Thursday, April 09, 2009

Bersyukur Masih Bisa Menghirup Udara 9 April

ALHAMDULILLAH, Alloh masih sayang padaku. Hari ini usiaku menginjak 35 tahun. Alloh masih memberi kesempatan untuk menghirup udara, melihat matahari terbit di pagi hari. Warnanya merah, jingga, lalu menguning, dan terang benderang.

Cukup panjang lika-liku hidup yang kujalani selama ini. Menempaku agar lebih matang, dewasa, menghadapi perjalanan ini. Entah kapan akan kujumpai titik terakhir. Tapi itu pasti datang. Dan kuharus bersiap menghadapinya. Karena itu aku memohon kepada Alloh agar diberi kekuatan, dikarunikan tekad yang kuat untuk mengisi langkah-langkah berikut dengan amal yang baik, bermanfaat bagi orang banyak.

Memohon kepada Alloh agar menjadi orang yang selalu bersyukur, sekecil apapun yang diberikan Alloh. Menjadi orang yang selalu beristigfar, memohon ampunan, atas sekecil apapun kesalahan yang dilakukan. Menjadi orang yang mudah untuk bertakbir dan bertasbih saat melihat sekecil apapun keagungan dan kekuasaan yang diperlihatkan Alloh.

Dan yang utama, Alloh menjadikan hatiku lembut, tak keras seperti batu, yang selalu tergetar ketika dibacakan ayat-ayat Alloh. Menjadikan lisan ini mudah untuk menyebut asma-asma Alloh dn membaca Al Quran. Menjadikan diri ini senang berada di tengah orang-orang saleh, menjadikan diri ini senang mengamalkan ilmu yang diperoleh dan mengulurkan tangan bagi mereka yang kesulitan.

Aku ingin selalu bersama orang-orang yang teraniaya, dizalimi, kaum duafa, karena dekat dengan mereka berarti dekat denganMu. "Carilah Aku diantara orang-orang yang dizalimi dan kaum duafa" begitu yang pernah kudapat. Ringankan tangan ini untuk menolong orang yang membutuhkan.

Sungguh teramat banyak nikmat yang sudah kuperoleh selama ini. Dan kini aku ingin menghisab diriku sebelum Alloh menghisabku. Tentu betapa hitam diri ini. Teramat hitam. Mumpung masih diberi kesempatan, diberi waktu, aku ingin menggapai kembali kedekatan denganMu. Amin.(*)

Tuesday, April 07, 2009

Carita Bogor

Awal bulan Maret lalu, saya berkesempatan keliling Kota Bogor. Sebenarnya round-round di Bogor itu untuk keperluan pemantauan Adipura. Lagi-lagi Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jabar meminta saya untuk melengkapi jumlah juri untuk kategori Kota besar.

Dulu Bogor begitu kerap saya sambangi. Dulu, saat masih menimba ilmu di Pajajaran. Saya sering menginap di rumah sohib saya, Gunawan, di Cibinong. Dari Cibinong, main ke Bogor kota. Atau main ke rumah sohib yang lain, Wahyu, di Kedunghalang. Pokoknya kalau main ke kota Hujan ini, saya tidak akan kesulitan tempat menginap. Terakhir saya ke Bogor saat meliput kasus penggalian situs Batu Tulis sekitar tahun 2002. Oh iya, tahun 2003 juga saya pernah ke Bogor lagi ketika meliput tersangka pengebom Gedung Kedutaan Filipina. Salah satu rumahnya ternyata berada di daerah Cileungsi. Dan saya menginap di Bogor kota.

Saya memanfaatkan kunjungan ke Bogor kali ini untuk menyerap kembali aura kejayaan masa silam. Menjejak Bogor, ibarat kembali ke pangkuan Sunda. Bogor adalah Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran. Datang ke Bogor seperti napak tilas, menyusuri kembali jejak yang ditinggalkan para karuhun Sunda. Istilah saya: Neang dia, nu nyusuk di Pakuan. Kata-kata ini merupakan potongan kalimat dari isi Prasasti Batutulis:
...wang na pun ini sakakala, prebu ratu purané pun, diwastu diya wingaran prebu guru
déwataprana diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu déwata pun ya nu nyusuk na pakwan diya anak rahyang niskala sa(ng) sida-mokta di gunatiga...


