Saturday, November 03, 2007

Al Qur'an Suci, NII, dan NII KW IX (Tulisan Ketiga)

PADA tulisan kedua, saya menjelaskan sedikit tentang cara perekrutan anggota baru NII KW IX. Berikut sejumlah kewajiban-kewajiban yang harus anggota lakukan, terutama dalam hal pengumpulan dana. Sejauh pengamatan saya, mereka yang keluar dari NII IW IX, kebanyakan beralasan karena masalah uang ini, selain akidah tentunya.

Coba bayangkan, seorang anggota harus setor sekian juta kepada mas'ul, semacam kades. Lalu Mas'ul juga harus setor sekian ratus juta, karena umatnya juga makin banyak. Lha kalau tidak bisa memenuhi kewajiban itu, ada sanksinya. Entah berupa puasa, atau malah berupa infak lagi. Ujung-ujungnya, untuk memenuhi kewajiban setor uang itulah para pelaku NII KW IX berlaku kriminal. Mulai yang kecil-kecil, seperti menipu atau membohongi orangtua. Banyak kasus kader atau anggota ini bilang pada orangtuanya harus mengganti komputer teman yang rusak saat dipakai oleh mereka. Jika akal bulus ini tak mempan, meningkat jadi mencuri kecil-kecil. Semua saku bapak ibunya dirogoh, dompet segala macam disamber, tentu secara diam-diam. Kalau uang sudah tidak ada, barang-barang rumah tangga pun ikut melayang. Tak cukup sampai di sana, penipuan melebar ke tetangga, teman, dan seterusnya. Yang penting, mereka bisa setor uang sesuai target dari pimpinan.

Ketika FUUI pimpinan KH Athial Ali M Da'i menyatakan NII KW IX sebagai gerakan sesat dan menyesatkan dan menunjuk jari ke arah Ma'had Al Zaytun sebagai pusat gerakan sesat itu, tentu saya harus mendapatkan konfirmasi atau keterangan dari pihak Al Zaytun. Istilah dalam jurnalistiknya, cover both side, balancing, atau tabayyun. Memang pihak FUUI sendiri pernah mengirim surat ke Al Zaytun, meminta Syeikh Abdussalam Panji Gumilang alias Abu Toto untuk datang menjelaskan segala macam tudingan itu. Tapi undangan itu tak pernah bersambut.

Akhirnya saya dan seorang kawan pun meluncur ke Haurgeulis, Indramayu, sarang Al Zaytun. Kalau tidak salah, itu tahun 2001 atau 2002, awal tahun lah. Dua kali saya ke sana. Pertama, secara under cover, menyamar. Saya kasak-kusuk mulai dari warga setempat, hingga ke Kades dan BPD.

Memang warga pun terbelah dua. Satu pihak, setuju dengan keberadaan Al Zaytun, khususnya pihak aparat Desa. Di pihak lain, menolak Al Zaytun, karena merugikan, mengganggu, dan tidak bermanfaat bagi warga. Ternyata dari puluhan atau ratusan hektare lahan Al Zaytun, ada di antaranya yang hasil membeli secara paksa dari warga. Kalaupun dibayar, harga tanahnya rendah. Selain itu, janji untuk mempekerjakan warga sebagai pegawai Al Zaytun tidak terbukti. Sejumlah pegawai Al Zaytun yang tinggal di luar komplek, hidup terkucil dari lingkungan, karena memang mereka sendiri tidak terbuka terhadap masyarakat. Satu hal lagi yang membuat kecewa warga adalah soal jalan di Haurgeulis yang kondisinya hancur lebur akibat proyek pembangunan Al Zaytun.


Nah, soal bagaimana kehidupan di dalam Ma'had Al Zaytun, warga sendiri kurang begitu tahu. Pasalnya, mereka sulit mengakses ke dalam Ma'had. Jangankan masuk, untuk menggembalakan kambing saja di dekat Ma'had, mereka langsung diusir pegawai Al Zaytun.

Saat kunjungan kedua, saya berkunjung secara resmi, memakai surat dari kantor. Ketika datang, saya disambut Ustad Halim, salah seorang pengasuh atau pembina Ma'had Al Zaytun. Ustad Halim ini waktu Pemilu 2004 kena kasus, dan kalau tidak salah masuk pengadilan, karena dia yang mengumpulkan warga Al Zaytun di luar Ma'had untuk mencoblos di dalam Ma'had, dan menghalang-halangi Panwas masuk Ma'had.

