Sunday, January 13, 2008

1 Sura di Cireundeu

TAHUN Baru Islam bertepatan dengan 1 Muharam. Dalam tradisi Jawa, 1 Muharam dinamakan 1 Sura. Atau bahasa lisannya 1 Suro. Jika Islam menggunakan Hijriyah, maka tradisi Jawa menggunakan Saka sebagai tahun. Maka tahun 2008 ini bertepatan dengan 1429 Hijriyah dan 1941 Saka.

Persamaan antara Tahun Hijriyah dan Saka adalah sama-sama penanggalan Lunar atau memakai patokan peredaran bulan. Selain itu, patokan lainnya adalah 1 Muharam dalam Hijriyah. Tahun Saka Jawa resmi dipakai sejak zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Mataram, menggantikan Saka Hindu.

Nah, Tahun baru Saka 1 Sura pun diperingati warga Kampung Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Cireundeu adalah kampung di balik TPA Leuwigajah. Sebuah kampung biasa, yang lalu berubah menjadi kampung adat, karena sebagian besar warganya memegang teguh ajaran
Agama Jawa Sunda yang dibawa Pangeran Madrais dari Cigugur, Kuningan.

Selain itu, ciri unik warga Cireundeu adalah makanan pokoknya yang berupa singkong. Konon sejak 1924, mereka tidak pernah lagi memakan nasi beras. Tapi memakan nasi singkong.

1 Sura bagi warga Cireundeu, ibarat Lebaran. Sebelum tahun 2000-an, mereka selalu mengenakan pakaian baru. Namun beberapa tahun terakhir ini, adat mereka dilembagakan. Saat upacara adat, kaum lelaki mengenakan pakaian pangsi warna hitam, sementara kaum perempuan mengenakan kebaya atau pakaian warna putih.

Gunungan sesajen, berupa buah-buahan dan nasi singkong, tersaji di tengah reriungan warga di Balai Adat. Warga terpekur mendengarkan wejangan dari sesepuh Kampung Cireundeu, Abah Emen Sunarya. Tahun 2000-an, beberapa kali saya mewawancarai Abah Emen. Terkait adat istiadat Cireundeu, juga soal sampah di TPA Leuwigajah yang jelas mengganggu aktivitas warga. Itu jauh sebelum terjadi longsor sampah yang menewaskan seratus lebih warga sekitar TPA.

Kini keberadaan Kampung Cireundeu semakin terangkat sebagai sebuah kampung adat. Tak heran, setiap 1 Sura, kampung ini menjadi tujuan sejumlah peneliti untuk mengetahui ritual-ritual saat tahun baru. Saya pikir, kampung ini pun menjadi aset wisata untuk Kota Cimahi, yang jelas-jelas kering dengan daerah tujuan wisata. (*)

2 comments:

iman brotoseno said...

saya pernah baca literatur, bahwa ketika masa masa setelah G 30 S PKI, agama Jawa Sunda sempat berpindah menjadi agama katolik, ketika waktu itu pimpinannya berganti agama..
Kemudian setelah beberapa lama, mereka kembali lagi ke Agama Jawa Sunda

Ratih Ika Wijayanti said...

boleh saya tahu literaturnya dari mana? saya sedang mendalami adat cireundeu ini tapi kekurangan literatur...