Wednesday, May 06, 2015

Disambut Sultan Baru, Menangisi Lee Kuan Yew (Edisi Jalan-jalan di Johor Bahru-1)

PENGANTAR: Tanggal 23-26 Maret lalu, saya berkesempatan mengunjungi Negeri Johor di Malaysia. Kunjungan ini atas undangan Malaysia Tourism Board dan Garuda Indonesia. Selain saya, ada pula jurnalis dari Bandung lainnya, yaitu Dewi dari Bandung TV, Ripki dari MQTV, Hasan dari Jabar....(asli lupa, Red), dan Teh Oyeng Yeni Ratna Dewi dari PR. Berikut oleh-oleh tulisannya yang dimuat secara bersambung di Harian Pagi Tribun Jabar edisi 7-10 April 2015.
=== 
 DAULAT TUANKU. Tulisan itu bertebaran di seantero penjuru kota dan seragam. Warna tulisan putih dengan latar berwarna biru tua. Bentuknya yang beragam. Ada yang di baliho besar, spanduk panjang, ataupun hanya spanduk kecil dan pendek. Yang pasti, semua tulisan itu dilengkapi dengan gambar mahkota serta raja dan ratu.

Ya tulisan Daulat Tuanku seakan menyambut kedatangan saya di Johor Bahru, 23 Maret lalu. Padahal tentu bukan ditujukan untuk saya yang datang bersama rombongan dari Garuda Indonesia dan Malaysia Tourism Board. Tulisan itu merupakan bentuk penghormatan dan kegembiraan masyarakat Johor Bahru atas pelantikan atau dalam istilah mereka, Istiadat Kemahkotaan Duli Yang Maha Mulia Sultan Ibrahim Ibni Almarhum Sultan Iskandar, sebagai Sultan baru Johor. Sultan Ibrahim dimahkotai sebagai Sultan Johor ke-5 di Istana Besar Johor, Johor Bahru.

Jadi bisa dibayangkan, hari itu adalah hari penuh keriaan dari masyarakat Johor dan merupakan hari libur. Mereka bergembira, bahkan menggelar pesta kembang api saat malam hari.  Karena pemahkotaan atau pelantikan sultan merupakan kejadian yang langka.

"Terakhir kami mengadakan kemahkotaan seperti ini ya 55 tahun yang lalu," kata Zulkifli, pemandu perjalanan dari MP Tour & Travel, yang memandu saya dan rombongan selama empat hari berpusing-pusing (keliling) Johor Bahru.


Saya tiba di terminal feri Berjaya Frontwater di kawasan Setulang Laut, Johor Bahru, setelah melakukan perjalanan melalui laut selama dua jam dari terminal feri Batam Center, Pulau Batam. Sebelumnya kami naik pesawat Garuda Bandung-Batam dari Bandara Husein Sastranegara.

Johor Bahru merupakan ibukota dari Kerajaan Johor dan kota kedua terbesar di Malaysia setelah Kuala Lumpur. Kota ini sudah ada sejak pertengahan abad 19. Tapi pengembangannya justru baru dilakukan belakangan ini. Itu tidak terlepas dari pesatnya perkembangan Singapura dan bahkan terus merangsek ke wilayah utara mendekati Johor, sebagai benteng Malaysia di bagian selatan.

Di Johor Bahru terdapat tiga istana miliki keluarga kerajaan Johor. Istana Johor Besar merupakan istana utama tempat kediaman Sultan Ibrahim bersama permaisuri, Duli Yang Maha Mulia Raja Zarith Sofiah Binti Almarhum Sultan Idris Shah. Mereka dikaruniai lima orang anak, yaitu Putra Mahkota Johor Duli Yang Amat Mulia Tunku Ismail Ibni Sultan Ibrahim, YAM Tunku Tun Aminah Maimunah Iskandariah Binti Sultan Ibrahim,

YAM Tunku Idris Iskandar Ismail Abdul Rahman Ibni Sultan Ibrahim, Tunku Temenggong Johor, YAM Tunku Abdul Jalil Iskandar Ibrahim Ismail Ibni Sultan Ibrahim, Tunku Laksamana Johor, YAM Tunku Abdul Rahman Hassanal Jeffri Ibni Sultan Ibrahim, Tunku Panglima Johor, dan YAM Tunku Abu Bakar Mahmood Iskandar Ibrahim Ibni Sultan Ibrahim, Tunku Putera Johor.

