Saturday, August 02, 2008

Cuti

BARU lima hari Bu Eri masuk kerja. Seminggu lebih Bu Eri menikmati cuti di rumah. Merasakan jadi ibu rumah tangga, tak hanya wanita karier. Sayang, saya tidak bisa ikut cuti. Saya sudah cuti waktu awal-awal membangun rumah, Juni lalu. Dan jatah cuti saya tahun ini baru empat hari, sayang kalau diambil. Dikumpul saja, siapa tahu bisa cuti pas Lebaran nanti.

Selama cuti, Bu Eri tak kemana-mana. Dalam artian, tidak piknik, no vakantie, apalagi berwisata ria. Paling-paling, bareng saya menyusuri toko-toko bangunan di IBCC atau Mitra 10, mencari keramik dan bahan bangunan lainnya. Ternyata sulit juga, mencari barang-barang yang sesuai selera, tapi sesuai juga dengan selera dompet yang pas-pasan.

Saya sih sudah mewanti-wanti. "Coba ajak main anak-anak, kemana kek, supaya enggak kesal di rumah saja". Saya hapal, sebagai orang yang biasa di lapangan, berdiam di rumah pasti tidak kerasan. Pengennya ke luar terus.

Cutinya Bu Eri tentu membuat saya senang. Gimana gak senang, istri ada di rumah. Anak-anak ada yang menemani. Setiap pagi, kalau mau ke kantor, Bu Eri yang menyiapkan perbekalan makanan. Biasanya kan, kalau bukan Mbah Uti, ya si Teteh yang menyiapkan.
Ternyata mengurus dua anak juga membuat Bu Eri sibuk. Seperti biasa kalau sudah berhadapan dengan anak-anak yang manja nya minta ampun, membuat Bu Eri sedikit stres. Dua bidadari kecil di rumah itu lengket terus. Kemana Bu Eri pergi, maunya ngikut. He he, nikmati saja ya Bu.

Sehari jelang masuk kerja kembali, baru terasa kalau di rumah itu sebenarnya menyenangkan. "Haduh asa waregah begini mau kerja teh. Enaknya juga yah di rumah terus," gitu komen Bu Eri. Saya menimpali,"O iya, lebih enak lagi kalau di rumah terus gaji mengucur tiap bulan. Gak usah bingung cari tambahan untuk ngebangun rumah". Bu Eri pun tertawa.

Sebenarnya sejak awal menikah, saya sudah meminta Bu Eri tidak bekerja. Cuma memang sulit untuk membuat keputusan. Atau lebih tepat lagi, sulit untuk tidak bekerja karena kebutuhan hidup. Mungkin saat ini waktunya belum tepat. Karena ya itu tadi, kami tengah butuh banyak pemasukan, untuk menyelesaikan pembangunan rumah. Mudah-mudahan ke depan mah, kalau sudah ada bisnis rumahan yang prospektif, kenapa tidak bekerja di rumah saja?. (*)

No comments: