Tuesday, February 17, 2009

Miskin Itu Nggak Enak

TEPAT sekali apa yang diungkapkan oleh Wali Kota Bandung Dada Rosada di sela acara bakti sosial di Kelurahan Jamika dan dikutip koran ini kemarin. "Jadi orang miskin itu tidak enak...," begitu potongan pernyataan Dada Rosada.

Benar belaka, jadi orang miskin itu tak membuat enak, tak membuat tenang, hidup orang. Jangankan untuk membeli televisi, kulkas, atau barang lainnya, untuk makan sehari-hari saja pusing tujuh keliling. Sebabnya tak ada kemampuan untuk membeli makanan apapun.

Di sisi lain, lingkungan sekitar memamerkan sejuta kemewahan yang membuat si miskin kian dahaga dan membatin. Setan-setan bertanduk membujuk rayu tak habis-habisnya. Menggoda iman setiap manusia, termasuk orang-orang miskin, agar tergiur dengan kekayaan.

Bahwa kefakiran itu dekat dengan kekufuran, itu yang menjadi kenyataan saat ini. Karena fakir, karena miskin, seseorang bisa buta hati dan pendek pikiran. Mereka mau melakukan apapun, termasuk menduakan Tuhannya, untuk sekejap kekayaan di dunia.
Tengok saja setiap berita kriminal di media massa. Pasti alasan utama para pelakunya adalah terdesak kebutuhan ekonomi. Entah untuk makan sehari-hari, entah untuk keperluan sekolah.

Itu pula yang dirasakan 330 ribu warga Kota Bandung yang tergolong miskin, dan 5 ribu lainnya yang digolongkan sangat miskin. Setiap hari harus berjuang keras mencari sesuap nasi dalam arti yang sesungguhnya.

Padahal jika dibandingkan, jumlah orang miskin ini jauh lebih sedikit dibanding mereka yang lebih mampu. Penduduk Kota Bandung sebanyak 2,6 juta, sementara warga yang tergolong miskin hanya 330 ribu lebih atau hanya 12 persennya saja. Berartinya sisanya, yaitu 88 persen, tergolong mampu. Taruhlah yang sangat mampu itu sebanyak 40 persen. Amboi, sungguh elok jika mereka yang kondisi ekonominya sangat mampu ini tercambuk hati dan kesadarannya ikut membantu mereka yang papa dan miskin. Berapa besar potensi zakat harta dari warga yang mampu ini? Seandainya semua warga memiliki kesadaran yang sama untuk mengeluarkan zakat mal, bukan dongeng jika kita akan kesulitan mencari orang miskin di Kota Bandung ini.

Kewajiban untuk menyejahterakan masyarakat memang ada di tangan pemerintah. Karena itu tepat pula yang dilakukan Pemkot Bandung dengan meluncurkan program Bawaku Makmur. Namun bantuan ini, walaupun bentuknya dana hibah, harus diiringi pula dengan proses pembelajaran pada masyarakat.

Mereka yang menerima bantuan harus belajar untuk bertanggung jawab melaporkan penggunaan bantuan. Dana hibah itu berasal dari seluruh masyarakat dan hanya menjadi stimulus agar kehidupan bisa lebih membaik. Karena itu pertanggungjawaban penggunaan dana hibah itu harus ditekankan kepada setiap penerima agar mereka sadar bahwa yang memerlukan modal bukan hanya mereka, tapi juga ribuan warga lainnya.

Ingat kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz? Khalifah yang adil itu sampai kebingungan membagikan zakat karena tidak menemui lagi orang-orang miskin di negaranya. Seperti itulah mimpi yang harus kita wujudkan bersama.(*)
Sorot, dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Selasa 17 Februari 2009.

2 comments:

winsolu said...

andaikan sekarang ada khilafah dan sosok seperti umar abdul azis sebagai kholifahnya... Hidup kita maybe semakin berkah ya mas..

Mbak Maya said...

It's a nice blog. Salam kenal ya....