Tuesday, December 04, 2007

Mencari Ikan Dewa di Kolam Cigugur (2)


MENGAPA balong atau Kolam Cigugur ini keramat atau dikeramatkan? Itu tak lepas dari sejarah terbentuknya daerah Cigugur. Sebelum lahir nama Cigugur, tempat itu acap disebut dengan nama Padara. Nama ini diambil dari nama seorang tokoh masyarakat, yaitu Ki Gede Padara, yang memiliki pengaruh besar di desa itu.

Padara berasal dari kata padan dan tara yang artinya pertapa. Ki Gede Padara adalah seorang wiku yang konon lahir sebelum Kerajaan Cirebon berdiri, yaitu pada abad ke-12 atau ke-13.Ia memiliki ilmu tinggi, sehingga badannya transparan, bisa tembus pandang.

Ki Gede Padara disebutkan hidup sezaman dengan tokoh dari Talaga, Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat dari Kerajaan Galuh, dan Aria Kamuning yang memimpin Kajene atau Kuningan. Bahkan, mereka ini sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan. Bedanya, Pucuk Umun, Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning, disebut menganut agama Hindu, sementara Ki Gede Padara tak menganut agama apapun.

Di usia tuanya, Ki Gede Padara berkeinginan untuk segera meninggalkan kehidupan fana. Namun, ia sendiri sangat berharap proses kematiannya seperti layaknya manusia pada umumnya. Berita tersebut terdengar oleh Aria Kamuning, penguasa Kajene atau Kuningan, yang kemudian menghadap kepada Syekh Syarif Hidayatullah.

Atas laporan itu, Syekh Syarif Hidayatullah pun langsung bertemu dengan Padara. Syekh Syarif Hidayatullah merasa kagum dengan ilmu kadigjayan yang dimiliki oleh Ki Gede Padara. Dalam pertemuan itu Padara pun kembali mengutarakan keinginannya agar proses kematiannya seperti layaknya manusia biasa. Syekh Syarif Hidayatullah meminta agar Ki Gede Padara untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai syaratnya. Syarat yang langsung dipenuhi Ki Gede Padara. Namun, baru satu kalimat yang terucap, Ki Gede Padara sudah sirna.

Setelah Ki Gede Padara menghilang, Sarif Hidayatullah bermaksud mengambil air wudu. Namun, di sekitar lokasi tersebut sulit ditemukan sepercik air pun. Dengan meminta bantuan Allah SWT, dia pun menghadirkan guntur dan halilintar disertai hujan yang langsung membasahi bumi. Dari peristiwa inilah kemudian sebuah kolam tercipta. Kini, kolam yang dipakai untuk wudu Sunan Gunung Jati itu disebut Obyek Wisata Kolam Renang Cigugur. Begitu kisah Kolam Cigugur itu, sebagaimana terpampang di dinding dekat loket penjualan tiket masuk ke kolam. Benar atau tidaknya, Wallahu A'lam. (*)

Mencari Ikan Dewa di Kolam Cigugur (1)


KABUPATEN Kuningan dikenal sebagai daerah yang kaya akan tempat wisata. Kita tentu mengenal Linggarjati, sebuah desa di Kecamatan Cilimus yang menjadi tempat pelaksanaan Konferensi Linggarjati antara RI dengan Belanda tahun 1947. Linggarjati pula salah satu jalur masuk menuju ke puncak Gunung Ciremai, gunung tertinggi di Jawa Barat, selain Palutungan.

Tak jauh dari Linggarjati, ada daerah Sangkanhurip. Sebuah desa yang dilintasi aliran air panas. Tak heran, kolam-kolam berendam air panas bertebaran di sini.
Lantas, kita bisa mengunjungi Telaga Remis yang menawarkan suasana khas alam pegunungan yang sejuk dan tenang. Nama telaga alami yang berjarak 25 km dari pusat kota Kuningan itu, berasal dari sejenis kerang yang hidup di sekitar telaga.

Kuningan pun memiliki Taman Purbakala Cipari, yang kaya akan peninggalan manusia purba. Disamping wisata air Waduk Darma, masyarakat adat Cigugur yang terkenal dengan Upacara Seren Taun juga menjadi satu tujuan wisata eksotik.


Nah saat pemantauan Adipura tempo hari, saya sempat menyinggahi salah satu lokasi wisata yaitu Obyek Wisata Kolam Renang Cigugur, di Kecamatan Cigugur. Daya tarik kolam ini bagi pengunjung adalah keberadaan ikan Kancra Bodas (Labeobarbus Douronensis), yang disebut masyarakat setempat sebagai Ikan Dewa.

