Saturday, September 08, 2007

Stadion Siliwangi dan Kali Ini Menang


TUJUH September 2007. Ini kali kedua Tribun FC bisa bertanding di Stadion Siliwangi. Lawan kami adalah para perwira di lingkungan Kodim BS/0618 Bandung.
Pertandingan ini terselenggara berkat Tiah SM, wartawan Tribun. Dia memang dekat dengan Dandim Letkol Arm Dwi Jati Utomo. Makanya, menjelang puasa, saya minta Tiah ngajak Dandim tanding bola. Ternyata Dandim oke. Cuma syaratnya, Kodim yang sediain lapangan di Stadion Siliwangi, Tribun yang siapin suplai logistik.

Setelah kasak-kusuk di kantor, akhirnya kantor memberi acc untuk membeli snack. Padahal biasanya susah. Lagi baek kali, thanks ya... Jadilah kami bertanding di kandang macan. Kita ketar-ketir juga. Soalnya, bertanding pas hari Jumat pagi. Itu waktunya wartawan meliput dan sebagian teman lay out istirahat. Tapi untungnya pemain yang datang lebih dari 11. Jadi ada cadangan. 5 menit main langsung angkat tangan minta diganti.


Selain Dandim, turun pula memperkuat PS Kodim, Kasdim dan sejumlah Danramil. Satu keberuntungan juga buat Tribun FC. Personel di Kodim kan kebanyakan udah rada tua. Otomatis perut mulai ke depan, napas ngos-ngosan. Jadi kalau diadu fisik, kita enggak terlalu malu kalau kalah, he he...

Karena memang Old Soldier semua, ya Tribun FC yang menang. Skornya 6-1. "Awas, nanti sehabis Lebaran, tunggu pembalasan kita. Jago-jagonya nanti pada turun semua," ancam Dandim yang murah senyum itu.

Oke deh Pak, kita tunggu tantangannya. Mudah-mudahan di Siliwangi lagi. (*)

Pilkada Cimahi

SABTU, 8 September 2007. Ini hari bersejarah bagi warga Kota Cimahi. Karena di hari inilah, untuk pertama kalinya warga Kota cimahi bisa memilih Walikota secara langsung. Saat Cimahi jadi kota tahun 2001 lalu, walikota masih dipilih oleh DPRD.

Ada tiga pasangan calon yang berlaga di Pilkada Kota Cimahi ini. Nomor satu, Itoc Tochija dan Eddy Rahmat. Itoc adalah Walikota incumbent. Sementara Eddy adalah kader PDIP dan Ketua PHRI Bandung. Selain Partai Golkar dan PDIP, mereka ini juga didukung oleh PKB, PBB, dan partai-partai kecil.

Calon nomor dua adalah H Achmad Pawennei dan HM Syambas. Pawennei adalah pensiunan TNI AU dan sekarang ini jadi pengusaha, pemilik MBT. Sementara Syambas adalah mantan Kakandepag Cimahi dan sudah pensiun. Mereka diusung PPP dan Partai Demokrat.

Terakhir, pasangan H Iwa Karniwa dan Hj Diah Nurwitasari. Iwa adalah mantan Kepala Dispenda dan Bawasda Kota Cimahi, sedangkan Diah adalah kader PKS yang menjadi anggota DPRD Provinsi Jabar. Tentu dua orang ini didukung penuh PKS.

13 hari mereka berkampanye. Beragam janji mereka sampaikan kepada warga Cimahi. Stadion Sangkuriang, Lapangan Poral, Lapang Cibaligo, Gedung Serbaguna HMS Melong, adalah beberapa ruang yang menjadi arena kampanye ketiga pasangan ini.

Lantas apa kaitan Pilkada ini dengan keluarga saya? Tentu banyak kaitannya. Bagi saya, pilkada itu memecah belah keluarga. Memang begitu. Saya paparkan dulu bagaimana peta politik di keluarga saya, khususnya di Cihanjuang.

Secara tradisi sejak zaman Orba, keluarga Cihanjuang adalah pendukung utama PPP. Itu tentu karena unsur Nahdlatul Ulama melebur di PPP. Saya masih ingat saat Pemilu tahun 1982, saya yang waktu itu baru kelas 2 SD, ikut kampanye PPP bersama keluarga ke Cililin dan Soreang. Waktu itu juru Kampanye PPP adalah Rhoma Irama.

Namun setelah muncul PKB yang dibidani kiai-kiai Langitan, sebagian besar keluarga berpaling ke PKB. Memang masih ada yang PPP, atau juga Golkar, karena status mereka sebagai guru. Tapi tidak banyak. Ketika muncul pula PKS, sebagian berpaling juga ke partai baru ini.

Karena tidak lagi seragam dan pandangan politik mungkin berbeda, yang menyebabkan keluarga besar ini pecah. Kalau melihat tradisi, seharusnya keluarga cihanjuang mendukung pasangan nomor satu, karena PKB mendukungnya. Tapi ternyata tidak. Atau lebih tepatnya, tidak banyak yang mendukung nomor satu. Yang terjadi adalah, keluarga Cihanjuang lebih banyak mendukung pasangan nomor 2. Apa sebab? Di situ ada faktor Pak Syambas. Dia ini orang keturuna pesantren Hegarmanah. Pesantren hegarmanah adalah pesantren keluarga Cihanjuang. Hampir semua berguru ke pesantren tua ini. Jadi unsur nepotismenya jadi sandaran. Tak heran, di rumah salah seorang kerabat saya, terpasang gambar besar pasangan nomor dua ini.

Tapi yang mendukung nomor satu pun ada. Saat kampanye, beberapa saudara saya juga ada di lingkaran nomor satu ini. Lalu bagaimana dengan nomor tiga? Ya sama saja, banyak. Karena PKS yang mendukung pasangan itu, sebagian keluarga pun memilih yang satu ini.

