Tuesday, November 18, 2008

Gonjang-ganjing Krisis

DAMPAK krisis perbankan di Amerika Serikat terus mengular ke penjuru mata angin dunia. Eropa dan Asia kian menunjukkan kelemahan fondasi ekonominya. Jepang, raksasa ekonomi Asia yang bergigi taring di dunia, kini terkulai. Resesi menghinggapi negeri Matahari Terbit itu.

Jangan ditanya pengaruh krisis itu ke Indonesia. Rupiah semakin loyo, bursa saham berguguran, adalah indikator makro ekonomi yang menunjukkan negara ini krisis di sana sini. Satu dolar kini nyaris seharga Rp 12.000, nilai yang hanya beda Rp 3.000 ketika negeri ini dihantam badai krisis sepuluh tahun lalu.

Utang Indonesia pun melambung menjadi Rp 10 ribu triliun lebih. Jangan pernah membayangkan berapa banyak uang itu, karena tak akan pernah terbayangkan. Tak terjangkau oleh pemikiran kita yang setiap bulannya hanya menerima hitungan jutaan rupiah. Bahkan lebih banyak lagi masyarakat yang belum pernah mencicipi uang nilai jutaan itu.

Tengok saja bagaimana dampak "batuk pilek" Paman Sam ke Indonesia. Sejumlah industri mulai bergelimpangan. Tekstil, garmen, dan rotan, adalah beberapa di antara sekian banyak industri yang tergerus angin taifun pembawa kesengsaraan.

Orderan dari luar negeri melorot drastis. Karena tak ada yang dikerjakan, puluhan ribu karyawan, buruh, dan pekerja terpaksa dirumahkan dan malahan sebagian di-PHK.
Di tengah kemelut ekonomi yang tidak dipahami oleh orang-orang kecil ini, muncul isu di kalangan pialang saham dan pemain bursa, soal limbungnya sejumlah bank mapan. Isu dan rumor sekecil apapun ternyata sangat berpengaruh bagi kelangsungan ekonomi bangsa ini. Isu limbungnya bank mapan itu akan membuat jebol bursa saham dan kian memperburuk nilai rupiah terhadap dolar.

Sekelas Gubernur Bank Indonesia pun harus kalang kabut dan membatalkan kepergiannya menghadiri pertemuan negara-negara G-20 di Washington, hanya untuk mengurusi isu yang membuat pemerintah kegerahan.

Lalu di saat tertimpa tangga seperti ini, bangsa Indonesia tak pernah lepas dari bencana. Longsor di sejumlah daerah, lalu gempa mengguncang sebagian tanah persada ini. Banjir menerjang ibukota dan daerah langganan banjir lainnya. Tak pernah selesai, susul menyusul seperti sudah direncanakan.

Tapi beginilah Indonesia, dihantam krisis dan bencana, tak membuat negeri ini lantas karam. Masih banyak harapan perbaikan yang muncul dari seantero negeri. Karena hanya harapan itulah satu-satunya yang bisa membangkitkan kembali Indonesia. Menumbuhkan kembali ekonomi rakyat kecil dan menjadikannya tulang punggung perekonomian bangsa. Bangsa yang besar ini tak layak untuk bersandar pada kekuatan negara lain. Kita harus berharap dan terus berharap. (*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar Edisi Selasa 18 November 2008.

1 comment:

aria said...

Sebenarnya rakyat indonesia itu rakyat yang konsumtif,liat aja berapa banyak HP,elektronik, dan kebutuhan lainnya yang terjual dalam sehari

jika indonesia memakai/membeli produk dalam negeri, tentunya tidak usah panik soal orderan luar negeri

masalahnya, indonesia masih gengsi dan bangga atas barang2 yang di beli dari luar negeri
padahal terkadang barang2 tersebut produksi dalam negeri juga

buktinya...tante gwe pernah ke eropa dan pulang membawa oleh oleh sepatu sport dan di dalamnya tertulis "made in indonesia"..parah kan