Saturday, November 17, 2007

Adipura

MULAI SENIN (19/11), saya harus berpisah dulu dengan keluarga dan teman-teman di kantor selama 10 hari. Jumat kemarin, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jabar mengirimkan surat tugas ke kantor. Isinya penugasan untuk pemantauan kota terbersih di Jabar yang layak mendapat penghargaan Adipura 2008.

Tahukan Adipura? Itu lho penghargaan buat kota terbersih di Indonesia. Malahan kota terkotor pun diumumkan biar malu, dan rajin bersih-bersih. Sebetulnya penugasan ini tidak mengejutkan. Karena seharusnya saya berangkat sejak bulan Agustus lalu. Namun
karena ada masalah anggaran, baik di pusat dan daerah, pemantauan terus diundur, hingga akhirnya ada keputusan November ini berangkat.

Mengapa saya bisa terlibat dalam tim pemantau Adipura? Semua itu berawal dari undangan pelatihan menjadi tim pemantau Adipura, tahun 2005 lalu. Pelatihan itu dijadikan seleksi untuk memilih anggota tim. Mereka yang terpilih mendapat sertifikat sebagai Tim Pemantau Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Selain PNS dari BPLHD, unsur pemantau Adipura juga berasal dari PNS di luar BPLHD, seperti Dinkes, Dinas Pendidikan. Di luar itu, ada anggota independen, yaitu kalangan akademisi. LSM, dan pers. Di Jabar, hanya ada dua koran yang jadi pemantau, yaitu Tribun Jabar dan Pikiran Rakyat. Sementara LSM yang memantau adalah Walhi Jabar, lalu ada Yayasan Gerimis.

Sejumlah kota sudah saya jelajahi untuk saya pantau kebersihannya. Wilayah III Pantura (5 kota/kabupaten), lalu kota Depok, Bekasi. Untuk pemantauan kali ini saya mesti menjelajahi wilayah Priangan Timur, mulai Tasik, Ciamis, dan Banjar, lalu melingkar ke Pantura (Indramayu, Cirebon, Kuningan, dan Majalengka).

Satu tim yang berangkat biasanya terdiri dari 4 atau 5 anggota. Komposisinya beragam: satu orang PNS, satu orang LSM atau akademisi, dan satu orang pers, ditambah dari KLH Regional Jawa. Itu untuk memantau kota/kabupaten yang tergolong kota kecil. Atau bisa juga dua PNS dari BPLHD, satu pers dan LSM ditambah pemantau dari Regional Jawa dan KLH Pusat.

Nah di sini yang biasanya suka rame. Pusat dan daerah sering bentrok, berbeda pendapat, dalam memberikan penilaian. Tugas saya adalah menengahi dan memutuskan penilaian yang lebih objektif. Tugas saya yang lainnya adalah mengawasi jalur komunikasi antara anggota tim dengan pihak kota yang dituju. Ya, suka ada saja anggota, terutama PNS, yang nakal. Mereka memberitahukan lebih dulu rencana kedatangan tim ke kota bersangkutan agar bisa bersiap-siap. Dan tugas saya, mencegah
hal itu terjadi, agar penilaian tetap objektif, apa adanya.

Ya Alhamdulillah, kota-kota yang kebetulan kena giliran saya pantau belum ada yang memperoleh Adipura. He he... Entah karena saya terlalu ketat menilai, atau gimana yah.. Saya sih bersandar pada fakta saja. Kotor dibilang kotor, bersih ya dibilang bersih. Toh ada bukti kuat yaitu foto-foto seluruh penjuru kota. Itu yang menjadi andalan saya saat presentasi di hadapan bupati dan walikota.

"Ini lho Pak, rumah sakit negeri anu suka buang limbah seenaknya. Jarum suntik dibuang apa adanya, tak masuk mesin insinerator. Padahal itu berbahaya, mengandung banyak kuman dan kemungkinan infeksi..bla bla. Nih fotonya, mau membantah Pak?," begitu saya suka "belagu" di depan pejabat-pejabat daerah. Mumpung, punya kekuasaan, sedikit-sedikit boleh lah berlagak... (*)

Bandung Blossom: Kota Kembang Sesaat


BANDUNg semarak bunga. Pawai kendaraan hias keliling kota membuat Bandung dipenuhi bunga-bunga berjalan. Bandung Blossom, begitu nama acara karnaval memperingati HUT ke-197 Kota Bandung ini. Kayak nama factory outlet di Dago. Apa mungkin FO itu jadi sponsor utamanya? Yang pasti, pawai itu menyedot perhatian masyarakat Bandung. Terutama, karena pemain Persib turut diarak di atas kendaraan. Hidup Persib!!! Hidup Maung Bandung!!! Padahal Persib main terakhir kalah 0-2 dari Persik Kediri. Lah pokona mah Hidup Persib!

Tentu saja kaum hawa yang paling banyak jerit-jerit ketika pemain Persib yang ganteng-ganteng, seperti Redouane Barkawi, Edi Kurnia, Pato Jimenez, muncul. "Barkawi, Barkawi, Barkawi" begitu teriakan mereka.

Tentu hal yang mengasyikkan jika Bandung berbunga semerbak lagi seperti dulu. Bukan bunga buatan atau bunga seremonial setahun sekali, setiap Bandung ulang tahun. Bandung Kota Kembang, itu julukan tempo dulu. Tempo sekarang, yah dilihat saja lah, apakah memang masih Kota Kembang?

Ruang Terbuka Hijau yang menjadi elemen penting hadirnya bunga dan taman justru makin berkurang. Kecepatan pembangunan Mal mengalahkan kecepatan pembuatan taman. Memang belakangan ini, Pemkot berupaya keras memperbanyak jumlah RTH. Sejumlah SPBU tidak diperpanjang lagi izinnya dan lokasinya dijadikan RTH.

Lalu untuk membuat Bandung makin berbunga, sejumlah pertigaan atau perempatan dipasangi taman mobile. Ini taman buatan. Pot-pot bunga disimpan di pertigaan, jadi pembatas jalur. Padahal kalau dilihat, keberadaan taman mobile ini tidak efektif. Dan sangat memanjakan para pencoleng tanaman hias. Kari eh tinggal ngambil saja, haratis...

Tentu warga Bandung ingin Bandung berbunga, hijau, sepanjang masa. Nah untuk seperti itu, harus dikerahkan daya upaya seluruh kekuatan, baik pemerintahan maupun masyarakat, membangun sebuah kesadaran bahwa Bandung ini ditinggali tidak hanya untuk saat ini, tapi puluhan, ratusan, mungkin ribuan tahun yang akan datang, bagi anak cucu cicit.

Mungkin, generasi abad 30 akan merasa reueus, menyaksikan Bandung yang masih hijau, tetap berbunga. "Ehm ini teh karena masyarakat dan pemerintahnya sadar akan lingkungan," begitu meureun. (*)

Environmental Jurnalism Workshop

WELEH, makhluk apaan nih? Environmental Jurnalism Workshop. Ini cuma Pelatihan Jurnalisme Lingkungan, kok. Jurnalisme Lingkungan? Apaan lagi tuh? Ya sederhana saja, ini salah satu aliran dalam jurnalisme yang khusus menyoroti soal lingkungan.

Eit entar dulu. Lingkungan di sini, ternyata bukan hanya terkait hutan, keanekaragaman hayati, pencemaran, dkk. Tapi juga lebih luas lagi, melingkupi politik, hukum, kesehatan, budaya, ekonomi, sosial, dan lain-lain.

Itulah yang seharian kemarin saya pelajari bersama dengan sejumlah kawan wartawan media cetak, radio, dan televisi pada Pelatihan Jurnalisme Lingkungan untuk Editor. Pelatihan itu bagian dari Pelatihan Jurnalisme Lingkungan yan digelar selama 4 hari, 3 hari untuk reporter 1 hari untuk editor. Saya tidak tahu berapa banyak peserta
reporter yang ikut pelatihan. Kalau untuk editor ada 10 orang.

Tempat pelatihan di kantor Tribun. Nah, trainernya adalah Mas Harry Surjadi. Lulusan Institut Publisistik Bogor, he he itu nama julukan buat IPB yang lulusannya lebih banyak jadi jurnalis ketimbang jadi petani.

Mas Harry ini adalah Fellow, penerima beasiswa dari Knight International Journalism Fellowship, AS. Karena dia ngelotok banget soal lingkungan, maka jurnalisme lingkungan yang dia sampaikan.

Menurut Mas Harry, Fellow dari Knight Internasional ini tidak perlu belajar di AS. Justru dia mendapat tugas untuk menyebarluaskan jurnalisme lingkungan, dengan cara pelatihan-pelatihan seperti ini. Rencananya dia bakal mendatangi 6 daerah, 6 koran, dan semuanya di bawah Persda KKG.

Oh ya, latar belakang jurnalistik Mas Harry tak perlu diragukan lagi. Dia dua tahun jadi wartawan Trubus. Lalu masuk ke Kompas. Sekitar 10 tahun di Kompas, Mas Harry keluar dan bersama teman-temannya mendirikan Astaga.com. Hanya setahun, Mas Harry memutuskan untuk jadi freelance. "Ya enak jadi freelance, gak perlu ada acara pagi ke kantor, diam di kantor, wah ribet deh," kata Mas Harry.

Ia pun menulis untuk sejumlah surat kabar di Jepang, Inggris, Jerman, dan AS. Bayarannya jelas pakai dollar. Satu tulisan diharga 250 dollar. Dan terakhir, sebelum jadi Fellow, ia rutin mengisi kolom di sebuah koran Jepang, entah Shimbun apa namanya.

Selama setahun menerima beasiswa, kata Mas Harry ia tak boleh menulis artikel apapun.
"Nah ini yang bikin pusing, saya tidak boleh menulis artikel apapun. Ya paling nanti kalau selesai fellow, selesai buku saya tentang jurnalisme lingkungan," kata dia.

Seharian itu, peserta pelatihan dibukakan pancainderanya kembali oleh Mas Harry, betapa persoalan banjir, longsor, cileuncang, pembalakan, dan sebagainya, bukan sekadar persoalan lingkungan, tapi juga menyangkut persoalan yang lain. "Kalian sebagai editor, harus tahu bagaimana kondisi utuh atau grand desain dari persoalan lingkungan. Kalau ada banjir, jangan berhenti di banjir. Coba telusuri, apa yang menjadi persoalan inti, penyebab, dan mengapa terus terjadi," papar Mas Harry.

Banyak yang bisa diambil dari pelatihan kemarin itu. Sesungguhnya, saya sendiri pernah berkali-kali meliput isu-isu lingkungan. Seperti pencemaran air dan tanah oleh pabrik tekstil di Rancaekek, pencemaran udara di Kota Bandung, bencana hujan asam yang mengancam, longsor dan banjir di sejumlah tempat.

Sayangnya, berhenti sampai di situ. Tidak ada dorongan keras kepada para pemegang kebijakan untuk berbuat maksimal demi lingkungan yang lebih baik untuk generasi mendatang. Itulah yang akan kami, para peserta pelatihan lakukan. Bersama-sama terus melempar isu lingkungan, agar pemerintah tergerak, masyarakat pun bergerak, dan semua bergerak, menyelamatkan kondisi lingkungan yang kian parah ini. (*)

Thursday, November 15, 2007

Kantor Tribun Didatangi "Panglima" Geng Motor

RABU (14/11) siang, sekitar jam 13.00 saya ditelepon Bu Eri. "Ayah, kata teman di Bandung, itu kantor Tribun diserang geng motor". Informasi yang setengah mengagetkan. "Wah masa, nanti ayah cek," jawab saya. Saya langsung kontak ke kantor. Ari, staf Sekred, mengabari kalau tadi, sekitar jam 11.30, memang ada orang yang meminta klarifikasi berita geng motor. "Tapi cuma seorang kok Kang Mac. Tadi marah-marah minta klarifikasi," kata Ari. "Oh gitu, ya sudah, sebentar lagi saya ke kantor kok," kata saya.

Namun di luar perkiraan saya, isu kantor Tribun diserang geng motor meliar. Sejumlah wartawan berdatangan ke kantor. Bahkan dua truk Dalmas Polresta Bandung Tengah ngeburudul datang ke kantor. Rupanya ada rekan wartawan yang kontak ke Kapolresta, bilang kalau Tribun diserang geng motor. Lalu detikcom pun menyiarkan soal geng motor yang mendatangi kantor Tribun, gara-gara pemberitaan. Tentu saja hal itu membuat sibuk, dan sedikit panik karyawan yang lain.

Saya datang setelah polisi hengkang dari kantor. Saya tanya satpam, siapa yang datang. "Banyak wartawan, saya ditanya-tanya segala, apa yang rusak. Ya enggak ada yang rusak lah, orang cuma minta klarifikasi kok," sewot Taruna, satpam Tribun.

Tapi suasana tegang terasa benar di kantor. Geng motor, jangan coba-coba. Apalagi katanya yang datang itu adalah panglima geng motor. Weleh...

Awal kekisruhan ini bermula ketika, Selasa pagi, saya mendapat SMS dari rekan-rekan Masika ICMI. Jam 13.00 ada diskusi soal Geng Motor: Problema dan Solusinya. Pembicara yang bakal hadir adalah Kapolwiltabes, Kepsek SMP Darul Hikam, Ketua KNPI Jabar, dan Panglima Brigez.

Panglima Brigez? Wah menarik nih. Panglima geng motor yang selama ini ditakuti orang bakal hadir di sebuah acara diskusi. Saya langsung kontak Tif, wartawan. "Tolong meluncur ke gedung ICMI di Cikutra. Ada diskusi soal geng motor. Upayakan wawancara khusus dengan Panglima Brigez. Nanti saya kontak fotografer buat motret," kata saya.

Persoalan tentang geng motor memang lagi panas-panasnya di Bandung. Itu tak lepas dari aksi brutal mereka yang kerap memakan korban. Entah itu anggota geng motor lain, ataupun warga biasa. Ada beberapa geng motor terkenal di Bandung. Ada XTC (Exalt to Coitut), GBR (Grab on Road), Moonraker, dan Brigez (Brigade Zeven). Korban terakhir amuk geng motor hingga meninggal dunia adalah Putu Ogik, wisatawan yang sedang melancong di Bandung. Ia ditusuk belati geng motor tanpa sebab apapun.

Jam 14.30, saya kontak lagi wartawan di lapangan. Ternyata sampai jam segitu, panglima Brigez yang dijanjikan bakal hadir belum muncul juga. Saya minta wartawan tetap menunggu sampai acara selesai. Siapa tahu muncul di akhir acara. Namun ternyata, memang panglima Brigez itu tak hadir.

Walau tak datang, saya minta wartawan tetap menuliskan beritanya. Pertama, ini isu yang sedang sensitif di Bandung. Kedua, di saat bersamaan, Kapolwiltabes dan Walikota Bandung menandatangani MoU tentang penanganan geng motor. Salah satunya adalah memberikan sanksi moral. Seluruh RT RW se Bandung diberi tahu, siapa saja anggota geng motor yang tinggal di wilayah mereka, dan mengumumkannya kepada masyarakat, agar anggota geng motor malu dan jera. Jadi berita Panglima Brigez itu masih ada kaitannya secara tidak langsung.

Lalu blooom, setelah koran terbit, terjadilah "insiden" kantor Tribun diserbu geng motor. Chandra alias Ochan, tak terima disebut tidak punya nyali hadiri diskusi. Walau dalam berita tidak menyebutkan sedikitpun namanya ataupun geng motor Brigez, tapi ia mengaku dirinya yang disudutkan. Karena yang diundang ke diskusi itu adalah dirinya. Terlebih Tribun menyebutkannya sebagai tidak punya nyali. Wartawan sudah baik menuliskannya, tidak ada masalah. Namun saat pengolahan, terpeleset. Ada opini yang masuk dalam berita.

Saya sendiri sudah mengingatkan soal ciut nyali atau tidak punya nyali itu tidak perlu disebutkan, karena faktanya tidak ada yang menyebut hal itu, termasuk panitia. Lagian, siapa yang tahu alasan panglima Brigez itu tidak hadir, kecuali panitia yang mengaku sudah konfirmasi hingga Senin, Ochan mau datang. Tapi saat pelaksanaan, tak bisa dikontak.

"Empat hp saya nyala terus, aktif terus. Masa tidak bisa dikontak. Saya tidak bisa hadir, karena memang ada rapat di tempat kerja. Dan siapa yang bilang saya panglima Brigez. Pendiri, memang iya. Tapi panglima? Saya sudah mundur dari Brigez sejak lama. Sebutan panglima itu tidak ada waktu dulu, itu zaman sekarang-sekarang saja ada sebutan panglima," begitu jelas Ochan pada rekan saya, Ichsan, wartawan yang biasa ngepos di kepolisian.

Kalau tidak cepat-cepat diselesaikan, permasalahan ini terus berkembang. Sampai-sampai, Komandan Tim Bulik (Bunuh dan Culik) atau Tima Cepat Tanggap Polda Jabar, Bang Zul Azmi,langsung turun ke lapangan. Mendatangi kantor Tribun, tanya kiri kanan soal insiden tersebut. Seandainya ada tindak kekerasan dari "panglima" Brigez itu, saya yakin dia langsung diciduk. Kabarnya, dia sudah diincar polisi sejak lama.

