Friday, October 14, 2011

Vini, Ooopini...

GURU honorer SD Regol 13, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, itu bisa bernapas lega. Status penahanannya diubah menjadi tahanan kota dan ia pun bisa pulang ke rumah bertemu anak-anak dan suami yang dicintainya.

Itulah Vini Noviyanti (33), sang guru honorer yang belakangan ini menjadi buah bibir masyarakat, terutama di Garut. Wajahnya yang cantik terus tersorot kamera dan terpampang di surat kabar.

Ia harus duduk di kursi hijau menghadapi dakwaan penganiayaan, gara-gara melempar segenggam pasir ke muka seorang pengusaha di Garut, H Ee Syamsudin. Tak jelas benar apa masalah sesungguhnya antara Vini dan suaminya dengan H Ee. Apakah soal kredit macet, menunggak utang, tagihan tak terbayar. Yang pasti, sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia pendidikan secara langsung.

Ini bukan kisah guru terpencil, atau guru dizalimi karena honornya disunat. Sama sekali bukan. Kasus ini murni persoalan pribadi Vini dan keluarga dengan pengusaha. Hanya saja, itu berimbas pada dunia pendidikan, ketika sang anak didik tak lagi mendapati ajaran dari Vini.

Nah, yang membuat kasus ini memuncratkan simpati pada Vini adalah ketika ia ditahan dan tidak bisa lagi mengajar. Murid-murid begitu kehilangan ibu guru kesayangan di SDN Regol 13 itu. Tak ada lagi yang mengajar bahasa Inggris di sekolah itu. Walaupun suami Vini yang juga guru bahasa Inggris menggantikan sementara posisi Vini, tetap saja berbeda bagi murid-murid.


Apalagi ketika para murid ini menggelar doa bersama di halaman sekolah, mereka pun menangis. Tangisan ini tak hanya bergema sebatas halaman SDN Regol 13, tapi menyeruak ke langit-langit kesadaran massa, menembus tirai informasi dan akhirnya menyebar luas, hingga memunculkan simpati bagi Vini.

Protes pun berdatangan, termasuk dari kalangan guru di Bandung, soal penahanan Vini
ini. Oh, bola salju simpati ini menggelinding kian besar. Dukungan untuk Vini mengalir deras dari berbagai kalangan. Opini yang berkembang di masyarakat sudah kadung melihat Vini sebagai "hero".

Televisi pun kembali menyiarkan saat Vini kembali ke sekolah dan bertemu dengan anak-anak didiknya. Tak ada satupun yang menyorot bagaimana kondisi dan perasaan keluarga sang pengusaha, H Ee Syamsudin.

Patut diingat, proses hukum kasus ini masih berlangsung hingga nanti vonis diketuk. Dan Vini boleh jadi belum tentu benar di mata hakim. Atau sebaliknya, H Ee Syamsudin pun belum tentu benar pula di depan pengadilan.

Kita tentu berharap, sang pengadil bisa memutuskan kasus ini seadil-adilnya, tanpa peduli tekanan massa, tak perlu khawatirkan opini yang berkembang luas. Hukum harus berlaku adil di atas segalanya.

Dan melihat besaran kasus ini, sesungguhnya kasus menebar pasir itu tak seharusnya masuk ke ranah hukum, apalagi sampai ke pengadilan. Kalau saja kedua belah pihak mengedepankan silaturahmi, segalanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tak perlu gengsi untuk merendah, tak perlu retak harga diri untuk berlapang dada. Silaturahmi itu lebih indah daripada harus bertikai. (*)
SOROT, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar Edisi Rabu 12 Oktober 2011

2 comments:

DJENDRAL BERBAGI said...

Jaman sekarang emang kejam, melanggar sudah pasti salah, tinggal nunggu waktu aja sob.

Bhumi Ayu said...

Lempar pake Granat ajah tu pengusaha.Atau tunggu lemparan LAKNAT dr Tuhan?