ini berada di sebelah kanan menyusuri pohon-pohon pinus. Bagi mereka yang tidak membawa kendaraan sendiri, baik motor maupun mobil, untuk menuju kawah bisa menggunakan angkutan umum. Sayang, saya tidak tahu berapa ongkosnya. Mungkin Rp 5.000 per orang. Sementara kendaraan sekelas bus atau truk tidak bisa lanjut ke kawah, terpaksa harus parkir di lapangan parkir. Karena jalannya memang sempit dan menanjak.
Kalau mau ke Kawah Putih, sebaiknya sudah berada di ciwidey di bawah jam 09.00. Saat matahari naik, pemandangan di kawah tidak akan terhalang kabut. Selepas Lohor, kabut mulai turun dan menutupi kawah. Biasanya diiringi hujan.
Di dekat kawah, selain tempat parkir, juga ada warung-warung makan dan jagung bakar. Jadi tak perlu susah cari makan di sini. Juga ada kios pernak-pernik dan hiasan. Tapi sekarang ini, kebanyakan pernak-perniknya berbau Strawberry. Maklum saja, Ciwidey sedang booming strawberry petik sendiri. Kalau ada waktu, saya ingin jelajahi hutan-hutan di kawasan Ciwidey ini. Sudah lama tidak jarambah ke hutan. Sudah saatnya turun gunung lagi, menyusuri sungai, rawa, naik gunung, bermalam di hutan, menuruni lembah, rappeling, dan lain-lain. Badan rasanya jadi gampang sakit, karena tak dekat dengan alam lagi. Mungkin tahun depan... (*)

Foto-foto Menuju Cimanggu




Nah ini foto-foto saat menuju ke Cimanggu. Karena caciang-caciang dalam perut sudah menagih utang, kita mampir dulu makan di restoran Kampung Strawberry Alam Endah, Ciwidey. Selain resto, di sini juga ada bungalow-nya. Dan saat kemarin kesana, penuh semua, kebanyakan dibooking orang Jakarta. Selain resto dan bungalow, di tempat ini juga ada kolam renang. Tapi saya tidak tahu, airnya panas atau tidak.
Sebelumnya saya kira, Kampung Strawberry yang baru 2 minggu beroperasi itu menempati tanahnya Wiranatakusumah, menak Bandung tempo doeloe. Ternyata bukan. Vilanya Pak Wiranatakusumah ada di sebelah atasnya. Saya beberapa kali main ke Vila itu. Kebetulan, keponakan Pak Wiranatakusumah ini, Atam, teman saya di Unpad.
Masuk ke resto ini, pengunjung disambut dua patung pajangan khas Sunda. Patung Semar dan Cepot Astrajingga. Tak heran, kalau Bu De Ani dan Nurul, keponakan, ingin difoto disamping Semar, buat kenang-kenangan. Sama khan? Sama suburnya...he he

Berhubung masih pagi, saya pesan nasi goreng spesial saja. Yang lain juga pesan makanan serupa, kecuali Bu Eri yang pesan sop dan lalab plus sambal. Sate ayam juga pesan, tapi karena lama bikinnya, akhirnya dibungkus saja buat makan di Cimanggu. (*)

Refreshing



Enaknya berendam air hangat, tapi ditemani tentara??..

