Saturday, November 17, 2007

Environmental Jurnalism Workshop

WELEH, makhluk apaan nih? Environmental Jurnalism Workshop. Ini cuma Pelatihan Jurnalisme Lingkungan, kok. Jurnalisme Lingkungan? Apaan lagi tuh? Ya sederhana saja, ini salah satu aliran dalam jurnalisme yang khusus menyoroti soal lingkungan.

Eit entar dulu. Lingkungan di sini, ternyata bukan hanya terkait hutan, keanekaragaman hayati, pencemaran, dkk. Tapi juga lebih luas lagi, melingkupi politik, hukum, kesehatan, budaya, ekonomi, sosial, dan lain-lain.

Itulah yang seharian kemarin saya pelajari bersama dengan sejumlah kawan wartawan media cetak, radio, dan televisi pada Pelatihan Jurnalisme Lingkungan untuk Editor. Pelatihan itu bagian dari Pelatihan Jurnalisme Lingkungan yan digelar selama 4 hari, 3 hari untuk reporter 1 hari untuk editor. Saya tidak tahu berapa banyak peserta
reporter yang ikut pelatihan. Kalau untuk editor ada 10 orang.

Tempat pelatihan di kantor Tribun. Nah, trainernya adalah Mas Harry Surjadi. Lulusan Institut Publisistik Bogor, he he itu nama julukan buat IPB yang lulusannya lebih banyak jadi jurnalis ketimbang jadi petani.

Mas Harry ini adalah Fellow, penerima beasiswa dari Knight International Journalism Fellowship, AS. Karena dia ngelotok banget soal lingkungan, maka jurnalisme lingkungan yang dia sampaikan.

Menurut Mas Harry, Fellow dari Knight Internasional ini tidak perlu belajar di AS. Justru dia mendapat tugas untuk menyebarluaskan jurnalisme lingkungan, dengan cara pelatihan-pelatihan seperti ini. Rencananya dia bakal mendatangi 6 daerah, 6 koran, dan semuanya di bawah Persda KKG.

Oh ya, latar belakang jurnalistik Mas Harry tak perlu diragukan lagi. Dia dua tahun jadi wartawan Trubus. Lalu masuk ke Kompas. Sekitar 10 tahun di Kompas, Mas Harry keluar dan bersama teman-temannya mendirikan Astaga.com. Hanya setahun, Mas Harry memutuskan untuk jadi freelance. "Ya enak jadi freelance, gak perlu ada acara pagi ke kantor, diam di kantor, wah ribet deh," kata Mas Harry.

Ia pun menulis untuk sejumlah surat kabar di Jepang, Inggris, Jerman, dan AS. Bayarannya jelas pakai dollar. Satu tulisan diharga 250 dollar. Dan terakhir, sebelum jadi Fellow, ia rutin mengisi kolom di sebuah koran Jepang, entah Shimbun apa namanya.

Selama setahun menerima beasiswa, kata Mas Harry ia tak boleh menulis artikel apapun.
"Nah ini yang bikin pusing, saya tidak boleh menulis artikel apapun. Ya paling nanti kalau selesai fellow, selesai buku saya tentang jurnalisme lingkungan," kata dia.

Seharian itu, peserta pelatihan dibukakan pancainderanya kembali oleh Mas Harry, betapa persoalan banjir, longsor, cileuncang, pembalakan, dan sebagainya, bukan sekadar persoalan lingkungan, tapi juga menyangkut persoalan yang lain. "Kalian sebagai editor, harus tahu bagaimana kondisi utuh atau grand desain dari persoalan lingkungan. Kalau ada banjir, jangan berhenti di banjir. Coba telusuri, apa yang menjadi persoalan inti, penyebab, dan mengapa terus terjadi," papar Mas Harry.

Banyak yang bisa diambil dari pelatihan kemarin itu. Sesungguhnya, saya sendiri pernah berkali-kali meliput isu-isu lingkungan. Seperti pencemaran air dan tanah oleh pabrik tekstil di Rancaekek, pencemaran udara di Kota Bandung, bencana hujan asam yang mengancam, longsor dan banjir di sejumlah tempat.

Sayangnya, berhenti sampai di situ. Tidak ada dorongan keras kepada para pemegang kebijakan untuk berbuat maksimal demi lingkungan yang lebih baik untuk generasi mendatang. Itulah yang akan kami, para peserta pelatihan lakukan. Bersama-sama terus melempar isu lingkungan, agar pemerintah tergerak, masyarakat pun bergerak, dan semua bergerak, menyelamatkan kondisi lingkungan yang kian parah ini. (*)