RESPONS yang diharapkan datang dari masyarakat soal daftar calon legislatif sementara (DCS) tak kunjung datang hingga deadline 9 Oktober 2008. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jabar dan juga KPU daerah tingkat dua terpaksa memperpanjang masa tanggapan terhadap DCS sampai 14 Oktober.
Alasan KPU Jabar setengah menyalahkan masyarakat. KPU menyatakan sudah maksimal menyosialisasikan DCS lewat media dan penempelan lembaran DCS di kantor-kantor KPU daerah. Apakah benar sosialisasi dari KPU sudah maksimal? Ini patut dipertanyakan. Sejauh mana sesungguhnya sosialisasi itu merambah ke seluruh pelosok daerah. Karena sangat mungkin, sosialisasi itu tidak pernah sampai ke sasaran.
Lalu ada pula alasan lain yang muncul dari kalangan partai politik. Boleh jadi tidak adanya tanggapan dari masyarakat, karena masyarakat memandang para caleg di DCS itu tidak ada yang bermasalah. Tapi apakah benar mereka tidak memiliki masalah? Syukur kalau demikian, berarti politikus kita bersih semua, walau kenyataan hari ini berbicara lain.
Namun ada reasoning lain soal tanggapan terhadap DCS ini. Masyarakat sangat mungkin sudah jenuh dengan hal-hal berbau politik. Capai dengan persoalan pemilihan kepala daerah yang banyak janji. Bukankah dalam beberapa kali pilkada di sejumlah daerah, jumlah golongan putih, dengan berbagai alasan, cenderung meningkat? Itu salah satu indikasi kuat soal kejenuhan masyarakat.
Bayangkan saja, dalam setahun ini di Jabar ada sedikitnya 10 pemilihan kepala daerah tingkat kota dan kabupaten ditambah pemilihan gubernur. Bahkan saat ini tengah berlangsung kampanye para kandidat di enam daerah secara bersamaan.
Belum lagi, masyarakat dibombardir dengan derasnya arus berita dan informasi soal politik dan perilaku anggota dewan di semua tingkatan. Korupsilah, skandal mesumlah, suaplah, dan itu yang terus mengingang di ingatan masyarakat bahwa perilaku anggota dewan tak seindah harapan. Para wakil rakyat itu ternyata bukanlah penyambung lidah rakyat yang sesungguhnya. Mereka justru mengkhianati amanat yang disandangkan rakyat di pundak mereka.
Di sisi lain, masyarakat pun harus berjuang sendirian memenuhi kebutuhan hidup hari per hari yang kian keras. Rakyat sudah tidak butuh lagi dengan janji-janji serba gratis yang meluncur dari para kandidat kepala daerah dan calon legislatif. Yang lebih penting adalah tidak perlu antre untuk mendapatkan seliter minyak tanah atau gas isi 3 kg, tidak perlu pontang-panting mencari sembako dengan harga murah, dan tidak perlu protes lagi soal pungutan dana sumbangan pendidikan.
Karena itu, janganlah menyalahkan masyarakat dengan tidak adanya respons terhadap para caleg. Respons sesungguhnya akan terlihat di bilik pemilihan tahun mendatang. Apakah akan banyak rakyat yang datang untuk memilih ataukah justru memilih untuk tidak memilih. Kita lihat saja.(*)
Sorot, Dimuat di Harian Pagi Tribun Jabar edisi Sabtu 11 Oktober 2008.
Bingkai kecil ini bercerita tentang apa pun: Keseharian, tentang cerita sejarah, petualangan, rekreasi, ataupun pemikiran dan opini. Semoga Bermanfaaat!