Sudah beberapa waktu lamanya, saya mengumpulkan dan membaca kembali jejak-jejak Sunda. Sejumlah referensi atau bacaan tentang Sunda saya baca kembali. Tentu kebanyakan adalah buku-buku sejarah dari para ahli sejarah ataupun arkeologi Sunda. Mereka para guru saya dalam hal urusan sejarah. Ada buku karangan Prof Edi S Ekadjati (alm), buku Kang Ayatrohaedi (alm), juga buku Kang Saleh Danasasmita. Lalu buku Amir Sutarga dan sebagainya. Juga saya baca kembali buku Hermeneutika Sunda punya Jakob Sumardjo, orang Jawa yang mencintai Sunda.

Beberapa koleksi makalah hasil sawala kesundaan pun saya buka. Tujuan saya hanya satu, ingin ngaguar kembali sejarah kejayaan Sunda. Sebuah kisah kejayaan yang oleh sekelompok orang tertentu diyakini akan kembali mewujud di masa-masa yang akan datang.

Salah satunya hal yang hingga kini belum terang benar soal sejarah Pakuan adalah keberadaan Pakuan itu sendiri. Bagi saya, Pajajaran adalah sebuah kerajaan besar. Negeri yang sesungguhnya melingkupi seluruh Nusantara ini. Jauh lebih besar dari Majapahit. Tapi tak tersisa sedikitpun wajah kejayaannya. Istananya Prabu Jayadewata atau Siliwangi yang dikenal dengan sebutan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, hilang tak berjejak.

Tapaknya lenyap sama sekali dari Bogor sekarang. Orang Sunda akan kebingungan jika ditanya, mana peninggalan Pajajaran. Mau menunjuk istana, jelas kesulitan. Yang paling mungkin, hanyalah menunjuk Prasasti Batutulis. Sebuah prasasti yang dibangun anak Siliwangi. Hanya itu tak lebih.

Berbeda misalnya dengan Orang Banten yang bisa dengan bangga menunjuk Kraton Surosowan, atau Orang Cirebon yang bisa menunjuk Kratos Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Pakungwati sebagai kraton sisa peninggalan keturunan Sunan Gunung Djati. Atau orang Yogya dan Solo bisa dengan mudah menunjukkan kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta serta Mangkunegaran dan Pakualaman sebagai simbol mereka pernah eksis dan berjaya. Majapahit sekalipun masih bisa menunjukkan sisa-sisa kota kuno Trowulon sebagai peninggalan kerajaan Majapahit.

Apakah memang orang Sunda tidak pernah meninggalkan jejak-jejak sejarah secara fisik. Lebih banyak berupa cerita-cerita, pantun-pantun, dan pemikiran-pemikiran kesundaan. Itulah yang harus digali orang Sunda kiwari.

Saya tidak akan menulis soal asal usul Bogor. Hal itu sudah sering dibahas dalam berbagai blog. Ketika melanglang ke Bogor itu, saya berupaya untuk menyusuri jiwa zaman ketika Pakuan masih berdiri. Ketika saya masuk ke daerah bernama Lawang Gintung, saya mencoba membayangkan di zaman Pakuan dulu disitulah terdapat parit lebar dan pintu gerbang kota. Jika orang luar hendak masuk ke Pakuan, dia harus melalui Lawang Gintung ini.

Begitupula ketika saya melintasi Sungai Cipakancilan, Cisadane, dan Ciliwung, saya berupaya menghadirkan jiwa zaman ketika Prabu Siliwangi memerintah rakyat secara adil. Sungguh luar biasa membayangkannya. Sebuah kerajaan besar dengan rakyat yang sejahtera, makmur, merasakan betul usapan kasih sayang seorang raja berwibawa.

Ah, ini hanya romantisme saya memandang Sunda. Jelas zaman itu tak akan kembali lagi. Tapi sungguh, saya merasakan auranya! Aura Pakuan yang begitu berwibawa ketika memasuki kawasan Kebon Raya. Konon Kebon Raya ini dulu merupakan bagian dari Leuweung Samida atau hutan larangan. Sangetnya masih terasa hingga saya pulang meninggalkan Bogor, menuju kota lain yang ceritanya tak mungkin dilupakan.(*)

Monday, April 06, 2009

Ajari Anak-anakmu: Berkuda, Berenang dan Memanah

ITU salah satu ungkapan yang dikatakan Khalifah Umar bin Khattab RA. Berkuda, berenang, dan memanah. Tiga keterampilan yang setidaknya harus dimiliki anak-anak penerus semangat Islam.