Lalu ada Istana Bukit Serena dan Istana Pasir Pelangi. Saya hanya berkesempatan melewati saja ketiga istana itu. Hanya Istana Pasir Pelangi yang bisa diamati dari jarak cukup dekat. Bangunan istananya kecil saja, tapi lahannya luas luar biasa. Lapangannya yang berupa stadion berumput hijau dipakai sebagai latihan dan lomba equestrian (berkuda) putra mahkota, dan juga  kuda polo. Tak jauh di depan istana terdapat helipad, tempat putra mahkota mendarat dan terbang pakai helikopter.

Sebagai kota yang tengah berkembang, Johor Bahru memang padat dengan pembangunan. Di kiri kanan jalan, bangunan berlantai tinggi menjadi pemandangan sehari-hati. Investor-investor dari luar negeri, khususnya dari Cina, memang tengah giat-giatnya membangun Johor Bahru. Hotel-hotel internasional berlantai belasan pun banyak berdiri di setiap sudut kota siap menyambut kedatangan para wisatawan mancanegara. Sementara warga lebih banyak bermukim di apartemen-apartemen atau rumah susun kecil yang teratur dan rapi.

Kemajuan yang dicapai Singapuralah yang menjadi penyebab percepatan pembangunan Johor Bahru. Menurut Denniel Fahrevi, staf Malaysia Tourism Board, dalam sejarahnya, Singapura itu merupakan pulau tempat pembuangan orang-orang Cina di Johor. Namun ternyata pulau pembuangan itu justru maju lebih pesat.

"Jadi ada latar kecemburuan juga melihat perkembangan dari Singapura, sehingga pembangunan Johor Bahru pun digenjot sejak 2008 agar bisa menyaingi Singapura," kata Denniel.

Zulkifli pun mengatakan, bahwa Johor dulunya hanya tempat transit para wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur. Kini, kata Zulkifli, dibangun destinasi-destinasi wisata, agar wisatawan betah berlibur di Johor Bahru.

Johor Bahru dengan Singapura hanya dipisahkan selat Johor yang jaraknya tak lebih dari 2 kilometer. Bahkan Johor Bahru dan Woodland, kota di utara Singapura, terhubung dengan jembatan sepanjang 1,1 km. Hanya perlu waktu 40 menit dari Johor Bahru, wisatawan bisa tiba di Singapura. Dengan harga hotel, angkutan, dan kuliner yang lebih murah dibanding Singapura, Johor Bahru menawarkan wisata keluarga dengan menghadirkan taman-taman tematik, seperti Legoland Malaysia, Angry Bird Activity Park, dan Hello Kitty Town.

Di hari yang sama saat saya mulai menghirup udara Johor Bahru, bertepatan dengan kemeriahan di Johor Bahru, suasana sebaliknya terjadi di Singapura. Di hari itu, 23 Maret, mantan perdana menteri dan juga pendiri Singapura, Lee Kuan Yew wafat.

Saluran-saluran televisi, baik milik Singapura dan Malaysia, yang bisa ditangkap di kamar hotel, semuanya menayangkan suasana perkabungan nasional di Singapura. Berhari-hari kemudian, televisi-televisi itu tetap menayangkan siaran itu selama seminggu penuh. Kesedihan dan hujan air mata warga Singapura menangisi kepergian Bapak Singapura itu menjadi sajian utama acara di televisi.

Jangan tanya pula di koran-koran, semua memberitakan hal serupa. Tapi berita utama atau headlinenya tetaplah acara Kemahkotaan Sultan Ibrahim, seperti yang New Straits Times sajikan, dengan judul besar "Daulat Tuanku". Sementara berita kematian Lee Kuan Yew disimpan di banner bawahnya dengan latar belakang hitam tanda berkabung. (*)


No comments: