Saturday, January 17, 2009

Sejuta Kabut

CUACA Babakan Sari, Cimahi, Bandung, bahkan mungkin kota-kota lainnya belakangan hari ini seolah tak bersahabat. Hujan selalu turun di malam hari, bahkan hingga pagi. Dan pagi-pagi kabut akan menutupi pemandangan. Matahari baru bisa dirasakan hangatnya selepas pukul 10.00. Udara dinginnya pun mencucuk sumsum. Semakin meninabobokan para pekerja malam yang baru pulang ke rumah selepas dini hari, enggan melepas selimut tebalnya. Brrrrrr...., dingin pokoknya.


Setiap bangun pagi, saya selalu melihat ke arah jendela kamar. Kaca jendela selalu berembun, pekat. Di luar, kabut pun begitu tebal. Saya senang melihat kabut masih ada di sekitar rumah. Itu menandakan lingkungan di rumah masih lumayan nyaman. Jika kabut sudah enggan hinggap di sekitar kita, patut dipertanyakan: Sudah rusakkah lingkungan sekitar?

Setiap melihat kabut pula, saya selalu teringat dengan nyanyian alam Abah Iwan Abdulrahman: Sejuta Kabut. Saya teringat dengan kabut-kabut yang melingkupi Lembah Nyalindung di Burangrang, utara sana. Sampai-sampai salah satu angkatan di CPA Jayawijaya pun mengambil nama Kabut Alam untuk mengabadikan kabut di Burangrang itu.
Coba simak gubahan Abah Iwan tentang Kabut ini:

Sejuta kabut turun perlahan
Merayap di jemari jalanan
Meratap, melolong lalu menjauh
Menggoreskan kesan suram padaku

Sejuta kabut turun semalam
Mengetuk-ngetuk jendela kamarku
Meratap, melolong lalu menjauh
Menggaungkan kesan ngeri di hati

Lalu kusibak tirai hatiku
Kubuka lebar-lebar pintu jiwaku
Kuterjuni kabut yang di kakiku
Berbekal matahari
yang bernyala
yang membara

Ada kegelisahan, ada kesedihan, bahkan ketakutan yang diisyaratkan lirik lagu itu. Tapi lirik itu juga menyemburkan aura semangat. Walau kabut tebal menghadang, tak akan menjadi penghalang langkah hidup ini. Karena matahari akan selalu bernyala. Terbit dari ufuk timur menyemburatkan kehangatan, menyiratkan keberanian, untuk menempuh hari ini, esok, dan yang akan datang.

Beberapa hari lalu, lagu Sejuta kabut ini saya putar di komputer. Seandainya saja saya mendengarkannya bukan di kantor, tapi di tengah keheningan, di tengah kelebatan rimba, di tengah kesunyian lembah-lembah, pasti makna lagu itu akan kian merasuk, meresap begitu mudah. Kadang-kadang, bahkan mungkin seringkali, kita harus menjadi seorang penempuh jalan sunyi untuk mengerti apa makna dan hikmah langkah kita di belakang. Jalan yang sering ditempuh para nabi, aulia, dan orang-orang suci untuk menjernihkan pikiran dan jiwa dari hiruk pikuk dunia.(*)