Saya tidak sengaja mendatangi tempat ini. Saat melintasi Jalan Raya Cigugur, Mas Wawan, ketua tim dari PPLH Regional Yogyakarta, yang penasaran ingin tahu seperti apa kolam Cigugur itu. Terlebih, ia ingin tahu tentang ikan Dewa yang disebut-sebut ada di kolam ini. "Saya pernah ke Jombang dan di sana ada juga ikan Dewa. Apa ikan dewa di sini sama dengan yang di Jombang, itu yang membuat saya penasaran," kata Mas Wawan.

Kolam keramat Cigugur merupakan satu dari empat lokasi sejenis di Kuningan. Tiga tempat lainnya adalah Kolam Linggarjati di kompleks Taman Linggarjati Indah, Kecamatan Cilimus, Kolam Cibulan, dan Balong Darma Loka di Kecamatan Darma. Semuanya memiliki kolam-kolam yang dihuni ikan keramat Kancra Bodas.

Jangan pernah punya niat untuk memancing, apalagi memakan ikan Dewa. Konon, mereka yang memakan Ikan Kancra itu akan langsung mati. Ikan Dewa ini pun dianggap memiliki keanehan. Jumlahnya dari tahun ke tahun tidak pernah bertambah atau berkurang. Selain itu, ikan-ikan ini juga sangat akrab dengan manusia. Sudah jamak, pengunjung yang berenang bercengkerama, mengelus, dan memberi makan ikan Kancra Bodas, yang berwarna abu kehitaman ini.

Bila kolam dibersihkan, masyarakat sekitar sering melihat bahwa ikan-ikan yang ada di kolam tersebut menghilang. Mereka percaya bahwa ikan-ikan tersebut berpindah lokasi ke kolam-kolam keramat lainnya yang ada di Kuningan. Kearifan lokal itu pula yang menolong Ikan Kancra Bodas ini dari kepunahan.

Di dalam tempat wisata Kolam Cigugur ini, terdapat dua kolam besar berbentuk persegi panjang. Kolam pertama berukuran panjang 35 meter dan lebar 15 meter dengan kedalaman air sekitar 2 meter. Kolam kedua berukuran 45 x 15 meter persegi.

Meski semuanya itu dihuni puluhan ikan-ikan kancra bodas berbagai ukuran, mulai yang sepanjang 20-an sentimeter hingga hampir 1 meter, kolam-kolam di Cigugur dibuka sebagai kolam pemandian umum. Tempat rekreasi itu dilengkapi dengan fasilitas khas tempat pemandian, seperti tempat ganti pakaian, tempat bilas, dan kamar mandi/WC.

Pepohonan yang rimbun di belakang kolam menambah indah suasana kolam Cigugur. Lokasinya di tepi jalan raya besar memudahkan pelancong untuk singgah sebentar, melepas penat, sambil menikmati ikan Dewa berseliweran di kolam. (*)

Sunday, December 02, 2007

Kutu Kucing, Kutu Kupret

HARI Minggu ini saya dan Bu Eri sudah merencanakan untuk membongkar kamar tengah. Bukan temboknya yang dibongkar, tapi karpet bulu diganti karpet plastik. Ada dua alasan utama kenapa ganti karpet.

Pertama, batuk pilek Kaka dan Adik, terutama Adik, tak pernah sembuh. Sudah ke dokter, diberi obat. Tetap muncul lagi. Saran semua dokter yang dikunjungi, jangan pakai karpet bulu di rumah. Pakai karpet plastik saja. Mungkin itu dari alergi.

Kedua, ini yang jadi prioritas. Beberapa hari terakhir ini, bergentayangan kutu-kutu kucing di rumah. Korbannya tidak lain Bu Eri, Mbak Ani dan Nurul. Gatal-gatal di kaki karena gigitan kutu kupret yang bisa loncat itu. Tapi tak berdaya kalau kena air ludah (hah...).

Kutu-kutu itu berasal dari kucing yang tempo hari beranak di atas atap. Ukurannya kecil sekali, nyaris tak terlihat. Keberadaannya segera diketahui, kalau kulit kita terasa panas karena gigitan sesuatu. Maka tampaklah makhluk kecil berwarna hitam tengah nongkrong di betis kita. Jangan sungkan, oleskan saja air liur. Dijamin, kutu kupret satu itu tidak akan loncat atau terbang.

Walau sudah berobat, pakai salep segala macam, tetap saja si kutu kupret itu tak pergi. Bu Eri lebih mengkhawatirkan kalau kutu itu menyerang anak-anak. Selain itu, kutu-kutu itu jelas membawa virus Toksoplasma. Bu Eri pun pernah kena Tokso. Dulu Bu Eri penggemar kucing. Waktu hamil Kaka dua bulan, periksa ke dokter, ternyata ada tokso-nya. Untung sudah tidak aktif, dan tidak ganas. Kalau tidak, janin bisa habis dimakan virus kutu kupret itu.