Hanya urusannya tidak berhenti di sini. Urusan dengan "Panglima" Brigez itu mungkin bisa dianggap selesai. Tapi bagaimana dengan anggota di bawah? Siapa yang bisa menjamin, anak-anak itu bisa dipegang? Berdoa saja, mudah-mudahan pulang ke rumah selamat. (*)

Tuesday, November 13, 2007

Pohon Pepaya Bercabang 5


ADA satu keunikan yang saya temukan di Kampung Bumen, Borobudur, Magelang. Tepat di pinggir kanan jalan masuk ke rumah Mbah Buyut, tumbuh sebatang pohon pepaya. Memang cuma pohon pepaya. Tapi pepaya yang satu ini beda dengan yang lain. Bercabang lima.

Ho ho, bercabang lima? Jarang bukan. Rasanya baru kali ini saya temukan pohon pepaya bercabang lima. Dan di setiap cabangnya, ada buah pepaya atau kembang yang bakal jadi buah. Saya tidak menghitung berapa banyak buah yang sudah muncul. Yang pasti, pohon pepaya yang satu ini tumbuh tinggi. Lebih tinggi dari pohon pepaya biasa.

Herannya, tidak semua orang tahu keberadaan pohon pepaya bercabang lima ini. Mbah Uti malahan tidak pecaya kalau ada pohon itu. Padahal setiap hari, lewat jalan itu. Ya, memang letaknya tidak mencolok. Berada di tengah rerimbunan tanaman pagar. Jadi agak tersamar.

Bagi saya, ini kali kedua saya menemukan pohon agak aneh. Yang pertama, tahun 2000 saya menemukan buah kelapa yang muncul di tangkai kecil yang menjulur dari batang pohon kelapa. Pohon ini tumbuh di halaman rumah bapak angkat saya, Pak Hidayat di Sangkuriang Cimahi. Foto buah kelapa ini pernah diminta wartawan Majalah Misteri untuk dipublikasikan. Sampai saya diwawancara segala. Mimpi apa semalam, sebelum menemukan buah kepala, eh kelapa itu. Ada-ada saja.

Tour of Borobudur: Last Day in Kiai Langgeng (5-Habis)

MINGGU (28/10), hari terakhir kami di Borobudur. Rencananya, Senin pagi, kami mau kembali ke Bandung. Karena itu, kami manfaatkan waktu itu untuk berekreasi ke Taman Kiai Langgeng, Kota Magelang. Ini sebuah tempat wisata tengah kota. Ya, mirip Dufan Jakarta, tapi mini.

Mobil Avanza penuh sesak. Kali ini keluarga Mbak Bib yang ikut. Memang setiap kali pergi ke suatu tempat, kami atur agar bergantian. Maklum, mobil cuma satu, sementara anggota keluarga banyak. Cuma Mbak Bad yang selalu ikut dalam setiap kunjungan. Waktu ke Salatiga, keluarga Mas Hasyim dan Mbak Bad yang ikut. Kalau ke Yogya, keluarga Mas Oyan.

Ternyata, minggu itu Kiai Langgeng banyak dikunjungi wisatawan. Mereka datang dari Semarang, Magelang, Ambarawa, juga dari Yogya. Kebanyakan memanfaatkan Kiai Langgeng untuk halal bihalal. Kalau kita mah, sekalian ngasuh anak saja. Mau naik mobil air, ayo. Naik komedi putar, hayo. Naik kincir besar, ayo.

Kalau untuk kawasan Magelang dan sekitarnya, keberadaan Taman Kiai Langgeng ini cukup sebagai tempat rekreasi lokal. Lahannya lumayan luas. Jenis permainannya juga cukup banyak. Ada bus keliling, kereta api, mobil air, mini jetcoaster. Juga ada kebun binatang mini. Di sini pun ada desa buku Kiai Langgeng. Itu lho, sebuah program untuk membudayakan membaca pada masyarakat.

Selain itu ada wahana --ini istilah di Dufan-- baru. Naik pesawat. Ini benar-benar pesawat terbang, cuma disimpan di lahan khusus, tidak mengudara. Bayarnya Rp 5.000. Pengunjung cuma masuk, nengok-nengok, yang mau foto-foto mangga, yang mau duduk di seat pesawat, silakan. Lalu keluar lagi. Lha, apa enaknya? Bagi yang pernah atau sering naik pesawat, jelas enggak ada enaknya. Tapi bagi mereka yang datang dari pelosok, yang tahunya pesawat dari televisi, naik pesawat itu seperti mimpi.

Suasana di dalam taman wisata ini cukup nyaman. Banyak pepohonan besar, jadi enak untuk berteduh sekalian makan. Lalu pemandangan ke lembahnya juga bagus. Ada sungai besar di bekalang taman ini. Nah, di sebelah pinggir taman, ada kolam renang. Sehabis keliling-keliling dan ikut permainan, anak-anak pun berenang.

Saya pun ikut nyebur ke kolam, karena Kaka belum bisa berenang. Tapi lama-lama, setelah dibiasakan pakai pelampung, Kaka pun berani berenang sendirian. Ia asyik berenang bareng kakak-kakak sepupunya, Mbak Uum dan Mbak Hanifah. Bu Eri pun tak tahan untuk nyebur. Akhirnya, berbasah-basah ria di kolam, karena berenang pakai baju.

Yang lainnya cuma jadi penonton. Mbah Uti, gendong Adik yang tidur. Mbak Bad dan Mbak Bib juga cuma nonton. Yeti, keponakan, yang datang bersama teman-temannya dari Yogya, juga enggak berenang. Setelah semua kecapean bermain di air, kami pun pulang ke Borobudur.

Tak terasa, empat hari kita berada di Borobudur. Badan ini terasa lelah dan capai, karena selama berada di Borobudur, main terus. Keliling dan silaturahmi. Kita pun mengemasi barang-barang dan oleh-oleh yang akan dibawa ke Cimahi. Bu Eri masih sempat dipijat. Saya memilih untuk tidur saja.

Senin pagi, setelah sarapan, kita pamitan. Entah kapan lagi kita bisa kembali ke Borobudur. Maklum, sekali pulang itu butuh duit banyak. Ya paling 5-6 tahun lagi bisa ke sana lagi. Senin malam, di tengah guyuran hujan deras sejak Banyumas, kami tiba dengan selamat. Hatur nuhun Kang Asep, yang sudah menyopiri mobil dengan baik dan ramah. (*)

Monday, November 12, 2007

Historia Vitae Magistra: Reuni Barudak Sejarah


SABTU (10/11), bertepatan dengan Hari Pahlawan, saya meluncur ke Jatinangor. Ada undangan untuk reuni barudak Sejarah, Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himse) Unpad. Sebelumnya saya mampir dulu ke kantor Tribun dan Pramita Lab mengambil hasil pemeriksaan tes kesehatan Bu Eri.

Rasanya saya baru kemarin keluar dari kawasan Jatinangor. Tapi begitu lewat pertigaan tol, saya seperti masuk ke Jatinangor yang lain. Jatinangor yang sudah berubah dan saya nyaris tak mengenalinya lagi.

Di kiri jalan, dekat pertigaan itu, sudah berdiri sebuah mal. Makin mendekati wilayah kampus, suasana makin ramai. "Weleh, ini Jatinenzer bukan," pikir saya. Jalan angkutan di depan STPDN, eh IPDN, tak lagi lurus, tapi melipir ke kiri dekat gerbang IPDN terus Ikopin. Dan, saya pun bengong...

Jalan raya yang biasanya lurus itu ternyata sudah berbelok ke kiri. Membelah saung budaya di pinggir Ikopin, terus tembus ke Unwim dan berakhir di Pangdam (Pangkalan Damri) Unpad. "Wah ada jalan baru toh," kata saya dalam hati.

Sekilas saya melihat ke sebelah utara, lahan Unpad, ada gerbang dekat pemberhentian bus Damri. Lalu terlihat pula semacam koridor menuju ke waduk dan fakultas kedokteran. Namun berhubung saya ini "kolot", saya tetap ingin menempuh jalur biasa, seperti yang biasa saya tempuh 10-12 tahun ke belakang.

