Monday, November 12, 2007

Historia Vitae Magistra: Reuni Barudak Sejarah


SABTU (10/11), bertepatan dengan Hari Pahlawan, saya meluncur ke Jatinangor. Ada undangan untuk reuni barudak Sejarah, Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himse) Unpad. Sebelumnya saya mampir dulu ke kantor Tribun dan Pramita Lab mengambil hasil pemeriksaan tes kesehatan Bu Eri.

Rasanya saya baru kemarin keluar dari kawasan Jatinangor. Tapi begitu lewat pertigaan tol, saya seperti masuk ke Jatinangor yang lain. Jatinangor yang sudah berubah dan saya nyaris tak mengenalinya lagi.

Di kiri jalan, dekat pertigaan itu, sudah berdiri sebuah mal. Makin mendekati wilayah kampus, suasana makin ramai. "Weleh, ini Jatinenzer bukan," pikir saya. Jalan angkutan di depan STPDN, eh IPDN, tak lagi lurus, tapi melipir ke kiri dekat gerbang IPDN terus Ikopin. Dan, saya pun bengong...

Jalan raya yang biasanya lurus itu ternyata sudah berbelok ke kiri. Membelah saung budaya di pinggir Ikopin, terus tembus ke Unwim dan berakhir di Pangdam (Pangkalan Damri) Unpad. "Wah ada jalan baru toh," kata saya dalam hati.

Sekilas saya melihat ke sebelah utara, lahan Unpad, ada gerbang dekat pemberhentian bus Damri. Lalu terlihat pula semacam koridor menuju ke waduk dan fakultas kedokteran. Namun berhubung saya ini "kolot", saya tetap ingin menempuh jalur biasa, seperti yang biasa saya tempuh 10-12 tahun ke belakang.

Dan masih seperti dulu, kemacetan langsung menyergap mulai pertigaan Sayang hingga depan kampus Unpad. Pemandangannya luarrr biasa. Berubah. Tak ada satupun bangunan yang saya kenal. Mungkin hanya warung makan Munggaran yang saya kenal. Tapi tampilannya pun sudah jauh berubah. Kiri kanan banyak toko. Depan Munggaran, yang dulu masih sawah apa kolam, habis oleh beragam toko. Wah, pokona mah, makin pusing lihat Jatinangor yang padat suradat begitu.

Belok kiri, gerbang utama kampus Unpad Jatinangor. Kalau ini masih seperti dulu. Cuma pintu gerbang yang buka hanya sebelah kiri, yang kanan tutup. Entah kenapa. Melaju terus, saya lewati pos Satpam, lalu ke arah Bunderan. Saya tengok sebelah kanan. Wuih, ini stadion Unpad, tempat dulu saya biasa main dan berlatih bola. Tribunnya kini memakai atap. Tapi kualitas lapangannya tidak berubah. Tetap buruk. Sempat terlihat, sejumlah anak tengah bermain bola di genangan air. "Kirain sudah seperti Siliwangi..."

Saya terus menanjak ke gedung Fakultas Sastra. Terasa adem saat lewat depan Fisip, dekat Mesjid Ibnu Sina. Pohon yang dulu masih kecil-kecil sekarang sudah rimbun. Yang mencengangkan, lahan dekat lapangan basket Pedca (dulu) kini jadi toko-toko kecil. Rame pokona mah.

Masuk halaman Fakultas Sastra, suasana sepi. Mungkin Sabtu, tidak ada mahasiswa yang kuliah. Saya parkir motor di depan PSBJ. Pede saja saya nyelinap ke belakang PSBJ, terus tembus ke Gedung B. Katanya acara reuni di Aula Gedung B. Naik tangga. Satu dua, tiga lantai. Ada panitia penyambut di dekat pintu Aula.

Saya lihat daftar hadir. Tidak begitu banyak yang hadir. Waktu masuk ke aula, beberapa teman langsung menyambut. Ada Tanti R Skober, teman seangkatan. Lalu Nyai Kartika, adik angkatan. Mereka berdua ini sudah jadi dosen Sejarah. Bersalaman, lalu kami pun cerita-cerita.

Saat saya masuk, rupanya Kang Hikmat Kurnia tengah "memprovokasi" anak-anak baru Himse. Sepintas saya dengar, Kang Hikmat menyemangati anak-anak itu supaya tidak patah arang dengan menjadi mahasiswa Sejarah. "Baik buruknya kalian itu tergantung kalian sendiri. Sukses, kalian yang mengusahakan. Buruk, ya kalian juga yang melakukannya," kata Kang Hikmat.

Kang Hikmat Kurnia ini, anak Sejarah angkatan 86. Jabatannya mentereng, Direktur Agromedia Grup. Sebuah grup yang menaungi sejumlah penerbitan, seperti Puspa, Canting, Agromedia Pustaka, Gagas Media, dsb. Selain Kang Hikmat, ada satu senior lagi. Cuma saya lupa namanya. Juga ada Guntur, angkatan 89. Mas Anto, Sekjur Sejarah, terselip di antara mereka. Dia angkatan 90.

Lalu wajah-wajah yang lebih familiar muncul. Ada Maulana Yudiman, angkatan 92. Dia ini mantan wartawan dan Korlip Majalah Swa. Sekarang jadi entrepreneur, penulis di Jakarta Post. Lalu Kang Jaja, juga angkatan 92. Ternyata alumni yang datang kebanyakan angkatan 80 ke bawah. Angkatan 70 tidak ada yang datang. Yang lainnya, angkatan di bawah saya, 95 sampai 2000-an.