Saturday, October 11, 2008
Thursday, October 09, 2008
Lebaran dan Ultah Kaka
LEBARAN, Idul Fitri 1429 Hijriah, jatuh pada 1 Oktober lalu. Di tanggal itu pula Kaka Bila berulang tahun yang ke enam. Tak terasa, anak sulung saya dan Bu Eri ini sudah enam tahun. Dia sudah tinggi, sudah bisa protes keras, balik bertanya, membalikkan pertanyaan pun bisa, dan sudah kuat berpuasa Ramadan walau hanya beberapa hari yang full time.
Seperti biasa, kami sekeluarga salat Ied di lapangan parkir Kampus Unjani. Kali ini lengkap. Mas Nur, Mbak Ning dan Yasmin, datang dari Tangerang berlebaran di Cimahi. Mas Rohman dan Mbak Ani, Mas Rikhan dan Teh Rina berikut anak-anaknya juga ada. Tahun lalu, kami bercerai berai, karena merayakan lebaran di kampung halaman istri masing-masing.

Yang menjadi imam salat Ied adalah Pak Dais, yang kebagian khutbah Pak Basar. Ceramah usai, kami pun bersalam-salaman, mengular, saling memaafkan. Sayang, saya tidak bawa kamera saat Ied itu. Lupa.
Nah, pulang ke rumah, kami pun bersalam-salaman dan meminta maaf pada Ibu dan Bapak, dan keluarga lainnya. Tempatnya di warung kecil, di pinggir rumah yang belum jadi. Sempit memang, tapi tetap terasa lega, karena semua sudah saling memaafkan.
Dari situ, barulah acara ultah Kaka di rumah kontrakan. Sehari sebelumnya, saya dan Bu Eri mengambil kue tart pesanan di Ny Liem. Hanya kue itu saja yang menjadi penanda ulang tahun. Tidak ada acara mengundang anak-anak sekampung atau congcot nasi kuning. Bahkan kado khusus dari saya dan Bu Eri pun tidak ada. Hanya doa dari Mbah Kakung saja yang menjadi pengantar sekaligus penutup acara ultah Kaka.
Saya bilang ke Kaka, baju-baju lebaran itu juga sudah kado dari ayah dan ibu. Jadi tidak usah sedih tidak dapat kado. Setelah itu barulah Kaka meniup lilin di kue tart. Kue-kue itu dipotong, lalu dibagikan pada keponakan-keponakan, dan anak tetangga di depan rumah kontrakan.
Ya Allah, kami bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan. Mudah-mudahan kami bisa menjaga dua amanat yang Engkau berikan kemana kami. Mendidik mereka menjadi anak-anak yang solehah, menjadi pejuang bagi agamaMu. Amin.(*)
Seperti biasa, kami sekeluarga salat Ied di lapangan parkir Kampus Unjani. Kali ini lengkap. Mas Nur, Mbak Ning dan Yasmin, datang dari Tangerang berlebaran di Cimahi. Mas Rohman dan Mbak Ani, Mas Rikhan dan Teh Rina berikut anak-anaknya juga ada. Tahun lalu, kami bercerai berai, karena merayakan lebaran di kampung halaman istri masing-masing.
Yang menjadi imam salat Ied adalah Pak Dais, yang kebagian khutbah Pak Basar. Ceramah usai, kami pun bersalam-salaman, mengular, saling memaafkan. Sayang, saya tidak bawa kamera saat Ied itu. Lupa.
Nah, pulang ke rumah, kami pun bersalam-salaman dan meminta maaf pada Ibu dan Bapak, dan keluarga lainnya. Tempatnya di warung kecil, di pinggir rumah yang belum jadi. Sempit memang, tapi tetap terasa lega, karena semua sudah saling memaafkan.
Dari situ, barulah acara ultah Kaka di rumah kontrakan. Sehari sebelumnya, saya dan Bu Eri mengambil kue tart pesanan di Ny Liem. Hanya kue itu saja yang menjadi penanda ulang tahun. Tidak ada acara mengundang anak-anak sekampung atau congcot nasi kuning. Bahkan kado khusus dari saya dan Bu Eri pun tidak ada. Hanya doa dari Mbah Kakung saja yang menjadi pengantar sekaligus penutup acara ultah Kaka.