Dan masih seperti dulu, kemacetan langsung menyergap mulai pertigaan Sayang hingga depan kampus Unpad. Pemandangannya luarrr biasa. Berubah. Tak ada satupun bangunan yang saya kenal. Mungkin hanya warung makan Munggaran yang saya kenal. Tapi tampilannya pun sudah jauh berubah. Kiri kanan banyak toko. Depan Munggaran, yang dulu masih sawah apa kolam, habis oleh beragam toko. Wah, pokona mah, makin pusing lihat Jatinangor yang padat suradat begitu.

Belok kiri, gerbang utama kampus Unpad Jatinangor. Kalau ini masih seperti dulu. Cuma pintu gerbang yang buka hanya sebelah kiri, yang kanan tutup. Entah kenapa. Melaju terus, saya lewati pos Satpam, lalu ke arah Bunderan. Saya tengok sebelah kanan. Wuih, ini stadion Unpad, tempat dulu saya biasa main dan berlatih bola. Tribunnya kini memakai atap. Tapi kualitas lapangannya tidak berubah. Tetap buruk. Sempat terlihat, sejumlah anak tengah bermain bola di genangan air. "Kirain sudah seperti Siliwangi..."

Saya terus menanjak ke gedung Fakultas Sastra. Terasa adem saat lewat depan Fisip, dekat Mesjid Ibnu Sina. Pohon yang dulu masih kecil-kecil sekarang sudah rimbun. Yang mencengangkan, lahan dekat lapangan basket Pedca (dulu) kini jadi toko-toko kecil. Rame pokona mah.

Masuk halaman Fakultas Sastra, suasana sepi. Mungkin Sabtu, tidak ada mahasiswa yang kuliah. Saya parkir motor di depan PSBJ. Pede saja saya nyelinap ke belakang PSBJ, terus tembus ke Gedung B. Katanya acara reuni di Aula Gedung B. Naik tangga. Satu dua, tiga lantai. Ada panitia penyambut di dekat pintu Aula.

Saya lihat daftar hadir. Tidak begitu banyak yang hadir. Waktu masuk ke aula, beberapa teman langsung menyambut. Ada Tanti R Skober, teman seangkatan. Lalu Nyai Kartika, adik angkatan. Mereka berdua ini sudah jadi dosen Sejarah. Bersalaman, lalu kami pun cerita-cerita.

Saat saya masuk, rupanya Kang Hikmat Kurnia tengah "memprovokasi" anak-anak baru Himse. Sepintas saya dengar, Kang Hikmat menyemangati anak-anak itu supaya tidak patah arang dengan menjadi mahasiswa Sejarah. "Baik buruknya kalian itu tergantung kalian sendiri. Sukses, kalian yang mengusahakan. Buruk, ya kalian juga yang melakukannya," kata Kang Hikmat.

Kang Hikmat Kurnia ini, anak Sejarah angkatan 86. Jabatannya mentereng, Direktur Agromedia Grup. Sebuah grup yang menaungi sejumlah penerbitan, seperti Puspa, Canting, Agromedia Pustaka, Gagas Media, dsb. Selain Kang Hikmat, ada satu senior lagi. Cuma saya lupa namanya. Juga ada Guntur, angkatan 89. Mas Anto, Sekjur Sejarah, terselip di antara mereka. Dia angkatan 90.

Lalu wajah-wajah yang lebih familiar muncul. Ada Maulana Yudiman, angkatan 92. Dia ini mantan wartawan dan Korlip Majalah Swa. Sekarang jadi entrepreneur, penulis di Jakarta Post. Lalu Kang Jaja, juga angkatan 92. Ternyata alumni yang datang kebanyakan angkatan 80 ke bawah. Angkatan 70 tidak ada yang datang. Yang lainnya, angkatan di bawah saya, 95 sampai 2000-an.

Kang Hikmat panjang lebar mencekoki anak-anak Himse dengan "petuah-petuah". "Jangan lihat kalian ini dari jurusan apa, tapi lihat apa yang bisa kalian lakukan. Bisanya menulis, ya tekun di menulis. Bisanya motret, ya motret. Bisanya melawak, ya jadi pelawak. Jangan minder lah," kata dia menyemangati.

Ya, memang ada anak Sejarah yang jadi komedian. Juhana "Joe" Sutisna, dedengkot P Project adalah jebolan Sejarah. Dia seangkatan dengan Hikmat Kurnia. Lalu masih di P Project, ada juga Aep. Kalau pernah nonton klip P Project yang zaman Piala Dunia, ada pemain pendek berambut kribo seperti Maradona, itulah Kang Aep.

Bagi saya, Hikmat Kurnia, adalah salah seorang inspirator untuk terjun di dunia jurnalistik. Cerita senior-senior saya dulu, selalu menyebut nama Hikmat Kurnia untuk mencontohkan alumni yang sukses di jurnalistik dan penerbitan. Dan orang ini tidak pernah berubah. Setiap kali ada undangan reuni dari Himse, pasti datang dan memberi semangat.

Selain Hikmat, ada pula nama M Subhan SD, juga anak Sejarah angkatan 86. Dia adalah wartawan Kompas. Ini nama-nama "sakti" yang melecut semangat untuk bisa seperti mereka. Akhirnya, wartawan memang jadi jalan hidup saya. "Dia bisa, mengapa saya tidak bisa," begitu pikir saya waktu masih mahasiswa dulu.

Memang banyak anak Sejarah yang terjun ke dunia jurnalistik. Entah kenapa. Di Tribun saja, ada tiga orang. Saya, Teh Umi, angkatan 90, dan Irna angkatan 93. Tapi Teh Umi dan Irna sudah keluar.

Yang saya tahu, ada pula Tri Juli angkatan 91, wartawan Media Indonesia. Lalu Mochamad Asep BS, teman Yudiman di Majalah Swa. Ada juga Dadan Hendaya, angkatan 88, di Pikiran Rakyat. Oh ada juga Kang Dudi Rahman dan Kang Doddy Kusmayadi. Dulu mereka berdua kompak di Majalah Panji. Waktu Panji bubar, Kang Dudi loncat ke Gatra, Kang Doddy ke TV7. Sekarang Dudi Rahman di Investor

Kemudian Taufik BW, angkatan 93, dia di Kantor Berita 68H Komunitas Utan Kayu, sebelumnya di Majalah Gatra. Di Gatra juga ada Teh Ida Farida, angkatan 80-an. Juga ada, siapa tuh, saya lupa lagi namanya. Pokoknya anak angkatan 93. Dia kerja di Suara Karya. Lalu Dani Asmara, teman seangkatan saya yang kerja di penerbitan, Mujahid Press. Dan banyak lagi yang saya tidak tahu.

Walau sederhana, reuni itu cukup mengasyikkan. Selain saya dan Tanti, dari angkatan 94 yang hadir adalah Dani Santoso alias Dani Botak. Teman-teman lain tidak datang karena kesibukannya. Mas Gunawan, lagi ke Singapura, ngirim barang arkeologi dari Depdagri. Lalu Deni "Obo" Budiman, saat dikontak, bilang ada acara keluarga mendadak. Wawan, yang semangat mau datang, ternyata tak nongol. Yuli Jasad sibuk mau manggung di Saparua. Rini "oin" Murliani, masih kerja kalo Sabtu di Sumitomo Serang. Purnamawati lagi sekolah PGSD. Yang lainnya, tidak ada kabar.

Yang menggembirakan, reuni kecil ini bakal menjadi awal menuju Reuni Akbar. Katanya panitia mau menggelar pada 2008 mendatang. Makanya, setiap angkatan diminta menyerahkan database masing-masing personel. Dan saya kebagian mengkoordinir teman-teman 94. Awal Desember, data base harus beres, bertepatan dengan reuni Ikatan Alumni Unpad.

Saya baru tahu, kalau senior-senior 80-an membuat milis jasmerah di yahoo. Tahu gitu saya join dari dulu. Katanya di situ berseliweran informasi barudak sejarah. Nanti saya join deh, biar seru.

Acara tidak berlangsung lama. Setelah makan siang, acara selesai dan seluruh hadirin bersalaman. Lalu pulang ke rumah masing-masing. Satu hal yang setidaknya bisa diambil dari pertemuan itu adalah sejarah harus mampu menyemangati diri dan menjadi faktor perubah dari situasi yang kurang baik ke situasi yang lebih baik. Mengutip ungkapan seorang filsuf, entah Socrates, entah Aristoteles, entah Cicero: Historia Vitae Magistra. Sejarah adalah Guru Kehidupan. Belajarlah dari Sejarah, Kau pun Akan Mampu Memperbaiki, Minimal Memperbaiki Dirimu Sendiri. Sampai ketemu lagi, di tahun 2008. Semoga. (*)

Sunday, November 11, 2007

Tour of Borobudur: Salatiga dan Yogya Pun Dikebut (4)


Ini rumah Pak Jayin di Suruh, Salatiga
TAK hanya berkutat di Borobudur, kami sekeluarga pun bersilaturahmi ke saudara-saudara di luar Magelang. Jumat (26/10), kami meluncur ke Salatiga menuju rumah Pak Jayin, orang tuanya Mbak Ani, atau besannya Mbak Kakung. Lokasi rumah Pak Jayin berada di daerah Suruh, sebelah timut Terminal Tingkir Salatiga.

