Tuesday, August 21, 2007

Fashion Show dan Melatih Keberanian Anak


SENIN pekan lalu, Kaka Bila bersama teman-temannya di TK Mutiara Ibunda, Warung Contong, Cimahai, mengikuti lomba menyanyi dan fashion show. Ini perlombaan antar-TK se-Kecamatan Cimahi Tengah. Sejak beberapa hari sebelumnya, Kaka Cs berlatih menyanyi setiap pulang sekolah. Otomatis, pulang ke rumah pun jadi lebih siang, sekitar jam 11.00.

Sejak awal, ibu guru di TK Mutiara Ibunda sudah memilih Kaka untuk ikut menyanyi. Tak cuma itu, Kaka pun dipilih untuk mengikuti fashion show busana muslim. Saat latihan, Kaka selalu semangat dan menjadi contoh teman-temannya.

Bu Evi, guru Kaka, bilang pada saya,"Pak, Nabila bagus kok nyanyinya, latihan untuk fashion show juga sudah bisa. Dia berani kok. Dan memang lomba ini juga untuk memotivasi anak supaya berani tampil di depan banyak orang. Jadi Bila harus ikut yah". Saya sih mengangguk-angguk saja.

Sehari sebelum perlombaan, saya dan Bu Eri sibuk menyiapkan baju untuk fashion show. Baju muslimnya sih bukan baju baru. Itu baju Kaka waktu Wisuda Playgrup Attaqwa. Masih bagus kok. Baju terusan warna pink, dengan kaus lengan panjang dan jilbab warna hitam. Sementara yang mengantar Kaka ikut lomba adalah Bude Ani. Karena, seperti biasa, Bu Eri tidak bisa ikut. Sibuk liputan.


Nah, pagi-pagi saya dan Bude sudah meluncur naik motor ke TK Mutiara Ibunda. Kaka Cs mau latihan dulu sebelum bertanding. Apalagi mereka dapat nomor undian 23. Jadi masih ada waktu untuk latihan. Jam 9, rombongan TK Mutiara Ibunda berangkat ke GOR Padasuka, tempat lomba berlangsung. Saya hanya mengantar sampai GOR, karena jam 10 harus meluncur ke tempat les Bahasa Inggris. "Nanti kalau mau pulang, telepon yah biar saya jemput," kata saya pada Bude.


Waktu saya pulang les, jam 12.00, ternyata Bude dan Kaka sudah ada di rumah. Lho? "Iya, cepet kok selesainya. Tadi fashion show dulu baru nyanyi," kata Bude.
Bude pun lalu bercerita saat lomba tadi. Ternyata, Kaka Bila enggak mau naik ke panggung fashion show sendirian. Dia sebenarnya kebagian nomor 34. Tapi naik panggung berdua dengan temannya yang kebagian nomor 56.

Rupanya Kaka grogi melihat orang banyak. Jadinya "mugen", mogok, montel terus sama gurunya. Akhirnya dia mau naik panggung, asal berdua dengan temannya. Soalnya kata dia, waktu latihan juga berdua kok. Ha ha ha... Ya namanya juga anak-anak.

Tapi waktu nyanyi bareng-bareng, Kaka pede abis. Dia lincah saat menari Potong Bebek Angsa dan Taman yang Paling Indah. Malahan,
Bagi saya sih, itu buat latihan saja. Yang penting Kaka sudah mau. Itu saja sudah nilai plus. Karena banyak juga anak-anak yang tidak mau ikut kegiatan apapun.
Memang melatih keberanian anak tidak bisa instan. Harus dipupuk sedikit demi sedikit, dan sabar.


Ya, sabar kata kuncinya. Kalau enggak sabar, bisa-bisa kita yang naik darah. Melihat anak kita enggak mau ikut kegiatan, atau disuruh flying fox, atau apapun enggak mau juga, tentu ada rasa kurang puas. Masa anak orang lain bisa, anak sendiri kagak!. Begitu biasanya isi kepala kita, suka muncul rasa iri, walau mungkin tidak kita sadari.

Hal seperti itu yang harus kita waspadai. Jangan sampai kita menjadikan anak sebagai "media pelampiasan" kehendak kita. Menjadi medan pemaksaan keinginan bawah sadar kita. Memaksa anak untuk bisa segalanya. Melampaui kemampuan anak-anak lain.

Kalau anak memang tidak mau dan tidak suka, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia dengan keinginannya. Sejauh itu rasional, masih bisa kita jangkau, tidak ada salahnya kita memberikan keleluasaan pada anak untuk memilih. Belajar menentukan sikap dan keinginanya. Asal, tentu saja, harus kita aping, kita bimbing, agar jalurnya tidak belok kiri kanan. (*)

1 comment:

bud said...

setuju kang! yang penting pada pede aja dulu