Saya bilang ke Kaka, baju-baju lebaran itu juga sudah kado dari ayah dan ibu. Jadi tidak usah sedih tidak dapat kado. Setelah itu barulah Kaka meniup lilin di kue tart. Kue-kue itu dipotong, lalu dibagikan pada keponakan-keponakan, dan anak tetangga di depan rumah kontrakan.
Ya Allah, kami bersyukur atas segala nikmat yang Engkau berikan. Mudah-mudahan kami bisa menjaga dua amanat yang Engkau berikan kemana kami. Mendidik mereka menjadi anak-anak yang solehah, menjadi pejuang bagi agamaMu. Amin.(*)
Lagu Religi Afghan

Akhir-akhir ini, pascalebaran, saya sering memutar sebuah lagu milik Afghan, Padamu Kubersujud. Berulang kali dan berulang kali. Walau sering diputar, saya tak hapal lagu itu. Saya memang bukan penghapal lagu, saya hanya mencoba mencermati makna setiap ungkapan atau syair lagu itu.
Lagu ini keluar jelang Ramadan. Seperti halnya penyanyi pemusik lain yang meramaikan Ramadan dengan lagu religius. Tentu faktor daya tarik ada pada diri Afghan dan suaranya yang bervibrasi itu. Di tengah kerubutan band-band baru, sosok penyanyi solois dan masih muda,tentu cukup fenomenal.
Tidak ada yang istimewa sesungguhnya dengan syair-syair lagu ini. Karena itulah yang rasanya yang kita panjatkan dalam doa sehari-hari, bukan?. Memohon ampunan, memohon diterimanya taubat, bersyukur atas karunia Allah.
Kita lihat bait pertama lagu ini:
Ku menatap dalam kelam
tiada yang bisa kulihat
selain hanya namaMu, ya Allah
Dalam kajian tasawuf, jika seseorang sudah bisa menghilangkan bayangan dunia di kepala dan hati, maka yang muncul hanyalah Allah semata. Allah hadir dalam setiap detak jantung, denyut nadi, hembusan napas, tatapan mata, desir angin, gerak hati. Tak terbetik sedikitpun hawa dunia, kecuali nama Allah yang terus mengiang, mendengung, berkelindan, memancar dari seluruh pancaindera.
Seandainya bait pertama lagu ini yang terjadi di setiap langkah kita, damailah dunia ini. Tak akan ada kejahatan, kemaksiatan, tak akan ada korupsi, perebutan kekuasaan dan harta, karena Allah bersama kita, melihat kita, menyaksikan gerak kita. Hanya Allah yang menjadi tujuan hidup ini. Seperti yang sering dizikirkan para sufi: Illahi anta maqsudi, Ya Tuhanku, Engkaulah tujuan hidup kami.
Untuk bait-bait selanjutnya, silakan direview sendiri. Di bawah ini lanjutannya:
Esok ataukah nanti
ampuni semua salahku
lindungi aku dari
segala fitnah
Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
jadikan aku selamanya
hambaMu yang selalu bertaubat
Ampuniku ya Allah
yang sering melupakanMu
saat Kau limpahkan karuniaMu
dalam sunyi aku bersujud
Wednesday, October 01, 2008
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Kata maaf adalah kunci pembuka langit pengampunan. Sikap pemaaf adalah sikap yang sangat disukai Allah Azza wajalla. Dan jadilah pemaaf bagi setiap kesalahan yang kami perbuat, bagi sekeranjang janji yang diingkari, bagi ucapan yang menyakitkan hati, bagi hati yang tak ikhlas. Mohon maaf lahir dan batin. Minal Aidin Wal Faizin, Taqobbalallahu minna waminkum siya mana wasiyamakum. Dari kami, keluarga Mac.

Subscribe to:
Posts (Atom)