Jarak Magelang-Salatiga, kira-kira sektar 65 km. Kami mengambil jalur via Kopeng. Kopeng ini daerah di ketinggian, mirip Cisarua Lembang, atau Puncak Bogor. Kiri kanan jalan penduduk menanam sayuran. Lalu tanaman hias pun banyak. Mirip Cihideung Parongpong, kalau di Bandung. Hanya memang jalur via Kopeng ini berbelok-belok. Tak heran, Mbak Bad pun dibuat puyeng dan masuk angin.

Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, beberapa saat sebelum azan Jumatan, kami tiba di rumah Pak Jayin ini. Kedatangan kami sudah dinanti-nanti. Karena Mbak Ani sudah mengabari Pak Jayin, kami bakal mampir ke Salatiga. Lalu saya, Mbah Kakung, Mas Hasyim, dan Kang Asep, salat Jumatan dulu di mesjid besar yang belum selesai dibangun.

Mesjid ini berada di sebelah timur rumah Pak Jayin. Kalau sudah jadi, saya yakin mesjid ini megah. Konstruksinya saja beton, dengan beberapa pilar di dalam. Lalu kubah bulat berukuran besar. Katanya biaya pembangunan sudah menghabiskan 800 juta. Diperkirakan sampai selesai habis duit 1,6 miliar. Namun kata Pak Jayin, panitia pembangunan tidak terlalu kesulitan. Pasalnya, desa Suruh ini punya warga andalan, yang sekarang menjadi anggota DPR RI dan DPRD Provinsi Jateng, dari PPP. Dari saku merekalah, paling banyak mengucur dana pembangunan mesjid besar ini.

Usai Jumatan, kita pun makan siang dan istirahat. Sementara Kaka senang main ayun-ayunan di samping rumah. Kebetulan ada pohon cukup besar dan kuat, sehingga bisa untuk ayun-ayunan. Di pinggir rumah Pak Jayin ini ada kolam lele dan kebun Salak. Sayang, saat itu, salaknya belum besar-besar.

Kaka Bila main ayunan di samping rumah Pak Jayin
Jelang sore, kami pamit pulang. Jalur pulang pun kembali lewat Kopeng, karena lebih dekat, ketimbang lewat Ambarawa. Setelah Salatiga, rencananya, Sabtu (27/10), kami akan ke Parangtritis. Tapi Kaka sakit panas. Mungkin kecapean main terus.

Akhirnya rencana pun diubah, tidak jadi ke Parangtritis, tapi sampai Yogyakarta saja. Kita silaturahmi ke Mbak Siyah dan Mas Slamet. Ini saudara sepupu Bu Eri, anaknya Bude. Nah, kalau ke Yogya, ya sekalian belanja oleh-oleh. Apalagi kalau bukan Bakpia Pathuk dan Dagadu. Berhubung "umat" yang harus dioleh-olehi banyak, kita pun memborong Bakpia dan makanan lainnya.

Sebelum beli bakpia, kita mampir dulu ke Dagadu di Pakuningratan. Pilih-pilih baju Dagadu yang asli. Soalnya merek Dagadu itu sudah banyak yang membajak. Mending sedikit mahal, tapi asli, langsung dari pabriknya.

Beres dari "Matamu" alias Dagadu, baru kita beli Bakpia. Kita pilih Bakpia 75, karena katanya sih ini yang paling enak. Di sepanjang jalur itu, ada beberapa bakpia. Ada 25, 125, ada juga bakpia 21. Tapi begitulah, kalau sudah jadi komoditi wisata, harga bakpia jadi mahal.

Beruntung, kita diantar Mbak Siyah. Dia tahu celah untuk beli Bakpia. Kalau pembeli diantar oleh guide, biasanya guide juga dapat persenan. Rp 2.000 per dus Bakpia. Lumayan kan. Tapi karena beli banyak, jatuhnya mahal juga. Akhirnya kita beli Bakpia, di pusat pembuatannya di belakang Bakpia 75. Masuknya lewat gang sempit di pinggir Bakpia 75. Soal harga jangan tanya, murah pisan. Jika beli di depan Bakpia 75, satu dus harganya Rp 15 ribu atau Rp 14 ribu, di sini harganya cuma Rp 9.000.

Nah ini konter penjualan Bakpia 75
Soal rasa, hampir sama, karena produsen di belakang ini juga masok bakpia ke toko-toko Bakpia 75. Jadilah, kita borong bakpia murah meriah itu. Kalau mau rada keren, tinggal ganti kemasan dus saja. Pakai Bakpia 75. Gitu lho... (*)

Thursday, November 08, 2007

Tour of Borobudur: Adem, Akur, dan Mangan Ora Mangan Kumpul (3)

SUASANA di dusun Bumen, sangat khas tipikal pedesaan Jawa. Rumah-rumah masih banyak yang memiliki halaman cukup luas dihiasi dengan pohon-pohon. Bentuk atap rumah masih banyak yang mempertahankan bentuk joglo. Sebagian masih ada yang berupa rumah panggung. Karena itu di bagian depan rumah, ada teras. Di Sunda, dinamakan golodog. Entah di Jawa, saya tidak sempat menanyakan apa sebutan teras di depan rumah.

Sementara rumah Mbah Buyut, sudah tergolong modern. Karena sudah dibeton dan dinding pakai bata merah. Atap pun bukan lagi Joglo. Tapi atap piramid lurus, tanpa ada talang ari. Ini memang rumah yang baru dibangun beberapa tahun lalu. Rumah lama, tepat di sisi rumah baru, sudah lapuk. Bentuknya memang masih Joglo. Karena takut ambruk, mungkin, rumah baru pun dibangun. Sedang rumah lama dipakai untuk semacam lumbung dan kandang ayam.

Yang mungkin susah ditemukan di Cimahi, Bandung, atau kota besar lainnya adalah peralatan di dapur atau pawon. Jangan harap menemukan kompor minyak di sini. Semua masih pakai tungku, anglo, atau orang Sunda bilang Hawu. Perapian. Jadi kayu bakar adalah bahan utama untuk bisa memasak. Di sini masih mungkin, karena masih banyak pepohonan, hutan masih lebat, tinggal mencari ke kebun dan ladang, pasti menemukan kayu bakar.

Rumpun bambu di dekat halaman samping rumah Mbah Buyut membuat adem suasana di rumah. Apalagi di belakang rumah, ada sungai kecil mengalir. Sungai yang biasa dijadikan tempat mandi, mencuci, dan juga kakus. He he, urusan yang satu ini memang sulit dihilangkan. Sudah terbiasa kali yah. Tapi di rumah SiMbah punya kakus kok. Jadi enggak perlu terjun ke sungai. Pura-pura berendam, padahal....

Memang saat kami mudik tempo hari, cuaca lagi panas. Hujan tidak turun selama berbulan-bulan. Tak heran, sungai di belakang rumah pun nyaris kering kerontang. Padahal, biasanya saat berkunjung ke sini, kami selalu menyempatkan untuk mandi di sungai. Wuihh, airnya segar. Terakhir saya dan Bu Eri ke sini, sekitar 3 tahun lalu. Waktu itu Kaka Bila masih umur 2 tahunan. Kami ajak dia untuk merasakan mandi di sungai. Tapi kemarin, itu cuma impian. Menengok ke sungai pun enggan, karena air tak mengalir lagi.

Ya, tidak ada yang berubah dari rumah Mbah Buyut yang juga ditempati keluarga Mas Hasyim, kakak sepupu Bu Eri. Yang berubah adalah aroma rumah yang agak bau, karena di samping rumah dekat pintu dapur, kini ada kandang sapi. Bau kotorannya jelas menyengat. Walau begitu, rumah ini tetap menawarkan kesejukan. Adem. Lebih dari itu penghuninya akur-akur. Kalau Kang Asep, sopir Avanza, bilang keluarga di sini mah akur, tidak pernah ada cekcok. Makan seadanya pun, bahagia saja. Masih bisa tertawa.
Mangan ora Mangan sing penting kumpul kabeh.

Ngomong soal makan ini, jadi ingat Mbah Buyut yang selalu menyuruh kita-kita ini makan. "Hei madhang sek, madhang sek," begitulah Mbah dengan suara khasnya, mengingatkan kita untuk makan.

