Wednesday, October 31, 2007

Kerja Lagi Hari Ini

SAYA baru masuk kantor kembali, Rabu (31/10). Lumayan lah, bisa cuti 5 hari plus libur reguler dan pengganti, jadilah 7 hari saya off. Liburan ini saya manfaatkan untuk mudik ke Borobudur, Magelang, kampung halaman Bu Eri. Banyak teman di kantor tidak percaya kalau saya mudik ke Borobudur. "Masak sih ke Borobudur, piknik kali. Emang kampungnya di sana?," tanya mereka. Lha iya lah, kampung halaman Mbah Kakung itu di Janan, tepat di pinggir Borobudur. Lalu kampung halaman Mbah Uti itu di Bumen, dusun di belakang Borobudur.

Cerita soal mudik ini nanti disambung lagi plus foto-fotonya. Ini hanya awalan setelah hampir seminggu tidak mengetik, tidak mengedit, tidak membuka dan membaca email, tidak buka-buka blog, tidak baca koran dan majalah, dan banyak hal lainnya yang tidak saya lakukan. Yang pasti, pertama ke kantor, yang diserbu adalah oleh-olehnya. Bakpia 75, noga, dan peyek ludes dalam waktu singkat. Lapar apa doyan nih? Tapi begitulah situasi di kantor saya, mengasyikkan, terlebih kalau urusannya dengan makanan. Berebut tanda guyub, he he he...(*)

Tuesday, October 23, 2007

Al Qur'an Suci, NII, dan NII KW IX (Tulisan Kedua)

PERTENGAHAN tahun 2000, korban-korban NII/KW IX mulai berani bersaksi atas
penyimpangan-penyimpangan akidah yang terjadi di tubuh NII KW IX. Di Bandung, para korban ini tergabung dalam Forum Korban KII KW IX. Mereka didampingi atau mendapat advokasi dari Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) pimpinan KH Athian Ali M Da'i MA dan Sekretarisnya, Kang Hedi Muhammad, yang juga Ketua Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) FUUI.

FUUI-lah, organisasai massa Islam yang berani dan paling gencar menyuarakan kesesatan NII KW IX. Pak Athian pun tanpa tedeng aling-aling menuding Ma'had Al Zaytun dengan Abu Toto alias Syekh Panji Gumilang sebagai markas pusat dan pemimpin NII KW IX. Tudingan itu tentu bukan tanpa alasan. Berdasarkan pengakuan para mantan mas'ul NII KW IX, ini istilah untuk pemimpin di tingkat desa atau wilayah kecamatan,
yang menyebutkan aliran dana yang mereka kumpulkan dari korban dibawa ke Al Zaytun. Lalu saat pertemuan setahun sekali pun semua dipusatkan di Mesjid Rahmatan Lil Alamin Al Zaytun.

Bagaimana modus gerakan ini beroperasi? Seperti halnya yang terjadi pada diri Achriani Yulvie dan Fitriyanti, mahasiswi Poltek Pajajaran, NII KW IX mengincar orang-orang yang gamang, pemahaman tentang Islamnya kurang, cukup berada bahkan kalau bisa kaya raya. Sebelum men-tilawah, mereka mengamati dulu calon mangsa sedemikian rupa. Setelah mantap, baru pedekate. Hal pertama yang sering ditanyakan orang-orang NII KW IX ataupun NII adalah soal keluarga apakah ortunya TNI, polisi. Entah kenapa, mungkin mereka takut aksi mereka terbongkar kalau ortu calon tilawah itu aparat keamanan.

Setelah itu masuklah ke tahap indoktrinasi. Bahwa saat ini calon ummat berada di dunia kafir, masih zaman jahiliyah. Pancasila itu produk NKRI yang harus ditolak mentah-mentah, karena merupakan sistem yang tidak diridoi Allah SWT. Hanya kita (NII) yang benar-benar akan masuk surga. Kewajiban Kita (NII) adalah mengajak orang-orang di luar NII, bisa masuk ke NII (alzaytun) agar tidak termasuk golongan kafir. Tidak percaya hadits Nabi, karena bisa dimanipulasi, dsb.

Nah, untuk masuk ke dalam Negara Karunia Allah (NKA) NII, calon umat atau calon tilawah harus hijrah, seperti halnya Nabi hijrah ke Madinah. Mereka, para NII-ners ini sering menganalogikan kondisi saat ini sebagai fase Mekkah.

Namun sebelum tahap hijrah ada dua macam shadaqah yang harus dipenuhi :
a. shadaqah Aqabah yang digunakan untuk penyeleksian sebelum tahap akhir (hijrah), untuk shadaqah Aqabah dikenakan Rp 100.000 s/d Rp 200.000. Untuk Aqabah calon ummat akan di cek lebih dahulu pemahamannya oleh pimpinan yang lebih tinggi setingkat (kabupaten/District Officer), dan bila District Officer (D.O) menyatakan bisa dikirim (dihijrahkan ) maka mereka tinggal menunggu panggilan hijrah, yang waktunya antara 1 s/d 3 hari.

b. Shadaqah hijrah diterapkan sebagai syarat mutlak hijrah, dan juga untuk membersihkan diri dari dosa - dosa yang pernah di lakukan sewaktu masih menjadi warga RI (Republik Indonesia). Untuk shadaqah hijrah diambil dari seluruh harta yang dicintainya, baik berupa apapun yang nanti diukur dalam nominal uang. Dan itu berkisar dari Rp 500.000 s/d Rp 5.000.000 bahkan bisa lebih bila ummat masih mempu nyai harta yang lebih dari itu.

Setelah calon ummat melewati persyaratan tersebut tibalah waktunya hijrah yang dilaksanakan 1 hari 1 malam yang berarti calon ummat harus menginap. Sebelum keberangkatan ( hijrah) mereka lebih dahulu dibawa ke suatu tempat atau sering disebut sebagai "transit" untuk selanjutnya bersama-sama diangkut bersama calon ummat lain untuk ke tempat hijrah. Setelah semua calon ummat berkumpul mereka dinaikkan didalam mobil yang berkaca ray-ban, lalu mereka harus menutup mata dalam perjalanan ke tempat hijrah.

Setibanya di sana mereka diabsen dan diberi pemahaman sedikit sebelum istirahat. Jam 05.00 mereka bangun untuk salat shubuh dan makan pagi, lalu jam 06.00 mereka masuk ke ruangan yang telah disediakan untuk didata administrasi tentang identitas diri dan harus disertai dengan Kartu Tanda Penduduk. Jam 07.00 baru dimulai acaranya yang dihadiri dua orang pembina.

Acara dibagi dua session :
a. Session pertama berisi tentang pemahaman dari sisi aqidah, ibadah, muamalah yang menuju kepada pengabdian penuh kepada NII.
b. Session kedua berisi tentang sejarah berdirinya NII sebagai negara yang sah di bumi Indonesia, yang materinya menyatakan selama ini telah terjadi pemutarbalikkan fakta oleh pihak RI secara membabi buta.

Setelah dua session tersebut selesai, menuju ke acara final yaitu melepaskan kewarganegaraan RI dan masuk ke kewarganegaraan NII yang dilambangkan dengan penyandangan nama tsani (nama kedua) juga sebagai nama hijrah atau nama madinahnya dan sekaligus sebagai pengesahan kewarganegaraan dengan mengucapkan janji setia dalam bentuk bai'at. Setelah selesai acara tersebut maka sah sudah para calon ummat resmi menjadi ummat dan warga negara NII dan secara langsung harus mengemban misi-misi NII.

Setelah prosesi selesai mereka dipulangkan jam 17.00, diantar ke tempat "transit" yang langsung disambut oleh mas'ulnya yang siap untuk menyampaikan misi dan visi tersebut kepada ummat.

Indoktrinasi yang sudah memiliki pondasi yang disampaikan pada forum hijrah akan diteruskan dengan pola pembinaan yang disebut "tazkiyah". Dalam tazkiyah inilah ummat mendapatkan pemahaman atau doktrin secara lebih mendalam tentang NII beserta seluruh programnya, yang tujuan akhirnya melaksanakan program sesuai dengan janji yang telah diucapkan dalam forum musyahadatul hijrah.

Program tazkiyah dilakukan kontinyu dan berjenjang. Minimal dalam satu bulan ummat harus ikut tazkiyah di tingkat desa selama 3 kali, jenjang kecamatan sebanyak 2 kali dan jenjang distrik 1 kali, adapun tazkiyah daerah 1 kali. Dan dalam setiap tazkiyah harus membawa uang untuk akomodasi, mardhotilah (uang cape pembina), dan cicilan program finansial, yang besarnya bervariasi setiap jenjang minimal Rp 20.000 s/d Rp 50.000 dan kalau bisa lebih.

Bila ummat telah memahami semua program dan permasalahan maka tinggal pelaksanaan program yang nanti akan diarahkan dan dikawal langsung oleh mas'ul desanya, yang dalam praktek lapangannya mereka bebas melakukan pengembangan tekhnik dan improvisasinya dalam berprogram untuk meningkatkan kualitas dan prestasi dirinya sebagai warga dengan cara apapun yang penting hasilnya memadai atau lebih (ziyadah). Namun bila hasilnya tidak memenuhi target (nuqson) ummat akan mendapatkan sanksi (iqob) dari mas'ulnya. (bersambung lagi dah)

Saturday, October 20, 2007

Tak Sabar Ingin Segera ke Magelang

TADI pagi, sekitar jam 06.30, Mas Rohman sekeluarga tiba kembali di rumah, setelah mudik Lebaran ke Borobudur Magelang dan Salatiga. Mereka bertiga, Mas Rohman, Mbak Ani, dan Fathan, naik bus Bandung Cepat jurusan Yogya-Bandung. Setelah sampai di pool Jalan Cipto, melanjutkan perjalanan ke Cimahi pakai taksi Centris.

Karena mereka cerita-cerita soal Magelang dan lain-lain, rupanya membuat Kaka Bila gak sabar ingin segera meluncur ke sana. "Kapan kita ke Jawa, hari ini yah?," tanya Kaka. "Sabar, nanti hari Rabu atau Kamis, empat hari lagi lah," kata Bu Eri.

Alhamdulillah, kita dapat rezeki lumayan bulan ini. Jadi kita pun merencanakan untuk pulang ke Magelang setelah Lebaran. Semula saya dan Bu Eri merencanakan berangkat ke Magelang memakai kereta api via Yogyakarta. Dari sana mampir sebentar ke rumah sepupu, Mbak Samsiyah, lalu carter mobil menuju Borobudur Magelang. Kampung halaman Bu Eri, lebih tepatnya Mbah Uti dan Mbah Kakung, memang dari sana. Bibit buitnya mungkin para pemahat Borobudur itu kali. Kalau Bu Eri mah lahir dan besar di Cimahi, jadi lidahnya sudah lidah orang Sunda.

Nah Mas Rohman menyarankan agar berangkat pakai mobil carteran saja, kalau ongkos pulang pergi bedanya tidak terlalu jauh. Setelah dihitung-hitung, memang tidak terlalu jauh bedanya. Akhirnya kita putuskan untuk mencarter mobil saja. Selain lebih nyaman, juga saat di Magelang sana bisa santai, tidak perlu sewa mobil lagi kalau mau bepergian.

Soalnya mau melawat juga ke beberapa saudara di Yogya, lalu di Salatiga, belum lagi anak-anak pasti pada mau main ke Kiai Langgeng Magelang, sehingga mobil jelas dibutuhkan dan lebih praktis. Terlebih kalau bawa anak kecil pasti banyak barang yang dibawa. Ya, mudah-mudahan lancar deh. (*)

Al Qur'an Suci, N11, dan NII KW IX (Tulisan Pertama)

BEBERAPA hari menjelang Lebaran lalu, selepas sahur, ponsel istri saya bergetar. Maklum disetel kondisi getar, biar tidak ribut. Setelah bercakap sejenak, Bu Eri memberikan SE W200i itu kepada saya. "Dari Asep Rohman katanya," ujar Bu Eri.

Saya berpikir sejenak. "Asep Rohman? Oh, itu teman SMP dulu," kata saya sambil mengambil ponsel. "Assalamualaikum, Halo Sep. Wah gimana kabarnya nih. Kok tahu nomor hp istri saya," tanya saya. "Ini dapat dari teman, Jumadi, anak radio AR," jawab Asep.