Sebetulnya ada perasaan tegang juga. Wah, saya mau ketemu dengan Syeikh-nya Al Zaytun, yang disebut-disebut tokoh gerakan sesat. Tapi saya sudah mempersiapkan bahan untuk wawancara. Saya baca juga buku-buku tentang NII KW IX dan Al Zaytun terbitan LPII. Saya juga sempat ngobrol banyak dengan Pak Rafani Achyar, waktu itu anggota DPRD Jabar (sekarang Sekretaris MUI Jabar), yang mantan murid Abu Toto di Serang, dan istrinya, kalau tidak salah, masih punya keterkaitan keluarga dengan Abu Toto.

Dan Abu Toto pun muncul. Memakai kacamata coklat, berjas safari abu-abu, tidak memakai kopiah. Perawakannya tinggi dengan badan agak besar. Terlihat usianya lebih dari setengah abad, rambut sudah mulai memutih. Wawancara dilakukan di ruang makan Ma'had. Jadi sambil wawancara saya makan-makan. Kurang lebih dua jam saya ngobrol panjang dengan Abu Toto. Segala macam tudingan sesat ke Al Zaytun, berikut soal ibadah-ibadah aneh yang kabarnya dilakukan di Al zaytun, saya tanyakan.

Tapi begitulah, Abu Toto pandai menangkis semua dengan diplomatis. Itu pula yang sudah saya duga dan dapat informasi soal kelihaian Abu Toto ini dari sejumlah nara sumber. Contohnya, waktu saya tanyakan dari masa asal uang untuk membangun Pesantren megah Al Zaytun ini, apakah dari umat NII KW IX yang setiap bulan wajib setor, Abu Toto menjawab, uangnya dari umat Islam. Soal dari mana asal-usulnya tak perlu tahu. Soal zakat yang dipatok sekian puluh ribu, Abu Toto pun menjawab enteng saja. "Masa
untuk kemajuan umat Islam, hanya 2,5 persen. Boleh kan kalau kita memberi 15 persen atau lebih, kalau yang bersangkutan punya," jawab dia.

Segala jurus, trik, dan pancingan saya keluarkan, supaya Abu Toto bisa ngomong, sedikit saja, tentang NII KW IX. Tapi setiap kali ditanyakan hal itu, Abu Toto selalu mengelak. "Mana buktinya kalau ini pusat NII? Itu hanya tudingan orang yang iri," kata dia.

Usai wawancara, saya pun diajak berkeliling Ma'had Al Zaytun. Memang tidak semua tempat ditunjukkan, hanya tempat-tempat besar yang terlihat saja. Seperti Mesjid Rahmatan Lil Alamin. Dengan bangga, Abu Toto berkata,"Ini mesjid terbesar di Asia Tenggara, bisa menampung 100 ribu jemaah. Dibuat enam lantai, nanti kubahnya dari emas. Dananya dari umat Islam, bukan dari siapa-siapa". Waktu itu, pengerjaan mesjid masih di lantai dua. Entah sekarang, apakah sudah selesai atau belum.

Perjumpaan dengan Abu Toto setidaknya memberikan catatan penting. Tidak mudah untuk membongkar jaringan-jaringan NII yang begitu solid, profesional, dan mengakar. Pengakuan para Mas'ul di Jabar yang sudah bertobat saat testimoni di Mesjid Istiqomah Bandung yang menyebutkan aliran dana pengikut NII KW IX mengalir ke Ma'had Al Zaytun dan setiap 1 Muharam, para umat dan pimpinan NII KW IX berkumpul di Al Zaytun, tidak cukup kuat untuk menggoyang Syekh Panji Gumilang alias Abu Toto.

Lucunya, sejak pertemuan dengan Abu Toto itu, setiap Lebaran, saya selalu mendapat kartu lebaran langsung dari Syekh Panji Gumilang berkop Ma'had Al Zaytun. Canda teman-teman saya di kantor "Wah jangan-jangan udah dibaiat tuh sama Syekh, sudah dianggap warga NII KW IX". He he he... (bersambung)