Sejak tiba di Bumen Borobudur, setiap pagi saya harus membawa Adik keluar rumah. Berdiri dekat pintu dapur, dekat kandang sapi. Atau ke tengah halaman samping. Buat apa? Adik senang melihat ayam. Jadi setiap pagi, saya memberi makan ayam. Ketika ayam-ayam itu berkumpul, Adik berkerejet-kerejet ingin turun, ingin memegang ayam. Dan kebiasaan itu terbawa hingga pulang ke Cimahi. Setiap pagi, Adik inginnya ke luar rumah, melihat ayam. Padahal di rumah tidak ada ayam. Ada juga ayam tetangga yang jumlahnya beberapa gelintir. Karena setelah merebak flu burung, banyak ayam yang diberangus...(*)

Wednesday, November 07, 2007

Tour of Borobudur: Tidak ke Candi Tidak Afdal (2)

KAMIS (25/11). Seharian itu kami sekeluarga bersilaturahmi ke saudara-saudara di Borobudur. Beruntung kami memakai mobil rental, jadi tidak susah untuk bepergian. Jarak antara Kampung Bumen, yang menjadi "basecamp" kami, dengan Janan sekitar 4 kilometer. Jalan kecil di pinggir Candi Borobudur, paling sering kami lalui karena itulah jalan tercepat ke Janan atau ke Bumen.


Mentari sore di balik stupa

Kami keliling menemui para pinisepuh di Borobudur. Silaturahmi ke rumah para Pakde dan Bule di Janan. Rumah Pakde Tir sekarang pindah ke belakang. Rumah di depan, pinggir jalan Borobudur, ditempati Mas Adib, anaknya. Setelah bertemu keluarga Janan, kami pun bersiap-siap wisata ke Candi Borobudur. Jaraknya cuma 100 meter pinggir kanan rumah Mas Adib. Sebenarnya agak malas juga sih ke candi, tapi rasanya tidak afdal kalau pulang kampung tidak sempat ke Borobudur. Begitu kata Bu Eri.

Kami sudah ditunggu Mas Anas. Dia suami Mbak Bib, sepupu Bu Eri. Mas Anas bertugas di hotel komplek Borobudur. Sementara Mbak Bib di bagian tiketing. Jadi mereka inilah jalan masuk ke Borobodur secara gratis.

Kaka Bila akrab sama patung Budha
Mobil Avanza masuk lewat gate menuju Hotel. Dari tempat parkir, masuk ke pelataran Candi. Sebelum mendaki puncak stupa, kami naik kereta keliling candi dulu. Toh gratis ini, he he... Puas berkeliling, barulah kami naik seundak demi seundak candi terbesar di Asia Tenggara ini. Kaka Bila yang paling semangat untuk mencapai puncak. Sementara Bu Eri menunggu di undakan pertama, karena capai dan menggendong Adik yang tidur.

Saya ingat-ingat lupa cerita soal Borobudur ini. Dulu pernah belajar mata kuliah Sejarah Kebudayaan Indonesia (SKI). Buku pegangannya karangan R Soekmono. Kalau tidak salah, Borobudur didirikan oleh Wangsa Syailendra, sekitar abad 8 M. Tujuh undakan menuju puncak dengan stupa terbesar itu bukan tidak berarti apapun. Itu me- nunjukkan fase kehidupan. Bagian kaki merupakan Kamadatu, kehidupan duniawi yang penuh dengan nafsu. Lalu undakan 2-4 adalah Rupadatu. Artinya dunia yang sudah membebaskan diri dari nafsu, tapi masih terikat rupa dan bentuk. Lalu tingkat lima sampai tujuh merupakan Arupadatu, pembebasan dari rupa tanpa bentuk, bebas dari segala keinginan, tapi belum sempurna. Karena kesempurnaannya harus menempuh Stupa terbesar, yang polos tanpa relief.

Kaka, Mbah Uti (kiri), dan Bude Bad, berpose di depan stupa terbesar. Saking besarnya, puncak stupa tak terlihat.
Oh iya setiap tingkat, terutama di bagian Rupadatu, selalu dihiasi relief-relief. Kabarnya relief itu menggambarkan cerita-cerita, seperti Ramayana atau Kamawibhangga. Tapi mana yang Ramayana, mana yang Kamawibhangga, terus terang, saya enggak tahu dan tidak memerhatikan. (*)

Tuesday, November 06, 2007

Tour of Borobudur: Asyiknya Rame-rame (1)

INI cerita tentang "mudik" ke Magelang yang belum sempat diposting. Saya mengambil cuti pascalebaran selama 5 hari, sementara Bu Eri cuti 8 hari. Kita sepakat untuk mudik pakai mobil rental, Toyota Avanza. Rabu, 24 Oktober, malam jam 20.00 WIB, kita berenam: Saya, Bu Eri, Mbah Kakung, Mbah Uti, Kaka, dan Adik, pun berangkat.

Semua orang, keluarga Mas Rikhan dan Mas Rohman, mengantar dan membantu bawa barang. Soalnya, barang yang dibawa buanyak banget. Koper 2, tas travel 3, tas jinjing 2, dan ransel daypack satu. Belum lagi dus-dus kue bolu dan makanan kecil. Mobil Avanza itu sampai "muntah" saat semua barang harus dimasukkan. Akhirnya, karena sudah tidak muat lagi, babywalker Adik terpaksa ditinggal. Wah, pokoknya perlengkapan mudik ini rasanya cukup buat satu bulan.

Mobil ini disopiri Kang Asep, sopir dari rental 888 Car Jaya. Orangnya ramah, tidak banyak bicara. Sekali-kali ikut nimbrung obrolan dan juga tertawa. "Biar tidak ngantuk," kata Kang Asep. Maklum, perjalanan malam mesti lebih hati-hati. Sopir tidak boleh lengah sedikitpun. Dan itu terbukti, saat di turunan Gentong Malangbong, dari arah berlawanan, truk tronton melaju lalu secara tiba-tiba mobil Kijang menyalip dari arah kiri dan langsung berhadapan dengan Avanza yang kita tumpangi. Untung Kang Asep ini gesit. Dia banting setir ke kiri, hingga keluar jalan aspal untuk menghindari tabrakan.

Perjalanan malam memang kurang mengasyikkan. Saya lebih banyak tidur ketimbang melek. Bangun saat mobil berhenti di SPBU atau di Rumah Makan. Selama perjalanan, kita sempat singgah untuk makan tengah malam di Saung Lesehan SPBU Imbanagara Ciamis. Hanya saya, Bu Eri, dan Bapak yang makan.

Di sebelah saung kita, ada beberapa orang yang tengah ngobrol sambil menikmati lagu-lagu live, yang rupanya kawan-kawan mereka juga. Saya perhatikan satu orang di saung tetangga itu. Rasanya kok kenal yah, tapi di mana? Setelah memeras ingatan, baru saya ingat. "Oh itu Pak Syarif Hidayat, Wakil Walikota Tasikmalaya, yang tempo hari menang Pilkada mengalahkan Walikota Incumbent, Bubun," kata saya pada Bu Eri. Dan ternyata benar. Saat penyanyi di depan mempersilakan Pak Syarif untuk tampil ke muka dan menyanyi. "Rupanya begini yah kesukaan Walikota baru Tasik ini, suka nyanyi-nyanyi, ditemani kolega yang kemungkinan besar para pendukungnya saat Pilkada kemarin," pikir saya.

Tapi saya tak hirau. Selesai makan, langsung tancap gas lagi. Avanza melaju menyusuri Jalur Selatan. Melewati Ciamis, Banjar, Majenang, Cilacap, Banyumas, Karanganyar, dan Gombong. Di Gombong, Avanza ini nyaris saja celaka. Kang Asep melarikan Avanza cukup cepat di tengah jalan. Secara tiba-tiba Kang Asep banting setir ke kiri. Ternyata di median jalan itu, ada pagar kawat setinggi satu meter, tipis di median jalan tanpa ada rambu peringatan. "Nyaris celaka," kata saya dalam hati. Untung Kang Asep cekatan. "Saya ingat ada pagar ini, tapi lupa di sebelah mana. Kemarin kan saya juga mengantar tamu lewat jalur ini," ujar Kang Asep.

Masuk Purworejo, Avanza sempat nyasar ke jalur menuju Yogyakarta. Memutar lagi, melaju ke Utara menuju Magelang. Di Salaman, mobil belok ke kanan menuju Borobodur. Sepi, lengang. Terminal Borobodur tak ada orang. Namun pasar Janan sudah mulai ramai. Waktu menunjukkan pukul 04.30 saat tiba di Janan, kampung halaman Bapak, persis di pinggir Candi Borobudur. Tapi kami tidak berhenti di sini. Avanza terus melaju ke pinggiran candi, lalu ke belakang, menuju ke Bumen, kampung halaman Mbah Uti, tempat Mbah Buyut, Bude, dan lain-lain tinggal.