Saya sih tidak kemana-mana, tapi ada di mana-mana. Eh itu mah Dai sejuta ummat, Zainudin MZ, idola waktu SD dulu. Ah soal pilihan mah tergantung lah. Tergantung pada nurani saja. Tadinya saya, seperti Pemilu-pemilu yang lalu, bakal GOLPUT. Tapi karena terus didesak istri saya, akhirnya keliling kanan saya pun tercelup ke tinta dan berbekas warna ungu.

Kita tunggu saja, apakah benar Walikota Terpilih, bakal mewujudkan janji-janjinya atau omdo?. (*)

Saturday, September 01, 2007

Lazy Time

PENYAKIT malas itu muncul lagi. Saya banyak melewatkan momen-momen tanpa sedikitpun menorehkan ceritanya di blog ini. Terakhir posting soal Kaka yang ikut fashion show. Ya, namanya sedang malas, ya malas saja menulis.

Tuesday, August 21, 2007

Fashion Show dan Melatih Keberanian Anak


SENIN pekan lalu, Kaka Bila bersama teman-temannya di TK Mutiara Ibunda, Warung Contong, Cimahai, mengikuti lomba menyanyi dan fashion show. Ini perlombaan antar-TK se-Kecamatan Cimahi Tengah. Sejak beberapa hari sebelumnya, Kaka Cs berlatih menyanyi setiap pulang sekolah. Otomatis, pulang ke rumah pun jadi lebih siang, sekitar jam 11.00.

Sejak awal, ibu guru di TK Mutiara Ibunda sudah memilih Kaka untuk ikut menyanyi. Tak cuma itu, Kaka pun dipilih untuk mengikuti fashion show busana muslim. Saat latihan, Kaka selalu semangat dan menjadi contoh teman-temannya.

Bu Evi, guru Kaka, bilang pada saya,"Pak, Nabila bagus kok nyanyinya, latihan untuk fashion show juga sudah bisa. Dia berani kok. Dan memang lomba ini juga untuk memotivasi anak supaya berani tampil di depan banyak orang. Jadi Bila harus ikut yah". Saya sih mengangguk-angguk saja.

Sehari sebelum perlombaan, saya dan Bu Eri sibuk menyiapkan baju untuk fashion show. Baju muslimnya sih bukan baju baru. Itu baju Kaka waktu Wisuda Playgrup Attaqwa. Masih bagus kok. Baju terusan warna pink, dengan kaus lengan panjang dan jilbab warna hitam. Sementara yang mengantar Kaka ikut lomba adalah Bude Ani. Karena, seperti biasa, Bu Eri tidak bisa ikut. Sibuk liputan.


Nah, pagi-pagi saya dan Bude sudah meluncur naik motor ke TK Mutiara Ibunda. Kaka Cs mau latihan dulu sebelum bertanding. Apalagi mereka dapat nomor undian 23. Jadi masih ada waktu untuk latihan. Jam 9, rombongan TK Mutiara Ibunda berangkat ke GOR Padasuka, tempat lomba berlangsung. Saya hanya mengantar sampai GOR, karena jam 10 harus meluncur ke tempat les Bahasa Inggris. "Nanti kalau mau pulang, telepon yah biar saya jemput," kata saya pada Bude.


Waktu saya pulang les, jam 12.00, ternyata Bude dan Kaka sudah ada di rumah. Lho? "Iya, cepet kok selesainya. Tadi fashion show dulu baru nyanyi," kata Bude.
Bude pun lalu bercerita saat lomba tadi. Ternyata, Kaka Bila enggak mau naik ke panggung fashion show sendirian. Dia sebenarnya kebagian nomor 34. Tapi naik panggung berdua dengan temannya yang kebagian nomor 56.

Rupanya Kaka grogi melihat orang banyak. Jadinya "mugen", mogok, montel terus sama gurunya. Akhirnya dia mau naik panggung, asal berdua dengan temannya. Soalnya kata dia, waktu latihan juga berdua kok. Ha ha ha... Ya namanya juga anak-anak.

Tapi waktu nyanyi bareng-bareng, Kaka pede abis. Dia lincah saat menari Potong Bebek Angsa dan Taman yang Paling Indah. Malahan,
Bagi saya sih, itu buat latihan saja. Yang penting Kaka sudah mau. Itu saja sudah nilai plus. Karena banyak juga anak-anak yang tidak mau ikut kegiatan apapun.
Memang melatih keberanian anak tidak bisa instan. Harus dipupuk sedikit demi sedikit, dan sabar.


Ya, sabar kata kuncinya. Kalau enggak sabar, bisa-bisa kita yang naik darah. Melihat anak kita enggak mau ikut kegiatan, atau disuruh flying fox, atau apapun enggak mau juga, tentu ada rasa kurang puas. Masa anak orang lain bisa, anak sendiri kagak!. Begitu biasanya isi kepala kita, suka muncul rasa iri, walau mungkin tidak kita sadari.

Hal seperti itu yang harus kita waspadai. Jangan sampai kita menjadikan anak sebagai "media pelampiasan" kehendak kita. Menjadi medan pemaksaan keinginan bawah sadar kita. Memaksa anak untuk bisa segalanya. Melampaui kemampuan anak-anak lain.

Kalau anak memang tidak mau dan tidak suka, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia dengan keinginannya. Sejauh itu rasional, masih bisa kita jangkau, tidak ada salahnya kita memberikan keleluasaan pada anak untuk memilih. Belajar menentukan sikap dan keinginanya. Asal, tentu saja, harus kita aping, kita bimbing, agar jalurnya tidak belok kiri kanan. (*)