Tentu ada alasan kuat mengapa Umar menyuruh para orang tua Muslim mengajari anak-anaknya dengan keterampilan-keterampilan khusus tersebut. Bagi masyarakat di padang pasir, berkuda dan memanah adalah barang yang lumrah. Naik kuda ataupun naik unta merupakan keseharian mereka. Binatang-binatang itulah yang menjadi tunggangan dan peliharaan masyarakat Arab.

Tapi berenang? Wow, ini yang agak mengherankan. Orang Arab tidak terlalu suka air. Kolam renang adalah hal yang sulit ditemukan. Kalaupun kolam, itu berbentuk oase atau wadi. Dan kebanyakan dipakai sebagai sumber minum. Air sangat sulit ditemukan di daerah padang pasir.

Tapi Umar meminta para orang tua muslim mengajarkan berenang. Tentu ada hal yang jauh di luar jangkauan pemikiran masyarakat muslim 15 abad lalu. Bisa berenang memang sangat perlu. Ketika tsunami menerjang, atau yang terakhir, ketika Situ Gintung jebol, orang yang bisa berenang tentu lebih dimudahkan untuk menyelamatkan diri.

Saya pun mengenalkan Kaka Bila dan adik Mira pada hewan Kuda. Biar mereka berani menunggang kuda. Bahkan Kaka Bila sudah berani menunggang kuda sendiri, tanpa perlu didampingi lagi. Ia sudah tahu bagaimana cara menyetop laju kuda, bagaimana belok ke sebelah kiri atau belok ke kanan. Secara harfiah memang anjuran berkuda itu, ya mengajarkan berkuda. Tapi sesungguhnya tak cuma berkuda ini yang harus dipelajari dan dikuasai. Menunggang kendaraan lain pun harus bisa. Dalam konteks kekinian, tentu naik mobil, motor, bahkan pesawat, harus pula dikuasai.

Tak ada ruginya bisa mengendarai segala macam kendaraan. Dan yang paling penting, adalah mengenalkan kekuasaan Allah SWT pada anak-anak. Bahwa setiap kendaraan, apapun itu, tidak akan mungkin bisa berjalan tanpa izin Allah SWT.

Begitu pula dengan berenang, mengenalkan anak pada air sejak diri tentu lebih bagus. Kemampuan berenang ini pun harus dikuasai agar tidak hanya keterampilan di darat saja yang dikuasai, tapi juga keterampilan di dalam air.

Sementara memanah pun tak berarti mengajarkan memanah. Memanah termasuk keterampilan olahraga, juga keamanan. Memanah bisa untuk mempertahankan diri, juga berperang. Memanah pun bisa berarti anak-anak muslim harus menguasai beberapa alat untuk mempertahankan diri. Ataupun menguasai bela diri. Ajarilah anak-anak kita ilmu bela diri: silat, karate, kungfu, yudo, dan sebagainya. Semuanya bertujuan senada, mempertahankan diri.
Tak ada yang rugi dari mengajarkan tiga keterampilan itu pada anak-anak kita. Semua bisa bermanfaat untuk kehidupan kita.(*)

Saturday, April 04, 2009

Maaf, Jarang Menulis

LAMA saya tak menulis di blog, terutama cerita-cerita seputar aktivitas seharian. Hanya tulisan Sorot yang diupload, karena itu memang kewajiban seminggu sekali di Tribun. Dan hanya itu sebagai penjaga semangat menulis saya.

Faktor M, yaitu malas, seperti biasa menjadi kambing congek berbulu hitam yang sangat mudah untuk disalahkan. Saya sendiri enggak tahu kenapa. Padahal saya sudah menulis beberapa cerita, tapi tidak tuntas semuanya.

Faktor penyebab lainnya saya jarang menulis bisa jadi karena faktor F, yaitu Facebook. Buku wajah yang saat ini menjadi jejaring sosial paling digemari ini memang susah lepas dari keseharian saya berinternet. BUka internet, pasti harus ke facebook. Padahal tidak ada kewajiban yah buat ngebuka Fesbuqiyah itu. Ya hanya sekadar melihat komen teman-teman di dinding fesbuk mereka, atau sekadar mengupload foto-foto. Sedikit menambahkan komen di status sendiri, tak lebih. Tapi begitulah, sihir fesbuk memang luar biasa.

Mudah-mudahan mulai hari ini saya bisa menuliskan lagi sejumlah pengalaman keseharian saya terkait berbagai hal. Ini juga gara-gara kantor memblokir Facebook, sehingga error alias tidak bisa dibuka, wuakkakakak. Oke tunggu tulisan-tulisan berikutnya. Mudah=mudahan menginspirasi yang membaca.(*)