SABTU minggu lalu, 2 Juni 2007. Sebenarnya saat masih di Batam sudah membayangkan. Pulang ke rumah, besoknya langsung tetirah ke Cipanas Garut. Berendam air panas, bermalam di bungalow, makan nasi liwet di kastrol. Pfuih, enaknya... Tapi itu cuma mimpi. Bu Eri sudah telepon ke sana ke sini. Ke Sumber Alam, Tirta Gangga, semua tempat penginapan di Cipanas full book, penuh dan sudah dipesan jauh hari sebelumnya. Coba kontak ke Patuha Resort, ciwalini, Ciwidey, juga penuh. Maklumnya, pekan itu memang long weekend. Sementara saya sudah janji sama Kaka Bila untuk berlibur sambil main. Akhirnya Jumat malam, daripada tidak sama sekali refreshing, kita putuskan untuk main ke ciwidey, tepatnya ke Cimanggu dan Kawah Putih, tapi tidak menginap. Berangkat pagi, berenang air panas, menikmati alam sejuk Ciwidey, sorenya pulang ke rumah.
Sabtu pagi memakai mobil rental, kami sekeluarga plus Bude Ani, dan tiga keponakan, Nurul, Farid, dan Fathan, berangkat menuju Ciwidey. Anak-anak semua sudah membawa perlengkapan untuk berenang. Sepanjang jalan, anak-anak pengennya cepat sampai. Kaka Bila paling kencang teriak-teriak dan merengek manja, supaya mobilnya lebih cepat lagi. Tapi perut Bu Eri tidak bisa kompromi. Lapar banget. Akhirnya selepas Soreang, kita mencari rumah makan. Tadinya mau di Sindang Reret, tapi sudah terlewati. Kita putuskan makan di daerah Alam Endah, rasanya ada restoran. Ternyata rumah makan Taman Lestari Unyil sudah tutup. Untungnya ada sebuah rumah makan yang baru buka dua minggu lalu. Kita makan saja di sini, daripada kelaparan di tempat berenang Cimanggu.

Beres makan, baru meluncur ke cimanggu. Anak-anak sudah tidak sabar untuk berenang. Begitu sampai, langsung saja nyebur byur ke kolam renang air panas. Segarnya....Tiga jam lamanya kami berendam di air panas. Cuma Bu Eri, Bude Ani dan Adik, yang tidak nyemplung ke kolam. Selepas Lohor baru kami sudahi acara berenangnya. Kini kita bersiap ke Kawah Putih. Butuh waktu setenga jam untuk mencapai kawah yang satu ini. Selain jalannya jelek dan sempit, kendaraan juga antre. Kebanyakan berplat B, Jakarta.
Tak lama di kawah ini, karena keburu kabut turun dan hujan. Langsung ngacir ke tempat strawberry. Setelah puas bermain dan membeli bunga, kami pun meluncur pulang. Sebelum ke rumah, kita mampir dulu di ruman makan Sate Cantilan, sebuah rumah makan khusus sate di daerah Soreang dekat Puslek Polri. Sore jam 6, baru kami sampai lagi di rumah. Hah capenya baru terasa, kini tinggal tidur pulas saja... (*)

Ini Bandung Bung!

Kamis 7 Juni
RASANYA aneh mengendarai motor menyusuri jalan raya Cimahi menuju Bandung. Jalan penuh mobil pribadi dan angkot. Tat tet tat tet klakson berbunyi sepanjang jalan. Sesuatu yang tidak saya dapati seminggu lalu saat masih di Batam. Rasanya naik motor pun tidak pede. Semua orang seperti menatap saya. Segala sesuatunya seperti baru. Ah, apa saya yang aneh? Rasanya tidak. Hanya sebagian rasa saya masih rasa Batam, belum sepenuhnya pulih. Ini Bandung Bung! Weak up, jangan terus bermimpi sedang di Batam. Sekali lagi, Ini Bandung Bung!
Kemarin saya mengantar adik, Neng Diah, pulang ke rumah di Prapatan Cihanjuang. Dia semalam menginap di rumah saya di Unjani. Pulang dari Jatinangor langsung ke Unjani. Cari koran, terus melihat-lihat lowongan kerja. Dia baru diwisuda dua minggu lalu. Sarjana pertanian, dan menganggur. Neng Diah tanya-tanya apa saja pekerjaan yang mungkin cocok dengannya yang berlatar pendidikan Pertanian. Saya bilang, apapun bisa dikerjakan. Toh yang terjadi selama ini adalah lintas bidang. Satu pekerjaan dikerjakan oleh orang yang bukan bidangnya. Itulah Indonesia, negeri yang tidak punya spesifik pekerjaan, atau mengabaikan keahlian individual. Asal mau, semua bidang bisa dimasuki semua jurusan pendidikan. Dan saya bilang, rata-rata fresh graduate itu tidak pernah pede saat mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahliannya. Pasti yang dicari itu yang persyaratannya menerima semua jurusan. Itu yang paling banyak dicari.
Saya bilang juga, mencari kerja itu ada dua pilihan: Satu jadi wiraswasta, kedua jadi pegawai. Mana yang dipilih? Rupanya adik saya memilih yang kedua. Ia beralasan tidak pandai berwiraswasta. Ya sudah, itu pilihannya dan harus mau menanggung risiko sendiri.