Dan di waktu subuh itu terjadilah percakapan cukup panjang. Maklum kami sudah tidak bertemu selama 20 tahun. Kami sama-sama sekelas di kelas 2C SMP Negeri 3 Cimahi. Itu tahun 1987. Setiap minggu, kami selalu main bulutangkis atau main basket di Pusdikhub. Kalau tidak pagi, ya sore-sore. Waktu itu saya lagi hobi bulutangkis, dan lumayan juga lah smashnya seperti Liem Swie King, idola saya (he he maunya...).
Ternyata Asep bekerja di PT POS Cianjur. "Wah nerusin jejak bapak dong," kata saya. "Iya, saya kan sempat ngesms ke hotline tribun, nah itu lagi di sawangan," jawab dia. "Atuh udah jadi pejabat yah?" "Lumayan lah..." jawab Asep lagi.

Lalu obrolan pun berpindah topik secara tiba-tiba. "Tahu aliran sesat yang kemarin rame di koran, apa itu namanya Al Qur'an Suci? tanya Asep. "Oh iya tahu, teman saya yang meliput," jawab saya. "Saya tahu itu muaranya ke mana, pasti ke NII," kata dia lagi mantap.

"NII? Kok tahu, memang darimana bisa menyimpulkan kalau itu NII," tanya saya. "Ya karena saya pernah ikut jemaah sesat itu beberapa tahun yang lalu dan ujung-ujungnya ke NII. Saya pernah dibaiat mereka. Waktu keluar, wah diteror habis. Dan saya tahu bagaimana modus mereka bergerak. Makanya sebenarnya saya nelepon kamu itu ingin cerita soal ini. Ya sekalian ketemu lah, udah lama kan tidak ketemu," papar Asep.

Tentu otak saya langsung ting teng ting teng. "Ini sih berita, tapi gimana caranya supaya dapat cerita itu," pikir saya. "Gini saja Sep, saya kan sulit untuk ke Cianjur. Sementara teman saya yang bertugas di Cianjur sedang cuti. Gimana kalau sehabis Lebaran, teman saya di Cianjur itu mengontak Asep terus wawancara. Soalnya koran udah mau libur, sehabis lebaran baru terbit lagi," kata saya. "Oke deh kalau gitu, saya tunggu. Salam buat keluarga yah," kata Asep sambil menutup telepon.

Al Qur'an Suci. Kata itu terus terngiang di kepala saya. Beberapa hari sebelumnya, teman saya memberitakan soal Achriani Yulvie, mahasiswi Poltek Pajajaran yang menghilang tak tentu rimba. Belakangan diketahui, Yulvie ini sering ikut pengajian kelompok tertentu dan salah satu ajarannya adalah tidak mengakui hadits Nabi. Selain Yulvie, Fitriyanti, temannya juga ikut menghilang sampai sekarang. Pamit ikut pesantren, raib entah kemana.

Dari catatan harian Fitriyanti diketahui, mereka adalah sebuah kelompok yang membedakan antara orang-orang yang Haq dan Batil. Yang Haq adalah yang ikut kelompok mereka, sementara yang Batil, yaitu mereka yang salat, naik haji, dll, digambarkan bakal masuk neraka Jahanam.

Diari itu juga mengungkapkan bagaimana cara seseorang "kader" mendekati calon (dalam diari ditulis CT). Sampai bagaimana cara bersikap dan ngobrol pun dituliskan. Istilah lain untuk orang yang sedang ditatar itu adalah Tilawah-an, seperti tertulis di diari. Lalu terungkap pula pengakuan dari teman-teman dekat Fitriyanti bahwa mereka juga sempat diajak Yulvie untuk hijrah dengan syarat membayar uang Rp 500 ribu.

Sejak semula saya memang sudah curiga, kelompok ini terkait atau masih satu rantai dengan Negara Islam Indonesia, NII, atau N11. Istilah yang dipakai dalam diari itu, seperti CT, Tilawah, adalah istilah-istilah yang biasa NII pakai. Lalu lebih kuat lagi dengan adanya unsur uang saat hijrah.

Hanya persoalannya benarkah itu? Kalaupun benar NII, NII yang mana? Karena saya tahu NII banyak faksi. NII turunan langsung SMK, atau NII KW IX pimpinan Panji Gumilang yang bertahta di Al Zaytun sana?

Mengapa saya tahu sedikit tentang NII? Ini tak lepas dari hasil reportase saya sejak tahun 2000 lalu ketika kasus NII KW IX kembali mencuat. Sampai akhirnya saya bisa berhadapan langsung dengan Syekh Panji Gumilang, yang disebut-sebut sebagai Pimpinan NII KW IX dengan kedok Ma'had Al Zaytun Haurgeulis Indramayu. (bersambung)