Saat Avanza berhenti di pinggir jalan dekat rumah Mbah Buyut, beberapa ibu-ibu yang baru pulang salat Subuh dari mesjid menghampiri. Begitu tahu siapa yang datang, mereka langsung menyalami kami. Akhirnya, sampai juga kami dengan selamat. (bersambung)

Sunday, November 04, 2007

Virus Brontok dan Pendekar Blank

TERNYATA laptop HP NX5000 yang biasa saya dan Bu Eri pakai di rumah kena virus Brontok, virus Pendekar Blank, virus SPH, lalu virus satu lagi. Saya mulai curiga laptop kena virus, waktu mengklik file, ternyata langsung ada duplikasinya. Di-delete, tapi muncul lagi. Kalau file duplikasinya dibuka, ternyata kosong melompong. "Wah, jangan-jangan kena virus nih," pikir saya waktu mau menyimpan foto-foto mudik Magelang kemarin ke Flash Disk.

Lalu saya lihat My Document. Ada file yang aneh. (Read Me) Pendekar Blank. Perasaan, saya tidak pernah menamai file semacam itu. Walah, beneran nih, ini mah virus. Karena enggak enak hati, saya tidak klik itu file. Dan memang beruntung. Kalau saja diklik, menyebarlah virus-virus menjengkelkan itu.

Tapi saya tetap tidak bisa tenang. Rupanya sang virus sudah merasuk ke sistem laptop. Jalannya laptop kian melambat. Dan ternyata lagi, laptop itu tak dibekali anti virus. Dulu terlupa menginstal Norton antivirus. Susah payah saya installkan Norton, beruntung bisa. Tapi waktu itu sang vitus tidak terdeteksi.

Saya putuskan bawa laptop ke kantor, buat diotak-atik anak-anak IT. Setelah berjuang keras, karena laptop tak bisa beroperasi, akhirnya ketahuanlah virus apa yang menyerang. Ary, tukang IT di kantor, bilang ada Pendekar Blank alias Blankon di laptop. Ada pakai Un Sav buat menetralisir. Akhirnya bisa juga dihilangkan itu virus. Namun berhubung sudah kena ke sistem, laptop tetap tak bisa jalan.

Terpaksa deh harus diinstall ulang. Memang sudah saatnya. Laptop itu sudah 3 tahun menemani kami. Membantu kerja kami, mengirim berita dari rumah, mengirim sorot, mengirim foto, kadang searching. Kalau laptop ini tidak bisa dipakai lagi, mana tahan. Komputer PC sudah teronggok, karena rusak berat. Hard disknya saya selamatkan dan saya pasang di komputer di kantor, biar memorinya besar. Yang tertinggal cuma monitor dan CPU saja. (*)

Saturday, November 03, 2007

Adakah Kelompok Al Qur'an Suci?

TADI pagi jam 06.55, nada dering pesan pendek di HP saya berbunyi. Saya tengah ngoprek laptop yang kena virus, lalu membaca SMS itu. "Oh, dari Kang Hedi," kata saya dalam hati. Kang Hedi, atau lengkapnya Hedi Muhammad, adalah Sekretaris FUUI dan Koordinator Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) FUUI, juga Koordinator Aliansi Umat Islam (Alumi) Jabar.

Isi SMS itu "Adakah Qur'an Suci?. Fakta tambahan disampaikan koord TIAS dan pertanyaan itu akan dijawab Ketua FUUI hari ini pukul 10.15 WIB di FUUI (Jl Cijagra). Trmks. /HM".

Saya yakin SMS serupa juga dikirim Kang Hedi ke sejumlah wartawan dari media lain, terutama yang nomornya sudah disimpan di Communicatornya (kalau masih pakai Communicator...). Kang Hedi memang narasumber yang baik. Gampang dihubungi dan tak sungkan menghubungi, minimal memberi informasi. Sebetulnya saya ingin sekali mengikuti pertemuan itu. Ya, silaturahmi, karena sudah lama saya tidak bertemu dengan KH Athian Ali, juga dengan Kang Hedi. Selama ini, komunikasi lebih banyak hanya via SMS.

Tapi laptop yang kena virus itu bikin jengkel. Diotak-atik tak juga sembuh, pake Norton Antivirus tak terdeteksi. Wah ini sih harus dibawa ke teman IT. Baru jam 10 lewat, laptop dimatikan. Itu pun dicabut baterenya.

Nah terkait Al Qura'an Suci, saya belum tahu kelanjutannya. Nanti, teman saya yang pergi ke FUUI mungkin bisa cerita banyak. (*)

Al Quran Suci, NII, dan NII KW IX (Tulisan keempat-Habis)

LANTAS bagaimana sesungguhnya eksistensi NII, NII KW IX, atau yang terbaru Al Qur'an Suci? Saya yakin, gerakan mereka benar-benar nyata. Sejarah bangsa ini menceritakan, bagaimana tahun 1949, Sekarmadji Marijan Kartosoewiryo (SMK) memproklamasikan Negara Islam Indonesia atau Darul Islam. Nah, kelompok-kelompok yang bermunculan saat ini merupakan kelanjutan dari NII SMK. Hanya, seperti pernah saya tulis, mereka berbeda faksi. Ada Faksi Adah Jaelani, Faksi Ajengan Masduki, Faksi Abdullah Sungkar, dll.

Ketika SMK ditembak mati dan NII kehilangan Imam, sebagian besar aktivis NII tiarap semua. Ada yang masuk penjara. Ada di antara mereka yang dimanfaatkan Opsus Ali Murtopo. Lalu ada pula yang menjadi rakyat sipil biasa.

Para teroris Indonesia, Mukhlas, Amrozy, dan Imam Samudera, juga awalnya bagian dari NII faksi Ajengan Masduki. Mereka dikirim ke Afghanistan untuk berlatih dan berjuang. Namun di tengah jalan terjadi perselisihan pendapat antara Ajengan Masduki dan Ustad Abdullah Sungkar. Pecahlah NII di Afghanistan. Dan mereka memilih masuk NII Faksi Abdullah Sungkar yang kemudian menjelma menjadi Al Jamaah Al Islamiyah.

Saya pernah bertemu dengan Abdul Fatah Wirananggapati. Beliau adalah Kuasa Usaha Komandan Tertinggi Negara Islam Indonesia zaman Kartosoewiryo. Ketika seluruh pimpinan NII ditangkap, hanya Abdul Fatah ini yang lolos. Namun tetap saja, Abdul Fatah merasakan tahanan Orba.

Nah berdasarkan aturan atau Qanun Asasi NII, sesungguhnya yang paling berhak mengklaim sebagai Imam penerus Kartosoewirjo adalah Abdul Fatah ini. Namun kenyataannya tidak demikian. Orang-orang NII di bawah Abdul Fatah yang kemudian melanjutkan NII dan mengklaim jadi Imam NII.

Abdul Fatah sendiri tetap mengaku sebagai Kuasa Usaha NII dan penerus SMK sekaligus Imam. Menurut Abdul Fatah, NII yang benar tidaklah berlaku menipu, mencuri, dan perbuatan kriminal lainnya. Justru NII muncul untuk menegakkan syariat Islam, setidaknya di Indonesia. Jadi kalau ada gerakan mengatasnamakan NII tapi harus bayar infak, tidak wajib salat, tidak puasa, tidak zakat, itu jelas bukan NII. Begitu penjelasan Abdul Fatah, saat wawancara medio 2001.

Pertanyaannya, selepas Abdul Fatah Wirananggapati meninggal, siapa Imam berikutnya? Hasil penelusuran saya, beberapa tahun sebelum Abdul Fatah meninggal pada 002, beliau sudah melepas jabatan Imam itu. Lalu penggantinya adalah Ali Mahfudh, sebagai Imam NII. Siapa Ali Mahfudh, inilah yang belum saya ketahui. Dimana posisinya, bagaimana gerakannya. Apakah NII KW IX itu di bawah Ali Mahfudh juga? Apakah gerakan-gerakan yang menyebut NII itu juga masih di bawah kendalinya? Itu yang masih sumir. Saya pernah membaca surat keputusan Imam NII Ali Mahfudh ini, berkop surat NII dengan tahun 2002. Hanya saya lupa isinya tentang apa.

