Saturday, December 20, 2008

Jamban Terburuk

JAWA BARAT berada di posisi paling rendah se-Pulau Jawa dalam urusan hidup bersih dan sehat. Dibanding dengan Banten sekalipun, Jabar ternyata masih kalah. Indeks pola hidup bersih dan sehat Jabar di bawah standar nasional. Jangan bandingkan dengan Jateng dan DI Yogyakarta yang poinnya berada di atas nasional.

Ada 10 indikator pola hidup bersih dan sehat yang menyebabkan posisi Jabar tak bisa lebih bersih dan sehat dibanding Provinsi Banten. Indikator itu antara lain pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, air bersih, jamban sehat, dan keluarga tidak merokok.

Jelas saja, bagaimana mau disebut sehat apabila keluarga yang merokok di Jabar mencapai 81,5 persen. Para perokok ini sudah mulai merokok sejak usia 10 tahun. Dan di Jabar prevalensi perokok tertinggi adalah di Kabupaten Cianjur yaitu 39,2 persen.
Siapapun tahu bahwa merokok itu tidak baik atau merusak kesehatan. Tapi slogan itu hanya enak dan gampang diucapkan di mulut saja. Kenyataannya, orang-orang yang sadar dan tahu bahaya rokok, anteng saja mengisap asap nikotin terus menerus bak loko kereta api uap, lalu menyemburkannya ke udara, dan meracuni orang-orang yang tidak pernah merokok.

Tengok pula bagaimana pengetahuan masyarakat Jabar soal jamban. Rupanya masih banyak yang belum memiliki jamban sendiri dan belum tahu cara buang air besar yang benar.
Ini mengherankan, karena di sisi lain, soal konsumsi makanan berisiko seperti junk food, masyarakat Jabar juga tinggi. Artinya untuk makanan impor, masyarakat langsung tanggap, tapi urusan perjambanan tidak mau tahu.

Letak geografis Jabar yang dekat dengan ibukota negara tak menjamin masyarakatnya sadar soal jamban. Keberadaan fakultas kedokteran yang menjadi kejaran mahasiswa dari Malaysia dan sekolah tinggi kesehatan di tanah Parahyangan ini tak membuat tingkat kesehatan masyarakat lantas membaik.

Jabar dikenal sebagai penghasil sayuran, tapi 97 persen masyarakatnya kurang mengonsumsi buah dan sayur. Ironi bukan? Hidup sehat ternyata tidak bisa sendirian. Bagaimanapun, lingkungan akan mempengaruhi cara hidup sehat seseorang. Menjalankan pola hidup bersih dan sehat harus digerakkan secara bersama-sama. Jika satu keluarga tidak sehat, akan menular kepada keluarga yang lain.

Tapi upaya tetap harus dilakukan, karena itulah yang akan mengubah kebiasaan. Mulai dari yang kecil; membiasakan cuci tangan dengan sabun, biasakan memakai jamban, bersalin pada tenaga kesehatan, biasa berolahraga dan pola makan teratur.
Hidup seimbang, begitu kata orang pintar, pangkal hidup sehat.(*)
Sorot, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Jumat 19 Desember 2008.