Kang Hikmat panjang lebar mencekoki anak-anak Himse dengan "petuah-petuah". "Jangan lihat kalian ini dari jurusan apa, tapi lihat apa yang bisa kalian lakukan. Bisanya menulis, ya tekun di menulis. Bisanya motret, ya motret. Bisanya melawak, ya jadi pelawak. Jangan minder lah," kata dia menyemangati.

Ya, memang ada anak Sejarah yang jadi komedian. Juhana "Joe" Sutisna, dedengkot P Project adalah jebolan Sejarah. Dia seangkatan dengan Hikmat Kurnia. Lalu masih di P Project, ada juga Aep. Kalau pernah nonton klip P Project yang zaman Piala Dunia, ada pemain pendek berambut kribo seperti Maradona, itulah Kang Aep.

Bagi saya, Hikmat Kurnia, adalah salah seorang inspirator untuk terjun di dunia jurnalistik. Cerita senior-senior saya dulu, selalu menyebut nama Hikmat Kurnia untuk mencontohkan alumni yang sukses di jurnalistik dan penerbitan. Dan orang ini tidak pernah berubah. Setiap kali ada undangan reuni dari Himse, pasti datang dan memberi semangat.

Selain Hikmat, ada pula nama M Subhan SD, juga anak Sejarah angkatan 86. Dia adalah wartawan Kompas. Ini nama-nama "sakti" yang melecut semangat untuk bisa seperti mereka. Akhirnya, wartawan memang jadi jalan hidup saya. "Dia bisa, mengapa saya tidak bisa," begitu pikir saya waktu masih mahasiswa dulu.

Memang banyak anak Sejarah yang terjun ke dunia jurnalistik. Entah kenapa. Di Tribun saja, ada tiga orang. Saya, Teh Umi, angkatan 90, dan Irna angkatan 93. Tapi Teh Umi dan Irna sudah keluar.

Yang saya tahu, ada pula Tri Juli angkatan 91, wartawan Media Indonesia. Lalu Mochamad Asep BS, teman Yudiman di Majalah Swa. Ada juga Dadan Hendaya, angkatan 88, di Pikiran Rakyat. Oh ada juga Kang Dudi Rahman dan Kang Doddy Kusmayadi. Dulu mereka berdua kompak di Majalah Panji. Waktu Panji bubar, Kang Dudi loncat ke Gatra, Kang Doddy ke TV7. Sekarang Dudi Rahman di Investor

Kemudian Taufik BW, angkatan 93, dia di Kantor Berita 68H Komunitas Utan Kayu, sebelumnya di Majalah Gatra. Di Gatra juga ada Teh Ida Farida, angkatan 80-an. Juga ada, siapa tuh, saya lupa lagi namanya. Pokoknya anak angkatan 93. Dia kerja di Suara Karya. Lalu Dani Asmara, teman seangkatan saya yang kerja di penerbitan, Mujahid Press. Dan banyak lagi yang saya tidak tahu.

Walau sederhana, reuni itu cukup mengasyikkan. Selain saya dan Tanti, dari angkatan 94 yang hadir adalah Dani Santoso alias Dani Botak. Teman-teman lain tidak datang karena kesibukannya. Mas Gunawan, lagi ke Singapura, ngirim barang arkeologi dari Depdagri. Lalu Deni "Obo" Budiman, saat dikontak, bilang ada acara keluarga mendadak. Wawan, yang semangat mau datang, ternyata tak nongol. Yuli Jasad sibuk mau manggung di Saparua. Rini "oin" Murliani, masih kerja kalo Sabtu di Sumitomo Serang. Purnamawati lagi sekolah PGSD. Yang lainnya, tidak ada kabar.

Yang menggembirakan, reuni kecil ini bakal menjadi awal menuju Reuni Akbar. Katanya panitia mau menggelar pada 2008 mendatang. Makanya, setiap angkatan diminta menyerahkan database masing-masing personel. Dan saya kebagian mengkoordinir teman-teman 94. Awal Desember, data base harus beres, bertepatan dengan reuni Ikatan Alumni Unpad.

Saya baru tahu, kalau senior-senior 80-an membuat milis jasmerah di yahoo. Tahu gitu saya join dari dulu. Katanya di situ berseliweran informasi barudak sejarah. Nanti saya join deh, biar seru.

Acara tidak berlangsung lama. Setelah makan siang, acara selesai dan seluruh hadirin bersalaman. Lalu pulang ke rumah masing-masing. Satu hal yang setidaknya bisa diambil dari pertemuan itu adalah sejarah harus mampu menyemangati diri dan menjadi faktor perubah dari situasi yang kurang baik ke situasi yang lebih baik. Mengutip ungkapan seorang filsuf, entah Socrates, entah Aristoteles, entah Cicero: Historia Vitae Magistra. Sejarah adalah Guru Kehidupan. Belajarlah dari Sejarah, Kau pun Akan Mampu Memperbaiki, Minimal Memperbaiki Dirimu Sendiri. Sampai ketemu lagi, di tahun 2008. Semoga. (*)

2 comments:

Maulana said...

Mahmud,

Saya senang juga bisa ketemu dengan anda, dan baca laporan pandangan matanya di web blog anda. Lumayan deskriptip dan inpormatip hehehe.

Teman jurnalis yang sekarang jadi asisten redaktur di Suara karya Nunun namanya. saya pernah sebis sama dia dari bogor menuju jakarta. kebetulan dia tinggal di bogor. awalnya, pernah juga liputan bareng di bursa.

ayo gabung di milis jasmerah, karena selama ini saya juga sorangan wae. milis ini didominasi angkatan 80a-an, angkatan 90an mah perasaan cumah sayah doang. makanya harus gabung biar rame.

sok ah ditunggu.

Yanwar 98 said...

sayang, saya nggak bisa datang dan ga tau juga apakah 2008 udah ada di indonesia atau belum.