Baru kemarin saya bertemu Mama di rumah. Sejak pulang dari Batam, saya belum sempat ke sana. Hanya sebentar, mengobrol, lalu saya segera pamit. Melaju ke Bandung, menuju kantor.
Di sepanjang jalan, saya terus bermain dengan pikiran saya. Berkelindan, antara suasana Batam, Cimahi, Bandung. Bagaimana rupa kantor saya di Bandung? Sepertinya ini pengaruh lelah perjalanan yang masih membelit perasaan. Post Duty syndrome.
Tiba di kantor jam 13.30. Saya cari kartu absensi saya, rupanya tidak ada. Apa saya sudah tidak dianggap sebagai karyawan di Tribun Jabar? Di halaman bertemu dua sekuriti, Taruna dan Ismanto. Juga bertemu rekan saya, Darajat. Muncul pula Mbak Yoba, manajer iklan. "Kenapa lu gak di sana aja sekalian?" tanya dia. Saya cuma mesem sambil terus berjalan ke ruang depan. Rasanya semua orang menatap saya. Orang baru. Tepatnya baru datang, karena salam pembuka setiap orang yang bertemu pasti,"Wah ini orang Batam baru pulang kandang. Gimana di Batam? Lama sekali yah?". Padahal cuma dua bulan, bahkan kurang seminggu.
Masuk ke dalam ruangan redaksi. Disambut beberapa teman wartawan. Ada Nurjaman, Fatimah, Barir. Di situ juga ada Krisna, Korlip Tribun Jabar. Semuanya menyambut hangat. I'm coming home.
Lalu bermunculan yang lain. Mbak Hasanan, Redpel, Bu Iya PSDM, juga Penny, Sekred baru. Makin sore makin banyak teman-teman yang datang. Semuanya menanyakan hal yang sama. Bagaimana di Batam. Harusnya penjelasan saya direkam, biar tinggal diputar ulang kalau ada yang bertanya, he he.
Saya perhatikan kantor masih sama, tapi rasanya kok makin benderang. Entah apa yang membuatnya jadi agak terang, karena cat tembok pun tidak berubah. Atau ini perasaan saya saja. Yang berubah adalah wc di dekat musala. Pintunya jadi bagus. Sementara musala, masih tetap seperti dulu kala. Lembab.
Saya tak bawa oleh-oleh dari Batam. Makanya saya pesan Pizza buat teman-teman di kantor. Lumayanlah yang tahu. Jam 5 teng, pengantar pizza datang. Saya sisakan satu plate buat di rumah. 3 plate lainnya tandas disikat teman-teman.
Saya ambil koran tribun Jabar hari itu, edisi Kamis 7 Juni. Ada foto headshot kecil di kolom Referat yang wajahnya saya kenal. Tanti R Skober. Alhamdulillah, rupanya dia benar-benar mau menulis. Dua hari sebelumnya, Tanti minta nomor kontak Kang Cecep, mungkin untuk urusan tulisan itu. Ya, mulailah menulis lagi, Tanti...(Baca posting: Menulislah...Catatan untuk Tanti R Skober).
Walaupun ke kantor, saya tidak bekerja. Kantor masih menganggap saya cuti dan masuk lagi hari Sabtu. He he, untunglah kalau begitu. Masih punya waktu istirahat satu hari lagi. Saya bertemu dengan teman-teman Koperasi Karyawan. Mereka minta maaf, karena roda koperasi belum bergerak. Saya putuskan untuk bertemu hari Sabtu siang membahas koperasi yang saya tinggalkan dua bulan, dan kolaps...
Saya cuma bisa mendengar cerita saat teman-teman ikut Family Gathering. Foto-fotonya saya buka di komputer. Weih, ternyata hampir semua teman di redaksi dan pracetak hadir bersama keluarganya. Momen yang sulit untuk terulang kembali, satu atau dua tahun lagi. Tapi siapa tahu, kalau koperasi berjalan, Family Gathering seluruh karyawan bisa digelar. (*)