Saya pun sudah merasakan gigitan tajam binatang itu. Saya tepuk, sang kutu kupret loncat, entah kemana. Tak lama bekas gigitan pun jadi bentol dan bercak merah. Saya tak yakin, setelah karpet dibersihkan, kutu itu itu hilang. Satu-satunya cara efektif adalah mengebom rumah dengan cairan PK dan Formalin, untuk membunuh semua serangga. Yang ini belum saya lakukan. Minggu depan, mungkin, (*)

Saturday, December 01, 2007

Jelajah Priangan dan Pantura: Terbakar Matahari

SELAMA sepuluh hari, saya menjelajahi daerah Priangan, terutama Priangan Timur, yang dilanjutkan ke daerah Pantura. Daerah Priangan Timur itu melingkupi Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, lalu Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar. Sementara Pantura meliputi Kabupaten/Kota Cirebon, Kuningan, Indramayu, dan Majalengka. Total ada 7 daerah yang saya sambangi.

Tujuan tur kali ini bukan jalan-jalan, tapi pemantauan Adipura tingkat Nasional. Saya tergabung dalam tim khusus Priangan Timur dan Pantura bersama Pak Asep Dakhyar dari BPLHD Jabar, Bu Irma Triastuti dari Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) ITB, dan Pak Wawan Rubianto dari Pusat Regional Jawa PPLH Yogyakarta.

Waktu pemantauan memang sangat sempit, 10 hari. Padahal standar untuk pemantauan bagi kota yang tergolong kota kecil adalah dua hari. Jadi harusnya 14 hari masa pemantauan. Karena banyak kendala teknis, baik di BPLHD Jabar maupun Kementerian Lingkungan Hidup, akhirnya hanya 10 hari waktu untuk memantau. Tentu saja tim harus bekerja cepat, berpindah dari satu kota ke kota lain dalam tempo paling lama 2 hari.

Obyek yang menjadi pemantauan tim Adipura sudah baku sejak tiga tahun lalu. Selain Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, sebagai komponen penyumbang nilai terbesar, obyek lainnya adalah rumah sakit, sekolah, perkantoran, pertokoan, taman dan hutan kota. Terus perairan, termasuk sungai dan saluran air, pasar dan sarana publik lainnya, seperti jalan dan stasiun KA atau pelabuhan laut.

Daerah pertama yang tim kunjungi adalah Singaparna. Karena tim berangkat siang, usai pembekalan, baru sore kami bisa memantau. Tempat pertama yang dipantau adalah TPA di daerah Salawu. Lalu masuk ke kota kecamatan Singaparna, memantau sekolah, Puskesmas, pasar, jalan arteri dan kolektor. Karena hari sudah gelap, pemantauan dihentikan. Dilanjutkan kembali keesokan harinya memantau pertokoan, perkantoran, taman kota dan seterusnya.

Usai pemantauan, tim tidak bisa berleha-leha. Karena tim harus memasukkan data penilaian dan juga foto-foto pantauan. Di sini yang paling krusial, karena menentukan nilai tidak sembarangan. Sering terjadi debat lebih dulu untuk menentukan kriteria yang pas dengan kenyataan di lapangan. Yang paling lama adalah memasukkan foto dan menamainya. Kebetulan saya pegang dua kamera digital, sementara Mas Wawan satu. Sehingga kami harus bergiliran untuk memasukkan foto ke laptop.

Begitulah. Dari satu kota, tim terus bergerak ke kota lainnya dengan aktivitas yang serupa. Memantau semua obyek, lalu menilai, dan memasukkan data. Singaparna, Ciamis, Banjar, lalu masuk Kuningan, ke Sumber Cirebon, Indramayu, dan terakhir di Majalengka, semua tak terlewat dipantau seteliti mungkin.

Cape, sudah pasti. Kalau fisik tidak kuat-kuat amat, rasanya mau tumbang saat itu juga. Saat pembekalan, Pak Setyo dari Pusreg Yogyakarta sudah mengingatkan, siapa yang merasa tidak fit, mundur saja dari tim ketimbang harus mundur di tengah jalan. Beruntung, tim kami tetap solid dan tetap sehat walafiat, hingga akhir pemantauan di Majalengka. Semua bersorak gembira begitu titik pantau terakhir selesai dinilai. Apalagi Mas Wawan, dia sudah satu bulan tidak pulang ke rumah, karena keliling Jawa Tengah, Jawa Timur, lalu kebagian juga memantau di Jabar bersama saya.

Oleh-olehnya? Ya muka jadi menghitam terbakar, karena selama pemantauan hujan tak turun, kecuali saat masuk Kota Majalengka, hujan turun sebentar. Matahari begitu terik menyengat, apalagi di Indramayu. Wah, kepanasan. Inginnya di dalam kamar ber-AC terus. Pulang ke rumah, langsung dipijat sama Bu Engkos, tetangga sebelah kampung, yang biasa mijat di rumah. (*)