Jadi kalau melihat dari ciri-ciri kelompok-kelompok tertentu yang mensyaratkan hijrah, membayar uang, mengumpulkan dana infak, tidak perlu salat, taati Al Quran saja, saya berkecenderungan, mereka adalah kelompok yang sama, memiliki cita-cita yang sama, dengan NII. Tinggal ditelusuri saja, NII yang mana yang mereka masuki. (*)

Al Qur'an Suci, NII, dan NII KW IX (Tulisan Ketiga)

PADA tulisan kedua, saya menjelaskan sedikit tentang cara perekrutan anggota baru NII KW IX. Berikut sejumlah kewajiban-kewajiban yang harus anggota lakukan, terutama dalam hal pengumpulan dana. Sejauh pengamatan saya, mereka yang keluar dari NII IW IX, kebanyakan beralasan karena masalah uang ini, selain akidah tentunya.

Coba bayangkan, seorang anggota harus setor sekian juta kepada mas'ul, semacam kades. Lalu Mas'ul juga harus setor sekian ratus juta, karena umatnya juga makin banyak. Lha kalau tidak bisa memenuhi kewajiban itu, ada sanksinya. Entah berupa puasa, atau malah berupa infak lagi. Ujung-ujungnya, untuk memenuhi kewajiban setor uang itulah para pelaku NII KW IX berlaku kriminal. Mulai yang kecil-kecil, seperti menipu atau membohongi orangtua. Banyak kasus kader atau anggota ini bilang pada orangtuanya harus mengganti komputer teman yang rusak saat dipakai oleh mereka. Jika akal bulus ini tak mempan, meningkat jadi mencuri kecil-kecil. Semua saku bapak ibunya dirogoh, dompet segala macam disamber, tentu secara diam-diam. Kalau uang sudah tidak ada, barang-barang rumah tangga pun ikut melayang. Tak cukup sampai di sana, penipuan melebar ke tetangga, teman, dan seterusnya. Yang penting, mereka bisa setor uang sesuai target dari pimpinan.

Ketika FUUI pimpinan KH Athial Ali M Da'i menyatakan NII KW IX sebagai gerakan sesat dan menyesatkan dan menunjuk jari ke arah Ma'had Al Zaytun sebagai pusat gerakan sesat itu, tentu saya harus mendapatkan konfirmasi atau keterangan dari pihak Al Zaytun. Istilah dalam jurnalistiknya, cover both side, balancing, atau tabayyun. Memang pihak FUUI sendiri pernah mengirim surat ke Al Zaytun, meminta Syeikh Abdussalam Panji Gumilang alias Abu Toto untuk datang menjelaskan segala macam tudingan itu. Tapi undangan itu tak pernah bersambut.

Akhirnya saya dan seorang kawan pun meluncur ke Haurgeulis, Indramayu, sarang Al Zaytun. Kalau tidak salah, itu tahun 2001 atau 2002, awal tahun lah. Dua kali saya ke sana. Pertama, secara under cover, menyamar. Saya kasak-kusuk mulai dari warga setempat, hingga ke Kades dan BPD.

Memang warga pun terbelah dua. Satu pihak, setuju dengan keberadaan Al Zaytun, khususnya pihak aparat Desa. Di pihak lain, menolak Al Zaytun, karena merugikan, mengganggu, dan tidak bermanfaat bagi warga. Ternyata dari puluhan atau ratusan hektare lahan Al Zaytun, ada di antaranya yang hasil membeli secara paksa dari warga. Kalaupun dibayar, harga tanahnya rendah. Selain itu, janji untuk mempekerjakan warga sebagai pegawai Al Zaytun tidak terbukti. Sejumlah pegawai Al Zaytun yang tinggal di luar komplek, hidup terkucil dari lingkungan, karena memang mereka sendiri tidak terbuka terhadap masyarakat. Satu hal lagi yang membuat kecewa warga adalah soal jalan di Haurgeulis yang kondisinya hancur lebur akibat proyek pembangunan Al Zaytun.


Nah, soal bagaimana kehidupan di dalam Ma'had Al Zaytun, warga sendiri kurang begitu tahu. Pasalnya, mereka sulit mengakses ke dalam Ma'had. Jangankan masuk, untuk menggembalakan kambing saja di dekat Ma'had, mereka langsung diusir pegawai Al Zaytun.

Saat kunjungan kedua, saya berkunjung secara resmi, memakai surat dari kantor. Ketika datang, saya disambut Ustad Halim, salah seorang pengasuh atau pembina Ma'had Al Zaytun. Ustad Halim ini waktu Pemilu 2004 kena kasus, dan kalau tidak salah masuk pengadilan, karena dia yang mengumpulkan warga Al Zaytun di luar Ma'had untuk mencoblos di dalam Ma'had, dan menghalang-halangi Panwas masuk Ma'had.

Sebetulnya ada perasaan tegang juga. Wah, saya mau ketemu dengan Syeikh-nya Al Zaytun, yang disebut-disebut tokoh gerakan sesat. Tapi saya sudah mempersiapkan bahan untuk wawancara. Saya baca juga buku-buku tentang NII KW IX dan Al Zaytun terbitan LPII. Saya juga sempat ngobrol banyak dengan Pak Rafani Achyar, waktu itu anggota DPRD Jabar (sekarang Sekretaris MUI Jabar), yang mantan murid Abu Toto di Serang, dan istrinya, kalau tidak salah, masih punya keterkaitan keluarga dengan Abu Toto.

Dan Abu Toto pun muncul. Memakai kacamata coklat, berjas safari abu-abu, tidak memakai kopiah. Perawakannya tinggi dengan badan agak besar. Terlihat usianya lebih dari setengah abad, rambut sudah mulai memutih. Wawancara dilakukan di ruang makan Ma'had. Jadi sambil wawancara saya makan-makan. Kurang lebih dua jam saya ngobrol panjang dengan Abu Toto. Segala macam tudingan sesat ke Al Zaytun, berikut soal ibadah-ibadah aneh yang kabarnya dilakukan di Al zaytun, saya tanyakan.

Tapi begitulah, Abu Toto pandai menangkis semua dengan diplomatis. Itu pula yang sudah saya duga dan dapat informasi soal kelihaian Abu Toto ini dari sejumlah nara sumber. Contohnya, waktu saya tanyakan dari masa asal uang untuk membangun Pesantren megah Al Zaytun ini, apakah dari umat NII KW IX yang setiap bulan wajib setor, Abu Toto menjawab, uangnya dari umat Islam. Soal dari mana asal-usulnya tak perlu tahu. Soal zakat yang dipatok sekian puluh ribu, Abu Toto pun menjawab enteng saja. "Masa
untuk kemajuan umat Islam, hanya 2,5 persen. Boleh kan kalau kita memberi 15 persen atau lebih, kalau yang bersangkutan punya," jawab dia.

Segala jurus, trik, dan pancingan saya keluarkan, supaya Abu Toto bisa ngomong, sedikit saja, tentang NII KW IX. Tapi setiap kali ditanyakan hal itu, Abu Toto selalu mengelak. "Mana buktinya kalau ini pusat NII? Itu hanya tudingan orang yang iri," kata dia.

Usai wawancara, saya pun diajak berkeliling Ma'had Al Zaytun. Memang tidak semua tempat ditunjukkan, hanya tempat-tempat besar yang terlihat saja. Seperti Mesjid Rahmatan Lil Alamin. Dengan bangga, Abu Toto berkata,"Ini mesjid terbesar di Asia Tenggara, bisa menampung 100 ribu jemaah. Dibuat enam lantai, nanti kubahnya dari emas. Dananya dari umat Islam, bukan dari siapa-siapa". Waktu itu, pengerjaan mesjid masih di lantai dua. Entah sekarang, apakah sudah selesai atau belum.

Perjumpaan dengan Abu Toto setidaknya memberikan catatan penting. Tidak mudah untuk membongkar jaringan-jaringan NII yang begitu solid, profesional, dan mengakar. Pengakuan para Mas'ul di Jabar yang sudah bertobat saat testimoni di Mesjid Istiqomah Bandung yang menyebutkan aliran dana pengikut NII KW IX mengalir ke Ma'had Al Zaytun dan setiap 1 Muharam, para umat dan pimpinan NII KW IX berkumpul di Al Zaytun, tidak cukup kuat untuk menggoyang Syekh Panji Gumilang alias Abu Toto.

Lucunya, sejak pertemuan dengan Abu Toto itu, setiap Lebaran, saya selalu mendapat kartu lebaran langsung dari Syekh Panji Gumilang berkop Ma'had Al Zaytun. Canda teman-teman saya di kantor "Wah jangan-jangan udah dibaiat tuh sama Syekh, sudah dianggap warga NII KW IX". He he he... (bersambung)